“Kim!” Setiap mahasiswi di sana sibuk berusaha mencuri perhatian Kim.
Namun, kedua mata Kim masih sibuk mengawasi sang istri. Walau sesekali mengawasi kehebohan di hadapannya, Kim yang memang pendiam tetap bisa fokus memperhatikan Ryuna. Hanya saja, tampaknya Ryuna sengaja menghindarinya layaknya kebersamaan mereka.
“Wanita sepertinya tidak akan pernah mementingkan cinta sebelum dia mendapatkan tujuan sekaligus cita-citanya,” pikir Kim yang sadar, sampai detik ini dan mungkin beberapa waktu ke depan, ia bahkan hubungan mereka sama sekali tidak akan penting untuk Ryuna. Ditambah lagi, mereka diminta untuk merahasiakan hubungan mereka. Tentu Ryuna yang memang belum bisa menerima Kim dalam hidupnya, akan makin menjaga sikap.
“Jadi besok karena para kali-laki mulai membangun jalan, para perempuan bisa ikut panen kolang-kaling sebelum kita masak-masak buat para laki-laki. Tentu nanti saya yang akan memimpin jalannya pembangunan jalan, sementara para perempuan dipimpin oleh istri saya. Namun saat makan siang, kita makan besar hasil masakan kalian, ya!” ucap pak Kades bersemangat dan sudah langsung menular kepada semua wanita di sana. Terlebih biar bagaimanapun, berarti besok mereka akan bersama Kim dan itu dalam waktu cukup lama.
Berbeda dari yang lain, seperti yang Kim yakini, bagi Ryuna Kim memang tidak penting. Bahkan meski kini Kim sudah jadi suaminya. Ryuna belum mau menyayangi pria itu karena gambaran masa depan mereka saja belum ada.
“Lihat saja nanti. Toh, dia masih sangat muda, dan yang naksir dia juga banyak!” pikir Ryuna yang tiba-tiba merasa kurang sopan kepada Kim karena tadi, ia belum sempat pamit.
“Na ... semalam kamu ke pernikahan anaknya pak kades, bareng Kim? Yang mewakili pihak para cowok itu Kim?” ucap Sonya—selaku ketua kelompok Ryuna.
Sonya ini tipikal gadis modis yang sangat menjaga penampilan. Berbeda dengan Kim yang sangat tanggung jawab, sebagai ketua, Sonya tipikal yang sok berkuasa dan semua keinginannya harus dituruti. Yang mana Ryuna jadi curiga, sebenarnya alasan kemarin Syonya mengaku sakit juga hanya pura-pura demi menghindari acara orang setempat yang kadang membuat mahasiswi sekaligus orang tua seperti mereka, mudah bosan.
“Iya. Kan Kim memang ketuanya.” Ryuna yang duduk di amben beralas tikar tanpa kasur walau itu kasur paling tipis selaku tempat mereka tidur, menatap Sonya penuh keseriusan.
“Maksud kamu bilang begitu apa? Aku kan tanya, Kim bukan yang mewakili pihak cowok? Beneran Kim yang mewakili mahasiswa KKN? Ngapain harus bawa-bawa jabatan Kim! Kamu nyindir aku karena semalam bukan aku yang pergi? Kalau tahu yang datang Kim, aku juga mau!” Sonya mendadak meledak-ledak, dan tak segan mema*ki Ryuna. “Anak beasiswa saja belagu! Aku tahu orang tua kamu cuma pemulung?!”
Ryuna refleks berdiri dan menatap kesal Sonya. “Tuhan kasih kamu mulut bukan buat menghina orang yang bagi kamu lebih ren*dah, sesuka kamu yah, Sonya! Kalaupun aku mahasiswi beasiswa, dan orang tuaku hanya pemulung, masalahnya sama kamu apa? Kami enggak pernah bikin gara-gara sama kamu apalagi menge*mis ke kamu. Satu lagi, enggak usah ras*is sementara yang ingin kamu tahu sudah aku jawab. Kim yang mewakili pihak mahasiswa karena dia ketua di sana dan memang sudah jadi kewajibannya!” tegas Ryuna yang detik itu juga menahan tangan kiri Sonya. Sonya nyaris menam*parnya dan itu benar-benar membuatnya tak habis pikir.
Lain dengan yang lain, dan tidak ada yang berani melerai. Lebih tepatnya, mereka tidak ada yang berani kepada Sonya hanya karena Sonya terkenal sebagai anak orang kaya.
“Kamu lupa bahwa di sini aku ketuanya sementara yang lain takut kepadaku. Sekali lagi kamu berulah, aku laporkan kamu ke dosen!” tegas Sonya sengaja memberi Ryuna peringatan.
Detik itu juga Ryuna diam lantaran beasiswa ibarat nyawanya. Karena melalui beasiswa juga, Ryuna akan mewujudkan impian mendiang kedua orang tuanya yang ingin ia menjadi sarjana berkualitas.
“Semalam kamu tidur di mana? Dan kenapa juga baru pulang? Sampai diantar Kim segala,” selidik Sonya.
Melalui ekor lirikannya, Ryuna dapati, semua yang ada di sana tampak tak kalah penasaran dari Sonya. Semuanya kompak menjadikan Ryuna perhatian, dan jelas mereka tak sabar menunggu balasan Ryuna.
“Kan ada pak kades juga. Semalam hujan lebat. Teratag dan panggung hajatan di sana sampai roboh sebagian karena angin. Aku menginap di teratag yang enggak roboh. Sementara Kim, aku kurang tahu,” jelas Ryuna sambil menunduk dalam.
Padahal di ingatan Ryuna tengah dihiasi adegan Kim yang menghampirinya, malam kemarin ketika mereka kondangan. Dalam ingatannya, Ryuna melihat Kim yang mencemaskannya kemudian menuntunnya pindah ke tempat duduk dekat panggung orgen atau itu panggung hiburan. Sebelumnya, mereka duduk berjauhan, tapi Kim berinisiatif menghampiri Ryuna yang jadi sendirian setelah tamu undangan lain, kompak masuk ke dalam rumah pak kades akibat hujan angin yang berlangsung. Dari semuanya, di sana menjadi tempat yang tidak kehujanan apalagi banjir. Namun tak lama kemudian, ada yang mengantar satu nampan berisi paket makanan dan minuman yang tampak hangat. Dan Kim berinisiatif memberikannya kepada Ryuna, sebelum pemuda itu juga mengonsumsi jamuan tersebut untuk dirinya sendiri. Jamuan tersebut juga yang ternyata ‘jatah’ untuk pengantin selaku alasan mereka justru melakukan hubungan ‘cinta satu ma*lam’ akibat kandungan obat pera*ngsang di dalamnya.
“Maaf, aku mau mandi dulu. Mau sekalian istirahat juga,” sergah Ryuna yang memang sudah membatu tote bag tipis berisi handuk dan keperluan mandinya.
Sambil menunduk dalam, Ryuna melangkah pergi. Langkah berat seiring hatinya yang merasa sangat tersakiti. “Hidup penuh kekurangan karena terlahir menjadi orang mis*kin saja sudah sangat berat. Eh ini para orang kaya begitu hobi menggunakan kekuasaan mereka untuk menin*dasku! Awas ya nanti kalau aku sudah kaya, aku balas kalian! Ya Allah, aku beneran bosan hidup miskin! Aku ingin cepat-cepat lulus kuliah terus kerja, bikin usaha agar aku jadi kayaaa!” batin Ryuna berkobar-kobar. Namun kemudian ia jadi lemas lantaran ia teringat statusnya yang sudah jadi istri orang. “Eh aku malah sudah jadi istri orang. Capek-capek kuliah, alamatnya jadi petani. Iya kala orang tua Kim izinin aku kerja, bangun usaha, oke. Kalau orang tuanya Kim, tipikal kolo*t, kuno, dan apa-apa seba enggak boleh, terus aku wajib cuma di dapur sama sawah, astaga perjuanganku jadi sarjana beneran sia-sia!” batin Ryuna benar-benar merasa dilema. Iya, jadi istri orang apalagi istri anak petani yang ia khawatirkan memiliki pemikiran kuno, membuat Ryuna dilema.
Menghela napas dalam, Ryuna memasuki salah satu toilet umum yang berjejer tak jauh dari rumah warga. Namun, ia juga langsung syok ketika sebelah tangannya ditarik dan orang itu Kim. Jantungnya nyaris loncat, hingga ia tetap menghant*am asal bahu Kim yang telah membuat nya nyaris jantungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
azka myson28
ryuna belum ingat sama kim yaa
2024-06-18
1
lily
tuh jantung aman kan Na?
2023-11-27
3
Cucu Ulpah
aku paling gak suka sama orang kayak sombong yang selalu nindas orang miskin
2023-09-16
2