Sebenarnya untuk melangkah sendiri saja, Kim kesulitan. Namun, pemuda itu terus memaksa diri, menggendong Ryuna dan tak memedulikan sakit di kedua kakinya. Kenyataan tersebut pula yang membuat sekelas Ryuna bertanya-tanya.
“Kenapa kamu terkesan sayang banget ke aku, padahal kita baru kemarin? Itu pun, logikanya, yah, Kim ... soalnya apa yang kamu lakukan sudah tergolong bucin.”
“Anggap saja begitu.”
“Tetap enggak masuk akal, Kim. Eh udah, gandeng aku saja. Kaki kamu sakit itu ....”
“Lebih-lebih kamu, kaki kamu jauh lebih parah, sementara kamu enggak mungkin bisa terbang, Ryuna.”
“Ya sudah, pelan-pelan ya ... aku jadi merasa sangat bersalah. Apalagi ini saja, kita belum tahu bakalan dapat jalan enggaknya.”
“Kamu enggak berat, kok.”
“Anda sudah ahli dalam gendong menggendong?”
Mendengar ucapan Ryuna barusan dan terdengar menuduh, sudah langsung membuat Kim menahan tawa.
“Aku punya banyak adik, Ryu ... aku lima bersaudara dan aku anak tertua. Eh, aku punya kakak angkat juga. Jadi, kami enam bersaudara.”
“Raaame, ya?!” Ryuna terheran-heran, tapi ia juga sampai berpikir, jika orang tua Kim hanya seorang petani yang akan merangkap menjadi kuli bangunan ketika bukan di musim tanam maupun panen, baginya orang tua Kim tipikal orang tua yang berhasil mendidik anak. Cara Kim bersikap terlebih bertanggung jawab kepadanya, baginya itu bukti nyata keberhasilan orang tua Kim. Ditambah lagi, Kim berdalih lulusan pesantren juga.
“Salah enggak sih, kalau aku teriak. Aku teriak yah, buat minta bantuan,” ucap Ryuna.
“Enggak usah. Suaramu enggak ada seberapa apalagi dada kamu sakit. Nanti yang ada sakitnya makin parah. Sebenarnya tanpa bantuan pun, aku bisa panjat.” Baru berucap begitu, Kim sudah langsung diam dan tak bisa menjelaskan perihal maksud kehadiran dua orang laki-laki berpakaian serba hitam.
“Mas ...?!” sapa salah satu dari mereka yang sudah langsung mengawasi keadaan Kim dari atas sampai bawah.
“Kim, mereka berdua siapa? Serba hitam begitu serem mirip geng, atau malah se*kte ...?” bisik Ryuna refleks mendekap erat tengkuk Kim. “Tapi penampilan mereka enggak mirip warga sini. Harusnya mereka bukan orang tabib duk*un itu, kan?” lanjut Ryuna lagi masih berbisik-bisik.
“Lah ... ternyata papah mamah tetap kasih aku pengawal ...,” batin Kim. Sempat kecewa karena ia sungguh ingin menjadi pribadi mandiri sekaligus berdiri di atas kaki sendiri, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa kali ini, ia juga membutuhkan bantuan.
“Turunkan gadis itu,” sergah pria yang sebelumnya sudah bicara.
“Enggak!” sergah Kim langsung menggeleng tegas. Hanya saja, ulahnya tersebut ia yakini menjadi ketakutan tersendiri bagi Ryuna yang detik itu juga langsung mengeratkan dekapan kedua tangannya.
“Kaki Mas sakit,” ujar si pria kembali membujuk.
“Enggak apa-apa,” balas Kim tak mau menurunkan Ryuna dari punggungnya meski keputusannya itu membuat rasa sakit di tubuh khususnya kedua kakinya, makin bertambah.
“Ya Allah, asli ini enggak kalah serem dari saat aku diminta bahkan dipaksa minum sama tuh tabib duk*un!” batin Ryuna makin deg-degan.
“Lewat sini, Mas, jangan nanjak. Lewat sini ada jalan dan tadi, kami juga lewat sana,” lanjut pria yang dari tadi berkomunikasi dengan Kim.
“Kok kesannya akrab, ya? Mereka saling kenal?” pikir Ryuna mulai curiga. Namun sepanjang perjalanan, Kim benar-benar cuek kepada kedua laki-laki yang menghampiri, mengawal, dan tak hentinya memberi arahan. Keduanya bahkan terus melontarkan kata-kata khawatir, khas orang yang memang tulus kepada Kim.
Seperti yang dikatakan oleh kedua pria yang menghampiri mereka, di lereng sebelah ada anak tangga yang bisa mereka lewati meski terbilang licin lantaran anak tangga tersebut merupakan tanah yang dibuat menyerupai anak tangga untuk memudahkan setiap yang melewatinya.
Sampai detik ini, gerimis masih berlangsung. Memang seawet itu jika di sana sudah hujan. Membuat jalanan yang sudah licin termasuk yang baru direnovasi pasti rus*ak lagi. Namun kini, di tengah anak tangga mereka akhirnya bertemu dengan warga yang terus menabuh kentong. Warga yang jumlahnya ada delapan orang, sudah langsung berbondong menghampiri, mengawal jalannya perjalanan Kim dan Ryuna lantaran Kim tetap menolak dan tak mau menurunkan Ryuna dari punggungnya.
Dari kedelapan rombongan warga, hanya ada tiga anggota KKN dan itu laki-laki semua.
“Ayo kita bawa ke rumah Ki Awet!” sergah salah satu warga dan semua yang datang memang laki-laki.
Mendengar nama tadi disebut, Ryuna langsung panik. “K-kim ... ki Awet itu nama tabib duk*un itu!” bisiknya seiring ia yang makin erat mendekap tengkuk sang suami. Membayangkan wajah kecewa sang tabib yang merangkap menjadi duk*un hanya karena ia kabur setelah memuntahkan air putih pemberiannya saja, Ryuna sudah deg-degan lantaran ki Awet tampak kecewa bahkan dendam. Apalagi jika harus datang bahkan berobat ke saba, itu sama saja menyerahkan diri!
Detik itu juga Kim langsung berhenti melangkah kemudian menatap pria berpakaian serba hitam yang sampai detik ini masih mengawal. “Aku butuh mobil buat ke puskesmas karena pakai motor apalagi sepeda, enggak mungkin!” tegasnya lirih.
“Apa maksud Kim? Kenapa dia mendadak melayangkan permintaan seperti itu kepada kedua pria berpenampilan serba hitam yang terkesan mengawal kami?” pikir Ryuna yang jadi sibuk menerka.
“Untuk sekarang, jalanan di sekitar sini benar-benar tidak bisa dilalui, Mas. Licin dan benar-benar rawan kecelakaan!” yakin si pria yang dari tadi sudah sibuk berkomunikasi dengan Kim.
“Ya sudah, aku akan tetap jalan kaki,” yakin Kim mantap dengan keputusannya.
“Enggak boleh gitu, Mas. Siapa pun yang sakit di desa ini wajib berobat ke ki awet. Apalagi di sini ada kepercayaan, pamali seorang wanita keluyuran malam-malam. Seorang wanita tidak boleh keluar lebih dari pukul sepuluh malam!” yakin salah satu dari warga dan Kim mengenalinya sebagai pak RT.
“Agar enggak diganggu j*in, atau agar tidak diganggu ibli*s berwujud manusia, Pak RT?” tepis Kim dan detik itu juga, lawan bicaranya langsung bungkam, selain pria itu yang tampak jengkel kepadanya.
“Untuk sementara, saya akan merawat Ryuna di tempat pak kades sambil menunggu jalanan bisa dilalui. Ryuna butuh pengobatan medis, Bapak-Bapak. Ya sudah, terima kasih banyak untuk perhatiannya. Ayo kita pulang karena tadi, Pak RT sendiri yang bilang, pamali bagi wanita berada di luar rumah malam-malam melebihi pukul sepuluh malam!” balas Kim.
Pak RT yang sebenarnya merasa dongkol, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, memang pamali, Mas. Dan hanya Ki Awet yang bisa menyembuhkan efeknya. Mau diobati medis secanggih apa pun, wanita itu tidak akan sembuh jika belum ditangani oleh Ki Awet!” yakinnya dan Kim langsung mengangguk-angguk. Hanya saja, Kim maupun Ryuna sendiri tetap tidak mau pergi bahkan diantar ke rumah ki Awet.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nartadi Yana
yang dibawa ke Ki awet Tiwi sama sinya saja biardigarap itu sama dukun
2024-11-16
0
Al Fatih
apakah ini Ki awet yg itu,, kalo iya,, awet tenan Mbah dukun Ki,, dimana mana ad
2024-06-03
0
lily
awet terus pokoknya gak pernh Ki ganti hahaha
2023-11-27
5