“Kim, kamu percaya kan, setiap daerah termasuk desa ini, memiliki budaya sekaligus adat istiadat yang melibatkan kepercayaan selain kepada Tuhan? Alasan itu juga yang mewajibkan kita merahasiakan hubungan sekaligus pernikahan kita, agar kita tidak mendapatkan sanksi dari apa yang telah kita lakukan, meski biar bagaimanapun, kita korban?” lirih Ryuna.
Apa yang Ryuna katakan terdengar kental dengan kekhawatiran. “Ryuna, aku akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi.”
“Semoga memang selalu begitu!” sergah Ryuna yang kemudian berkata, “Namun selama aku di sini, aku tidak melihat tempat pengobatan selain pengobatan tradisional yang dilakukan oleh tabib atau malah du*kun kakek-kakek itu.”
“Ke kecamatan, meski agak jauh ada puskesmas. Sudah kamu jangan mikir macam-macam nanti aku yang urus biar kamu bisa berobat ke puskesmas!” balas Kim.
Ryuna buru-buru menarik wajahnya dari dada Kim, guna menatap wajah Kim. “Maksud aku bukan gitu. Yang namanya warga sekitar, pasti akan langsung membawaku ke tempat pengobatan yang paling dekat. Sementara yang aku amati, tabib sekaligus du*kun di sini sangat dihormati. Sudah kakek-kakek, punya empat istri dua diantaranya masih muda dan yang terbaru sebaya sama aku, dan mereka ditempatkan di satu tempat!”
“Kok kamu sampai tahu serinci itu?” tanya Kim heran dan memang baru mengetahuinya.
“Dua muridku merupakan anak dari istri pertamanya. Jadi kirain kakaknya, eh mamak tiri pas antar ke pos belajar. Nah, tiga hari lalu pas hujan dan dua anaknya ini enggak dijemput-jemput dari pos sementara yang lain sudah dijemput semua, aku sekalian antar ke rumah mereka. Dan kamu tahu, bapak mereka si tabib duku*n itu, yang dari kejauhan kelihatan kakek-kakek, pas aku dekati ganteng banget, masih gagah, tubuhnya enggak tongkok, tapi berotot! Kamu bahkan enggak ada apa-apanya! Dia senyum-senyum ke aku. Aku dipaksa masuk dikasih minum, enggak aku minum. Dia yang langsung ambilin aku minum. Dalam hati ya, aku terus doa. Doa sebisaku meski lidahku juga sudah kelu, pokoknya enggak karuan. Nah dia maks*a aku minum dan baru akan mengizinkan aku pulang kalau aku sudah minum air putih pemberiannya.”
“Sudah rumah sepi, beneran mendadak hanya ada kami, ya sudah aku minum, aku muntahin pura-pura mual dan aku langsung buru-buru lari keluar. Nah pas aku noleh, percaya enggak percaya, tuh orang kelihatan kakek-kakek dan gigi depannya saja yang atas enggak ada satu!” Menceritakannya saja, Ryuna yang memang merasa sangat sakit di bagian dadanya akibat menggelinding dari atas beberapa saat lalu, sudah merasa sangat sesak.
“Kenapa kamu enggak bilang ke aku?” tegas Kim. “Kenapa kamu baru bilang?!”
“Lah ... memangnya sebelum ini, kita apa?” keluh Ryuna. Terlebih sejauh ini, ia bukan tipikal yang akan membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tak pasti dan salah satunya mengejar perhatian sekaligus cinta Kim, layaknya yang dilakukan para rekannya. “Percaya enggak percaya, yang mistis-mistis gitu memang ada sih ya. Apalagi kan biar bagaimanapun, pas itu aku masih ... pe*ra*wan, jadi kan mungkin dia paham tanpa aku menyebutkan!”
“Sini ... sini ....” Kim sengaja membingkai wajah Ryuna menggunakan kedua tangannya. Ia menuntun Ryuna untuk menatapnya dan istrinya itu sudah langsung melakukannya. Ryuna menatapnya penasaran dan memang hanya berlangsung beberapa saat karena Ryuna menepisnya.
“Apaan, sih. Kamu mau hipnotis aku?!” kesal Ryuna.
Kim jadi tertawa kecil. “Bukan ... bukan itu. Sini aku bacain doa. Gini-gini, aku juga lulusan pesantren!” yakinnya lagi.
“Enggak harus natap mata kamu, kan?” tawar Ryuna.
“Wajib!” tegas Kim yang masih membingkai wajah Ryuna menggunakan kedua tangannya. “Wajib Ryuna ... soalnya kalau kamu enggak natap aku, apalagi kalau kamu sampai merem, rasanya aku jadi pengin ci*u*m kamu terus!”
“Ih apaan, ih. Kamu malah jadi enggak jelas, mirip dukun pe*l*et itu!” cibir Ryuna.
“Eh, apaan ... kok kamu nyamain aku dengan dia? Gini-gini, aku suami kamu!” Kali ini Kim mengomel.
“Ya sudah, coba bacain doa, tapi doanya benar-benar harus bersuara, agar aku percaya kamu beneran baca doa!” yakin Ryuna yang sengaja menuntut bukti. Sebab kejadian tabib duk*un dan sempat ia ceritakan, telanjur membuatnya parno bahkan trauma.
Detik itu juga Kim tersenyum sambil mengelus-elus pipi Ryuna menggunakan jemarinya. Menatap teduh kedua mata Ryuna, ia memulai doanya dengan melafalkan ta'awuz.
“Ryuna belum tahu kalau aku bukan hanya lulusan pesantren. Karena yang ada, aku merupakan anaknya pemilik sekaligus pimpinan pesantren yang aku maksud. Namun mengenai tabib duk*un itu ... dakja*l sih!” batin Kim. Doa-doa yang ia lantunkan sukses membuat Ryuna diam. Ryuna tampak merasa lebih tenang, hingga ia memiliki alasan untuk melepas istrinya itu.
“Aku akan memeriksa kaki kamu lagi. Habis ini aku akan gendong kamu, ... kita ke atas,” ucap Kim sembari meluruskan kedua kaki Ryuna.
Ryuna kesakitan dan meminta Kim melakukannya dengan lebih pelan. “Bentar, sabar Kim. Aku sesak lagi. Dadaku sakit banget ....” Ryuna menghela napas dalam, dan langsung melotot syok ketika tatapannya mendapati seekor ular hitam belang putih layaknya cincin, ada di sebelah Kim.
“Kenapa?” lirih Kim lantaran ekspresi Ryuna tampak jelas menahan rasa takut. Sementara setelah ia memastikan apa yang Ryuna tatap, ternyata di sana ada ular. Kim yang sebenarnya sudah langsung takut, berangsur kembali menatap Ryuna. “Enggak apa-apa. Tenang ....” Kemudian ia agak menunduk sambil menengadahkan kedua tangannya di depan dada. “A'udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq.”
“Belum ... ularnya belum pergi!” lirih Ryuna benar-benat ketakutan. Jantungnya seolah ru*sak karena terus berdentam cepat.
“A'udzu billahi min asadin wa aswadin wa hayyatin wa 'aqrabin wa min syarri walidin wa ma walad wa min syarii sakinil balad.” Detik itu juga Kim menyadari, ular yang ia harapkan pergi akhirnya melipir.
“Alhamdullilah ... ya sudah yuk, kita cari jalan keluar. Tapi di sini gelap banget sih,” sergah Ryuna masih belum bisa tenang.
“Oke, oke ... tenang dulu. Tenang, semuanya pasti ada jalan.” Kim berangsur bersiap menggendong Ryuna, meski kaki kanannya saja tidak baik-baik saja hingga melangkah sendiri pun, ia agak pin*cang.
“Kim, kamu yakin?” tanya Ryuna karena melihat Kim berjalan sendiri saja, pria itu kesulitan.
“Sudah enggak apa-apa. Ini yang namanya, susah senang bersama!” yakin Kim.
“Ya sudah. Kalau memang berat, nanti bilang ya. Maksudnya, turunin aku saja.” Ryuna berangsur mendekap punggung Kim dengan hati-hati. Detik itu juga, samar-samar, ia mendengar kentongan yang terus ditabuh.
“Kim, kamu dengar itu?” sergah Ryuna langsung semangat. Karena dengan kata lain, harapan bantuan akan segera datang, benar-benar ada, meski itu memang baru harapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
kayaknya kampungnya penuh hal mistis
2024-06-12
1
Neli Allen
merinding ya allah membacanya
2023-12-09
2
lily
itu kejadian gelap bener bner gelap apa pas ada bulan purnama, krna kalo pas bulan purnama kan lumyan tu agak terang dkit samar - samar
2023-11-27
1