Chapter 8

Setelah Ryuto kembali ke ruang tengah, dia melihat Ayano sedang berdiri melihat lemari dan isi apartemen nya,

“Um....Aya chan...kamu lapar ?” Tanya Ryuto.

“Tidak, aku sudah makan senpai....” Jawab Ayano.

“Gruyuuuuk.” Perut Ayano berbunyi kencang, dia memegang perutnya dengan kedua tangan nya, Ryuto menggelengkan kepala, dia berjalan menuju kulkas nya dan mengambil sisa kare yang di berikan tetangganya kemarin. Dia menyalakan kompor untuk memanaskan makanan nya dan mulai menanak nasi. Selagi menunggu makanan nya hangat dan nasinya matang, Ryuto duduk di meja makan dan memanggil Ayano supaya bergabung dengan nya. Setelah Ayano duduk di depan nya,

“Aya chan, ada yang masih tidak ku mengerti, kenapa kamu menyuruh Yamishiba sensei menjemput ku di desa waktu itu ?” Tanya Ryuto.

“Rahasia senpai....” Jawab Ayano langsung.

“Kok rahasia ?” Tanya Ryuto bingung.

“Ada masa depan yang kulihat melibatkan senpai, tapi saat ini aku tidak bisa memberitahu mu....maaf (Kamu suami ku di masa depan hehehehe).” Jawab Ayano dengan wajah tanpa ekspresi.

“Ok aku mengerti, mungkin berbahaya dan resikonya besar kalau aku tahu sekarang.....lalu ada satu lagi, kenapa kamu tahu cara membuat tangan ku menjadi normal kembali.” Balas Ryuto.

“Kita keturunan grim, bisa menggunakan kemampuan dan kekuatan nenek moyang kita, tapi harga kekuatan kita adalah energi roh kita, untuk itulah kita butuh suplemen yaitu darah yang merupakan inti kehidupan. Kalau energi roh kita sampai habis, kita akan mati, benar benar mati.” Ujar Ayano.

“Seperti vampir begitu ?” Tanya Ryuto.

“Jelas berbeda, kalau vampir harus minum darah atau mati, kalau kita hanya butuh mengisi energi roh saja, jadi tidak selalu kita butuh darah, lagipula bukan di minum, seperti tadi, aku hanya meneteskan beberapa tetes ke sabit senpai dengan darah ku kan, hanya butuh beberapa tetes saja senpai sudah pulih dan sabitnya bisa kembali masuk ke dalam.” Jawab Ayano.

“Mata ketiga mu juga begitu ?” Tanya Ryuto.

“Ya, kalau aku melihat masa depan lebih dari dua tahun ke depan, mata ini tidak mau tertutup dan terus terbuka menghabiskan energi roh ku, sama seperti sabit senpai yang tidak mau masuk kembali ke dalam karena hari ini sudah di pakai dua kali, membuat roh teman senpai naik ke atas dan membuang roh jahat ke bawah.” Jawab Ayano.

“Kalau begitu bagaimana cara memakai kemampuan nya ?” Tanya Ryuto.

“Katakan saja dalam hati kepada dua tangan senpai, keluar atau masuk....kalau aku kepada kening ku.” Jawab Ayano.

Ryuto mencobanya, dia membuka kedua sarung tangan nya dan mengatakan di dalam hatinya supaya kedua sabitnya keluar. Ternyata benar seperti yang Ayano katakan, dua punggung tangan nya mengeluarkan dua bilah sabit yang mencuat ke depan. Kemudian dia mencoba mengatakan di dalam hatinya supaya sabit itu masuk, ternyata keduanya masuk kembali ke dalam punggung tangan nya.

“Hmmm....aku mengerti sekarang, berarti kalau mau menolong roh orang mati tinggal menyentuh nya dengan tangan, sedangkan Ghist menusuk nya dengan sabit.” Ujar Ryuto.

“Benar senpai.” Balas Ayano.

“Kamu pernah membuat roh orang mati naik ke atas Aya chan ?” Tanya Ryuto.

“Tidak akan pernah, aku tidak mau menempelkan kening ku ke kening hantu hantu jelek itu....” Jawab Ayano dengan wajah datar.

“Ah...benar juga....tapi jujur saja, aku masih penasaran, aku masih ingin tahu lebih dalam lagi....” Ujar Ryuto.

“Tentang aku ?” Tanya Ayano.

“Tentang semua ini......yah tentang kamu juga, kenapa kamu seperti sudah akrab dengan ku, padahal ini pertama kita bertemu...” Jawab Ryuto.

“Karena aku bisa melihat masa depan senpai (dan aku sangat mencintai mu suami ku karena aku selalu melihat mu ketika aku di kurung hehehehe).” Balas Ayano.

“Kamu kenapa bisa tahu tentang semua ini ? tentang keturunan Grim, tentang Ghist, tentang ku ?” Tanya Ryuto.

Ayano tidak menjawab, dia hanya menunjuk kening nya dengan jari nya. Ryuto mengerti maksud Ayano, tapi karena penasaran dia bertanya lagi,

“Tapi masa hanya karena mata ketiga mu ?” Tanya Ryuto.

“Paman ku adalah asisten papa ku yang peneliti dan dia meneliti mengenai hal hal ini....ketika aku keluar, aku membaca semua tesis dan catatan nya, aku mempelajari semua itu dari sana dan dari mata ku ini....” Jawab Ayano.

Ryuto terdiam, dia enggan bertanya lebih jauh lagi karena menjurus hal yang pribadi, “Klek.” Kompor yang di nyalakan Ryuto otomatis mati karena menggunakan timer, sedangkan nasi yang di masaknya juga sudah matang. Ryuto berdiri dan mengambil dua piring untuk menghidangkan makanan. Setelah itu dia membawa dua piring nasi kare ke meja.

“Kalau mau tambah ambil sendiri ya...” Ujar Ryuto sambil menaruh piring nya.

“Iya senpai, terima kasih....” Balas Ayano.

Keduanya langsung makan dengan lahap, Ayano mengambil lagi sebanyak dua kali dan makan dengan lahap. Setelah selesai makan dan mencuci piring keduanya kembali lagi keruang tengah. Ayano langsung berbaring di lantai,

“Aya chan......kamu tidak pulang ?” Tanya Ryuto.

“Aku kan di rumah.....ah...oh iya benar juga, sudah malam senpai, ijinkan aku menginap malam ini....” Jawab Ayano.

“Haaah...baiklah, jangan tidur di sini, di kamar saja, aku saja yang disini....” Balas Ryuto.

“Baik senpai....”

Tanpa malu malu Ayano berdiri dan masuk ke dalam kamar, setelah di dalam dia membuka lemari Ryuto dan mengambil beberapa pakaian milik Ryuto. Dia melepaskan seragam nya sampai ke pakaian dalam nya, kemudian memakai kaus dan celana boxer milik Ryuto. Setelah itu dia membuka pintu mengintip keluar,

“Selamat malam senpai.....” Ujarnya.

“Iya, selamat malam.....” Balas Ryuto yang berbaring di atas futon yang baru selesai dia pasang.

Ayano kembali menutup pintunya, dia langsung melompat ke tempat tidur Ryuto dan berguling guling di atasnya sambil tersenyum lebar. Ayano terlihat senang sekali,

“Hehehehehe......sudah lama aku menunggu saat saat ini.” Ujar nya dalam hati.

Sementara itu di luar, Ryuto yang sudah berbaring di futon (selimut tebal untuk tidur), menoleh melihat ke pintu kamar nya.

“Apa sih yang dia sembunyikan.....benar benar gadis aneh.” Pikir Ryuto.

Kemudian dia berbalik dan tidur, tanpa menyadari kalau pintu kamarnya terbuka dan sepasang mata dengan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi putih dalam kegelapan sedang melihat dirinya dari balik pintu.

*****

Sementara di rumah Hige, di kamar Hige yang berada di lantai 2, Hige sedang terlungkup di tempat tidurnya.

“Ryuto kenapa ya ? aneh aneh saja....ini pasti gara gara dia di ajak masuk club senpai itu.....jelas jelas aku tidak kenapa napa....” Gumam nya sambil terlungkup di tempat tidur dan memegang smartphone nya.

“Gruyuuuuk.” Terdengar perut Hige berbunyi kencang, dia langsung menopang tubuh nya dan duduk di tempat tidurnya.

“Huh...gara gara Ryuto, makan ku terganggu, aku lapar lagi deh....turun lagi deh...”

Hige turun dari tempat tidur nya, kemudian dia keluar kamar, kondisi rumah nya gelap tapi Hige yang sudah hapal tata letak di rumah nya dengan lancar berjalan melalui lorong kemudian turun ke bawah. Dia langsung menuju kulkas nya dan membukanya. Ketika kulkas di buka,

“Wah....papa, mama, aniki (kakak).....enak ya dingin di dalam....aku ambil makanan dulu ya....” Ujar Hige.

Ternyata di dalam kulkas ada 3 kepala, seorang pria paruh baya berambut putih dengan mata dan mulut di jahit, seorang wanita paruh baya yang mata dan mulutnya juga di jahit, seorang pemuda yang wajah nya di buat rata. Hige mengambil sebuah kaki yang ada di dalam kulkas, kemudian menutup lagi kulkasnya. Dia duduk di ruang makan dan bertepuk tangan. Lampu di ruangan itu menyala, ternyata seluruh rumah nya penuh dengan bercak darah yang masih segar dan berantakan.

“Selamat makan....” Hige mengambil kaki itu dan memakan nya.

Dia menoleh dan melihat wajahnya yang belumuran darah dan matanya yang berwarna kuning di cermin. Melihat wajah nya sendiri di cermin, Hige tertawa.

“Hehehehe...enak.” Gumam nya sambil terus melahap kaki yang di pegang nya.

*****

Keesokan paginya, Ryuto keluar dari apartemen nya bersama dengan Ayano, ketika sedang mengunci pintu, “Klek.” Tetangga Ryuto keluar dari dalam sudah siap ingin pergi ke kantor.

“Eh....pagi Ryuto kun....” Sama Ena.

“Oh pagi Ena nee san, mau berangkat ? oh tempat makanan nya sudah ku cuci, aku ambilkan dulu ya.” Tanya Ryuto berbasa basi.

“Wah nanti saja, aku agak sedikit buru buru, oh....siapa di sebelah mu Ryuto kun, rasanya baru lihat.” Balas Ena sambil melihat ke Ayano yang berdiri di sebelah Ryuto.

“Oh dia adik kelas ku.....semalam dia kemalaman jadi menginap.” Ryuto menjelaskan.

“Wah kupikir pacar mu hehe.....ya sudah aku duluan ya, dadah Ryuto kun dan siapa namanya ?” Tanya Ena.

“Tanzaki Ayano.....” Jawab Ayano ketus.

“Oh Ayano chan......aku tinggal dulu ya.....bye.” Ujar Ena sambil berbalik dan berjalan menuju tangga.

Ryuto menoleh melihat Ayano di sebelah nya yang sedang menggertakkan giginya. Dia sedikit heran melihat Ayano,

“Kamu kenapa Aya chan ?” Tanya Ryuto.

“Dia...siapa senpai ?” Tanya Ayano.

“Tetangga ku.....dia sering masak berlebih dan memberikan nya pada ku.” Jawab Ryuto.

“Ok, mulai sekarang aku yang masak untuk mu....” Balas Ayano.

“Hah....maksudmu apa ?” Tanya Ryuto.

“Tidak ada maksud, ayo berangkat senpai.....” Jawab Ayano yang langsung melangkah menuju tangga.

Ryuto melihat Ayano yang berjalan menuruni tangga dengan heran dan penuh tanda tanya.

“Apa sih maksudnya dia ?” Tanya Ryuto penasaran.

Akhirnya Ryuto juga berjalan menyusul Ayano yang berbalik menunggu dirinya di anak tangga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!