“Andai aku bertemu ki Awet, akan aku ajak dia kerja sama untuk menyingkirk*an Kim yang sombong. Selain aku yang juga ingin minta bantuan ki Awet buat bikin Ryuna klepek-klepek ke aku!” batin Dodo sambil melepas kepergian Kim yang akan mengantar Ryuna ke penginapan mahasiswi.
Kim tidak hanya mengantar Ryuna sendiri. Karena Kim didampingi oleh dua mahasiswa untuk jaga-jaga. Demi kebaikan bersama.
“Kalian ngantongin garam juga, kan? Buat jaga-jaga?” tanya Kim.
Terhitung semenjak ki Awet menghilang, masyarakat di sana disarankan bahkan diwajibkan untuk jaga-jaga menggunakan garam. Jadi, kenyataan setiap depan pintu rumah warga yang dibatasi garam, kini menjadi pemandangan biasa untuk mereka.
“Bawa enggak? Kalau enggak, ini aku kasih. Aku punya stok satu bungkus,” sergah Ryuna sambil menurunkan ransel gendongnya.
Kedua mahasiswa yang ditanyai justru tertawa.
“Gara-gara ki Awet, Ryuna jadi juragan garam!” goda Candra dan langsung membuat Ryuna tersipu.
Lain dengan Rasjid yang mengaku parno dan ingin secepatnya pulang ke Jakarta gara-gara kasu*s ki Awet. “Jujur sih, aku nyesel KKN di sini. Si Kim lagi ... memangnya pas kamu cek-ricek, kamu enggak tahu kalau di sini, ada ki Awet yang diagungkan?” Kali ini ia sengaja protes.
“Pas cek, aku ya enggak sampai mikir ke situ. Yang aku pikirkan, KKN kita nyata. Dalam artian, kerja yang kita jalani benar-benar tepat sasaran. Kita beneran membantu masyarakat sekaligus desa yang membutuhkan. Terbukti juga kan, selain wajib melewati anak sungai, jalan ke sini pun ancu*r memprihatinkan. Namun karena kita bantu, alhamdullilah hasilnya mulau kelihatan. Sementara mengenai ki Awet dan kepercayaan masyarakat, aku yakin, di luar negeri sekalipun pasti ada. Maksudnya, ada kepercayaan setempat sekaligus sosok yang dituakan sekaligus disegani. Hanya saja kalau ternyata keadaannya juga sampai di luar nalar, ini beneran di luar kendaliku. Ini di luar kendali kami yang melakukan survey!” ucap Kim benar-benar tertata kemudian meraih sebelah tangan Ryuna dan menggandengnya.
Karena meski tatapan Kim fokus kepada Candra maupun Rasjid yang melangkah di kanannya, fokus penuhnya tetap tertuju kepada Ryuna yang melangkah di sebelah kirinya. Lebih kebetulan lagi, Ryuna sempat bergumam karena nyaris menginjak ular.
“Kenapa, Na?” sergah Rasjid langsung parno lantaran Kim sampai mengangkat tubuh Ryuna.
“U-ular ...!” sergah Ryuna dan refleks membuat Rasjid loncat ke gendongan Candra.
“Asli, aku langsung enggak suka kalau keadaannya sudah gini!” keluh Rasjid yang kemudian heran kepada Kim. “Bos, itu ular enggak doyan ke kamu, apa gimana?” Ia benar-benar penasaran.
“Ada doanya ...,” yakin Kim.
“Oalah masa?” Rasjid penasaran.
Menghela napas dalam, Kim menatap tak habis pikir sang rekan. “Lah, kamu pas lagi ngaji, telinganya ditaruh di mana? Masa iya telinga kamu transmigrasi sementara kamu masih di masjid?”
Bukannya kesal apalagi marah, Rasjid justru langsung menahan tawanya. “Asli, pas masih kecil, aku malas banget ngaji. Enggak sangka, di situasi seperti ini, doa-doa dari ngaji beneran berguna banget! Menurut kamu gimana, Ndra? Kamu kan anak Tuhan!”
Terlepas dari obrolan ketiga cowok di sana yang masih saja bisa bercanda, Ryuna justru khawatir dengan langkahnya yang sempat diganggu ular. Walau Kim berhasil melindunginya, Ryuna telanjur parno dan langsung menghubungkannya dengan firasat b*uruk.
“Kemarin pas aku jatuh, dan dadaku sakitttt banget enggak jelas, juga ada ular seperti tadi kan?” ucap Ryuna yang kemudian menatap Kim. Detik itu juga tatapan mereka bertemu.
“Itu karena kamu sudah dijadikan target sama ki Awet. Sayangnya itu orang salah sasaran dan memang kalah start!” ucap Kim dingin.
“Loh ... loh, gimana ceritanya?” ucap Rasjid sudah langsung kepo.
“Sumpah, loe? Aku juga jadi penasaran! Puji Tuhan kamu enggak kayak Sonya yah, Ryuna!” timpal Candra yang memang tak kalah penasaran.
Detik selanjutnya, Kim segera menceritakan tragedi Ryuna yang mengantar kedua anak ki Awet dan Ryuna dipa*ksa meminum air putih pemberian ki Awet. Kim juga menyebut bahwa saat itu Ryuna melihat perubahan wajah ki Awet dari gagah menjadi terlihat tua setelah Ryuna mendekatinya.
“Di mataku tua banget! Puji Tuhan serem banget!” ujar Candra merasa tak habis pikir.
“Di mata aku masih lumrah. Usia empat puluhan tapi masih gagah gitu!” sergah Rasjid.
“Itu karena iman kamu kurang kuat, Ras!” sergah Candra masih membopong Rasjid, tapi beberapa detik kemudian, ia menurunkan paksa rekannya itu lantaran ia kewalahan.
“Bismillah, ini bukan bertanda bu*r*uk!” ucap Ryuna yang kemudian menatap Kim yang juga sudah langsung membalas tatapannya.
“Amin!” singkat Kim lirih tapi sudah langsung sampai ke hati Ryuna. Jauh di dalam dada sana, hati Ryuna menjadi diselimuti rasa hangat.
“Aku jadi curiga kalau tadi itu sebenarnya jelmaannya ki Awet!” heboh Rasjid kali ini langsung meminta gendong kepada Candra. Ia tetap menempel ke punggung Candra, meski pemuda chinese itu memohon kepadanya untuk pergi.
“Ras ... Ras, efek urus jalan dan bikin aku kerja bak badak, punggung aku berasa ada seribu. Sakit Ras!” keluh Candra.
Setelah kehebohan sepanjang jalan, akhirnya mereka sampai di depan rumah para mahasiswi KKN menginap. Kim berangsur menurunkan Ryuna. Tampak di depan sana, di teras rumah, pak kades tengah duduk di risban bersama sang istri.
“Itu pak kades ngapain sama istrinya di sana!” kepo Rasjid.
“Aku jadi khawatir ke Sonya. Jangan-jangan, Sonya kenapa-kenapa. Aku-aku sendiri memang trauma kalau jadi dia. Bayangin saja, e-n-a-en*a sama orang yang awalnya gagah perkasa, eh pas kepergok malah berubah jadi tua ban*gk*a wajib dikubur hidup-hidup!” komentar Candra. Lain dengan Kim dan Ryuna yang memilih diam.
Mereka segera ke sana, menyapa bahkan menyalami pak Kades beserta istri. Ternyata Rukmi juga di sana. Wanita yang sempat mengalami pengaruh si*h*ir dan mereka yakini nyaris menjadi korban ki Awet, kini tampak sehat layaknya manusia normal pada kebanyakan.
Rukmi menggerai rambut panjang warna hitam lurusnya. Kebaya kuning yang dipakai sebagai atasan jarit cenderung hitam, membuat penampilannya tampak anggun. Namun yang langsung menyita perhatian rombongan Kim tentu Sonya. Apalagi, di tengah temaram yang menyelimuti suasana di sana, Sonya tampak melamun.
Sonya duduk menekuk kedua kakinya sementara tatapannya kosong. Di sebelahnya, Sonya ditemani Tiwi yang sudah langsung menatap sinis kepada Ryuna yang sampai detik ini masih berdiri bersebelahan dengan Kim, meski keduanya datang bersama Rasjid dan juga Candra.
“Mbak Ryuna ...?” sapa Rukmi sangat ramah bersama senyum terbaiknya yang ia tujukan kepada Ryuna.
Detik itu juga, Ryuna yang awalnya tengah mengawasi Sonya maupun Tiwi, menoleh ke sebelahnya. Karena di sana, suara Rukmi berasal. “Si Mbak Rukmi kenapa, ya? Kok mendadak akrab gini ke aku?” pikir Ryuna merasa aneh pada perubahan Rukmi kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
azka myson28
sonya kena karma sebentar lagi tiwi juga dapat
2024-06-18
0
Kosong
Yaaaa sayang bangat ceritanyaa aku suka
Toi aku gk suka horornyaaa 😭😭😭😭
Gk suka horor maaaak 😭
2024-02-27
2
Anonymous
Kanjut ceritanya seru banger
2023-12-26
2