Ryuna baru saja menyalami murid terakhirnya ketika akhirnya Kim datang. Seperti biasa, pemuda itu kembali memakai topi hitamnya dan langsung memberinya senyum manis, meski lama-lama, Kim juga mendadak terlihat malu-malu.
Karena Ryuna masih terbatas dalam melangkah, Kim sengaja memasuki bangunan semi permanen dan keberadaannya ada di sebelah aula mahasiswa KKN tinggal.
“Anak-anak semangat banget kalau diaja*ar sama kamu,” ucap Kim sengaja basa-basi. Ia terlalu gugup jika harus memulai apalagi yang didekati sedingin padang es di kutub utara.
“Situ juga semangat banget kalau mepet aku apalagi kalau sepi begini,” balas Ryuna sengaja sinis untuk menyindir sang suami. Bukannya marah, Kim yang langsung tersipu juga perlahan menjadi tertawa.
“Ihh!” gemas Kim yang sangat ingin mencubit bahkan lebih Ryuna, tapi ia belum memiliki keberanian untuk melakukannya.
Walau cenderung diam bahkan dingin, sebenarnya Ryuna juga merasa gemas kepada Kim. Hanya saja, ia masih merasa malu jika harus berinteraksi lebih dengan Kim. Terlebih saat di depan umum, Kim tipikal berwibawa, tegas, bahkan cenderung dingin. Sangat berbeda ketika pemuda itu hanya sedang berdua dengannya, atau setidaknya sedang berusaha curi-curi perhatian kepadanya.
“Kalau sudah ada aku, jalannya enggak perlu pakai tongkat, kan?” ucap Kim yang sudah langsung mengulurkan tangan kanannya dan siap menuntun Ryuna.
Ryuna menatap kikuk uluran tangan tersebut, sebelum tatapannya fokus ke kedua mata Kim yang menatapnya penuh keteduhan. “Enggak enak sama warga. Sama yang lain juga.”
“Masih karena adat dan peraturan setempat, sementara yang bikin aturan malah memilih menghilang?” tepis Kim yang segera maju.
Namun, Ryuna yang seolah memiliki alarm agar ia menjaga jarak dari Kim, refleks mundur. Pinggangnya menyentuh meja kayu usang di belakangnya meski kedua matanya masih fokus sekaligus lurus menatap kedua mata Kim. Walau tidak tampak, baik Kim maupun Ryuna merasa, kebersamaan mereka diselimuti dengan banyak ketenangan. Seolah mereka sedang berdiri di tengah-tengah taman penuh bunga bermekaran yang turut dihiasi kupu-kupu maupun kumbang.
“Si Kim kalau sudah menatap begini banget, ya. Kesannya dia beneran bucin akut ke aku!” batin Ryuna yang kemudian berkata, “Kim ....”
“Ya ...?” lirih Kim masih fokus menatap lurus kedua mata Ryuna.
“Coba kamu rukiah diri kamu sendiri, biar pas lihat aku, kamu enggak segitunya,” lembut Ryuna masih menyikapi Kim dengan dingin.
“Percaya enggak percaya, yang namanya laki-laki normal, kalau ke pasangan, ke istri sendiri, hawanya sudah jadi beda. Ibaratnya, ... penginnya nempel, terus ... ya begitu pokoknya!” yakin Kim yang mengakhirinya dengan tersipu. Tangan kanannya sudah langsung sigap menahan tangan kiri Ryuna yang mendadak berusaha berpegangan karena keseimbangan tubuh wanita itu tidak baik-baik saja.
Ulah Kim yang begitu sigap menolongnya membuat Ryuna kikuk. Pria itu menggandengnya, membawanya keluar dari sana. Kim mengajaknya duduk di teras depan aula. Suasana di sana benar-benar asri cenderung dingin. Beberapa orang yang paham akan menganggapnya mistis, tapi bagi Ryuna yang masih bisa membedakan kenyataan maupun halusinasi, sadar, alasannya merasa kedinginan karena duduk bersebelahan dengan Kim layaknya sekarang, membuatnya merasa sangat gugup.
“Aku berpikir, andai Sonya bisa menahan diri, saat itu ki Awet tidak bisa menghilang,” lirih Ryuna yang kemudian menoleh, membuat tatapannya bertemu dengan Kim.
“Sepertinya orang seperti ki Awet memang sengaja memanfaatkan hal seperti itu untuk menambah kesaktian,” komentar Kim.
Ryuna mengangguk-angguk. “Aku pernah dengar hal semacam itu. Malahan beberapa buku juga ada yang menyebut secara gamblang.”
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Ryuna tak lagi menatap atau setidaknya melirik Kim. Namun, ia membiarkan kedua tangannya menopang di sisi tubuh. Meski karena kenyataan tersebut pula, jemari tangan kirinya tidak sengaja mengenai jemari tangan kanan Kim. Setelah sempat terdiam bersama dunianya yang seolah berhenti berputar, Ryuna yang jadi tidak berani melirik apalagi menatap Kim, sengaja menarik jemari tangan kirinya untuk menjauh. Namun dengan cekatan, Kim yang tak sedikit pun meliriknya dengan cepat menyusul bahkan menggenggam jemari tangan kirinya.
“Ini apaan, sih ... digandeng suami saja mau lari,” lirih Kim sengaja protes. Namun, Ryuna menatapnya dengan tatapan tak berdosa. Tatapan tak berdosa yang membuatnya makin menginginkan wanita itu. “Nanti malam, malam Jumat, ya.”
Yang Ryuna tangkap, ketika pasangan yang sudah menikah dan itu muslim membahas malam Jumat, kebanyakan dari mereka pasti sedang berusaha membahas acara “sunnah Rasul”.
“Kenapa, gitu ...?” ucap Ryuna yang jadi tidak berani menatap Kim lagi
“Sunnah Rasul lah ...,” balas Kim dengan entengnya dan menang sengaja merengek.
Setelah menghela napas dalam, Ryuna justru istighfar.
“Ih, diajakin sunnah Rasul kok malah istighfar!” lirih Kim yang jadi cekikikan mel*edek Ryuna. Wanita itu mendadak memejamkan erat kedua matanya kemudian menatap sebal kepadanya.
“Tapi ... aku juga jadi kepikiran, ... andai malam itu kita tidak melakukannya, sebenarnya memang aku yang diincar. Percaya enggak percaya, yang dicari buat kes*aktia*n kan kalau bisa yang masih per*aw*an, kan?” Ryuna bahkan bersyukur, sebelum dig*empur ki Awet melalui pel*et, ia sudah lebih dulu bersama Kim. “Untungnya, pihak mahasiswi juga bawa obat pencegah biar janin enggak tumbuh. Jadi, Sonya aman karena langsung minum itu. Harusnya, ya. Soalnya kan dia ngelakuinnya sama ki Awet. Takutnya beda cerita.”
“Obat pencegah biar janin enggak tumbuh?” ucap Kim yang sudah langsung panik sekaligus menyikapi dengan serius. Di sebelahnya, Ryuna sudah langsung kebingungan.
“Kenapa?” lirih Ryuna sambil fokus menatap Kim yang sampai detik ini masih menggandeng sebelah tangannya.
“Kamu enggak minum juga, kan?” sergah Kim.
Refleks, Ryuna yang masih menatap Kim, berangsur menggeleng. Detik itu juga Kim mengembuskan napas lega selain pemuda itu yang juga sudah langsung memeluk Ryuna erat.
“Enggak sampai tiga minggu lagi kita selesai KKN,” ucap Kim.
Ryuna yang sempat mirip batu gara-gara dipeluk secata spontan oleh Kim, refleks berkata, “Pulang-pulang bawa istri. Panci sama wajan mamak kamu melayang!”
Mendengar itu, Kim langsung tersipu. Meski tak lama kemudian, efek seruan ramai dari depan, ia sengaja mengakhiri dekapannya kepada Ryuna. Para mahasiswa yang baru saja bekerja merenovasi jalan, sudah pulang. Sembilan pemuda di depan sana apalagi Dodo, tampak kelelahan. Terdengar mereka yang mengeluh kelelahan sekaligus kelaparan.
“Kamu enggak kerja bareng mereka?” tanya Ryuna memastikan.
“Kata siapa? Mereka yang dari tadi mampir di warung ibu Ninung!” yakin Kim yang kemudian mengendus serius suasana sekitar. “Kok bau gosong, ya?”
“Bos, kok bau gosong, Bossss!” seru para pemuda di depan sana selain Dodo. Karena pada kenyataannya, sampai detik ini tampaknya Dodo memang masih dend*am kepada Kim.
“Ya ampun aku lupa kalau aku lagi masak nasi!” panik Kim buru-buru pergi ke dapur sebelah. Lokasi dapur ada persis di belakang ruang kelas Ryuna mengajar.
“Oalah ... alamatnya menu makan malam kita nasi gosong!” seru para mahasiswa dari depan sana.
Bukannya iba, Ryuna malah merasa apa yang menimpa suaminya sangat lucu. Kim yang selalu tampil sempurna termasuk dengan kinerjanya, kocar-kacir dan langsung sibuk di dapur. Kesibukan yang juga disertai suara gaduh. Baik dari suara Kim sendiri, juga perabotan yang saling beradu di dalam dapur.
“Suamiku sekoplak itu!” batin Ryuna tidak bisa untuk tidak tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Muhammad Fauzi
ojan mana ojan....
2024-03-11
2
Kosong
Kalo muncul yg horor lgi auto langsung tidur aku 😭
Gk kuat wirr
2024-02-27
1
Imas Masripah
Kim mlm Jumat sunah kalo malam yg lain wajib☺️🤭
2023-12-26
1