Malik mendatangi gua Alka, tentu saja di sana sepi. Tak ada siapa pun, Malik mencari tanpa memanggil, karena dia tahu tak ada siapa pun di sana, dia tak merasakan energi Alka di sana, hingga dia yakin tak ada siapa pun.
Malik mengubah tubuhnya menjadi penuh kaca, dalam tubuh ini dia bisa merasakan apapun, energi apapun yang sangat tipis, dia hanya ingin tahu, apakah memang ada yang lain yang mungkin hendak mencelakai kawanan, entah kenapa, dia merasa ada yang tidak beres, bahkan Adi tidak bisa dihubungi.
Malik lalu berjalan ke dalam gue, semakin dalam, hingga sampai pintu belakang, dia membuka pintu dan hutan ghaib terlihat, ya, hutan yang biasa digunakan untuk melatih kawanan dulu.
Malik terus berjalan dia menemukan banyak jin di sana, kepada salah satu yang sedang lalu lalang Malik bertanya.
“Kau kenal Saba Alkamah?”
“Tentu saja, siapa yang tak kenal wanita gila itu, hutan ini daerah kekuasaannya.” Jin dengan wajah lelaki tua dengan tangan seperti capit dan rambut yang tebal seolah saling menggumpal erat satu sama lain, itu menjawab.
“Kemana dia?” Malik bertanya lagi.
“Entahlah, aku mana tahu!” Jin itu berkata dengan keras.
“Aku punya sesuatu untuk siapa pun yang mau memberitahuku informasi.” Malik lalu mengeluarkan sesuatu, ya … darah haid yang sudah diperas dari pembalutnya, memang menjijikan, tapi cara ini sering Malik lakukan sedari dulu, dia selalu membawa persiapan barang-barang berbau busuk yang berasal dari manusia, karena itu caranya membujuk para jin fasik ini.
“Wah, baunya sungguh lezat, aku akan memberitahumu.” Jin itu berubah pikiran.
“Beritahu aku ke mana Alka?”
“Dia pergi bersama seorang lelaki waktu itu, entah siapa. Lelaki itu menjemputnya dan setelah itu Alka tidak pernah kembali lagi.” Jin itu menjawab.
“Bisa sebutkan ciri-cirinya?” Malik bertanya lagi.
“Dia lebih pendek sedikit darimu, pakai kaca mara, rambutnya belah tengah dan wajahnya cukup tampan, bertubuh kurus. Oh ya satu lagi, Alka memanggilnya Dok … Dok … Dok … begitu.”
Malik lalu memberikan darah haid yang berada di plastic itu, lalu keluar dari gua.
Malik berpikir keras, kalau kawanan tidak ada, mungkin dijemput Adi, lalu mana mungkin Alka dijemput Adi, bukankah dia tahu kalau Alka tidak boleh masuk kawanan AKJ, kenapa Adi malah jemput Alka? Kira-kira apa yang membuat Adi menjemput Alka?
Malik terus berpikir, hingga dia akhirnya mengingat, mengingat tentang AKJ bayangan, kalau mereka bahkan bisa menduplikasi AKJ dengan energi tipis milik Ayi dan sekutunya, lalu apakah mungkin bagi mereka menyamar menjadi Adi? Maka jawabannya adalah sangat mungkin, apalagi Alka bukan Kharisma Jagat yang mungkin kemampuannya untuk merasakan energi yang diduplikasi juga tak terlalu tinggi, mengingat Kharisma Jagat bisa saja memiliki beberapa jenis energi, apalagi kalau ternyata Kharisma Jagat itu memiliki ilmu yang sangat tinggi seperti Adi, walau bukan ilmu bela diri, maka mungkin saja energinya terus terbaharui seiring Karuhun yang memiliki ilmu yang juga sangat tinggi.
Malik lalu segera berlari, dia masuk ke dalam mobilnya dan mengebut menuju AKJ, karena dia tahu, apa maksud semua ini.
…
“Nding, coba pikir deh, pikir dengan baik-baik dulu, apa yang paling mungkin membuat kita tidak bisa melihat jalan keluar? Pagar apa yang membuat kita terus berputar?” Aditia bertanya pada Ganding yang sudah mulai pulih.
“Berputar, terus berputar, tak menemukan jalan lain, selain terus berputar, seperti kasus sawah itu kan Dit? Kasus nyebrang.” Ganding yang berpikir dengan keras sambil mereka masih di gua, hari sudah pagi tapi tetap mereka tak akan memulai perjalanan, karena takut kelelahan, ditambah mereka juga tak membawa bekal makan, tak seperti kasus nyebrang, mereka membawa persediaan makanan dan bahkan bensin, tapi di sini mereka benar-benar akan kelaparan jika semakin lama bertahan di sini.
Maka mereka harus menghemat energi dan memikirkan dulu cara yang paling baik untuk berjalan dan menembus hutan ini, supaya tak lagi menjadi sasaran empuk bagi siapapun yang membuat mereka berputar.
“Ya, bisa jadi, lalu?” Aditia dan yang lain mendengarnya dengan hati-hati, dalam waktu seperti ini hanya Ganding yang bisa diandalkan, karena kejeniusannya, bukan hanya soal akademik atau wawasan saja, tapi juga soal ghaib, apakah kalian ingat, bahkan sejak kecil dia mengumpulkan buku tentang hal ghaib dan membacanya terus menerus.
“Kita hanya harus menemukan lubangnya bukan? Ingat dulu kita bisa keluar dari sana karena melihat satu arah bukan? Hingga akhirnya kita tak lagi berputar?”
“Ya, betul sekali, kita menghitung langkahnya, lalu apakah cara itu bisa kita gunakan di sini juga?” Alisha bertanya.
“Kalau di sawah itu, bapak kasih clue, perhatikan sawahnya, lalu kita berjalan dengan hitungan 1 5 3, satu kali putar, kita harus berjalan lima langkah sebelum putar badan, lalu setelah itu, tiga langkah kemudian pasti sawah itu berputar lagi, jangan putar balik, karena dia hanya menipu, sawah itu melakukan putaran 2 kali setelah kita melakukan tiga langkah, artinya posisi kita sudah benar, jadi perhatikan sawahnya.
Pertanyaannya, kalau di sini perhatikan apanya? Hanya ada tanah yang dipijak dan pohon saja. Aku tidak bisa menentukan parameternya.” Ganding bingung.
“Kalau saat di sawah, parametermu hanyalah sawah pada kanan kirinya, sedang di hutan ini tak ada jalan setapak, hingga sekeliling kita adalah pohon dan saat melihat ke arah kanan, kiri, depan dan belakang, hanya ada pohon, tak bisakah kau menjadikan pohonnya parameter?” Alisha bertanya.
“Pohon yang mana? Kanan dan kiri, atau depan dan belakang, atau nyerong kiri dan dan kanan, atau nyerong depan belakang, atau ….” Ganding kesal karena tak ada yang paham maksudnya, maksudnya adalah, kalau sawah jelas kanan dan kiri, jadi Ganding menggunakan perputaran sawah itu sebagai parameter dari langkah mereka yang kembali ke jalan awal, sedang kalau pohon, mereka tak ada di kanan dan kiri saja, atau depan dan belakang saja, tapi mereka ada di sekeliling, jadi pertanyaannya, yang mana yang bisa dijadikan parameter untuk menghitung polanya.
“Nding, kenapa kau tidak menjadikan semua pohon kita itu sebagai kemungkinan?” Aditia tersenyum.
“Maksudmu?”
“Tandai pohonnya, yang sudah kita lewati dengan ….” Aditia menahan perkataannya.
“Menggoresnya? Mengikatnya dengan kain? Atau apa?” Ganding bingung.
“Tumbahkan!” Aditia bersemangat dengan itu.
“Benar juga, kenapa tak terpikir, tapi … kan pohonnya banyak.” Ganding kembali ragu.
“Maka dengan menumbangkannya, kita bisa menemukan, yang mana yang dijadikan induk dari perputaran ini.” Aditia masih bersikukuh dengan caranya.
“Baiklah Dit, kalau ditumbangkan aku pikir terlalu berlebihan, bagaimana kalau ditandai? Dengan hitungan! Itu lebih cepat dan masuk akal, kita tandai, dengan pembagian, semua orang menyebar dan menandai dengan angka, hingga kita kembali lagi ke pohon yang sudah ada tanda nomornya, kita akan tahu, pakai pola apa pohon itu bergerak atau berputar?” Ganding jadi bersemangat lagi.
“Kalau begitu, ini simulasinya jika saja ada 2400 pohon di hutan ini, dibagi 6 orang, 2 Karuhun dan 4 khodam, maka ada 200 pohon masing-masing orang dan jin kita itu. Lalu, 1 pohon mungkin butuh 30 detik untuk menandainya, maka 200 pohon dikali 30 detik, total yang dibutuhkan untuk menandai pohon itu adalah 6000 detik, yang kalau dibagi 60 jadi, 100 menit yaitu, 1 jam 40 menit! Maka hanya dibutuhkan waktu sebanyak itu membaca patternnya.”
“Itu waktu yang tidak terlalu lama, ayo kita lakukan.” Dokter Adi berkata dengan semangat juga.
“Baiklah, ayo kita mulai sekarang.” Hartino juga ikut bersemangat. Mereka akan menandai pohon dengan senjata yang mereka miliki, kecuali Jarni, karena senjatanya adalah tangan sendiri, maka Jarni mencari batu untuk menandai dan semua karuhun serta khodam lepas dari inangnya untuk kerja bakti dalam rangka menandai pohon-pohon itu.
…
“Kau cantik sekali dengan pakaian itu.” Dokter Adi berkata, dia dan Alka sedang di hamparan pasir, dalam penglihatan Alka mereka sedang berada di bawah langit, hamparan pasir yang menguning karena senja datang.
Alka memakai gaun putih yang menutupi seluruh badan, gaun itu bahkan menutupi telapak kakinya, gaun yang sangat bersinar, gaun milik sekte itu, tentu saja, Alka tak tahu dan tak sadar.
“Terima kasih Dok.” Alka hanya tersenyum.
“Kau pucat sekali, apa perlu aku memeriksamu?” Dokter Adi bertanya.
“Tidak, tidak perlu.”
“Aku dengar kau sulit untuk makan.”
“Wah mereka pengaduan ya, Dok.” Alka menyindir.
“Bukan pengaduan, tapi mereka khawatir padamu, bagi mereka kau itu seperti dewi bulan purnama, kau tahu tentang dewi itu?” Dokter Adi bertanya lagi pada Alka.
“Tidak Dok, siapa itu?” Alka penasaran.
“Pada tahun 1273, ada seorang Ratu di Lasem, yaitu negeri yang menjadi bawahan dari Majapahit, namanya Dewi Indu, ketika Lasem diperintah oleh Ratu Dewi Indu, wibawa dan pengaruh Sang Prabu Putri begitu besar. Pemerintahannya begitu adil dan bijaksana, tapi ada satu hal yang lebih mencolok dari kemampuan Dewi Indu selain di pemerintahan kerajaan, yaitu, tentang betapa cantik wajahnya, katanya, wajahnya itu seperti Dewi Srikandi, kecantikan yang teduh seperti bulan purnama. Seperti kau yang mampu menjadi energi hebat saat bersinggungan dengan energi bulan purnama, mereka iri karena kau sangat cantik dan membuat hati semua pria di tempat ini berdebar jika tak sengaja melihatmu saat mengantar makanan.”
“Dok, aku suka bagian sejarahnya, kau mengingatkanku pada kawanan yang selalu percaya kalau kisah mitos adalah jawaban kasus, karena mitos itu bagi kami, adalah kebenaran yang ditutupi untuk menjaga kestabilan hidup manusia. Tapi bagian yang mengatakan aku secantik Dewi Indu, itu sungguh berlebihan.” Alka tertawa karena lucu sekali mendengar Dokter Adi mengatakannya.
“Kau sekarang senang? Jadi, kau akan berusaha untuk tetap hidup dengan baik kan? makan yang banyak ya.” Dokter Adi membujuk.
“Aku hanya tidak terlalu ingin makan.”
“Alka, apa kau merindukan mereka?” Dokter Adi bertanya.
“Tidak, tentu saja tidak.”
“Kau bisa menemui mereka atau melihat mereka, hanya agar kau tenang, mereka ada di luar sana.” Dokter Adi berkata dengan enteng, tentu saja baginya mudah untuk membodohi wanita yang rindunya sudah selangit dengan tuannya, karena lanjo semakin membuatnya menjadi lemah, dia rindu tuannya.
“Tidak usah, itu akan membuatku semakin tidak bisa menerima perpisahan, Dok.”
“Kalau begitu kau harus makan dengan benar, kau harus memiliki tenaga untuk membantu AKJ ini tetap berdiri, bantu kami ya.” Dokter Adi mengatakan yang dia maksudkan sejak tadi, karena kalau Alka lemah, maka rencananya untuk Alka dan bulan purnama akan berantakan.
“Aku akan berusaha, jangan bilang pada Ayi ya Dok, aku akan makan dengan benar. Aku janji.”
“Ya tentu saja, nanti akan ada yang mengantar makan malam, kau harus makan ya.”
“Iya Dok.”
Lalu Dokter Adi pamit dan pergi ke luar dari tempat Alka disekap tanpa ia sadari karena bersedia berdiam di tempat itu.
Setelah keluar dia melihat beberapa orang siap mengantar makanan.
“Pastikan dia makan, makanan ini harus masuk ke dalam tubuhnya, jangan sampai dia tak habiskan, paham!” Dokter Adi yang telah berganti wujud menjadi kakek tua itu berkata dengan kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Ririn Santi
ayo alka betfikirlah, biasanya kamu peka dan sensitif
2024-05-16
0
Arsyilla Maharani
Ayook semuanya bergegas.semoga Alka juga menyadarinya.
2023-09-08
0
Elmi yulia Pratama
ayo alka,, cepat sadari sesuatu agar kau bisa kluar dari AKJ bayangan
2023-09-04
0