Chapter 3

Keesokan hari nya, pagi pagi, Ryuto keluar dari apartemen nya sudah mengenakan seragam dan siap berangkat ke sekolah. Dia mengunci pintu nya berjalan menuruni tangga.

“Pagi Ryuto kun....” Sapa seorang ibu yang sedang menyapu di bawah.

“Pagi.....obasan (tante)....” Ujar Ryuto sambil menoleh memalingkan wajah nya.

Alasan nya, karena tante yang di sapanya itu tidak memiliki kaki dan melayang di udara. Ryuto berjalan keluar pagar menuju sekolah nya, di perjalanan dia melihat banyak sekali roh roh orang meninggal yang berkeliaran di jalan, dia memakai kacamatanya dan seluruh roh di depan nya menghilang. Kacamatanya berfungsi untuk menutup kemampuan mata kirinya, walau sudah memakai lensa kontak, efek kekuatan matanya baru berhasil di redam sedikit kalau di tambah kacamata. Tapi kadang ada saja roh yang masih terlihat oleh nya walau sudah memakai kacamata.

Di ujung jalan, Ryuto menunggu lampu lalu lintas pejalan kaki menjadi hijau, di sebrang dia melihat roh gadis yang kemarin menegurnya sedang duduk di bawah tiang, ketika gadis itu menoleh dan melihatnya, dia melambaikan tangan nya.

“Ah...dia melihatku....” Gumam Ryuto di hatinya.

Dengan terpaksa dia mengangkat tangan nya dan melambai kecil, ketika sampai sebrang, dia melompati bunga yang berserakan di jalan, gadis itu duduk di bawah tiang sepertinya sedang berusaha memungut bunga itu, tapi karena dia hanyalah roh tangan nya selalu menembus bunga kemudian ke tanah, dia tidak bisa mengambil nya. Akhirnya Ryuto yang kasihan melihatnya, memungut bunga bunganya dan menaruhnya lagi di bawah tiang lampu lalu lintas tempatnya semula. Gadis itu tersenyum, dia kembali berdiri melihat ke jalan, kemudian dia menoleh dan menunduk di hadapan Ryuto sambil melayangkan senyum nya yang mengerikan. Ryuto langsung menoleh dan kembali meneruskan jalan nya.

“Uh....masih pagi ini.....tapi, dia tidak bisa pergi dari sana ya.” Ujar nya dalam hati sambil berjalan.

Ryuto menoleh ke belakang dan melihat gadis itu berdiri di tepi jalan, karena pagi hari, dia tidak terlalu takut melihat nya. Setelah itu, akhirnya dia sampai di depan gerbang sekolah nya,

“Nah tantangan nya di sini......” Ujar Ryuto.

Dia melangkah masuk dan “Blugh.” Terdengar suara seperti benda besar yang jatuh, Ryuto melangkah dan tidak menghiraukan nya, karena dia tahu yang jatuh itu adalah roh seorang siswi yang entah bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah atau ada orang lain yang mendorong nya, setiap pagi, waktu istirahat dan pulang sekolah Ryuto melihat nya melompat berkali kali dan menjadi genangan darah di tanah. Setelah di dalam gedung, di ruang loker sepatu, Ryuto membuka lemarinya,

“Baaaaaaa.....”

Sebuah kepala dan dua buah tangan berada di dalam kotak sepatunya yang berlumuran darah. Mata kepala itu di jahit, hidung dan telinganya di potong kemudian setiap pagi dia menyapa Ryuto dengan memaksa membuka mulutnya yang di jahit sehingga terlihat mengerikan dan menjijikkan. Kedua tangan nya bergerak gerak seakan akan seluruh tubuh nya di lipat dan di masukkan di dalam lemari loker yang kecil itu. Darah segar bercucuran membasahi isi loker nya. Dengan tenang, Ryuto melepaskan sepatunya dan menaruh nya di dalam setelah mengambil sepatu untuk di dalam ruangan nya, dia benar benar acuh berpura pura tidak melihat nya. Setelah itu dia menutup pintunya seperti tidak melihat apa apa di dalam nya walau setiap pagi tubuh nya pasti gemetar.

Dia berjalan menuju kelas nya, ketika sudah di depan kelas, dia mengintip ke dalam, sudah ada beberapa siswa teman sekelasnya yang duduk di kursi nya masing masing, dia melihat seorang siswa pria yang terlihat seperti kutu buku dengan seragam kebesaran sedang duduk di kursinya yang berada di depan sambil membaca buku. Tapi selalu ada seorang wanita tua mengerikan yang menempel di punggung nya seperti sedang di gendong dan Ryuto melihat nya setiap hari, kadang nenek itu menoleh melihat Ryuto dan tersenyum ramah.

Lalu di dekat pintu, dia melihat seorang siswi perempuan yang bertubuh seksi, berkulit sedikit gelap dengan rambut di cat pirang, dia memakai rok yang sangat pendek dan kemejanya di buka sedikit sehingga buah dada nya yang besar terlihat jelas, tapi yang menjadi perhatian Ryuto bukanlah penampilan gadis itu, melainkan 5 roh bayi yang menempel di tubuh nya, dua di dada nya, dua di pundak nya dan satu di antara kakinya. Kadang bayi bayi itu melihat dirinya dengan wajah tertegun dan mata yang seluruh nya hitam, mereka seakan akan tahu Ryuto bisa melihat mereka dan seperti ingin mengatakan sesuatu.

Selain keduanya, ada satu lagi yang membuat dirinya tegang, yaitu kursi kosong di sebelah nya, sebuah vas berisi bunga di taruh di atas meja bersama selembar kertas berisi ucapan turut berduka cita dari seluruh teman sekelas. Siswi yang duduk di sebelah nya meninggal dunia akibat kecelakaan tertabrak oleh truk di persimpangan jalan dekat rumah nya sebulan lalu. Nama siswi itu itu adalah Kimeno Aida dan cukup dekat dengan Ryuto yang duduk di sebelahnya.

Walau pun bagi teman sekelas siswi yang bernama Kimeno Aida hanya tinggal kenangan, bagi Ryuto, siswi itu masih ada, karena dia duduk persis di kursi sebelah yang memang tempat duduk nya dan menghadap ke papan tulis tanpa bergerak. Ryuto tidak berani bergerak tiba tiba sebab kalau dia bergerak tiba tiba, Aida akan menoleh melihat nya. Yang membuatnya takut, kepala Aida berputar menghadap pada dirinya, sedangkan tubuhnya menghadap ke depan, kemudian perlahan lahan mulutnya terbuka tersenyum sangat lebar dengan pandangan kosong yang mengerikan.

“Sudah biasa....sudah biasa....tenang Ryuto...tenaaaang.” Ujar nya dalam hati.

Walau kacamatanya berembun, Ryuto tidak berani melepasnya, dia membersihkan kacamata yang masih di pakainya dengan sapu tangan, alasan nya kalau dia melepas kacamatanya, ruangan kelas tempat dia belajar menjadi ruang operasi dengan dinding yang di penuhi darah dan banyak potongan tubuh bertebaran dimana mana.

Satu persatu teman sekelas masuk ke dalam ruangan, seorang siswa pria bertubuh besar dan gemuk tapi pendek duduk di depan Ryuto, dia langsung menoleh melihat Ryuto.

“Pagi Ryuto.....” Sapa nya.

“Pagi Hige....” Balas Ryuto.

“Kamu kenapa sih kalau pagi selalu pucat ?” Tanya Hige.

“Ah tidak apa apa, perasaan mu saja kali....” Jawab Ryuto.

Tiba tiba, Hige langsung mendekatkan wajah nya dan memberi kode menggunakan mata supaya Ryuto melihat keluar kelas. Ryuto menoleh, dia melihat seorang siswi perempuan sedang melihat nya dan melarikan diri ketika dia menoleh,

“Uh....” Ujar Ryuto.

“Hei, mau sampai kapan kamu mengacuhkan Megumi san seperti itu ?” Tanya Hige.

“Aku tidak mengacuhkan nya....hanya saja, setiap aku dekat dengan nya, dia lari....” Jawab Ryuto.

“Haaah....kadang aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran Megumi san....” Gumam Hige.

“Apalagi aku, aku malah berpikir dia benci aku dan dendam padaku.....” Balas Ryuto.

“Lah, memang kamu salah apa ?” Tanya Hige.

“Justru aku tidak mengerti.....” Jawab Ryuto.

“Haha ya sudah lah, kalau aku rasa mungkin dia malu....” Balas Hige.

Bel masuk berbunyi, seluruh siswa siswi yang masih di luar kelas, masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian, seorang sensei perempuan yang terlihat masih sekitar 25 tahunan masuk ke dalam kelas. Setelah memberi salam, sensei mulai mengabsen murid satu persatu dan meneruskan pelajaran nya. Ryuto melihat ada seorang laki laki yang memegang setir mobil dengan wajah yang hancur dan tidak bisa di kenali, memakai kemeja berdasi yang berdarah darah. Tangan nya terlihat hampir putus dan kakinya terlipat ke perutnya. Ryuto baru hari ini melihat ada roh yang mengikuti sensei dan kondisinya mengerikan.

“Siapa yang mengikuti sensei itu.....” Ujar nya sambil menunduk melihat ke meja nya tidak berani menatap ke depan.

Pelajaran di mulai, sensei mulai membaca buku nya, dia berjalan mengelilingi kelas, setelah itu, dia menuju ke arah Ryuto yang duduk di paling belakang. Ryuto bisa melihat pria hancur itu mengikuti sensei berjalan,

“Duh sensei kesini lagi.....” Pikir Ryuto sambil berusaha memalingkan wajah nya.

Akhirnya sensei sampai di depan Ryuto dan berbalik, pria itu persis ada di sebelah Ryuto. Pria berwajah hancur itu menoleh melihat Ryuto, bola matanya sudah menggantung keluar dari dalam kelopak nya dan berdarah darah. Ryuto mulai gemetar karena pria itu jongkok sambil melihat dirinya dan mengamatinya. Ryuto benar benar berusaha supaya pria itu tidak tahu kalau dia bisa melihat nya,

“To...long......tolong.....beritahu....Nino.....aku....mencintainya.....nama...ku....Yoshida.......” Terdengar suara lirih memilukan dan mengerikan di telinga Ryuto.

Ryuto memberanikan diri menoleh dan wajah hancur pria itu persis di depan wajah nya,

“Waaaaaaa.....” Teriak Ryuto reflek.

Dia jatuh ke belakang bersama dengan kursinya, seluruh teman sekelas menoleh pada nya, sensei yang sedang membacakan buku juga langsung berhenti dan menjulurkan tangannya kepada Ryuto.

“Kamu kenapa lagi Ryuto kun...kebiasaan....makanya kalau di kelas jangan tidur...” Ujar Nino sensei.

“Ma..maaf sensei....” Ujar Ryuto yang berdiri dan mendirikan kembali kursinya.

Seluruh teman sekelas termasuk Hige yang berada di depan nya tertawa menertawakan dirinya, Ryuto hanya tersenyum saja menanggapi nya, dia mengerti, tentunya teman nya tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dia alami dan kalau dia mengatakan nya maka dia akan di anggap gila. Ketika sudah duduk kembali dan sensei sudah pergi melewati nya dan menuju ke baris sebelahnya, dia melihat Aida sedang menoleh kepadanya dengan senyum yang sangat lebar dan mengerikan, sedangkan badannya tidak bergerak menghadap ke papan tulis.

“Uh....tolong jangan menoleh Kimeno san.....walau manis tapi kamu sudah mati...” Ujar Ryuto di dalam hati sambil merebahkan tubuh nya di meja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!