Belum apa-apa, panen kolang kaling yang Ryuna jalani sudah langsung membuat wanita cantik itu takjub. Tak semata pemandangan alam di sana yang sangat menyegarkan mata sekaligus menenangkan pikiran bahkan hati. Sebab kenyataan beberapa wanita yang dengan sigap memanjat pohon aren selaku penghasil kolang kaling dan tingginya hampir 25 meter, juga membuat Ryuna tak bisa berkata-kata.
“Setinggi itu, mereka sampai kelihatan kecil banget. Aku sampai merinding gini. Mereka yang panjat, hatiku yang nyes-nyes gini. Malah pengin pipis juga. Hebat banget emang wanita-wanita di sini,” lirih Ryuna. Sementara di sebelahnya, Tiwi yang menatap tegang Ryuna dan perlahan ketakutan, berangsur mengulurkan kedua tangannya.
Tiwi melongok ke bawah dan ia dapati merupakan curam yang sepertinya menuju jurang di daerah sekitar sana. Kedua tangan Tiwi nyaris mendorong Ryuna, tapi bertepatan dengan itu, Ryuna menoleh kemudian tersenyum hangat kepadanya.
Ryuna memang sempat menatap kedua tangan Tiwi yang nyaris menyentuh tubuhnya, tapi Ryuna yang tak sedikit pun curiga, justru meraih tangan kiri Tiwi kemudian menggenggamnya. “Kita langsung ke yang lain, yuk. Sudah ada yang mulai olah kayaknya. Itu habis dipetik, tinggal dipreteli apa ya, bahasanya. Ya pokoknya itu lah. Oh, itu digodok dulu, baru dikupas-kupas!” Ryuna benar-benar bersemangat menggandeng Tiwi, membawanya ke ibu-ibu yang sedang panen kolang kaling dan kiranya ada sepuluh orang.
Tiwi yang memakai jaket almameter warna army layaknya Ryuna, hanya sesekali tersenyum. Senyum yang benar-benar masam, di tengah ekspresi Tiwi yang cenderung tegang ketakutan.
Bersama Tiwi, Ryuna benar-benar berbaur dengan para ibu-ibu di sana. Di sana tidak ada bapak-bapak karena kebetulan, semua pria tengah gotong royong mengurus jalan bersama kelompok Kim.
Seperti yang sempat Ryuna prediksi, proses panen kolang kaling memang seperti yang sempat ia katakan kepada Tiwi beberapa saat lalu.
“Ibu, kami bantu, ya. Ini dibelah pakai pisah gini. Kelihatan ngeri karena pisaunya tajam banget. Bismilah,” ucap Ryuna bersemangat mengikuti arahan dari ibu-ibu yang memperlakukan mereka dengan ramah.
Namun berbeda dengan Ryuna, Tiwi justru mengalami insiden kurang mengenakan. Jari telunjuk Tiwi tergores pisau yang sempat Ryuna keluhkan tajam. Beruntung Ryuna tipikal yang serba menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Hingga semacam P3K juga ada di ransel bekal istri Kim itu.
“Ini dibersihin, kasih obat merah, terus diplester.” Ryuna mengobati Tiwi. Sementara beberapa ibu-ibu tampak sesekali melongok sambil tetap bekerja.
Diperlakukan dengan sangat baik oleh Ryuna layaknya sekarang, Tiwi jadi merasa tidak nyaman. Terlebih di ingatannya, tengah dihiasi agenda Sonya yang sebelum perpisahan mereka, memberinya titah paten.
“Daerah di sekitar sana penuh curam menuju jurang. Dorong dia dan buatlah seolah-olah itu kecelakaan. Harusnya dia caca*t atau malah mati. Ingat yah, Wi. Wajib! Nanti kalau sudah ada akses ke kota, aku kasih kamu uang tiga puluh juta!” ucap Sonya beberapa saat lalu dan disetujui oleh Tiwi meski Tiwi sempat ragu bahkan takut.
“Ibu, ibu ... habis dibersihin seperti ini, kolang kalingnya langsung dijual, apa diolah dulu. Atau ada yang langsung dijual, dan ada juga yang diolah?” tanya Ryuna meski ia baru saja beres mengobati Tiwi. Ia masih merapikan P3K miliknya kemudian menyimpannya di ransel cukup besar warna army agak pudar, miliknya.
Selain pekerja keras, Ryuna juga tipikal kritis dan tak takut capek apalagi repot. Ibu-ibu di sana jadi sungkan kepada Ryuna. Karena berbeda dengan Tiwi yang pendiam dan hanya bekerja ala kadarnya, Ryuna benar-benar tak kalah perkas*a dari mereka yang sudah terbiasa bekerja keras.
Tak kalah sibuk dari Ryuna, Kim justru sampai mandi keringat karena terlalu bekerja keras. Jalan di sana sengaja ditinggikan, diurug dan ditutup menggunakan batu split atau batu belah.
“Oh my god ... Kim setampan itu kalau keringatan dan hanya pakai kaus. Mana badannya beneran berotot gitu ... masih kena kaus saja sudah kelihatan sekeren itu. Apalagi kalau sampai lepas kaus!” batin Sonya yang jadi sibuk berkhayal sendiri.
Seperti yang Kim yakni, Sonya dan semua mahasiswi yang di sana bukannya membantu, tapi malah merepotkan. Kedelapan mahasiswi di sana hanya sedikit membantu, tapi berulang kali mengeluh.
“Tapi ini lebih baik. Enggak kebayang kalau mereka sampai ikut Ryuna. Yang ada mereka malah makin enggak tahu diri karena Ryuna pasti enggak bisa protes. Andai diarahkan dan ditegur pun, orang seperti Sonya yang bosy sekaligus enggak tahu diri, mana mikir. Yang ada malah Ryuna jadi capek lahir batin,” pikir Kim sadar dirinya terus saja diperhatikan khususnya oleh Sonya.
“Pak kades, truk dan mobil jangan boleh lewat dulu ya. Ini yang bikin jalan hancur parah kan truk pengangkut kan,” ucap Kim.
“Iya, tapi kalau buat angkut-angkut termasuk angkut hasil panen kolang-kaling, kan butuh mobil, Mas,” balas pak Kades.
“Diakali dulu pakai motor. Warga sini kan hebat-hebat, bisa angkut muatan banyak pakai motor, meski jalan di sini begini. Soalnya meski kalau lewat sini, truk sampai dikenai tarif, itu beneran enggak sebanding dengan kerusa*kan yang dihasilkan. Atau kalau enggak, truk itu wajib membatasi muatan. Beratnya wajib disesuaikan. Pokoknya yang khusus lewat sini. Kalau mereka enggak sanggup menyesuaikan muatan, mereka bisa pakai jas*a ojek warga sini. Begini malah jadi matapencaharian tambahan buat warga, kan?” Kim menjelaskan pelan sekaligus rinci.
“Pokoknya sebelum dapat dana bantuan perbaikan jalan, Pak kades dan warga wajib kenceng pegang peraturan ini, buat kebaikan sekaligus kelancaran transportasi warga sini. Ini besok-besok kan dicor juga,” ucap Kim sudah langsung oleng ketika melihat sang istri lewat sambil mendorong sepeda yang mengangkut tiga karung dan Kim yakini berisi kolang kaling.
Ryuna dan ibu-ibu yang menuntun sepeda angkutnya tengah mengobrol sambil tersenyum lepas. Senyum yang juga sudah langsung menular kepada Kim. Kendati memergoki Kim lagi-lagi sudah mengawasinya, Ryuna tetap cuek dan hanya melirik kilat sambil menahan napas.
Bersama lima ibu-ibu, Ryuna yang telah menyelesaikan tugasnya, terus tersenyum ceria menuju jalan yang berbelok meninggalkan keberadaan Kim. Namun belum genap tiga puluh menit dari kepulangan Ryuna, Kim yang belum beres mengurus jalan, kembali memergoki Ryuna. Ryuna melangkah sendiri dan tampak sangat buru-buru.
“Ada apa?” ucap Kim sengaja menahan Ryuna. Ia masih merapikan batu belah di jalan, bersama warga. Namun, mereka bekerja dalam keadaan berpencar agar cepat merata sekaligus selesai.
Walau buru-buru, Ryuna tetap berhenti kemudian menatap Kim. Ia yang masih menggendong ranselnya berkata, “Rombongan Tiwi belum datang juga. Takutnya kenapa-kenapa soalnya tadi, beberapa kali, Tiwi kepleset. Ini sekalian bawa P3K buat obati.”
“Kan mereka juga berombongan,” ucap Kim yang kemudian menyarankan Ryuna untuk istirahat terlebih ia yakin, Ryuna yang kuyup keringat, sudah sangat bekerja keras.
Menghela napas dalam, Ryuna berangsur menggeleng. “Tapi mereka enggak punya P3K! Ya sudah ya ....” Ryuna sudah langsung lari.
Kim yang hanya sendirian sengaja berseru, “Dahhh!”
Apa yang Kim lantangkan dan tak ubahnya salam perpisahan refleks membuat Ryuna melangkah lebih pelan. Ryuna sengaja menoleh, membuat tatapan mereka bertemu. Lagi, dunia mereka seolah menjadi berputar lebih lambat. Mereka seolah tengah mengalami adegan slow motion hanya karena interaksi mata yang mereka lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Erina Munir
waduuhh..jangan2 tiwi kenapa napa lgi
2023-12-20
2
Septiana Tri Rahayu
so sweet sekali siiii merekaaa
2023-12-07
1
Firli Putrawan
awas kesandung jlnnya ryu 🤣🤣🤣
2023-08-26
0