“Jadi, kalian beneran mau lanjut menikah? Atau memang sudah terjadi sesuatu karena jatah pengantin yang kalian konsumsi?” tanya pak kades.
Pertanyaan tersebut pula yang tengah membuat Ryuna bertanya-tanya. Namun di hadapannya, si pak kades mendadak terlihat ketakutan. Dan setelah Ryuna pastikan, ternyata karena Kim menatap pak Kades dengan sangat marah.
“Siapa yang harus disalahkan atas kasus ini? Bayangkan jika ada warga yang mengetahui apa yang terjadi kepada kami, lalu itu akan berdampak fatal kepada KKN kami?!” tegas Kim.
“Ok-oke ... kalian akan saya nikahkan. Namun selama di sini, kalian harus merahasiakan hubungan kalian. Selanjutnya, pastikan kalian juga membersihkan tempat bekas kalian ‘melakukan’ karena memang ada larangan-larangan yang harus tetap dipatuhi sesuai adat desa kami!” ucap pak Kades berusaha memberikan solusi terbaik.
“Kenapa kami harus merahasiakan hubungan kami?” tanya Kim. Pertanyaan yang sebenarnya juga sangat ingin langsung Ryuna tanyakan.
“Karena warga pasti akan sangat marah jika tahu apa yang sudah kalian lakukan. Bisa jadi, kalian akan langsung diusir dan dampaknya juga kembali pada acara KKN yang serang kalian jalani. Tentu, meski saya kepala desa, saya tetap tidak bisa melindungi kalian apa pun alasannya!” tegas pak kades.
Alasan tersebut pula yang membuat Kim dan Ryuna terpaksa merahasiakan hubungan mereka, meski ijab kabul yang Kim lakukan dipimpin adik pak kades, disaksikan pak kades sekeluarga, sudah langsung mendapat kata sah!
Beres ijab kabul, pak kades langsung memboyong Kim dan Ryuna untuk melakukan pembersihan di gubuk keduanya melakukan ‘cinta satu malam’ akibat jatah pengantin yang mereka konsumsi. Selain berada di pelosok dan jauh dari kecanggihan teknologi, masyarakat setempat juga masih memegang adat istiadat kuat. Ada sesajen yang pak kades sertakan di acara ritua*alnya, kemudian diletakan tak jauh dari amben kecil yang ada di gubug sana.
Sebagai pendatang, tentunya Kim dan Ryuna hanya mengikuti. Keduanya menghargai sekaligus menghormati adat dan peraturan setempat, demi keamanan sekaligus keselamatan bersama. Di daerah pegunungan dan sebagiannya berupa hutan tempat mereka menjalani KKN, hingga sekadar sinyal ponsel saja nyaris tidak ada, baik Kim maupun Ryuna benar-benar tak menyangka, mereka akan melakukan kesalahan fatal yang membuat keduanya terikat dalam pernikahan. Jadi, ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu, Ryuna yang masih belum bisa menerima kenyataan, refleks melipir sekaligus menjaga jarak.
“Meski sudah menikah, jangan minta yang aneh-aneh ya. Mulai sekarang kita fokus ke KKN saja. Kita masih punya sekitar 23 hari untuk menyelesaikannya. Toh, kita juga diminta untuk merahasiakan hubungan kita,” lirih Ryuna yang mengatakannya tanpa berani menatap Kim secara terang-terangan. Padahal di sebelahnya, meski Kim yang kembali memakai topi hitamnya hanya diam, pria itu terus mengawasi Ryuna, menatap Ryuna nyaris tak berkedip. “Jangan terus melihatku itu!” keluh Ryuna yang kali ini merengek.
“Iya,” singkat Kim dan detik itu juga tak lagi banyak bicara.
Acara ritua*l yang pak kades lakukan akhirnya usai dan baik Kim maupun Ryuna dipersilakan ke pondok masing-masing.
Di KKN yang mereka jalani, para laki-laki tinggal di aula yang bentuknya mirip sanggar dan keberadaannya ada di balai desa. Sementara para wanita tinggal di rumah warga, di tempat yang sama, demi keamanan bersama. Acara KKN sendiri akan libur jika di hari Sabtu dan Minggu, jika warga memang tidak membutuhkan bantuan mereka. Kendati demikian, dan lagi-lagi masih demi keamanan bersama, peserta KKN tidak boleh pergi jauh-jauh apalagi memasuki area hutan tanpa didampingi warga.
“Hari ini kalian masih libur, kan?” tanya pak kades sambil melalui jalanan yang jauh dari kata layak di sana. Sebagai warga sana dan harusnya sudah terbiasa dengan keadaan, ia juga kerap nyaris terpleset andai Kim yang terus menggandeng Ryuna, tak membantunya.
“Iya karena hari ini hari Sabtu, Pak kades. Namun jika melihat keadaan jalan yang sangat memprihatinkan, tampaknya hari ini juga kami harus mempercepat perbaikan jalan,” ucap Kim. Di sebelahnya, ia justru memergoki sang istri yang terpukau kepada beberapa pemuda. Pemuda yang jumlahnya ada lima itu mengendarai motor dengan bar-bar di jalan yang jauh dari baik-baik saja sambil membonceng muatan karung besar sekaligus ditumpuk.
“Selamat siang Pak Kades ...?” setiap pemuda di sana menyapa Pak kades dengan semringah.
“Kalau boleh tahu, yang mereka angkut, itu apa, Pak?” tanya Ryuna.
“Oh itu ... itu kolang kaling, Mbak. Kebetulan, kami sedang panen kolang-kaling,” jelas pak kades.
“Oh ....” Ryuna mengangguk-angguk, tapi jujur, keinginan untuk ikut serta memanen kolang-kaling, tiba-tiba menggebu menguasai hati kecilnya.
Demi mengalihkan perbincangan pak Kades dan Ryuna yang tengah membahas panen kolang-kaling, Kim sengaja berdeham. Ia meminta izin untuk segera melakukan perbaikan jalan, besok hari juga. Namun, Kim butuh bantuan pak kades untuk menggerakkan warga agar saling gotong royong.
“Ah, siap Mas. Siap! Biar cepat beres juga, ya? Nanti saya sendiri yang akan memimpin!” ucap pak Kades bersemangat. “Terus kalau para wanita mau bantu panen kolang-kaling, kupas-kupas di gubug dekat hutan, nanti bisa ditemani istri saya!” lanjutnya yang kali ini mengajak Ryuna berbicara. Wanita itu sudah langsung tersenyum kemudian mengangguk-angguk. “Nanti saya sendiri yang bilang ke teman-teman mbaknya. Biar hari besok ada kegiatan selagi tim putra juga mulai bekerja sama membangun jalan.”
“Iya, Pak. Begitu saja. Sekali lagi, terima kasih banyak!” ucap Kim dan Ryuna benar-benar bersamaan. Meski setelah sadar ucapan yang mereka lakukan sama, mereka juga refleks bertatapan. Pak kades lah yang terhibur, menertawakan keduanya, sebelum akhirnya pria bertubuh subur itu malah bernostalgia, menceritakan keromantisan awal mula hubungannya dengan sang istri. Kim dan Ryuna jadi kikuk dan terpaksa menjadi pendengar baik cerita pak kades yang ternyata terbilang ala*y jika sudah membahas percintaan.
Sebagai bentuk rasa bertanggung jawabnya, Kim sengaja mengantar Ryuna hingga ke tempat Ryuna tinggal bersama peserta KKN perempuan lainnya. Kim tetap melakukannya meski aula tempat ia tinggal selama di sana, sudah ada di hadapannya. Juga, meski pak kades berdalih akan mengantar Ryuna hingga tujuan dengan selamat.
Sekitar dua puluh menit kemudian, sampailah mereka di sebuah rumah gubuk yang lantainya saja masih berupa tanah. Namun, yang membuat para perempuan di sana heboh berbondong-bondong keluar, bukan karena kepulangan Ryuna. Bukan juga karena pak kades turut serta. Melainkan karena adanya Kim di sana. Karenanya, Ryuna yang menyadari itu dan awalnya ada di balik punggung Kim, buru-buru mengakhiri gandengan mereka.
Dari semua mahasiswi sekaligus perempuan di kampung sana, memang naksir Kim karena bagi mereka, selain sangat tampan, Kim juga sangat sopan sekaligus bertanggung jawab. Ibaratnya, Kim itu paket komplit laki-laki sekaligus suami idaman. Namun setelah Ryuna tahu bahwa Kim hanya anak petani dan bapaknya akan pergi ke Jakarta untuk menjadi kuli bangunan ketika bukan di musim tanam maupun panen padi, Ryuna jadi tidak yakin, para perempuan itu dan sebagiannya tipikal perempuan matr*ealis*tis, akan tetap mengidolakan Kim. Sebab yang Ryuna dengar dari beberapa teman KKN-nya, yang mereka tahu, Kim anak orang kaya raya. Namun pagi tadi, Ryuna dengar sendiri dari Kim, fakta mengenai siapa pria itu.
“Tapi andai mereka tahu kalau aku justru sudah menikah sama Kim, ... matilah aku!” batin Ryuna benar-benar takut. Karenanya, ia memilih masuk dan tak mau jadi bagian kerumunan untuk suaminya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
lily
btw nih itu maharnya apa ya Thor , kan secara dadakan tuh nikahnya , gk mungkin cincin kan ,,, haha
2023-11-27
4
ᵉᴸiˢ🇵🇸Kᵝ⃟ᴸ
masih nyimak tor
2023-11-26
1
😍wike😍
hadir
2023-11-18
0