“Kenapa malah jadi begini?” batin Sonya benar-benar kesal. Ia melirik tajam Tiwi yang ada di sebelahnya dan sudah langsung kebingungan cenderung takut. Tiwi bahkan jadi tak berani menatapnya dan memilih menunduk.
“Loh, kalian kok malah pada ke sini? Kan sudah tahu, wanita apalagi yang belum nikah, pamali keluar rumah malam-malam lewat pukul sepuluh malam, sementara kini, sudah nyaris pukul sepuluh malam! Sudah sini ayo pada masuk ke sini!” omel pak RT yang menggiring semua mahasiswi untuk segera masuk ke rumah ki Awet.
Namun bukannya langsung masuk, semuanya justru tampak ragu dan menatap satu sama lain. Kim menjadi tujuan tatapan terakhir mereka, seolah semuanya kompak menunggu keputusan Kim.
“Ya sudah ayo masuk. Soalnya anak saya yang kemarin kabur dari rumah malam-malam juga ada di dalam!” yakin pak Kades jauh lebih sabar dan tak sampai marah-marah layaknya pak RT.
“Sejak kapan mbaknya di dalam, Pak Kades?” sergah Kim dan Ryuna yang mendadak kompak padahal keduanya tidak janjian. Keduanya hanya mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kekhawatiran mereka pada Ki Awet.
Pak Kades menghela napas pasrah kemudian melangkah mendekati Kim yang sampai detik ini masih menggendong Ryuna. “Tadi sebelum pukul sembilan, saya antar Rukmi ke sini karena cacarnya makin parah sementara mata Rukmi terus melotot ke atas. Ki Awet bilang, saya sekeluarga diminta tunggu sampai subuh, biar Rukmi diobati di dalam.”
Kim yang sudah telanjur curiga, justru makin penasaran. “Biasanya yang beneran kejadian begitu, langsung sembuh diobati ki Awet, yah, Pak?”
“Kim ... kamu jangan kasihin aku ke ki Awet. Justru ini jadi kesempatan kita buat usut kasus ini. Ibaratnya, ini justru jadi hal yang harus kita urus tuntas dalam KKN!” panik Ryuna berbisik-bisik kepada Kim, selain ia yang makin mengeratkan dekapan kedua tangannya.
Pak Kades yang tidak tahu menahu apa yang Ryuna bisikan kepada Kim, tetap fokus menanggapi pertanyaan Kim. Ia mengangguk sambil menatap kedua mata Kim sendu. Sesendu hatinya saat ini lantaran sang putri yang kabur dari malam pertama justru kembali dalam keadaan tubuh penuh cacar besar, mengerikan.
“Biasanya langsung sembuh, Mas Kim. Mbak Ryuna. Dan pengobatannya cukup di tinggal di kamar pengobatan sampai subuh. Habis itu beneran sembuh!” yakin pak Kades.
“Setelah sembuh?” tanya Kim, dan itu juga yang ingin Ryuna ketahui terlebih mereka memang telanjur curiga perihal misteri mistis, percaya tidak percaya yang berkembang di sana.
Pak Kades tidak menjawab sebab pertanyaan Kim yang walau masih terdengar lembut, tak ubahnya anak tombak yang mengenai jantungnya.
“Pak Kades ...?” tagih Kim. Ia dapati, pak kades yang malah jadi tampak linglung hingga ia makin yakin memang ada yang tidak beres.
“Biasanya jadi linglung, Mas. Jadi saya menyerahkan semua keputusan ke ki Awet,” pasrah pak kades.
“Kenapa begitu Pak Kades? Mbak Rukmi itu anaknya Pak Kades loh. Bapak sebagai wali sangat berhak menentukan apa yang terbaik buat anak Bapak. Terlebih sejauh ini, semujarab-mujarabnya sebuah pengobatan, doa dari orang tua khususnya doa dari seorang ibu, itu beneran luar biasa dampaknya!” sergah Ryuna sebab ia saja tidak mau jika harus diobati oleh ki Awet dengan segala percaya tidak percaya atas hal mistis yang berkembang di sana. “Kim, lakukan sesuatu!” kali ini Ryuna kembali berbisik-bisik sambil mendorong punggung kepala Kim saking gregetnya.
“Coba Pak, kami lihat seperti apa keadaannya,” sergah Kim sama sekali tidak mempermasalahkan ulah Ryuna yang sampai mendorong punggung kepalanya. Kim sadar, alasan Ryuna begitu karena sang istri sangat mengkhawatirkan keadaan Rukmi anak pak Kades.
“Loh, kalian ini apa-apaan, sih? Pak Kades lagi ... kan Pak Kades tahu sendiri, yang sedang diobati di dalam, belum boleh dibawa keluar sebelum subuh. Memangnya Pak Kades mau bertanggung jawab kalau Rukmi putri Pak Kades justru mengalami hal yang lebih fatal?!” semprot pak RT.
Terlepas dari perdebatan yang masih berlangsung, Sonya justru mendadak terpesona kepada sosok ki Awet. Sebab di matanya, ki Awet tampak sangat gagah. Benar-benar gagah. Mirip pria matang berusia di tengah kepala tiga. Kulit putih bersih, rahang tegas, mata tajam, bibir tebal berisi dan sangat menggoda, hidung sangat mancung, serta tubuh berotot—benar-benar sesempurna itu ki Awet di mata Sonya. Ditambah lagi, ki Awet sedang memperhatikannya dengan tatapan teduh yang membuat pria itu terlihat sangat maskulin.
“Wi, ... itu siapa, sih, seganteng itu Kim saja beneran enggak ada apa-apanya!” bisik Sonya sambil menyugar-nyugar rambutnya menggunakan jemari tangan. Gayanya mendadak kemayu, terlebih ia yakin, ki Awet juga menginginkannya. “Heran, ... di desa pelosok begini ada orang sekeren itu. Ya ampun itu dada berasa manggil-manggil biar aku secepatnya menyandar!” batin Sonya seiring ia yang tersenyum malu-malu ke ki Awet.
Berbeda dengan Sonya, di mata Tiwi ki Awet tak sekeren yang dilihat Sonya. Tiwi mengakui ki Awet tampan, tapi tak sampai mabok kepayang layaknya Sonya.
“Beri saya waktu satu jam. Biarkan kami melihat sekaligus membacakan doa, merukiah mbak Rukmi!” yakin Kim.
“Kamu mau main-main dengan nyawa orang, wahai anak muda?!” tegas pak RT merasa kehabisan kesabaran lantaran baginya, Kim sudah sangat lancang.
“Astaghfirullah si pak RT. Coba andai dia yang jadi wanita, jadi mbak Rukmi atau wanita yang sudah menjadi bahan praktik, dilece*h*kan dan semacamnya!” kesal Ryuna dalam hatinya.
“Kita sama-sama tahu ki Awet sangatlah sakti, pelindung desa ini. Sementara saya, hanya meminta waktu satu jam untuk membacakan doa sekaligus merukiyah mbak Rukmi!” yakin Kim sengaja meyakinkan dan bertingkah sesantun mungkin.
“Bismillah ya Allah,” batin Ryuna yang juga sudah langsung siaga ketika sang suami memintanya untuk kembali berzikir.
Pak RT yang merasa tertantang sangat yakin, ki Awet junjungannya mampu menghadapi kerikil sekelas Kim. Karena jangankan Kim yang manusia biasa dan masih sangat muda, sekelas sil*uman sekaligus demi*t paling menyeramkan saja bisa ki Awet taklukkan.
Segera pak RT menghadap, tapi belum apa-apa, ki Awet yang tetap diam dan tak hentinya mengumbar senyuman, sudah langsung mengangguk-angguk. Menandakan, ki Awet menerima permohonan Kim.
Beberapa saat kemudian, semuanya berkumpul di teras rumah ki Awet yang menjadi digelari tikar untuk semuanya duduk lesehan di sana. Kedatangan Rukmi anak pak Kades yang diboyong keluar oleh pak kades secara langsung sudah langsung menghebohkan mereka yang ada di sana. Termasuk dengan Ryuna yang sampai detik ini masih Kim genggam erat sebelah tangannya. Kim bahkan tetap membuat Ryuna duduk di sebelahnya hingga kenyataan tersebut menjadi pemandangan mencolok sekaligus gunjingan hangat rekan mereka.
Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini Sonya tak seag*gresif biasa. Bagi Sonya Kim tak lagi menarik karena Sonya telanjur klepek-klepek ke ki Awet. Sampai detik ini saja, Sonya masih curi-curi pandang ke pria yang dikata pak RT sudah berusia delapan puluh tahun. Namun berkat kesaktiannya, ki Awet juga awet muda—di mata mereka yang percaya. Karena di mata Kim dan kedua ajudannya, ki Awet sudah sangat sepuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Erina Munir
matanya d balik y thorr
2023-12-20
3
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lha kan sesama demit pak 😆
2023-12-11
1
Nayaka
masya alloh kak ceritanya bagus sekalii,,ada doa juga
semoga makin sukses kak
2023-11-26
3