“Bu, Ryuna mana? Itu tadi suara Ryuna?!” panik Kim tak kuasa menyembunyikan kekhawatirannya.
Ibu Kus yang sudah langsung berdiri setelah mendengar jerit histeris Ryuna, berkata, “Itu tadi mbak Ryuna nemenin mbak Tiwi pipis. Mereka ke bawah bareng-bareng karena mbak Tiwi masih pusing. Jadi tadi mbak Tiwi dipapah sama mbak Ryuna ....” Ia belum selesai berbicara, tapi Kim sudah lebih dulu lari menuju lokasi yang ia tunjuk. Lokasi yang tadi ia ketahui menjadi tujuan Ryuna maupun Tiwi yang dipapah.
“Ada yang datang!” batin Tiwi sudah langsung siaga. Segera ia melongok ke atas hingga ia langsung mendapati Kim yang berlari ke arahnya. “Tiwi ... Tiwi jangan bengong, ayo lakukan sesuatu!” yakin Tiwi menyemangati dirinya sendiri.
“Ryuna ... Ryu ....” Tiwi pura-pura panik. Tak lupa, ia juga pura-pura sedih agar makin meyakinkan, meski tangis pura-puranya tak kunjung menghasilkan air mata lantaran ia memang tidak sedih.
Kim yang melihat Tiwi nyaris terperosok ke bawah, segera meraih sebelah tangan Tiwi kemudian mengangkatnya ke dataran yang lebih tinggi. “Ryuna mana!” tanya Kim yang terdengar membentak bahkan di telinganya sendiri.
Tiwi yang masih pura-pura sedih, tetap bertahan dengan sandiwaranya. Hingga Kim yang tidak tahan, segera menyuruhnya pergi untuk memanggil bantuan.
“Cepat, ini sudah makin gelap!” omel Kim.
Tiwi melangkah loyo sambil agak membungkuk. “Akhirnya, aku berhasil menjalani misiku. Meski jujur, aku beneran takut banget. Jantungku berdebar sangat kencang, sementara kedua tanganku terus gemetaran gini. Aku harus bisa menenangkan diri agar saat aku ditanyai mengenai kronologi jatuhnya Ryuna, aku bisa jawab,” batin Tiwi sambil mengawasi kedua tangannya yang terus gemetaran.
Kim sibuk mengawasi setiap curam dari sekitar sana. “RYUNAAAAAAA!” Napas Kim makin tersengal-sengal.
Tiwi yang tidak tahu-menahu hubungan Ryuna dan Kim, juga alasan Sonya menyuruhnya mendorong Ryuna dan sebenarnya itu karena bagi Sonya, Ryuna dan Kim memiliki kedekatan, cuek-cuek saja kepada ulah Kim. Ia hanya menoleh dan mengawasi sekilas apa yang Kim lakukan di dekat curam sana.
“RYUNAAAAAAA JAWAB AKU. KATAKAN SESUATUUUUU!” mohon Kim segera menuruni curam dan membuatnya berakhir terpeleset kemudian menggelinding jauh.
Kim menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Namun sesekali, ia yang menggelinding juga mengawasi sekitar, mencari-cari Ryuna. Meski setelah nyaris dua menit berlalu, ia justru mendekap sesuatu yang harusnya ia hant*am.
Tidak ada yang tahu mengenai apa yang Kim lakukan bahkan itu Tiwi yang baru saja meninggalkannya. Tiwi tetap melangkah dan terbilang agak menanjak hingga gadis itu sudah agak keringetan sekaligus ngos-ngosan.
“Hah ...?!” batin Kim sudah langsung terkejut. Setelah menghantam beberala akar sekaligus pepohonan kecil, ia justru berakhir mendekap alasannya di sana. Iya, yang ia dekap sungguh punggung Ryuna!
Meski kegelapan sudah menyelimuti suasana, juga hujan yang mendadak mengguyur, Kim merasa sangat bersyukur lantaran Tuhan masih mengizinkannya bertemu sekaligus menemukan Ryuna. Masalahnya, Kim tidak yakin Ryuna baik-baik saja karena biar bagaimanapun, jarak daratan atas dengan lereng keberadaan mereka dan untung saja mereka tertahan di batang pohon besar, terbilang jauh.
Entah seberapa banyak Ryuna terhantam karen Kim yang laki-laki saja merasa tak karuan. Tulang-tulang Kim terasa remuk, tapi karena Ryuna sudah ia temukan, ia langsung berusaha untuk lebih kuat. Demi Ryuna, juga nasib mereka!
“Ryuna ... Ryuna dengarkan aku. Aku di sini. Ryuna, aku mohon tolong buka matamu!” lirih Kim masih belum baik-baik saja. Ia membaringkan Ryuna dengan sangat hati-hati di pangkuannya.
Ryuna tetap tak sadarkan diri. Namun karena hujan terus mengguyur sementara mereka sama-sama hanya memakai kaus tanpa jaket untuk menghalau air hujan, Kim sengaja mengungkung tubuh khususnya wajah Ryuna. Wajah yang awalnya mulus dan nyaris tidak pernah dipoles rias, kini dihiasi beberapa baret serius yang juga merembeskan darah segar. Tak kalah mencolok, dahi Ryuna juga demam parah. Hinhga Kim tak tega jika wajah itu juga sampai terguyur hujan.
“Ryuna ....” Kim terus memanggil Ryuna dengan lirih sekaligus lembut.
Sekitar setengah jam kemudian, Ryuna meringis dan tampak kesakitan, meski Ryuna tak sampai bersuara berlebihan. Kedua mata Ryuna juga masih merem-melek hingga Kim yang masih terjaga makin yakin, Ryuna tidak baik-baik saja.
Dalam benak Ryuna, ia melihat bayang-bayang menyerupai adegan sebuah film lawas. Namun setelah Ryuna awasi, adegan dua anak kecil yang sedang belajar bersama di pinggir jalan dekat gerobak samp*ah itu, salah satunya merupakan dirinya. Iya, gadis kecil kumal di benaknya itu Ryuna kenali sebagai dirinya. Lalu, siapa sosok bocah laki-laki yang sampai menuntunnya belajar menulis menggunakan pensil di buku tulis? Ryuna benar-benar tak mengenalinya.
Beberapa saat kemudian, sakit luar biasa di dada Ryuna membuat wanita itu kesulitan bernapas.
“Ryuna ... Ryuna jangan begini, Ryuna jangan bikin aku takut! Kamu harus baik-baik saja. Biar aku saja yang terluka. Ryuna!” panik Kim benar-benar takut.
Di tengah kesakitannya, Ryuna berusaha membuka matanya, dan suara barusan lah alasannya untuk melakukannya. Ryuna tahu tadi itu suara Kim. Namun ketika ia membuka mata menatap Kim, pria yang telah menikahinya itu dirasanya mirip sosok bocah di ingatannya.
Kim yang makin panik, buru-buru melakukan pertolongan pernapasan. Ia memompa-pompa dada Ryuna, dan berakhir memberi wanita itu napas buatan lantaran usahanya memompa dada Ryuna, tak kunjung membuahkan hasil.
“Ini, apa ...?” batin Ryuna masih setengah sadar tapi perlahan, ia berhasil membuka kedua matanya. Ia sudah langsung menggunakan kedua telapak tangannya untuk menahan bibir Kim, ketik pria itu akan kembali memberinya napas buatan.
“Yakin, sudah enggak perlu?” tanya Kim.
“Ayolah ... jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan,” ujar Ryuna.
“Enggak apa-apa, kan sudah halal!” yakin Kim dan langsung membuat Ryuna mendengkus.
“Aku enggak bisa gerakin tubuh aku,” lirih Ryuna masih tak berdaya. “Ini beneran Kim ... dia bisa ada di sini. Dia nangis dan melakukan segala cara hanya untuk aku? Andai dia memang baj*ingan dan hanya mai*n-mai*n dengan aku, harusnya dia memanfaatkan situasi ini untuk cuci tangan,” batin Ryuna nurut-nurut saja ketika Kim membangunkannya dengan hati-hati. Kim memangkunya, memeluknya, terlepas dari mereka yang sama-sama kedinginan akibat tubuh mereka yang sama-sama kuyup.
“Sudah menggelinding dari atas, terus dihujani juga,” lirih Ryuna.
“Enggak apa-apa. Yang penting sekarang kita sudah bersama. Tolong beri aku waktu tiga puluh menit buat meluruskan kedua kakiku dulu, biar aku bisa kuat gendong kamu!” ucap Kim masih mendekap dan membiarkan wajah Ryuna bersandar ke dadanya agar istrinya itu tak membeku karena kedinginan.
Akibat hujan yang masih berlangsung, cuaca di sana yang sudah sangat dingin meski hujan tidak sedang turun, memang makin ekstrim.
“Ayo lakukan sesuatu ... kamu tahu maksudku,” ucap Kim ragu.
Ryuna sudah langsung menggeleng. “Enggak ... jangan aneh-aneh. Setiap wilayah memiliki peraturan sekaligus adat berbeda, selain segala sesuatunya yang lebih baik dilakukan di tempatnya. Jangan karena ego sesaat, kita harus merasakan dampaknya seumur hidup!” tolak Ryuna yang memang sudah langsung paham maksud ajakan Kim. “Aku masih ingat kisah teman. Sepasang, harus terpisah karena kesalahan sepele yang mereka langgar di peraturan tempat mereka singgah.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ari_nurin
aku agak bingung baca novel ini. tdk spt novel author yg lain .. ini kenapa Tiwi bs melenggang pergi tanpa di curigai?? dan kenapa ga ada yg menolong Kim dan ryuna?
2024-12-11
0
Firli Putrawan
ayo berusaha sebagai tmn penolong aja dl biar g ada yg curiga
2023-08-26
3
Ainisha_Shanti
semoga Ryuna ingat, Kim adalah teman masa kecilnya
2023-08-18
1