Kebersamaan kini membuat Kim merasa sulit menggambarkan perasaannya. Namun, hatinya sudah mulai merasakan, apa itu rindu. Karena walau bersama, persyaratan dari pak kades membuatnya harus pura-pura asing kepada Ryuna. Meski tak bisa Kim pungkiri, kedua matanya tak mau berhenti mengawasi sang istri. Terlebih ketika pemuda berkacamata tebal yang membawa bekal minum di depan dada, dan sama-sama memakai jaket almameter army layaknya Ryuna, tak segan mengekor kepada Ryuna.
“Ryuna, hari ini kita bakalan di lapangan yang sama!” ucap Dodo—pemuda berkacamata tebal warna hitam yang sudah langsung berlari kecil menghampiri Ryuna.
“Ehhhhhm!” Kim tidak bisa mengontrol diri karena apa yang Dodo lakukan sudah langsung membuatnya merasakan percikan cemburu. Lirikannya melirik sengit sepasang yang memakai jaket almameter army di depan sana. Ia pergoki, dehaman darinya yang langsung membuat langkah Ryuna menjadi lebih pelan. Kim yakin, Ryuna sudah langsung paham kode keras darinya.
“Ayo kita kita juga berangkat!” sergah Kim dan langsung disusul oleh yang lain. Ia sengaja memanfaatkan keputusannya menyusul, untuk bisa sesegera mungkin bergabung dalam kebersamaan Ryuna dan Dodo.
“Enggak, kita masih beda lokasi, Do. Aku ikut bantu panen kolang-kaling, kamu harus bangun jalan bareng mahasiswa lain. Nanti warga dipimpin pak kades juga bakalan bantu!” jelas Ryuna berbisik-bisik kepada Dodo.
“Enggak, Ryu ...!” Dodo menggeleng tegas sambil memegangi kacamatanya menggunakan tangan kanan. Ia menatap Ryuna lebih saksama, hingga Ryuna berhenti melangkah.
Bertepatan dengan itu, Kim yang melangkah cepat, sampai di belakang Ryuna.
“Aku enggak mungkin ikut urus pembangunan jalan karena aku punya asma. Asma aku parah, makanya aku enggak mungkin ikut daripada aku malah kambuh dan bikin semuanya repot!” rengek Dodo.
“Astaga, ini si Dodo ngapain merengek mirip bayi gini ke si Ryuna?” batin Kim ketar-ketir menatap pemuda botak di hadapannya yang sedang menatap Ryuna penuh kesedihan.
“Bahkan gara-gara itu juga kan, mamah papah aku nitipin aku ke kamu biar kamu jagain aku?” rengek Dodo lagi dan bermaksud menyandar kepada Ryuna.
Namun dengan sigap, Kim menarik sebelah lengan Ryuna, membuat sang istri ada di belakang punggungnya, hingga yang ada, Dodo justru menyandar kepadanya. Detik itu juga Dodo jadi bingung, tak kalah bingung dari Ryuna yang tiba-tiba bisa berada di belakang punggung Kim.
Setelah menghela napas cepat kemudian berdeham, Kim sengaja menatap teman-temannya dan kebetulan ada di belakang mereka. Sebagian dari mereka khususnya Sonya dan mahasiswi lainnya, sudah langsung menjadikannya sebagai fokus perhatian.
“Sekarang aku ingin tanya, selain Dodo, siapa lagi yang punya asma dan penyakit lain yang bisa bikin kalian terbatas bantu-bantu?” ucap Kim lantang sekaligus tegas.
“Memangnya perempuan boleh ikut bantu bangun juga?” balas Sonya tak kalah lantang karena biar bagaimanapun, kini ibarat rapat dadakan di antara mereka. Namun tentu saja, akan jauh lebih asyik jika ia bersama Kim. Bahkan meski itu harus membuatnya bekerja sangat keras menjadi kuli, itu benar-benar bukan masalah.
“Kalau dipikir-pikir, enggak ada salahnya perempuan ikut. Kalau urusan bangun jalan, perempuan bisa bantu bawa-bawa yang enggak begitu berat, sambil siapin suguhan. Ya intinya, gerak cepat saling gotong royong saja. Namun jika memang tidak bisa seperti yang Dodo rasakan, ya sudah jangan dipaksa,” ucap Ryuna.
“Si Ryuna ngapain ikut-ikutan ngomong, sih?!” sinis Sonya dalam hatinya sambil bersedekap. “Oke, aku ikut bantu bangun jalan juga enggak apa-apa!” Sonya sengaja yang paling terdepan, tak mau jauh-jauh dari Kim ditambah ada kesempatan untuk dekat-dekat dengan Kim.
Apa yang Sonya katakan sudah langsung membuat semuanya tercengang. Seorang Sonya yang satu kampus dengan Kim karena jaket almameter yang dipakai keduanya juga sama-sama berwarna biru langit, akan mengerjakan pekerjaan kuli? Rambut panjangnya saja selalu digerai, selain Sonya yang anti kot*or-kot*or, bahkan sekadar aktivitas yang menguras keringat. Namun barusan, Sonya yang sangat menjaga penampilannya itu berdalih akan melakukan pekerjaan layaknya kuli!
Mendengar keputusan Sonya, Dodo sudah mirip belatu*ng cabai yang tidak bisa diam dan langsung berusaha menempel ke Ryuna. “Ryuna, kita urus panen kolang-kaling saja, tapi kamu harus jagain aku, ya!” mohonnya sambil menahan tangan kanan Ryuna menggunakan kedua tangannya. Ia terus menahan tangan kanan Ryuna meski Ryuna berusaha menepis dan berakhir bisa.
“Meski kamu anak bos aku, bukan berarti kamu bisa menyentuhku sembarangan. Hargai aku dong Do! Pegang-pegang sembarangan itu enggak sopan!” kesal Ryuna. Ia benar-benar jengkel kepada Dodo yang teramat manja dan apa-apa selalu minta dil*adeni.
Detik itu juga, Dodo sudah langsung menatap sebal Ryuna. Ia marah kepada Ryuna yang sudah berani melarang bahkan menolaknya. “Sampai Jakarta, ... sampai di Jakarta, aku laporin kamu ke mamah!” lirihnya sengaja mengancam.
Ryuna tersenyum getir. “Enggak usah repot-repot, aku enggak akan balik kerja ke tempat kamu!” tegasnya meski kali ini ia berucap lirih.
Kim yang kedua tangannya sudah langsung mengepal kencang, segera berdeham. Ia mendengar ancaman Dodo sekaligus balasan Ryuna. “Do, ... jaga jarak! Hargai perempuan! Hargai Ryu! Balik ke barisan cowok sebelum aku coret kamu dari kelompok!” Kim sadar, ucapannya sudah langsung membuat keadaan di sana menjadi tidak nyaman bahkan gadu. “Termasuk Sonya, sekali lagi kamu berani pamer harta sementara di sini kita sama-sama KKN, aku juga enggak segan bikin perhitungan sama kamu ya! Kita di sini beneran sama. Sama-sama KKN. Harusnya kalau kamu mau bahas level-levelan mahasiswa maupun mahasiswi, level anak beasiswa yang harus kita takuti karena otak dia lebih encer dari kita. ITU BUKTI. FAKTA!” Setelah menegur Sonya habis-habisan, Kim juga segera membagi mereka menjadi 2 kelompok.
“Ada kelompok yang bangun jalan, sama yang pergi ke gunung buat panen kolang-kaling. Namun kalian wajib bertanggung jawab. Jangan hanya ikut-ikutan karena adanya kita di sini buat KKN, buat bantu warga sesuai target kita. Kita di sini beneran bukan buat bertamasya apalagi ribut rebutan perhatian aku terlebih AKU SUDAH NIKAH! TOLONG GARIS BAWAHI ITU!” tegas Kim.
Kalimat terakhir Kim langsung membuat semuanya tercengang. Benar-benar semuanya karena Ryuna juga.
“Si Kim enggak akan ... duh, hubungan kami kan rahasia. Apa Kim lupa? Apa efek terbawa emosi?” pikir Ryuna yang langsung terbantahkan lantaran Kim masih bisa mengontrol diri dan tak lagi membahas status Kim yang Kim akui sudah menikah.
“Jadi, setelah kalian memilih akan ada di kelompok mana, kalian wajib tanggung jawab mengerjakan tugas kalian sesuai pilihan!” tutup Kim, tapi Sonya ia dapati tetap masuk grup pembangunan jalan. Kemudian, yang mencuri perhatian Kim tentu Ryuna. Akan masuk kelompok mana Ryuna, tapi Kim harap istrinya tidak mengambil pekerjaan yang berat. Namun jika melihat watak Ryuna, wanita itu pasti akan jauh lebih memilih tugas yang berat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Lina Suwanti
Kim tegas seperti Helios
2025-01-23
0
Al Fatih
aq suka cowok kayak Kim gini,, tegas...,, tapi perhatian bngt sama orang yg dia sayangi
2024-06-03
3
Sri
bagus lha kim langsung warning , daripada dideketin cewek2 mirip belatung cabe
gatel semua
2024-01-31
2