Ryuna tak mau sang suami sibuk apalagi lelah sendiri menyiapkan makan malam di dapur. Apalagi ternyata, alasan Kim pulang lebih awal tak semata karena pria itu ingin bertemu Ryuna secepatnya. Sebab alasan pemuda itu dibiarkan pulang lebih awal memang karena sore ini menjadi jadwal Kim masak.
“Jangan diambil sampai bawah biar yang gosong enggak ikutan,” ucap Ryuna pada Kim yang tengah menanak nasi dari panci nasi, atau utu ketel.
Kim ada persis di belakang Ryuna karena dapur mereka masak memang terbilang sempit. Sementara kini, Ryuna yang sengaja membantu Kim tengah merebus mi kuah selaku menu pengiritan yang cepat membuat penikma*tnya kenyang. Pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh Kim.
“Cabenya banyak enggak?” lanjut Ryuna.
Bukannya menjawab, Kim justru sengaja menempelkan kemudian menyandarkan punggungnya ke punggung Ryuna.
“Mohon maaf ini tolong dikondisikan. Kalau ada yang lihat gimana?” keluh Ryuna yang kemudian meraih kepala Kim.
“Kayaknya yang lain mikirnya, kita ini pacaran deh,” yakin Kim tanpa melakukan perubahan.
“Iya juga, sih. Tapi Dodo kelihatan dendam banget ya, ke aku,” ucap Ryuna.
“Ke aku pun,” sergah Kim yang kemudian melongok wajah Ryuna yang masih menunduk. Ia sengaja mengec*up pipi kiri Ryuna.
Di perlakukan layaknya sekarang, Ryuna mendelik kemudian mencubit gemas hidung Kim.
“Memangnya kamu enggak ada rasa sayang sedikitpun ke aku?” lirih Kim masih bertahan di depan wajah Ryuna. Detik itu juga Ryuna yang menepis tatapannya, menjadi terlihat sangat gugup. Kedua mata Ryuna menjadi sibuk mengerjap, sementara kedua pipinya bersemu. Refleks, keadaan tersebut membuat Kim yang sampai detik ini masih memperhatikan setiap inci wajah sang istri, menjadi tersipu.
Kemudian, setelah memastikan suasana di sana masih sepi, Kim sengaja kembali merapatkan wajah mereka. Detik itu juga Ryuna yang menjadi tak hanya gugup sekaligus tegang, karena ulah Kim sekarang juga membuatnya panik, refleks sibuk mengerjapkan kedua matanya sambil menatap heran Kim. Jantung Ryuna seolah lepas dari posisinya ketika Kim nekat mengec*up bibirnya.
“Astaghfirullah ...,” refleks Ryuna sambil menepuk kemudian agak mendorong bahu kiri Kim.
“Tapi kamu belum jawab pertanyaanku,” bisik Kim menagih.
“Pertanyaan yang mana?” refleks Ryuna menatap wajah khususnya kedua mata Kim dari jarak yang masih sangat dekat. Ryuna sadar, memiliki suami seperti Kim, yang sangat tanggung jawab dan ilmu agamanya juga kuat, ditambah lagi Kim juga memiliki wajah sekaligus fisik rupawan, merupakan keberuntungan untuknya. Harta dan materi yang belum Kim miliki lantaran Kim hanya anak petani, dirasanya bukan masalah berarti. Karena bagi Ryuna, mereka bisa sama-sama memulai semuanya dari nol.
Setelah merenung sejenak, Ryuna dikagetkan dengan kenyataan Kim yang memepet wajah Ryuna lagi. Pemuda itu melakukannya sambil membasahi bibir bawahnya dan sudah langsung membuat Ryuna panik. Ryuna refleks agak mendorong bahu kiri Kim sambil sesekali menelan cairan yang memenuhi tenggorokannya, selain ia yang sengaja menghela napas beberapa kali demi meredam rasa sesak akibat gugupnya dan itu masih karena ulah Kim.
“Kalau aku enggak sayang, aku enggak mungkin ada di sini!” lirih Ryuna masih belum baik-baik saja.
“Sayang siapa?” lirih Kim sambil tersipu dan sengaja mengg*oda Ryuna.
Ryuna yang merasa geli sekaligus gemas menjadi ikut tersipu dan perlahan menggeleng. Meski setelah ia melihat panci berisi mi rebusnya, ia langsung panik dan refleks menepuk-nepuk bahu kiri sang suami lagi.
“Apinya kegedean.” Kim yang berbisik-bisik nyaris tertawa lantaran mi rebus Ryuna juga nyaris gosong.
“Semuanya benar-benar serba gosong! Ya ampun ...,” lirih Ryuna ketar-ketir buru-buru menung air lagi ke panci minya yang sebenarnya sudah lembek. Namun, keputusan Kim yang sampai berani memeluknya dari samping kemudian mengec*up pipi kirinya penuh sayang, membuat Ryuna tak kuasa menjelaskan perasaannya.
Tegang, bahagia, tapi takut ketahuan juga, Ryuna rasa dalam waktu nyaris sama karena ulah suaminya.
Beberapa saat kemudian, menu makan malam ini menjadi bahan banyolan para mahasiswa.
“Untung ada Ryuna, jadi meski menu makan malam kita banyakan gosongnya, tetap ada manis-manisnya!” ucap Candra yang kebetulan duduk tepat di hadapan Ryuna.
Kim yang duduk di sebelah Ryuna sudah langsung berdeham-deham. Terlebih di sebelahnya, Ryuna sampai menanggapi Candra dengan senyuman. Senyum yang tampak jelas terpaksa sekaligus basa-basi, tapi kenyataan tersebut tetap membuat Kim cemburu.
“Minya meski agak gosong, mirip banget sama masakannya Ryuna,” ucap Dodo sambil melahap makanan di piringnya.
Candra yang duduk di sebelah Dodo refleks berkata, “Paham banget?!” Ia sengaja mengej*ek Dodo karena jujur saja, ia kurang suka dengan cara pikir Dodo.
“Ya iyalah paham. Ryuna kan memang pembantu di rumahku. Awalnya orang tuanya, tapi karena orang tuanya sudah meninggal, ya tinggal Ryuna yang kerja di rumahku!” sewot Dodo tanpa sedikit pun melirik siapa pun yang ada di sana. Ia sengaja menyibukkan diri dengan makanan di piringnya.
“Kamu punya masalah hidup apa sih, Do? Dari awal Ryuna jaga jarak ke kamu, kok kamu sibuk banget bul*l*y Ryuna? Harusnya kamu malu loh, selain karena yang kamu se*r*ang perempuan, yang kami ren*da*hkan juga jauh lebih baik dari kamu. Oke, mungkin kamu suka ke Ryuna, tapi bukan berarti karena Ryuna enggak mau balas kamu, kamu justru menjelma jadi racu*n. Besok bilang ke orang tua kamu, berapa total uang cuma-cuma yang sudah mereka berikan ke Ryuna dan keluarganya. Bila perlu, gaji pun ditotal. Nanti aku balikin lima kali lipat!” sergah Kim yang telanjur muak lantaran Dodo masih saja meny*e*rang Ryuna terang-terangan.
Detik itu juga suasana jadi kurang nyaman. Meski untuk Ryuna, apa yang Kim lakukan merupakan kelegaan.
“Sekarang di hadapan semuanya, kalau kamu masih berani seperti tadi, aku lempar kamu ke jurang biar dijadikan cemilannya ki Awet yang sampai detik ini masih menghilang!” lanjut Kim kali ini tak segan menunjuk-nunjuk wajah Dodo.
Dodo yang awalnya hanya diam, berangsur menunduk hingga tampangnya menjadi terlihat kasihan.
Setelah semuanya kompak berhenti makan termasuk Ryuna sendiri, Candra bertanya mengenai kejelasan hubungan Kim dan Ryuna.
“Nanti kalau kami nikah, kalian semua pasti diundang,” yakin Kim tanpa balasan sekaligus penjelasan berarti.
“Si Kim ... memangnya dia sekaya apa sampai berani seperti tadi?!” batin Dodo kesal sendiri lantaran Kim selalu saja membalas hi*na*annya kepada Ryuna dengan jauh lebih keji. Lebih menyebalkan lagi, setelah pamer akan menikahi Ryuna, kini sebelah tangan Kim diam-diam ia pergoki menggenggam sebelah tangan Ryuna. Yang mana, meski Ryuna terlihat tidak nyaman, Ryuna tidak menolak apalagi mengakhiri ulah Kim.
“Tapi jujur yah, Kim. Aku benar-benar masih khawatir dengan ki Awet. Rasanya, andai kita sudah pergi dari sini pun, kayak akan dapat dampaknya!” ucap Candra dan membuat kebersamaan mereka menjadi membahas serius perkara ki Awet dan keyakinan masyarakat setempat yang telanjur mengagungkan pria sepuh itu. Pria sepuh yang di beberapa kesempatan bisa mengelabuhi orang lain, khususnya orang kurang beriman dengan penampilannya yang akan menjadi terlihat sangat muda sekaligus mempesona. Contohnya saja Sonya, wanita itu sudah menjadi salah satu korban nyata ki Awet yang sampai detik ini menghilang entak ke mana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
dodo ni kayaknya gak bakal menyerah klu blm tau siapa kim sebenernya
2024-06-12
0
Erina Munir
ki awet nyari lahan baru meureuun...nyari lapak yg lebih kampung lgi laah
2023-12-20
4
Firli Putrawan
jahat bgt s dodo manfaat in s ryu buat balas kebaikan keluarga nya yg udah baik, hilang tuh pahalanya sombong amat
2023-08-26
3