Chapter 10

Ryuto membuka pintu kelas yang tertutup, ketika masuk, dia merasakan hawa tidak enak yang sangat menyesakkan dada dan tidak enak sama sekali. Ryuto menoleh dan melihat hantu nenek yang menempel di  teman sekelasnya yang kutu buku di depan, wajah hantu nenek itu terlihat ketakutan sambil memandang ke arah Hige duduk. Ketika Ryuto menoleh melihat gadis yang duduk di dekat pintu, dia melihat 5 hantu bayi yang menempel padanya sedang bersembunyi di belakang gadis itu dan mengintip memperhatikan Hige.

“Hige......” Ujar Ryuto.

Dia melangkah masuk dan berjalan ke tempat duduk nya, kursi di sebelah nya sudah kosong sebab Aida sudah tidak ada. Setelah duduk, dia melihat Hige yang duduk di depan nya sedang cepat cepat menyalin tugas milik teman yang duduk di sebelahnya. Ryuto mengamati gerak gerik Hige dari belakang dan tidak ada yang mencurigakan, hanya saja bayangan merah masing menyelimuti dirinya. Tiba tiba, “Duaaak.” Pintu kelas di buka kencang, 3 orang siswa pria yang sepertinya siswa kelas lain masuk ke dalam. Wajah mereka terlihat menyebalkan, Ryuto mengenal mereka, 3 orang siswa itu adalah preman yang kerjanya hanya menindas siswa dan siswi lain, 3 orang itu menghampiri Hige. Seorang pria berambut merah dan panjang menendang meja Hige yang sedang menulis.

“Oi Higeki....kalau di panggil harusnya kamu langsung datang.....jangan mengacuhkan ku....” Ujar siswa pria itu.

Hige diam saja tidak bergerak, melihat itu, Ryuto langsung berdiri sebab kalau untuk menghadapi manusia hidup dia tidak pernah merasa takut. Tapi Hige memegang lengan nya dan kemudian dia berdiri.

“Kita keluar saja.....Ryuto, kamu tunggu di sini saja....” Ujar Hige sambil melirik Ryuto di sebelah nya dan berkata kepada 3 siswa itu.

“Hah.....” Ryuto kaget.

“Bagus....ayo gendut...” Ujar pria berambut merah itu sambil merangkul Hige.

Hige di bawa keluar oleh ketiga murid itu, Ryuto merapihkan meja Hige yang jatuh di tendang, di bantu oleh teman teman yang lain. Tiba tiba terdengar suara orang berlari di luar kelas, Ryuto menoleh dan dia melihat Jirou berlari melewati kelas nya, sepertinya dia habis dari ruang staff. Ryuto langsung keluar dari kelas dan pergi mengikuti Jirou dari belakang. Ketika turun dari tangga,

“Senpai....” Teriak seorang gadis di belakang nya.

Ryuto menoleh dan melihat Ayano berdiri di belakang nya, keduanya langsung berlari mengikuti arah Jirou pergi yang menuju lapangan di samping gedung sekolah, setelah keluar dari gedung, dari kejauhan Ryuto dan Ayano melihat Jirou belok di ujung mengarah ke gudang gedung sekolah lama yang sudah tidak terpakai. Ryuto dan Ayano berlari ke arah Jirou berbelok. Setelah sampai, mereka melihat pintu gudang kosong itu terbuka sedikit dari kejauhan. Keduanya berlari menghampiri gudang, ketika mau masuk.

“Aaaaah...tolong...tolong....ja..jangan...aku tidak mau mati....” Teriak seorang pria.

Kemudian terdengar suara “Krak...krak...” Di iringi teriakan. Mendengar itu, Ryuto dan Ayano masuk ke dalam, di dalam sudah ada Jirou yang sedang berdiri melihat ke dalam gudang sambil memasang kuda kudanya. Ryuto menoleh, dia kaget bukan kepalang, Hige teman nya berdiri di tengah tengah gudang kosong dan  di depan nya ada sebuah kotak yang bergitu di perhatikan ternyata manusia yang di lipat menjadi kotak dengan kepala miring di tengah. Tangan Hige memegang kepala siswa berambut merah yang di lihatnya di kelas.

“Hi...Hige ?” Tanya Ryuto melangkah maju.

“Hei...mundur...sudah kubilang kan dia bukan manusia....” Jirou merentangkan tangan nya mencegah Ryuto maju.

“Senpai.....hati hati.....dia ganas.” Ujar Ayano yang mencabut pedang nya dan memegangnya dengan dua tangan.

Hige menoleh, wajahnya miring dan terus miring sampai akhirnya terbalik posisi nya seperti yang semalam di lihat oleh Ryuto di panggilan video. Melihat Hige di depan nya seperti itu, Ryuto langsung jatuh berlutut,

“Berarti yang semalam......” Ujar Ryuto.

“Maaf senpai, yang semalam adalah teman mu, mereka bertukar, di dalam tubuh nya sekarang hanya ada roh jahat....kita harus keluarkan roh nya dari dalam tubuhnya supaya dia bisa kembali.” Ujar Ayano.

“Huh....kalian sebaiknya pergi dari sini, biar aku atasi dia....” Ujar Jirou.

“Heeee...senpai bisa mengatasi nya ?” Tanya Ayano meledek.

“Graaaaaaaah........”

Hige meraung, dia langsung berlari menuju ke arah Jirou, Ryuto dan Ayano yang sedang berdiri. Tiba tiba tubuh Jirou mengeluarkan asap, tangan kaki nya menjadi jauh lebih kekar dari sebelum nya dan membesar, kulitnya menjadi biru dan di keningnya muncul dua buah tanduk mini. Jirou membuka mulutnya dan memperlihatkan taring tajam nya, asap tipis keluar dari mulutnya. Dia langsung maju menerjang Hige yang sedang berlari ke arah nya. Ryota mau tidak mau harus percaya, dia seperti melihat pertarungan dua monster di depan nya, satu merah karena berlumuran darah dan satu biru. Selagi Ryuto tertegun,

“Senpai....ketika ada kesempatan, tancapkan kedua sabit mu di tubuh Hige dan tarik roh jahat itu keluar....” Ujar Ayano.

“Tapi....Hige.....aku....apa aku bisa......” Ujar Ryuto melihat kedua telapak tangan nya yang masih memakai sarung tangan.

“Senpai.....kamu bisa....jangan takut....teman mu bisa selamat....” Teriak Ayano.

“Sreeeeg.” Tiba tiba Jirou berhenti di samping Ryuto. Dia membersihkan mulutnya yang berdarah dengan lengannya.

“Hoi....kalau takut keluar saja......jangan menjadi beban di sini....” Ujar Jirou, kemudian dia melompat maju lagi dan bertempur lagi dengan Hige yang seluruh tubuh nya makin merah karena darah.

Kembali kata kata Jirou menusuk hati Ryuto, dia melihat ke depan, Hige yang kepalanya terbalik ternyata berada di atas angin dan Jirou terdesak.

“Senpai.....” Teriak Ayano.

Ryuto menepuk pipinya dengan kencang menggunakan kedua tangan nya, dia langsung membuka sarung tangannya dan memejamkan matanya. Kedua punggung tangan nya mengeluarkan sabit yang melengkung ke depan dan berwarna merah. Ryuto berdiri dan bersia siap,

“Kamu ok kan senpai ?” Tanya Ayano.

“Iya Aya chan...maaf....” Jawab Ryuto.

“Ok...siap ya, aku pakai mata ku....” Balas Ayano.

Ayano membuka topeng nya dan matanya terbuka, dia mengikuti gerakan Hige sekarang dan meneruskan nya sampai 10 menit ke masa depan. Setelah mendapat momen yang tepat beberapa menit setelahnya.

“Lompat sekarang senpai.....” Teriak Ayano.

Ryuto yang menuruti Ayano, langsung melompat tinggi ke udara, tak lama kemudian Hige dengan tinjunya berhasil memukul mundur Jirou yang menangkis nya dengan menyilangkan tangan nya. Tiba tiba Ryuto turun dan hinggap di pundak Hige,

“Maaf Hige....” Ujar Ryuto.

Dia menancapkan kedua sabitnya di pundak bagian depan persis di dekat lehernya, kemudian dia menendang punggung Hige dan bersalto kebelakang. Sabit yang menancap di tubuh Hige, menarik keluar bayangan berwarna hitam kemerahan yang tertancap di kedua sabit Ryuto. Setelah mendarat, Ryuto mengangkat kedua tangannya ke atas karena bayangan hitam kemerahan itu masih menancap di kedua sabitnya. Bayangan yang berbentuk manusia itu berontak berusaha melepaskan sabit Ryuto dengan gerakan yang aneh dan berusaha menyerang Ryuto.

“Tahan senpai....” Teriak Ayano.

Dia melompat dan menghunus pedang nya ke atas, kemudian Ayano membelah dua bayangan itu menggunakan pedang katana nya secara lurus dari atas ke bawah. Bayangan yang terbelah dua itu langsung hancur menghilang, tubuh Hige terjatuh terlungkup di genangan darah yang berada di depan nya. Tak lama kemudian, dari luar gudang, roh Hige yang asli berjalan masuk ke dalam, dia melewati Ryuto, Ayano dan Jirou, kemudian melihat tubuhnya yang terlungkup.

“Ah....senpai bantu aku.” Ujar Ayano.

Ketiganya menghampiri tubuh Hige yang terlungkup dan bersama sama membalik nya menjadi terlentang. Roh Hige yang melihat tubuhnya sudah terbalik, langsung masuk ke dalam tubuh nya melalui pusar nya. Setelah itu,

“Haaaaaaah.....” Hige terbangun dan menarik nafas dengan mata melotot dan mulut ternganga. Dia terlihat bingung dan melihat sekeliling. Ryuto melangkah maju ke depan,

“Selamat pagi Hige....” Ujar Ryuto sambil menjulurkan tangan nya.

Hige langsung memegang tangan Ryuto yang menariknya supaya berdiri. Setelah itu, Hige melihat sekitarnya, dia berada di tengah tengah genangan darah, di sebelah kanan ada 2 buah kotak yang terbuat dari manusia yang di lipat sedemikian rupa dan mengeluarkan darah, kepala siswa berambut merah yang tergeletak miring di kaki nya. Wajah nya langsung berubah menjadi ketakutan, dia langsung menoleh kepada Ryuto.

“A..apa yang terjadi ? aku kenapa ?” Tanya Hige.

“Um....gimana ya....aku sedikit susah nih menjelaskannya.” Jawab Ryuto.

Tiba tiba Jirou merangkul Hige dan membawanya pergi keluar dari gudang, selagi berjalan Jirou menoleh kebelakang melihat Ryuto dan Ayano,

“Kalian juga ikut, kita ke ruang kemarin.....banyak yang harus di bahas...” Ujar Jirou.

“Ok senpai....” Balas Ayano.

“Eh tapi kan kelas sudah mulai.....” Ujar Ryuto.

“Tidak usah ikut....ayo.” Ajak Ayano.

Ayano menarik tangan Ryuto dan membawanya keluar dari gudang, mereka berjalan mengikuti Jirou yang merangkul Hige masuk ke gedung sekolah lama.

Terpopuler

Comments

Solomon72

Solomon72

semangat Thor lanjutkan, mampir juga ya 😁

2023-08-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!