Kim sengaja mengambil posisi di sebelah Ryuna yang sudah memakai pakaiannya. Keadaan yang tak memungkinkan membuat sang istri memakai pakaian sekaligus selimut miliknya.
Sampai detik ini, semuanya masih belum bisa tidur. Mereka masih berdesak-desakan. Para mahasiswa di sebelah kanan, sementara mahasiswi di sebelah kiri. Namun khusus Kim, pemuda itu memilih duduk selonjor sambil bersandar ke tembok, tepat di sebelah sang istri yang kebetulan meringkuk di pinggir kiri.
Kedua mata Ryuna dan Kim masih bertatapan di tengah sunyi berselimut kegelapan. Kesunyian yang mendadak terusik oleh gonggongan anj*i*ing dari sebelah selatan selaku rumah ki Awet berada.
Takut, Ryuna sengaja membenamkan kepalanya di pangkuan Kim seiring kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi wajah.
Tak beda dengan Ryuna, yang lain juga ketakutan hingga suasana di sana jadi agak gaduh. Semuanya kompak duduk dan lagi-lagi saling menggenggam tangan satu sama lain.
“Kok, dari tadi aku enggak lihat Sonya ya?” ucap Tiwi sambil mengawasi setiap wajah di san. Ia menjadi orang pertama yang menyadari bahwa Sonya tidak bersama mereka.
Ryuna dan Kim sudah langsung berkode mata. Terlebih dari semuanya, keduanya memang paling yakin memang ada yang tidak beres dengan ki Awet dan segala kepercayaan mist*is di sana.
“Jangan-jangan tadi dia ketinggalan di rumah ki Awet!” ucap salah satu mahasiswi di sana.
“Jujur, di mata kalian, ki Awet seperti apa? Ganteng banget?!” sergah Mahasiswa non muslim yang terbilang sangat taat beribadah layaknya Kim meski agama mereka berbeda. Kemudian ia menatap Kim, “Di mata aku seram, Bos! Tapi kayaknya lain buat para ciwi-ciwi!”
“Sudah kamu ke sana. Lapor ke pak Kades. Minta ditemani ke sana sama bawa salah satu pamanku!” sergah Kim.
“Kamu ikut kan, Bos?” tegas Victor—mahasiswa non muslim yang sudah langsung mendapat tatapan takut dari semuanya apalagi Dodo. Malahan dari semuanya, ketakutan Dodo paling parah melebihi mahasiswi.
Detik itu juga tatapan Kim tertuju kepada Ryuna. Karena melalui tatapannya, ia tengah meminta izin. Namun tak butuh waktu lama, wanitanya itu mengangguk-angguk.
“Eh, kita enggak mau yah, kalau cuma dijaga sama Dodo. Udah, Kim di sini saja!” kompak mahasiswi kecuali Ryuna.
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, selain Dodo yang masih ketakutan sambil melilit rapat tubuhnya menggunakan selimut tebal, Victor juga sengaja ditinggal untuk jaga-jaga di sana.
“Di saat seperti ini, kok aku merasa, aku beneran punya suami, ya? Duh, Kim ... semoga kamu baik-baik saja, ya. Aku bantu doa dari sini,” batin Ryuna mendadak terguncang-guncang lantaran Dodo malah mengusek ke punggungnya.
Victor sudah langsung mengurus Dodo terlebih Kim sudah wanti-wanti agar ia membantu keamanan di sana khususnya menjaga Ryuna yang masih sakit.
“Omong-omong, kok dari tadi, Tiwi sama sekali enggak ada basa basinya ya ke aku. Padahal yang lain sudah semua. Mereka kompak cek keadaan aku. Namun Tiwi ... terus setelah diingat-ingat, kok dia tarik kaki aku, ya?” pikir Ryuna menerka-nerka sambil diam-diam mengawasi gelagat Tiwi. Berbeda dari kemarin, kali ini Tiwi tampak baik-baik saja, seolah semuanya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sementara itu, seiring suara anj*i*ng yang terus menggonggong, rombongan Kim sudah disertai pak Kades. Pak Kades sendiri yang mengetuk pintu rumah ki Awet. Namun sepanjang mereka melakukannya, mereka sama sekali tidak mendapat balasan.
“Biasanya tidak begini!” yakin pak Kades lama-lama kehabisan kesabaran juga.
“Coba dibantu doa deh!” sergah Kim.
“Doa lagi? Aduh ketua ... ini saja sudah langsung panas dingin!” sela salah satu mahasiswa bernama Cakra.
“Demi kebaikan berama. Daripada kita kena tipu daya apalagi sih*ir!” yakin Kim.
Bersama seorang pengawalnya dan juga ketujuh mahasiswa, Kim kembali menggelar doa bersama. Doa bersuara sementara pak Kades masih bertugas mengetuk pintu sambil melayangkan salam.
Sekitar dua menit kemudian, seseorang membuka pintu dan itu istri termuda ki Awet yang memang tampak seumuran Ryuna.
“Ki Awet mana, Mbak?” tanya pak kades tapi yang di tanya langsung menggeleng, seolah tak tahu menahu.
Kim yang melongok, mendapati banyak pintu kamar di dalam rumah sana. Namun, ia mendengar suara meresahkan dari kamar ujung. Suara sepasang yang berdominan suara wanita dan Kim mengenalinya sebagai suara Sonya.
“Kalian dengar?” sergah Kim, tapi dari semuanya, hanya dirinya dan sang pengawal yang mendengarnya. “Permisi, mohon isin sebentar.” Kim yang tak mau mengulur-ulur waktu sengaja buru-buru memastikan. Ia segera menuju.kamar di ujung yang pintunya juga langsung ia dobrak.
Keyakinan Kim sungguh terbukti dan sudah langsung membuat semuanya terperangah. Sonya sungguh ada di sana dan sudah tak ber*bu*sana layaknya pria tua yang tak lain ki Awet.
“Astagfirullahhhh ....” Pak Kades sudah langsung tak bisa berkata-kata.
“Kami melakukannya karena suka saling suka!” yakin Sonya buru-buru memunggungi kedatangan.
“Ki Awet, saya hargai kepercayaan Anda. Saya hargai kesaktian Anda. Namun, cara Anda mempersakti diri sekaligus menzalimi para wanita khususnya gadis-gadis di lingkungan ini sangatlah keji!” tegas Kim. “Heh Sonya, coba kamu baca doa! Makanya jadi wanita jangan keg*ate*lan, sampai-sampai enggak bisa bedain barang bagus sama tipuan!” lanjutnya kesal sendiri.
“Maksud Kim apa, sih? Dia cemburu karena aku lebih memilih mas Awet?” batin Sonya yang kemudian untuk menatap wajah ki Awet yang masih mengungkungnya. Di matanya, ki Awet masih terlihat sangat gagah, tampan, benar-benar idaman, dan memang tidak ada yang salah.
“Doa, Sonya ... doa! Cara kamu begini beneran sudah men*core*ng nama baik kampus tahu. Termasuk ki Awet, Anda sangat dihormati warga, tapi Anda justru begini. Anda kalian sama-sama suka, agama mana, kepercayaan macam apa yang mengizinkan umatnya zi*na!” kesal Kim.
“Doa bagaimana sih? Memangnya apa salahnya kalau aku sama Mas Awet?” sergah Sonya.
“Pemuda ini benar-benar berbahaya!” batin ki Awet apalagi setelah akhirnya Kim lagi-lagi mengajak semuanya untuk berdoa. Kim bahkan bertingkah layaknya pemuda itu tengah kembali melakukan rukiah. Tubuh ki Awet perlahan berasap selain pria itu yang gemetaran hebat.
“Aaaarrrrrrrrrrggggggh!” teriak Sonya ketika akhirnya, di matanya, ki Awet tak lebih dari pria sepuh yang sudah peot dan sangat jauh dari kesempurnaan yang sebelumnya menyilaukan pandangannya. Saking syoknya terlebih alat ke*lami*n mereka saja masih menyatu, Sonya sampai berakhir pingsan.
“Si Sonya ih mu*ra*han banget. Cantik-cantik kok mu*ra*han!” gunjing para mahasiswa kecuali Kim yang memilih fokus untuk mengajak pak Kades mengka*sus ulah ki Awet. Karenanya, tak lama setelah itu, kentongan yang menjadi sarana menarik perhatian warga, ditabuh keras-keras. Anehnya, suara gong-gongan a*nj*ing tak lagi terdengar. Namun lebih anehnya lagi, ki Awet justru mendadak menghilang tanpa jejak.
Semenjak kejadian tersebut, Sonya jadi pendiam. Beberapa dari mereka juga jadi kasihan, meski mereka cenderung merasa tak habis pikir. Namun tentu saja, apa yang mereka alami di sana khususnya yang menimpa Sonya, menjadi pelajaran berharga untuk mereka semua termasuk juga Ryuna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nartadi Yana
kapok kan Sonya harusnya Tiwi sekian jan jahat tu sama ryuna
2024-11-16
0
Ida Ulfiana
aduh serem bngt jd ngeri klu main d desa plosok2
2024-06-12
0
Erina Munir
kesiiaan deh luh sonya...makanya punya hati jangan busuk...itulah akibatnyaa
2023-12-20
6