Chapter 19

Gouda sensei yang keluar melihat Ryuto dan Ayano yang berjongkok di bawah jendela, dia juga melihat smartphone yang di pegang Ayano.

“Hei, serahkan smartphone mu....” Teriak sensei sambil maju melangkah dan menjulurkan lengan nya kepada Ayano.

Ayano langsung menghindar dan bersembunyi di balik Ryuto. Medengar ribut ribut di luar, Shiori keluar dengan mentupi tubuhnya dengan pakaian nya. Wajahnya terlihat terkejut melihat Ryuto dan Ayano berada di depan kelas dan dia menunduk karena malu. Sensei semakin marah karena Ryuto menghalangi nya meraih Ayano, akhirnya sensei mengepalkan tangan nya dan berniat memukul Ayano. Ketika Ryuto sudah pasrah dan tangan sensei sudah berada di depan wajahnya, “Tap...tap...tap...” Terdengar seseorang menaiki tangga.

“Hihihi...sen...sei....ma..na....tang..gung....ja..wab....mu.....” Terdengar suara wanita yang mengerikan, menggema di lorong.

Sensei menoleh, di belakang nya sudah ada seorang gadis berseragam sma yang sobek sobek penuh darah yang kepalanya hancur dengan otak terburai dan matanya keluar dari tempatnya. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya dan hanya memperlihatkan bagian yang hancur. Kepalanya miring dengan bola mata menggangtung melihat kepada sensei dan otak yang keluar dari celah kepalanya yang pecah. Hantu gadis itu di selimuti oleh bayangan hitam kemerahan dan tubuhnya sudah menjadi bayangan hitam menyisakan pakaian seragam nya yang penuh darah.

“K...kamu....Akemi...chan......kamu...kamu sudah mati....kamu sudah mati terjun dari atap.....aku mendorong mu....aku yang mendorong mu...ini tidak mungkin.....” Teriak sensei yang terjatuh sambil mengangkat tangan untuk mencegah hantu itu mendekat.

“Sen...sei....ma..na....tang..gung....ja..wab....mu.....” Ujar hantu gadis itu.

Ryuto dan Ayano mengenali gadis itu, ternyata gadis itulah yang setiap hari jatuh dari atap berulang ulang. Ryuto ingin maju tapi Ayano merentangkan tangannya mencegah Ryuto.

“Aya chan....itu Ghist kan....” Ujar Ryuto.

“Benar....tapi, dia masih bisa bicara, berarti ketika Ghist memakan nya, roh itu menang dan mengambil alih tubuh Ghist itu.....diamkan saja dulu.....” Ujar Ayano.

“Tapi...dia mau mencelakai sensei....” Ujar Ryuto.

“Iya, makanya, diamkan saja dulu.....” Balas Ayano.

Hantu gadis yang bersama Ryuto bersembunyi di belakang Ryuto dan Ayano karena ketakutan, sedangkan hantu kelima bayi yang menempel di tubuh Shiori bersembunyi di belakang Shiori sambil mengintip. Sensei berteriak teriak karena hantu mengerikan yang sudah separuh Ghist itu mendekat kepadanya, dia merangkak mundur dan hantu mengerikan itu terus mengejarnya. Ryuto dan Ayano menyingkir dan melihat sensei terus mundur sampai ke ujung lorong kemudian berada di depan jendela yang sudah hancur dengan kaca pecah separuh.

“Ti..tidak....aku tidak bersalah....tidak........” Teriak sensei.

Hantu itu terus maju, “Aaaaaaaaa.....” Sensei yang mundur jatuh dari jendela yang sudah sudah hancur. Melihat sensei jatuh, hantu itu juga melompat keluar, “Bruuk....braak...” Terdengar suara keras orang yang jatuh dan menimpa sesuatu. Ryuto, Ayano dan Shiori berlari menuju jendela, kemudian mereka melihat ke bawah, ternyata sensei jatuh menimpa tumpukan kayu dan papan, tubuhnya tertembus sebuah kayu runcing yang menghadap ke atas. Kayu itu meneteskan darah segar dari tubuh sensei yang tertembus di bawahnya menjadikan nya berwarna merah. Ryuto melihat hantu mengerikan itu berjalan sambil menyeret roh sensei yang meronta ronta menuju kembali ke tempatnya.

“Sebaiknya kita pergi dari sini....” Ujar Ryuto.

“Iya senpai.....” Balas Ayano.

“Um...tunggu....bisa bicara dengan kalian ?” Tanya Shiori.

“Jangan disini....” Jawab Ryuto.

Kemudian mereka keluar dari gedung sekolah lama dan pergi ke taman samping yang berada di sebelah gedung olah raga. Setelah di taman,

“Anoo...Yamishiba kun, terima kasih sudah menolong ku....” Ujar Shiori.

“Loh aku tidak berbuat apa apa, tiba tiba sensei terjatuh sendiri dan ketakutan sendiri...” Balas Ryuto.

“Iya, tapi dia menghentikan aksinya karena kalian....aku...aku tidak bisa menurutinya lagi....hik.” Ujar Shiori menunduk dan menangis.

Ryuto melihat hantu ke lima bayi yang menempel itu seperti sedang menghibur Shiori yang menangis di depan nya dengan bertumpuk memeluk kepala Shiori. Ayano maju menghampiri Shiori, dia meminta Shiori melihat dirinya.

“Senpai, maaf, aku mau tanya, sudah berapa kali senpai melakukan aborsi ?” Tanya Ayano.

“Um...aku tidak melakukan nya, sensei selalu membawa ku ke klinik kenalan nya dan aku di bius......ketika bangun dokter itu bilang aku keguguran dan perutku terasa sangat nyeri...aku sudah keguguran 5 kali.” Ujar Shiori.

“Hmmm jadi begitu.....pantas, mereka sepertinya sayang sama senpai...” Gumam Ayano dengan suara kecil.

“Kamu bilang apa ?” Tanya Shiori.

“Ah..tidak apa apa senpai, sekarang aku tanya, kalau seandainya anak anak itu lahir, senpai mengakuinya kan ?” Tanya Ayano.

“Iya....ketika aku keguguran, aku selalu sedih dan merasa ada sesuatu yang hilang....” Ujar Shiori.

“Senpai berarti sayang mereka kan....” Ujar Ayano.

“Tentu saja...aku sayang mereka, aku ingin mereka lahir....tapi kata dokter rahim ku tidak kuat....bohong...pria itu mengaborsi mereka....aku tahu itu.....aku benci pria itu...aku benci....syukur dia mati....syukur....huaaaa.” Teriak Shiori.

Shiori menangis, dia berlutut dan menutup wajahnya yang menangis tersedu sedu dengan kedua tangan nya, hantu kelima bayi yang menempel di tubuh Shiori bertindak seperti sedang memberi semangat kepada ibunya, mereka melayang dan mengelus kepala Shiori walau tangan mereka menembus kepala Shiori, ke limanya masih terhubung dengan tali pusar ke tubuh Shiori walau sudah melayang di udara.

“Senpai, boleh aku minta tolong, beri mereka nama, dari anak pertama sampai ke lima...” Bisik Ayano kepada Shiori.

Shiori mengangguk, Ayano menoleh kepada Ryuto dan meminta Ryuto mendekat, kemudian Ayano minta supaya Ryuto mengambil bayi bayi yang sudah melayang, satu persatu, di hadapkan kepada Shiori. Walau takut, Ryuto melepaskan kedua sarung tangannya, dia mengambil seorang bayi dan menghadapkan nya kepada Shiori, kemudian Ayano meminta Shiori memberi nama, ketika Shiori memberi nama kepada bayi itu, tubuh bayi itu di selimuti cahaya. Ayano minta Ryuto memegang tali pusarnya, Ryuto melakukan nya, dia menggenggam tali pusar nya walau wajahnya menunjukkan rasa jijik dan tali pusar nya terputus, kemudian cahaya turun dan mengambil roh bayi itu naik ke atas.

Ryuto dan Ayano melakukan proses itu sebanyak 4 kali lagi sampai semua roh bayi yang menempel di tubuh Shiori naik ke atas semua kembali ke alam nya.  Setelah proses nya selesai, Ryuto dan Ayano menunggu Shiori yang masih menangis tenang kembali. Ryuto berbisik kepada Ayano,

“Aya chan....berarti yang lompat dari atas atap itu di bunuh ya....” Ujar Ryuto.

“Yup, sepertinya dia juga salah satu korban sensei, kamu dengar kata kata sensei tadi kan senpai ?” Tanya Ayano.

“Iya, aku dengar....sayang tidak ku rekam....” Jawab Ryuto.

“Tenaaaang....semua ku rekam, aku belum mematikan videonya kan tadi, pulang kita ke internet cafe dan mengedit video nya, lalu besok serahkan pada sekolah...aku yakin korban sensei bukan hanya Shiori senpai dan hantu tadi....” Ujar Ayano.

“Apanya yang mau di edit ?” Tanya Ryuto.

“Tutupi wajah Shiori senpai dengan mosaik dan keluarkan suara kita dari video....” Jawab Ayano.

“Tunggu...memang kamu bisa mengeditnya ?” Tanya Ryuto.

“Tenang saja senpai....” Jawab Ayano.

Setelah Shiori tenang, mereka kembali ke kelas, Ayano berpisah dan masuk ke dalam kelasnya, sementara Ryuto dan Shiori yang seharusnya olah raga, berjalan menuju naik ke lantai 2 menuju kelas nya. Selagi berjalan,

“Aku merasa lega sekali......tubuhku juga terasa ringan dan tidak pegal pegal lagi...terima kasih Yamishiba kun dan siapa nama pacar mu ?” Tanya Shiori.

“Jelas saja lega dan ringan, biasanya kamu bawa 5 bayi Shiori san.....duh mulutku gatel ingin bicara....” Pikir Ryuto dengan wajah merah.

“Um....dia bukan pacar ku, hanya adik kelas.....namanya Tanzaki Ayano...” Jawab Ryuto.

“Bohong, kalian kemarin saja belanja berdua, tapi bukan urusan ku sih hehe....terima kasih ya Yamishiba kun....” Balas Shiori.

“Be..benar kok....sudah ya Shiori san, aku keruang loker dulu....” Ujar Ryuto yang berlari meninggalkan Shiori dengan di ikuti hantu gadis tetangganya.

Shiori melihat Ryuto yang sedang berlari sambil tersenyum, tiba tiba pundak nya di pegang oleh seseorang,

“Senpai, jangan coba coba mendekati Ryuto senpai ya, atau video mu tersebar di sosial media...” Ujar Ayano berbisik di belakang Shiori.

Shiori yang kaget menoleh ke belakang tapi ternyata di belakang nya tidak ada siapa siapa, dia menjadi merinding dan takut, tanpa pikir panjang, Shiori masuk ke dalam kelas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!