Begitu sampai di bawah, Ryuto dan Ayano melihat obasan yang biasa menyapa Ryuto pagi pagi sedang menyapu di bawah.
“Pagi Ryuto kun....Ayano chan....” Sapanya.
Ryuto langsung menari Ayano ke pingging menjauh sedikit dari hantu obasan yang sedang menyapu di bawah apartemen nya.
“Eh...kok dia kenal kamu ?” Tanya Ryuto.
“Iya, setiap hantu bisa melihat nama kita di atas kepala kita, tapi kita atau manusia tidak bisa melihatnya, itu urusan hantu soalnya....” Jawab Ayano.
“Um....kalau dia di sentuh, bisa naik ke atas ga ya ?” Tanya Ryuto sambil melihat hantu obasan.
“Coba saja....kalau tembus, berarti masih ada yang mengikat dia di dunia ini...” Jawab Ayano.
Ryuto membuka sebelah sarung tangan nya dan dia mendekat kepada hantu obasan yang sedang menyapu. Ryuto menjulurkan tangan nya dan menembus tubuh hantu obasan di depan ya yang terlihat tidak merasakan apa apa dan tetap menyapu. Karena penasaran, Ryuto akhirnya bertanya,
“Anoo obasan, kalau boleh tahu keterikatan nya apa ya di dunia ?” Tanya Ryuto.
“Pagi Ryuto kun.....” Balas obasan sambil menoleh melihat Ryuto dan kembali menyapu.
“Anoooo.....bisa tidak katakan pada ku obasan....” Tambah Ryuto lagi.
“Pagi Ryuto kun.....” Balas obasan lagi sambil melihat Ryuto dan kembali meneruskan menyapu.
Ketika dia mau mencoba bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, pundak nya di pegang oleh Ayano di belakang nya,
“Percuma senpai, mereka tidak akan ingat apa yang mengikat mereka di dunia, kita yang harus menyelidiki nya dan membantu nya....kamu tanya berapa kali pun jawaban nya sama....” Ujar Ayano.
“Hm...begitu ya, berarti tidak sembarangan juga ya....” Balas Ryuto.
“Iya, ayo berangkat, nanti kita malah terlambat gara gara ngurusin obasan...” Balas Ayano.
Akhirnya Ryuto dan Ayano meninggalkan hantu obasan yang terus menyapu halaman. Mereka berjalan menelusuri jalan dan akhirnya sampai di ujung jalan, karena lampu merah, keduanya berhenti. Ryuto melihat hantu siswi yang meninggal karena kecelakaan masih berdiri di sebrang jalan dengan wujud mengerikan. Hantu siswi itu melihat Ryuto yang ada di sebrang, tapi kali ini kepalanya melihat Ryuto dengan miring dan tanpa tersenyum sehingga membuat Ryuto heran.
Ketika lampu sudah hijau, keduanya menyebrang, tiba tiba Ayano mengambil pedang yang di bungkus di belakang, dia mengeluarkan pedang nya dari bungkusnya dan mencabutnya dari sarung, kemudian dia memberikan bungkus dan sarung pedang nya kepada Ryuto.
“Hei....mau apa ?” Tanya Ryuto bingung.
“Membasmi pengganggu.....” Jawab Ayano.
“Eh...jangaaaan......”
Ryuto menarik pundak Ayano, dia langsung mengambil pedang nya dan kembali menyarungkan nya. Kemudian dia membawa pedang nya.
“Dia kan tidak mengganggu.....setiap hari dia hanya berdiri di sana, kalau bisa malah kita menolong nya.....” Ujar Ryuto memarahi Ayano.
Ryuto menoleh sambil berjalan menyebrangi jalan dan melihat hantu siswi itu masih melihat ke arah dirinya dan memiringkan kepalanya yang berdarah darah tanpa tersenyum. Tapi ketika mendekat, Ryuto baru paham kalau yang di lihat hantu itu bukanlah Ryuto tapi Ayano yang ada di sebelah nya. Akhirnya keduanya melewati hantu itu yang kepalanya berputar ke belakang sambil terus melihat keduanya berjalan menjauh.
“Tuh kan, dia tidak berbuat apa apa.....” Ujar Ryuto.
“Tetap saja aku sebal melihat nya......sini pedang ku, aku duluan senpai....huh.” Balas Ayano ngambek dan cemberut.
Ayano langsung berjalan lebih cepat meninggalkan Ryuto di belakang nya. Melihat Ayano cemberut dan marah, Ryuto menjadi bingung, dia menoleh ke belakang dan melihat hantu siswi itu kembali tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.
“Sebenarnya ada apa sih ini ?” Tanya Ryuto sambil menggaruk garuk kepalanya dan berjalan.
Begitu sampai di sekolah, seperti biasa, dia melihat siswi yang terjun dari atas, kali ini Ryuto menghampiri siswi yang sudah menjadi genangan darah di tanah, dia jongkok di depan nya dan melepas sarung tangannya, ketika menyentuhnya, sama seperti hantu obasan, tangan nya menembus tubuh siswi yang terlungkup dengan kepala pecah bersimbah darah.
“Tidak bisa juga......” Pikir Ryuto sambil melihat tangan nya.
Akhirnya dia masuk ke dalam gedung dan membuka loker nya, “Baaaaaa...” Seperti biasa, ada yang menyapa di dalam loker nya, tapi kali ini, Ryuto memegang kepalanya di dalam. Ternyata dia bisa memegang nya kemudian dia menarik hantu itu keluar. Begitu sudah keluar, ternyata benar yang selama ini dia perkirakan, hantu itu adalah hantu seorang pemuda yang bertubuh pendek yang juga memakai seragam sekolah jaman dulu. Dia menoleh dan melihat ke dalam loker, ternyata di ujung lokernya terselip sebuah potongan foto hitam putih yang sudah terbakar separuh, dia mengambil nya dan melihatnya, foto itu adalah foto seorang gadis yang memakai pakaian jaman dulu. Ryuto menoleh melihat hantu pemuda pendek itu, ternyata tangan nya menengadah meminta foto itu kembali. Ryuto memberikan nya dan hantu itu memeluk fotonya.
Hantu itu melepaskan jahitan mata dan mulutnya, darah segar keluar membanjiri ruangan akibat dia menarik jahitan nya.
“A....a....a..ku....ma...ma......” Hantu itu mencoba berbicara.
Ryuto membuka sarung tangan nya dan dengan tangan nya dia memegang kepala hantu yang lebih pendek darinya. Sama seperti yang terjadi kepada Aida, tubuh hantu di depan nya mengeluarkan cahaya dan kembali menjadi wujud selagi dia masih hidup. Hantu itu menunduk di hadapan Ryuto, kemudian cahaya datang dari atas dan hantu itu terbawa naik ke atas. Ketika cahaya menghilang, selembar foto jatuh dari atas, Ryuto menangkapnya dan ternyata foto itu adalah foto keseluruhan dari foto yang sudah terbakar separuh. Isinya adalah foto gadis yang di lihatnya di potongan foto sedang bergadengan dengan pemuda yang baru saja naik ke atas. Setelah itu, foto itu menghilang dari tangan Ryuto. Dia kembali memakai sarung tangan nya dan mengganti sepatunya. Ryuto melangkah masuk ke dalam gedung untuk menuju ke kelas nya dengan wajah tersenyum.
“Aku tidak takut lagi.......” Pikirnya.
“Hoi...mikir apa...” Punggung Ryuto di tepuk kencang dari belakang.
Dia menoleh dan melihat Hige yang menepuk nya dari belakang, tapi ada yang berbeda dari Hige. Ryuto menutup mata kanan nya, dia kaget karena melihat tubuh Hige di selimuti bayangan merah seperti darah. Tubuhnya gemetar dan dia bergeser berjalan di samping Hige.
“Hige, kamu tidak merasa ada yang aneh ?” Tanya Ryuto.
“Hah....apa lagi nih pagi pagi.....aku sehat walafiat....” Jawab Hige sambil mengangkat kedua tangan nya.
“Beneran ?” Tanya Ryuto lagi.
“Aduh...kamu itu apa sih....ya bener lah....kamu kenapa lagi ?” Tanya Hige.
“Tidak apa apa, baguslah kalau kamu tidak kenapa napa....” Jawab Ryuto.
“Sudahlah cepat, aku mau mengerjakan tugas dulu di kelas.....” Balas Hige.
“Duluan saja tidak apa apa.....” Balas Ryuto.
“Ya sudah....duluan ya....”
Hige berlari meninggalkan Ryuto untuk ke kelas lebih dulu. Ryuto melihat Hige dari belakang, bayangan merah yang menyelimuti nya masih terlihat walau jarak nya sudah agak jauh.
“Apa yang terjadi dengan nya.....” Pikir Ryuto.
Selagi dia berpikir, tiba tiba tubuh nya di tabrak seseorang dari belakang, Ryuto menoleh dan melihat Jirou melewati nya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia melirik melihat Ryuto dan kembali menatap ke depan,
“Hoi....teman gemuk mu itu bukan manusia.....” Ujarnya sambil berjalan melewati Ryuto.
“Hah...maksud senpai ?” Tanya Ryuto.
Tapi Jirou tidak menghiraukan nya dan terus berjalan menaiki tangga untuk ke atas. Ryuto tidak mau mengikuti Jirou ke lantai kelas 3 sebab anak kelas 2 tidak boleh berkeliaran di lantai kelas 3 dan dia tidak mau mencari masalah.
“Bukan manusia ? apa maksudnya ?” Tanya Ryuto dalam hati.
Ryuto terus melangkah menuju kelas nya sambil terus berpikir tentang perkataan Jirou yang sepertinya mengikuti Hige sebelum bertemu Ryuto.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments