Ryuna mengakhiri tatapannya kepada Kim, tak lama setelah Kim yang berangsur mengerling mengawasi suasana sekitar, menggunakan telunjuk dan juga jempol tangan kanannya untuk membentuk bentuk hati. Kim mengarahkan itu kepadanya, disertai tatapan tak berdosa khas orang yang tulus mencintai. Iya, Ryuna bisa merasakan bahwa sang suami, benar-benar mencintainya. Namun, alih-alih membalas, Ryuna yang menjadi sangat gugup, justru memilih kabur.
“Jantung aku enggak baik-baik saja. Lagian kok bisa, seorang Kim sebucin itu ke aku? Aku bahkan enggak secantik Sonya!” batin Ryuna.
“Eh, ... aku pikir cuma laki-laki yang bisa kaku. Ternyata istriku lebih kaku dari kanebo kering,” batin Kim sudah langsung kembali menginjak-injak jalanan sekitar sana, berlaku seolah tidak terjadi apa-apa lantaran Sonya sudah berseru memanggilnya. Sonya datang menghampirinya, untuk ke sekian kalinya, meski ia selalu menolak di dekati.
Ryuna terus berlari menelusuri jalan yang makin lama makin sepi karena akhirnya, ia mulai memasuki perkebunan pohon kolang kaling yang juga menjadi penghasil gula aren. Suasana di sana benar-benar sunyi terlebih rimbunnya pohon di sana membuat sinar matahari nyaris sulit menembus. Dan karena kenyataan tersebut pula, suasana di sana benar-benar sejuk sekaligus adem mirip suasana di puncak.
Setelah agak lama melangkah, Ryuna berpapasan dengan rombongan ibu-ibu yang menuntun sepeda berisi tiga karung kolang kaling. Namun, selain ibu-ibu tersebut hanya berjumlah empat dan harusnya ada enam orang, Tiwi juga tidak.
“Mbak Tiwi pingsan, Mbak Ryu. Namun karena sudah sore, kami pulang duluan. Mau cari bantuan laki-laki, buat angkat tubuh mbak Tiwi! Sekarang mbak Tiwinya dijagain sama ibu Kus, di saung panen kolang kaling!” ucap salah satu ibu-ibu yang mendorong sepeda berisi tiga karung besar berisi kolang kaling.
Mendengar itu, Ryuna langsung mengangguk-angguk paham. “Kalau gitu saya ke sana sekalian buat coba obati pakai P3K yang saya punya yah, Bu!” Ryuna sengaja langsung pamit. Ia yang awalnya hanya melangkah buru-buru, menjadi berlari karena terlalu mengkhawatirkan nasib Tiwi.
“Dari tadi si Tiwi emang kelihatan gelisah, takut gimana. Itu anak ada masalah atau memang sakit. Tapi pas ditanya diem aja,” batin Ryuna.
Selang sepuluh menit kemudian, akhirnya Ryuna sampai di saung Tiwi istirahat. Tiwi dibaringkan di amben kecil dan menjadikan ransel sebagai bantalnya. Dengan segera, Ryuna yang langsung membalas sapaan ibu Kus, mengeluarkan P3K miliknya.
Sementara itu, lima belas menit kemudian, Kim yang memergoki rombongan ibu-ibu pemanen kolang kaling pulang, jadi bertanya-tanya. Tak ada Tiwi apalagi Ryuna di sana, hingga ia sudah langsung bertanya.
“Bu, kok cuma berempat? Yang lain ke mana? Tadi si Ryuna juga bilangnya mau nyusul,” ucap Kim paling tidak bisa diam jika instingnya sudah tidak tenang.
Tanpa menunggu lama, Kim sudah langsung mendapatkan jawaban. Yang mana Kim juga langsung memutuskan untuk menyusul.
“Saung pertama apa ke dua, Bu?” tanya Kim memastikan.
“Kedua, Mas. Kedua!” yakin ibu-ibu dan lagi-lagi mendapatkan respons cepat dari Kim. Malahan kini, Kim yang sudah langsung berlari juga sampai mengucapkan terima kasih kepada mereka.
“Kok malah Kim langsung sih yang nyusul? Semoga Tiwi sudah berhasil mendorong Ryuna sebelum Kim sampai sana. Harusnya sih memang sudah,” batin Sonya yang jadi gelisah.
Kali ini, Sonya tak berniat menjadi satelit Kim. Ia malah menghampiri ibu-ibu tadi, menanyakan kabar Ryuna.
“Yang pingsan itu mbak Tiwi, Mbak Sonya,” yakin salah satu ibu-ibu.
“Iya, saya tahu. Tapi itu si Ryuna, sudah sampai dari tadi belum?” Karena Sonya ingin mengira-ngira, apa yang kiranya terjadi, sesuai keberadaan Ryuna di sana. Karena jika sudah lebih dari lima belas menit, harusnya Ryuna sudah didorong sekaligus masuk ke jurang.
Di saung, Tiwi sudah siuman hanya karena diolesi minyak angin, kemudian dipijat-pijat kepala juga tengkuknya menggunakan minyak angin oleh Ryuna. Namun kini, Tiwi yang sudah langsung Ryuna ajak pulang mengingat waktu yang makin gelap, baru saja berdalih ingin pipis dan minta diantar Ryuna.
“Malu kalau sama yang lain!” bisik Tiwi dan sampai detik ini masih belum bisa tenang. Ia melirik takut-takut ibu Kus yang ada di belakang Ryuna. “Aku harus secepatnya mendorong Ryuna, apalagi suasana sudah makin gelap. Iya, aku harus menjalankan misi dari Sonya karena uang itu bisa buat tambah-tambah operasi ayah!” batin Tiwi membulatkan tekadnya.
“Enggak banyak perubahan dari Tiwi. Dia kelihatan enggak tenang banget. Kayak memang ada yang sedang dia sembunyiin. Kayaknya nih anak memang ada masalah!” batin Ryuna yang tidak bisa untuk menolak permintaan Tiwi. Jiwa sosialnya memintanya untuk segera meringankan beban Tiwi agar rekannya itu bisa tenang menjalani KKN dengan semestinya.
“Maaf Ryuna. Kamu memang orang baik, tapi aku juga beneran butuh duit. Bapakku harus operasi paru-paru, dan jumlah biayanya, enggak sedikit,” batin Tiwi sembari melangkah, membiarkan tubuhnya dipapah oleh Ryuna yang sampai detik ini masih membantunya. Sementara di belakang sana, ibu Kus masih duduk menunggu di saung sambil menikmati air mineral sekaligus roti pemberian Ryuna, dengan lahap.
“Sudah, di sini saja. Kamu enggak lagi datang bulan, kan? Soalnya kalau lagi datang bulan kan harus lebih jaga-jaga,” ucap Ryuna melepaskan Tiwi dengan hati-hati.
“Aku enggak lagi dapat, sih. Masalahnya takut ada orang, Na. Ada orang enggak, sih? Agak ke pinggir saja kali ya, takutnya dari atas ada yang lihat. Apalagi kan kata kamu, ibu-ibu rombonganku bakalan undang laki-laki ke sini buat bantu angkat tubuh aku,” ucap Tiwi sengaja memberikan alasan yang masuk akal agar Ryuna mengantarnya ke pinggir curam. Karena jika mereka benar-benar sudah di pinggir, itu akan membuatnya lebih leluasa mendoro*ng Ryuna.
Ryuna yang tak membawa ransel atau apa pun yang bisa menutupi tubuh Tiwi, berinisiatif melepas jaket alamameternya. Namun karena Tiwi terseok-seok menuju pinggir, ia bergegas menyusul sambil tetap hati-hati.
Berdebar-debar dada Tiwi atas misi yang akan ia jalani. Jantungnya benar-benar tidak bisa berbohong, terlebih ketika ia melihat ke bawah, curam di sana benar-benar menakutkan. Seperti yang Sonya harapkan, siapa pun yang jatuh ke sana termasuk itu Ryuna, jika tidak caca*t, pasti akan langsung meninggal.
“Sudah, di situ saja, aku tutup pakai jaket. Harusnya sih enggak kelihatan,” ucap Ryuna. Kedua tangannya memang membentangkan jaket almameternya untuk menutupi Tiwi yang sudah jongkok. Namun kedua matanya melongok ke atas memastikan memang tak ada orang di atas sana apalagi laki-laki.
Hanya saja, Ryuna tak tahu jika keadaannya itu dimanfaatkan Tiwi untuk berpegangan bahkan menarik kedua kakinya sekuat tenaga hingga ia terseret ke curam.
“Aaarrrrrgggghhhhh!”
Jerit histeris Ryuna menggema, membuat siapa pun yang ada di sana langsung bisa mendengarnya. Bukan hanya ibu Kus yang awalnya tengah meminum air mineral pemberian Ryuna, tapi juga Kim yang awalnya masih berlari dan tidak begitu jauh dari saung ibu Kus.
“Ryuna ...? Itu tadi suara Ryuna?!” panik Kim buru-buru lari. Kepanikannya makin membuncah lantaran ia tak menemukan Ryuna di saung yang dimaksud. Di sana hanya ada ransel milik Ryuna, di pinggir amben kecil yang juga dihiasi ransel berikut jaket almameter milik Tiwi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
azka myson28
mantu mafia dibikin celaka emang nyawanya sonya dan tiwi sudah double yaa
2024-06-18
1
Diah Elmawati
Tiwi-tiwi semoga kamu dapat balasan atas kejahatanmu
2024-01-27
5
Danny Muliawati
yg jahat yg celaka smga yah sebel banget ada aza
2024-01-11
1