Sepanjang perjalanan yang dihiasi keheningan karena baik Kim maupun Ryuna kompak diam, jalan yang Kim pilih membuat Ryuna yakin, pria yang berdalih akan bertanggung jawab dan sampai detik ini masih menggandengnya erat, akan membawanya ke rumah pak kades.
Kini, walau di beberapa kesempatan sempat terpleset dan membuat Kim susah payah menahan keseimbangan mereka, Ryuna sengaja memberontak. Ryuna tidak mau melanjutkan perjalanan mereka. Ryuna berniat pergi, memilih jalan berbeda dari Kim. Tentu saja, melupakan apa yang terjadi, menganggapnya tidak pernah ada, demi kebaikan bersama.
Tanpa bersuara, Kim menatap Ryuna penuh tanya. Wanita berambut panjang dan sebagiannya berantakan lolos dari ikatan, menatapnya dengan tatapan marah. Kim maklum Ryuna begitu karena baginya, meski ia juga tidak berniat melakukannya, Ryuna berhak marah. Ryuna berhak membencinya setelah semua yang terjadi.
“Kamu beneran mau jujur ke pak Kades? Apa yang terjadi pada kita bisa merugikan teman-teman kita. Acara KKN kita bahkan baru berjalan satu minggu. Iya kalau hanya kita yang harus menanggung meski beneran enggak mau kehilangan apa yang sudah aku raih.” Ryuna meluapkan kemarahannya.
“Asal kamu tahu, aku hanya mahasiswi beasiswa. Aku sudah tidak punya orang tua dan hanya mengandalkan beasiswa itu sambil bekerja serabutan agar aku bisa menjadi sarjana seperti harapan orang tuaku! Aku beneran enggak mau karena apa yang terjadi kepada kita, semua yang aku dan juga anggota KKN perjuangkan susah payah, ....” Menjeda ucapannya, Ryuna yang sampai berlinang air mata sambil menatap Kim penuh emosional, berangsur menggeleng berat. “Semuanya benar-benar fatal hanya karena apa yang kita lakukan, bahkan walau kita tidak sengaja!”
Kim yang masih menggandeng erat tangan Ryuna, makin menatap kedua mata lebar itu penuh keseriusan. “Kamu benar-benar sebatang kara?”
Ryuna terdiam bingung bersama tatapannya kepada Kim yang tak lagi seemosional sebelumnya.
“Kamu bahkan enggak punya saudara?” lanjut Kim benar-benar ingin tahu.
Tanpa berani menatap Kim lagi, Ryuna yang menunduk pun berkata, “Orang tuaku terlalu mis*kin untuk membesarkan anak lebih dari satu.”
“Kalau begitu ayo kita menikah!” sergah Kim.
Detik itu juga Ryuna merinding. Ia refleks menatap Kim, hingga ia mendapati kedua mata lebar itu yang menatapnya nyaris tak berkedip.
“Ayo kita menikah agar kehadirannya, tidak dianggap sebagai anak ha*ram. Dia tidak bersalah, dan dia berhak bahagia karena memiliki kita.” Setelah berucap demikian, Kim sengaja berkata, “Kita menikah tanpa harus mengatakan apa yang telah terjadi kepada kita. Deal?”
Menikah? Sungguh itu tidak ada dalam kamus hidup seorang Ryuna apalagi menikah muda dengan orang yang juga tidak ia kenal.
“Kita harus menikah!” tegas Kim lantaran Ryuna jadi sibuk menggeleng. Namun kali ini, wanita itu tiba-tiba diam dan tampak sangat syok dalam menatapnya.
Jika di luar sana kebanyakan yang memaksa dinikahi atau segera diadakan pernikahan setelah “kece*lakaan”, pihak wanita, untuk kas*us mereka benar-benar beda. Karena Kim yang terus memaksa. Kim sampai memanggul Ryuna, terus begitu meski Ryuna terus memberontak, kerap mukul punggung Kim menggunakan topi hitam yang awalnya menutupi kepala sekaligus sebagian wajah Kim.
“Akhirnya kita sampai ...!” ucap Kim yang kemudian mengembuskan napas lega.
Ryuna benar-benar baru menyadarinya. Mereka sungguh sudah sampai di teratag penuh hiasan janur kuning setelah melangkah susah payah melalui jalanan becek bertanah merah akibat hujan semalam.
Kedatangan Kim dan Ryuna sudah langsung disambut tatapan sulit diartikan dari kelima pemuda desa yang semalam menjadi tukang antar makanan bagi para tamu. Ryuna yang sempat takut dan refleks buru-buru berlindung di belakang punggung Kim, berangsur memasang wajah galak dan balas menatap tegas setiap mata pemuda desa.
“Mas, maaf. Pak kades masih di rumah, kan? Adiknya pak kades, penghulu, kan?” tanya Kim yang selalu dibalas anggukkan oleh kelima pemuda di sana. Kelimanya masih menatap Kim maupun Ryuna, dengan tatapan seolah kelimanya sedang menatap hantu.
“Kalian ingin dinikahkan?” tanya pak Kades, setelah akhirnya pertemuan yang Kim harapkan, terjadi.
Di sana hanya ada Kim, Ryuna, juga pak Kades yang duduk di hadapan mereka.
“Begini, Pak kades ... sebenarnya—” ucap Ryuna berusaha menjelaskan.
“Kami sudah berpacaran sejak lama, dan kami juga sudah ada rencana menikah ....” Kim sengaja mengambil alih ucapan Ryuna dengan santun, menjelaskan sekaligus membuat pak Kades percaya.
Pak kades yang menyimak, jadi sibuk mengangguk-angguk paham.
Di sebelah Kim, Ryuna yang memang terpaksa diam, menatap tak percaya Kim. Ia sungguh tak habis pikir kenapa Kim sampai melakukan segala cara agar bisa menikahinya?
“Jika ini mengenai anak ... masa iya sih, yang terjadi kemarin malam langsung ‘jadi’ calon bayi?” pikir Ryuna. Yang ia tahu dari Kim beberapa saat lalu sebelum mereka sampai di rumah pak kades, Kim hanya anak seorang kuli bangunan. Orang tua Kim merupakan petani, tapi jika bukan musim tanam dan panen, bapak Kim akan pergi ke ibukota untuk bekerja sebagai kuli bangunan.
Ketika Ryuna menepi dari renungannya, ia memergoki salah satu pemuda yang tadi berkumpul di depan sana. Pemuda tersebut mengendap-endap, menghadap pak kades dengan sangat santun. Kemudian, setelah menyimak bisik-bisik si pemuda, pak Kades tampak terkejut.
“Maaf, Mas dan Mbaknya, ... semalam yang Mas dan Mbaknya minum, yang saya taruh di meja sebelah panggung orgen dan kebetulan tempat yang enggak kehujanan. Itu ... sebenarnya itu punyanya kedua pengantin dan harusnya enggak boleh buat orang lain!” ucap si pemuda berkulit hitam mengkilap itu.
Mendengar itu, Kim dan Ryuna sudah langsung bengong. Makin bengong lagi ketika pak Kades mengambil alih, mengabarkan bahwa anaknya merupakan korban perjodohan, hingga minuman dan makanan yang sengaja disediakan khusus oleh keduanya, sampai dibubuhi obat pera*ngsang.
“Makanya gara-gara enggak minum sekaligus makan makanan itu, anak saya kabur, Mas. Mbak. Anak saya minggat enggak tahu ke mana. Tadi, pagi-pagi, sudah nggak ada di kamar. Hanya tinggal suaminya yang kaki dan tangannya diikat pakai tali, sementara mulutnya sampai disumpal!” jelas pak kades.
“Tapi kami korban, loh Pak!” tegas Kim tak mau disalahkan.
“Ya iya ... gara-gara dia, sih. Pipisnya enggak bisa diarahkan. Enggak bisa tahan sebentar, beres antar baru pergi. Ya jadi tragedi makanan dan minuman yang tertukar!” rengek pak kades benar-benar ngenes. Tangan kanannya refleks men*oyor kepala si pemuda yang duduk di lantai, meski ia dan Kim maupun Ryuna, kompak duduk di kursi.
Jadi, Ryuna dan Kim salah makan. Keduanya meminum sekaligus memakan jatah milik pengantin korban perjodohan. Hingga karena jatah makanan dan minuman tersebut, justru mereka yang menjalani ‘cinta satu malam’. Namun setelah penjelasan yang mereka dengar, masih kah Kim ingin menikahi Ryuna?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Erina Munir
hrslahh....kan kim anak yg bertanggung jawab
2023-12-20
6
Devi Triandani Rahim
Syukurnya Kim orang yg bertanggung jawab
2023-11-29
1
lily
itu mulut gmna kok bisa disumpal , emang gk nglawan apa pasrah ap gmna hahaha
2023-11-27
2