Pagi datang, kawanan sudah bersiap dengan angkotnya, DokterAdi menjemput mereka, dengan mobil berbeda tentunya, tapi kawanan takkan pernah pakai mobil lain kecuali liburan.
“Kalian sudah memutuskan?” Dokter Adi menyadari kehadiran wanita yang juga dia kagumi, tidak ada.
“Ya, kakak kami akan tetap mengurus kakaknya, kami akan ikut Aditia untuk melindungi Ayi Mahogra.” Ganding yang terasa paling kecewa karena tak diizinkan untuk membagi kelompok berkata dengan tegas.
“Kita akan pergi ke AKJ sekarang, apakah Ayi juga sudah di sana?” Aditia bertanya.
“Ya, Ayi sudah di sana.”
Mereka masuk ke mobil masing-masing, Dokter Adi pada mobil yang dia bawa dan kawanan tentu saja dengan angkot peninggalan Mulyana.
Mereka mulai menyusuri jalan yang terasa sangat panjang, karena lokasi AKJ memang jauh dari ibu kota.
Butuh waktu sampai 6 jam lebih untuk mencapai hutan AKJ, lalu setelahnya mereka akan sampai di AKJ diantar Dokter Adi dan sudah pasti diizinkan masuk.
Turun dari angkot jemputan, kawanan lalu menyusuri hutan, Dokter Adi memimpin perjalanan, butuh waktu sektiar 15 menit untuk mencapai penjaga pintu utama, lalu mereka berjalan, perlahan hutan semakin gelap, mereka terus berjalan.
5 menit, hutan masih terasa cahayanya, walau remang, lalu 10 menit, mulai gelap, 15 menit semakin gelap, 20 menit gelap makin mengeliligi, 25 menit mereka bahkan tak bisa melihat satu sama lain, 30 menit mereka mulai kehilangan arah.
“Dok, kita kok nggak sampai-sampai ya? Bukankah seharusnya kita sampai dalam waktu kurang dari setengah jam, 10 atau 15 menit bukan?” Aditia bertanya, posisinya Aditia sebenarnya ada di belakang Dokter Adi.
Dokter Adi berhenti berjalan dan berbalik.
“Dit, kita tersesat, aku tidak menemukan pintu AKJ.” Dokter Adi terlihat pucat dan khawatir.
“Apa maksudmu? Bukankah Kharisma Jagat yang diundang dapat mengetahui lokasi hanya dari … gelap Dok, kau benar, aku juga tak merasakan energinya sama sekali.” Aditia baru sadar, kegelapan ini berlebihan untuk sekedar hutan yang dipenuhi oleh pepohonan.
Ada suara-suara, yang terdengar, suara orang tertawa dan berlarian, di hutan ini berlarian? Bahkan untuk berjalan saja mereka sulit karena rapatnya vegetasi di sekitar mereka.
“Baiklah, ada apa ini?” Aditia bertanya dan berbalik, bermaksud untuk berdiskusi dengan Ganding dan juga yang lain, tapi saat dia berbalik, dia terkejut karena kawanan tak ada, di belakangnya ada barisan makhluk hitam pekat dan hanya matanya saja yang terlihat, mereka semua sama, tersenyum menunjukkan barisan gigi putih yang ternoda oleh darah, jumlahnya … tak terhitung.
“Dok, kemana kawanan?” Aditia bertanya.
“Kau bertanya pada orang yang salah, kita selesaikan yang satu ini saja dulu ya.” Dokter Adi lalu bersiap untuk bertarung dengan Aditia, walau sebenarnya dia merasa bukanlah seorang petarung yang hebat, tapi menghadapi barisan setan tersenyum dengan gigi rapih penuh noda darah ini, bukanlah sebuah pilihan yang bisa diabaikan.
Aditia mengeluarkan tombaknya, tentu saja, kerisnya sudah tidak ada lagi.
Aditia mulai melempat tombak yang mengincar satu persatu entah makhluk apa itu, bahkan saat mereka semua bertarung, bibir masih tersenyum dengan lebar seolah mengejek. Padahal mereka juga hampir musnah karena serangan Aditia.
Aditia membantai satu persatu makhluk yang aneh itu, tubuh mereka tertutup lumpur dan setiap kali Aditia mengenaik tubuh mereka dengan tangannya yang bermaksud memukul, menonjok atau membunuh mereka, tubuh mereka terasa basah, sudah dapat dipastikan bahwa mereka bukan manusia, tapi … mereka juga bukan sepenuhnya ruh, lalu apa mereka? Kenapa mereka ada di sini dan menyerang Aditia, sementara kemana kawanan?
Aditia dan Dokter Adi tak henti menghajar seluruh barisan makhluk itu yang terasa tak habis, sementara kawanan masih terus mengikuti orang yang ada di depannya, karena sangat gelap, mereka tak sadar, bahwa bukan Aditialah yang ada di depan dan menunjukkan jalan, tapi entah sosok apa yang energinya tak terasa berbeda, tapi biasanya, kalau kau masuk ke suatu tempat dengan medan energi yang tinggi, energi sesamamu akan semakin kabur bukan? Contohnya, jika ada parfum yang sangat kau sukai, kau pakai sehari-hari secara wajar, lalu tak sengaja orang yang kau temui setiap hari memakai parfum lain yang lebih menyengat, maka wangi parfummu menjadi samar terasanya bukan? Terganti oleh parfum menyengat yang berasal dari orang lain, karena parfum itu mendominasi penciumanmu, sehingga wangi parfummu yang kau pakai dengan wajar menjadi tertutupi oleh parfum itu.
Tak bedanya dengan energi, ketika kau ke AKJ, maka energi yang kau rasakan antar sesamamu, dalam hal ini adalah kawanan, akan semakin samar terasa, tertutup oleh energi tinggi milik AKJ, maka energi Aditia yang mulai samar dan hampir tak terasa, tak membuat kawanan curiga dan masih terus mengikuti sosok yang ada di depannya, padahal … jelas dia bukan Aditia.
“Dit, ini kok nggak sampai-sampai ya, perasaan terakhir ke sini gampang banget sampenya, cepet tapi kenapa ini sekarang terasa jauh?”
Sosok itu berbalik dari depan Ganding dan bertanya, “Dit, ini kok nggak sampai-sampai ya, perasaan terakhir ke sini gampang banget sampenya, cepet tapi kenapa ini sekarang terasa jauh?”
Ganding terdiam, langkahnya terhenti, sedang kawanan yang ada di belakangnya juga terdiam dan bertanya-tanya ada apa.
“Siapa kau!” Ganding bertanya.
“Siapa kau!” Sosok itu bertanya lagi.
“Brengsek!” Ganding lalu mulai menyerangnya dan … sosok itu juga menyerangnya dengan gerakan yang sama.
“Nding berhenti!” Jarni menarik Ganding yang kelelahan menghadapi satu makhluk saja.
“Kenapa?” Ganding bingung.
“Lihat, dia juga berhenti, kau mundurlah.” Jarni menarik Ganding, makhluk itu juga mundur.
“Dia peniru, hati-hati, mungkin dia tak sendirian.” Jarni berkata lagi.
“Dia peniru, hati-hati mungkin dia tak sendirian.” Suara-suara mirip Jarni dengan kata-kata yang diulang, merupakan kata yang Jarni katakan barusan, terdengar bersautan.
“Diam semua.” Alisha berkata sembari mengajak kawanan mundur.
“Diam semua.” Suara yang sama, mirip Alisha terdengar.
“Bedebah!” Hartino kesal karena suara istrinya yang dititu.
“Bedebah!”
“Bedebah!”
“Bedebah!”
“Bedebah!”
“Bedebah!”
“Bedebah!”
Saut-sautan suara itu mengikuti Hartino, hutan yang semula gelap dan sepi, menjadi ramai suara yang saling bersautan membuat gendang telinga menjadi pekak.
“Diam semua.” Suara Alisha
“Dia peniru.” Suara Jarni kali ini ikut bersautan.
Alisha menepuk bahu kawanan dan menaruh jari telunjuknya pada bibir agar kawanan diam, bukannya membuat suasana kondusif, tiba-tiba muncul sosok-sosok Alisha di belakang Alisha dengan gerakan yang sama, yaitu meminta kawanan menutup mulutnya, sosok itu menaruh jari telunjuk pada bibirnya, bedanya, senyum Alisha-Alisha palsu itu lebih lebar dan menyeringai.
Tapi setelah itu wajah-wajah yang mirip Alisha menghilang dikegelapan, Alisha terdiam, yang lain juga, mereka mencoba untuk tidak melakukan apapun dulu, mencoba untuk menilai keadaan ini, karena kalau mereka gegabah, maka mereka akan kelelahan dan akhirnya kalah, mereka harus melawan diri mereka sendiri, bukankah itu sama saja bertarung dengan angin, karena ketika menang, pihak peniru pun akan menang juga.
Hartini mundur, lalu sedetik kemudian, di belakang Hartino muncul banyak sosok-sosok Hartino lain yang muncul tiba-tiba dan mengikuti gerakan Hartino yang mundur lalu lagi-lagi hilang di kegelapan malam, yang berbeda dari sosok itu dengan Hartino asli adalah, pasti kalian sudah bisa tebak, senyumnya menyerigai. Mereka jelas meledek.
“Kita harus ….”
“Kita harus!”
“Kita harus!”
“Kita harus!” Suara-suara itu menimpali, padahal Ganding belum juga selesai berbicara, mereka sungguh bingung harus apa, ini lawan yang mudah, tapi sungguh sangat licin, bingung harus apa, kawanan saling tatap dan mulai berlari, mereka berlari dengan saling berpegangan tangan agar tidak terpisah, bayangkan jika mereka terpisah, maka mungkin peniru akan masuk menjadi kawanan yang bsia saja mencelakai satu sama lain.
Mereka terus berpegangan dan berlari, saat berlari dengan langkah yang sulit karena vegetasi yang rapat, mereka mendengar banyak langkah yang mengikuti mereka dari belakang, samping kanan dan samping kiri, sungguh ramai sekali dengan deru nafas yang seirama, tentu saja para peniru memang sengaja melakukannya.
Baru kali ini kawanan memilih lari, tapi ini langkah yang mereka ambil berdasarkan pengalaman, kalau mereka lawan, hanya akan buat lelah saja, mereka memang bermaksud membuat kekalahan kawanan pada titik lelah, dengan menghadirkan para peniru, tapi pertanyaannya, kenapa mereka ada di sini dan siapa mereka, makhluk peniru ini memang ada legendanya, tapi bukankah mereka sebenarnya tinggal di suatu pulau yang tak memiliki nama di negeri ini, pulau itu bahkan tidak terlihat dan mereka hanya datang jika ada musuh yang hendak dilawan, tapi kawanan bukan musuh, lalu kenapa mereka menyerang kawanan dna mengejek seperti ini, kawanan benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka.
Aditia masih terus berkutat dengan makhluk penuh lumpur hitam itu, yang memiliki seringai yang sama dengan para peniru, Dokter Adi kewalahan karena dia memang bukan petarung handal, dia adalah penyembuh handal.
Aditia melihat Dokter Adi mulai terluka di beberapa bagian tubuhnya, Aditia mendekatinya, masih terus menghalau serangan dengan memanggil kembali tombaknya agar tombak itu bisa menjadi pelindung, ketika sudah dekat dengan Dokter Adi, Aditia lalu menarik tubuh itu dan memapahnya, Dokter Adi seketika lunglai, dia memang sudah tak kuat, musuh itu semakin dihancurkan, semakin banyak.
“Kau baik-baik saja?” Aditia menarik Dokter itu, dia terpaksa berlari agar Dokter Adi bisa diselamatkan dulu, dia tak bisa menghalau semua musuh sendirian dan membiarkan Dokter Adi terluka lalu mungkin akan tumbang, ada apa ini, kenapa hutan ini menjadi begitu menakutkan, bukankah hutan ini batas antara dua dunia yang Ayi sengaja persiapkan untuk menjadi pelindung AKJ, kenapa hutan ini malah menjadi sarang para musuh yang hendak … menghalangi siapapun masuk ke AKJ.
Ayi benar-benar dalam masalah besar! Aditia terus berlari, dia memapah Dokter Adi yang semakin lemah, Aditia melihat Dokter Adi terus memegang perutnya.
“Perutmu kenapa?” Aditia bertanya.
“Mereka menusukku dengan keris.” Dokter Adi mengatakannya dengan lemah.
“Brengsek.” Aditia berhenti berlari dan hendak menyerang balik mereka yang sedang mengejar tapi dalam jumlah yang banyak.
“Jangan, kau takkan sanggup, mereka memang menang jumlah, kita harus lari dan menemukan AKJ secepatnya, Ayi juga pasti sudah diserang, kita harus sampai pada AKJ.” Dokter Adi memohon, Aditia lalu setuju dan melanjutkan pelariannya dengan memapah Dokter Adi, Abah Wangsa terus memberti Aditia energi agar dia bisa memapah Dokter Adi dengan mudah. Sementara Karuhun Dokter Adi yang seorang Dokter juga, memapahnya dari sisi yang lain, sehingga Dokter Adi dipapah pada kedua bahunya, ini membuat pelarian mereka menjadi lebih mudah.
Dua kelompok kawanan dan Dokter Adi menjadi tak berdaya, apakah memang ini akhir kejayaan mereka?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Gusti Randi
Hampir sama dengan kejadian di bali ya.. tapi lupa yg dibali lepas atau ketangkap ya .. #mikir keras.
2023-09-18
0
Gusti Randi
disini sempat mikir dokter adi bertarung melawan aditia. karena bahasa nya "dengan" bukan "bersama". deg2an kirain dokter adi penghianat nya. sampe ngulang2 baca keatas lagi..
2023-09-18
2
MasWan
jelas tidak, gk seru klo ini akhir
2023-09-12
0