Setelah Hige tenang, Keiko dan Jirou berdiskusi berdua agak jauh di sudut ruangan, Ayano menggantikan Keiko menenangkan Hige di bantu oleh Megumi, Ryuto hanya berdiri bersender di sebelah rak buku yang sudah tua itu sambil melihat Hige yang sedang menunduk dan memegang secangkir teh.
“Berarti....keluarga ku sudah....” Gumam Hige sedih.
“Yang tabah ya Higeki kun.....semua ini bukan salah mu....” Megumi berusaha menenangkan Hige.
“Kenapa semua jadi begini....” Ujar Hige.
Ryuto menghampiri Hige dan duduk di sebelah nya, kemudian dia memegang pundak Hige. Ayano tiba tiba menoleh melihat ke pintu,
“Ada yang datang....” Ujar nya.
“Kamu bisa melihat nya ?” Tanya Ryuto.
Ayano mengangguk, dia tetap menoleh melihat ke arah pintu, tiba tiba Jirou dan Keiko berjalan ke pintu dan keduanya mengintip keluar. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, 3 orang datang, 2 orang pria mengenakan pakaian polisi dan seorang wanita memakai blazer tapi membawa lencana di pinggangnya. Mereka menggunakan senter untuk menyorot ke dalam toilet yang sudah rusak, setelah itu mereka melewati toilet dan berjalan menelusuri lorong.
“Polisi.....” Ujar Jirou berbisik.
“Iya....di sini sih kita aman....asal jangan bersuara.” Balas Keiko berbisik.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki lagi, sepertinya mereka sudah memeriksa sampai ujung lorong dan berjalan kembali untuk naik ke atas. Mereka kembali menyoroti toilet menggunakan senter, ketika mau berjalan lagi,
“Tunggu....coba senter lagi ke dalam...” Ujar wanita yang sepertinya pemimpin dua polisi di sebelah nya.
Seorang polisi kembali menyenter ke dalam toilet, kemudian mereka masuk dan memeriksa bilik bilik toilet yang berada di dalam toilet wanita itu. Jirou, Keiko, Ryuto, Ayano, Megumi dan Hige yang berada di dalam menjadi sedikit tegang, mereka menutup mulut mereka masing masing supaya tidak menimbulkan suara.
“Hmm sepertinya perasaan ku saja....ok, ayo kita naik lagi...” Ujar wanita itu.
Ketiga nya keluar dari toilet wanita dan berjalan menuju tangga naik ke atas. Jirou, Keiko, Ryuto, Ayano, Megumi dan Hige langsung bernafas lega, tapi mereka belum berani bicara sampai mereka yakin ketiga orang itu sudah pergi jauh. Setelah itu,
“Aku....sebaiknya aku menyerahkan diri ke polisi dan menceritakan semuanya....” Gumam Hige.
“Percuma, mereka tidak akan percaya...” Balas Jirou yang duduk di meja kerja.
“Benar, aku dan Jirou sudah pengalaman....kita sudah ceritakan kejadian yang menimpa kita dan mohon sama rumah sakit supaya tubuh orang tua ku dan Yae nee san di simpan, mereka tidak percaya dan mengkremasi orang tua ku juga Yae nee san.” Ujar Keiko sambil merebahkan kepalanya di pundak Jirou sebelah nya.
“Lalu sekarang bagaimana cara menolong Hige, senpai ?” Tanya Ryuto.
“Kalau Higeki kun menyerahkan diri ke polisi, sudah jelas dia akan di tangkap sebagai tersangka dan pelaku, untuk sementara Higeki kun harus bersembunyi.” Jawab Keiko.
“Selagi dia bersembunyi, kita cari cara untuk mengalihkan kecurigaan polisi kepada si gendut....” Tambah Jirou.
“Gimana caranya mencari pengalihan dan dia bersembunyi dimana, senpai ?” Tanya Ryuto.
“Untuk sementara si gendut tinggal di rumah ku...di kuil.” Ujar Jirou.
“Setelah itu baru kita pikirkan bagaimana cara mengalihkan perhatian polisi, yang penting sekarang, kita keluar dulu dari sini....” Tambah Keiko.
“Oh jadi senpai tadi berdiskusi tentang hal ini ya ?” Tanya Ayano.
“Iya, rumah ku dan Jirou aman, di belakang rumah kita ada kabin kecil di dalam hutan, untuk sementara Higeki kun di sana saja dan jangan keluar, jangan sekolah juga.” Ujar Keiko.
“Oi gendut, kamu setuju kan ?” Tanya Jirou.
Hige tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja, kemudian Hige menoleh kepada Ryuto dan memaksakan diri tersenyum sambil mengangkat jempol nya. Maksudnya mengatakan kepada Ryuto kalau dia tidak perlu khawatir.
“Ok sudah di putuskan ya....libur musim panas masih 3 hari lagi, yang lain sementara itu sekolah saja seperti biasa. Libur musim panas kita kumpul di rumah.” Ujar Jirou.
“Siap senpai....” Ujar Megumi.
“Ok...tidak masalah....” Tambah Ayano.
Hige mendadak berdiri, dia langsung menoleh dan menghadap kepada Jirou dan Keiko yang duduk di meja kerja, dia merapatkan kaki dan tangan di pinggang, kemudian menunduk.
“Terima kasih senpai......” Ujar nya.
Jirou turun dari meja nya dan menepuk pundak Hige, kemudian dia berjalan menuju pintu dan keluar. Keiko yang melihat Jirou tertawa kecil,
“Hehehe malu malu dia.....baiklah, kita tunggu di sini sampai keadaan di luar aman, lalu kita keluar malam, tidak masalah kan ?” Tanya Keiko.
“Aku sih tidak masalah...” Jawab Megumi.
Ayano menoleh melihat Ryuto karena dia tahu, Ryuto pasti takut keluar malam malam. Ryuto mulai sedikit gemetar, tapi dia langsung memegang pergelangan tangan nya untuk menghentikan nya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya,
“Aku tidak masalah.....” Ujarnya menoleh melihat Ayano.
“Bagus, pelan pelan kita atasi ketakutan mu senpai....” Balas Ayano.
“Kalian sudah saling kenal lama ya ?” Tanya Keiko kepada Ryuto dan Ayano.
“Tidak juga senpai.....baru semalam.” Jawab Ryuto.
“Ah....begitu....” Balas Keiko.
*****
Malam pun tiba, Jirou kembali masuk ke dalam dan mengatakan situasi sudah aman. Kemudian, dengan menggunakan jaket berkerudung yang di bawa Jirou, Hige keluar bersama Jirou, Keiko, Ryuto, Ayano dan Megumi. Ketika sudah di luar gedung sekolah lama, barulah Ryuto melihat kondisi malam di sekolah nya, ternyata banyak sekali roh roh orang meninggal berkeliaran, dari yang buruk rupa sampai yang terlihat tampan dan cantik. Pakaian mereka bermacam macam dari jaman dulu sampai jaman sekarang, sekolah di malam hari terkesan sangat ramai. Setiap roh berkeliaran yang melihat Ryuto melewati mereka, pasti tersenyum lebar dan beberapa mengikuti Ryuto. Ayano terus berada di samping Ryuto sambil menggenggam tangan Ryuto supaya Ryuto yang melihat nya tidak takut dan para roh itu tidak berani mendekat.
“Aya chan....me..mereka banyak sekali...” Ujar Ryuto dengan suara sedikit gemetar dan berbisik.
“Tenang saja senpai....ada aku, mereka tidak berani mendekat kalau ada aku.” Balas Ayano berbisik.
“Kenapa bisa begitu ?” Tanya Ryuto.
“Karena aku sering membunuh roh dan mereka merasakan nya....” Jawab Ayano.
“Eh...bukankah kata kamu kita sama ?” Tanya Ryuto.
“Benar, tapi kan kamu tidak pernah membunuh roh, kamu menyelamatkan mereka, itu sebab nya mereka suka dengan mu....kalau aku berbeda, sebelum aku mengerti semua ini, aku sering membunuhi roh yang masuk ke rumah ku dulu....” Jawab Ayano.
“Owh...memang apa alasan mu apa membunuh roh roh itu ?” Tanya Ryuto.
“Rahasia...” Jawab Ayano dengan wajah tanpa eskpresi.
Mendengar ucapan Ayano, Ryuto terdiam dan mulai merinding, dia melihat Ayano yang jalan di sebelah nya dan menggandeng tangan nya. Dia merasa sedikit takut dengan Ayano dan penasaran ingin mencari tahu tentang Ayano. Kenapa Ayano menjadi seperti itu dan kejadian apa yang menimpa dirinya di masa lalu. Alasan Ryuto ingin tahu karena dia ragu ingin percaya kepada Ayano yang membuatnya merinding.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments