“Ketemu!” Seira melihat pintunya ada satu lantai di bawahnya, dia berlari melalui tangga darurat untuk mencapai lantai itu, begitu masuk zona entah buatan siapa, dia merasakan energi gelangnya perlahan menghilang, Ayi yang dalam keadaan perut besar menangis, berlari karena takut Pram akan celaka, jika gelang itu akhirnya hilang energi, pasti terputus dan siapapun yang melakukannya, pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi, Ayi sebagai seorang ibu, menyesal karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik, dia terus berlari dan mengeluarkan kujangnya, dia tak peduli lagi, apapun yang membuat anaknya celaka, akan dia habisi, termasuk nenek tadi!
Berani sekali mereka menyentuh anak dari Ratunya Kharisma Jagat.
Seira berlari dengan sangat kencang, walau perutnya terasa berat dan sakit kram karena terlalu banyak bergerak, apalagi energinya sudah habis karena tadi dia membiarkan nenek itu memukulinya sementara tangannya terus menangkis jika nenek itu bermaksud menyerang perutnya.
Tempat ini jika dilihat secara kasat mata, pastilah terlihat seperti apartemen di mana Seira dan Malik tinggal, tapi bukan, ini adalah zona ghaib ciptaan makhluk, zona itu memang hanya berada di satu tempat ini, membuat manusia yang terperangkap, bisa jadi merasa berada di apartemen tempat tinggalnya, tapi kalau dia coba untuk memperhatikan lagi, semua unit terasa sunyi, tak ada satu pun orang yang lalu lalang, biarpun apartemen ini memang tidak ramai, tapi terlalu sunyi rasanya aneh, bukan? Tapi tak heran kalau Pram akhirnya terjebak di zona ghaib ini, dia tak sadar, mungkin begitu dia keluar dari lift, lalu berlari, kakinya menginjak zona ghaib secara tak sengaja dan masuk ke dalam perangkap.
Ayi berlari ke arah unit yang terlihat seperti unit apartemennya, Pram kecil pasti di sana, tapi saat dia sudah sampai di unit itu, betapa terkejutnya dia karena ....
“Ibu!” Pram berlari dan memeluk ibunya, Ayi lemas dan jatuh terduduk, sesosok lelaki tua buru-buru melayang dan memegangi tubuh Ayi agar tak jatuh ke lantai, karena itu akan berbahaya untuk kehamilannya.
“Wangsa, untung kau, untung kau Wangsa.” Ayi menangis sejadinya, karena tidak menyangka, bahwa sejak 5 tahun terakhir dia membangun zona netral ini, apartemen ini adalah tempat paling aman dari semua tempat yang ada di muka bumi.
Ayi membangun zona netral ini untuk menolong siapa saja yang terkena masalah ghaib, seperti dikejar-kejar jin pesugihan, dulu Alya bahkan dibawa ke sini oleh Aditia untuk diselamatkan dari Begu Ganjang, jin yang menagih tumbal atas pesugihan yang ayahnya lakukan.
Lalu banyak lagi jin yang tidak lagi ingin bertuankan dukun ilmu hitam, mereka harus babak belur untuk sampai zona ghaib ini, tak ada yang berani masuk, tak ada yang berani menyerang, apalagi membuat zona ghaib, itu pasti akan langsung ketahuan oleh Ayi.
Selama 5 tahun terakhir, tak ada satupun yang berhasil menembus benteng tebal yang Ayi ciptakan dengan banyak jin, baik khodam, karuhun maupun qorin, semua jenis jin membangun zona netral ini sebagai zona yang paling aman bagi siapapun, makanya tadi Ayi percaya melepas Pram sendirian di apartemen ini untuk meminta bantuan Malik, karena yakin bahwa, nenek itu hanya arwah pendendam yang butuh pelampiasan untuk bisa dijemput oleh kawanan kembali kepada Tuhan, tapi Ayi sepertinya salah, karena arwah itu menyerangnya secara membabi buta.
“Aditia merasa gusar dengan bulan purnamanya, dia melihat bulan itu terasa aneh, karena berwarna merah kehitaman, dia memintaku melihat keluarganya, takut kalau mereka akan dicelakai, tapi keluarganya baik-baik saja, walau pagar ciptaan Mulyana yang disempurnakan Aditia terdapat percobaan pembobolan, tapi mereka baik-baik saja.
Lalu aku bermaksud kembali ke markas ghaib, tapi urung begitu melihat bulan purnama semakin menghitam, aku berlari ke sini karena perasaanku mengatakan ada yang salah jadi aku bermaksud untuk bertukar pikiran dengan Panglima dan Raden, tapi saat sampai sini, aku tidak menemukan Panglima maupun Raden, juga tak menemukanmu, lalu aku mencoba menghubungi mereka secara batin ghaib, tapi aneh, kenapa apartemen ini tak mampu mengirim sinyal ghaib pada siapapun karuhun di luar sana, maka dari itu aku tahu, kalau tempat ini telah diblok oleh sesuatu, aku bergegas mencarimu, menembus begitu banyaknya zona ghaib entah ciptaan siapa dan menemukan Pram yang hampir saja ditangkap oleh genderuwo ini, aku menaruhnya di botol, apakah Ayi ingin memenjarakannya di markas kita?”
Mereka sudah kembali ke unit Ayi yang sebenarnya, zona itu sudah dihancurkan Ayi tadi saat dia hampir jatuh dan ditangkap Abah Wangsa, dia langsung menghancurkannya dengan mantra penghancur sambil masih ditopang Abah, bahkan kondisi lemahnya dia masih sangat hebat.
Malik melihat istrinya terbaring di sofa dengan abah Wangsa di sampingnya sedikit lega, Pram tertidur karena lelah dan ketakutan, dia tidur di sofa juga.
“Wangsa, terima kasih karena sudah melindungi anakku. Kau benar, Aditia menyadari bulan purnamanya, dia sudah sangat pesat perkembangan ilmunya, karena hari ini adalah bulan purnama keenam.”
“Tentu saja, kalian adalah keluarga, aku pasti melindungi, Aditia yang mengutusku untuk melihat keadaan sekitar dan akhirnya aku menemukan kenyataan bahwa apartemen ini sudah jebol.”
“Kau tak apa-apa sayang?” Malik bertanya pada istrinya yang masih berbaring.
“Tak apa-apa, hanya lemas karena takut Pram celaka, aku takkan bisa menahan emosi kalau Pram kenapa-kenapa.”
“Maafkan aku, karena aku tak mendapat sinyal apapun dari Pram, aku naik ke unit nenek itu karena merasa kalian terlalu lama dan mulai khawatir. Aku juga tak mendengar sinyal permintaan tolong Pram.”
“Bagaimana nenek itu?” Ayi bertanya.
“Dia sudah kutaruh di botol, Wangsa kau bisa menaruhnya di markas, aku akan menginterogasinya begitu Ayi baik-baik saja.”
“Baiklah Malik, aku akan kembali pada Aditia sekarang.”
“Wangsa ... jangan beritahu adikku tentang keadaanku ya, karena ... belum saatnya mereka bergabung denganku, masih banyak tugas Mulyana yang belum mereka selesaikan. Sembunyikan saja dulu, aku akan memanggil mereka begitu semuanya siap.”
“Iya Ayi, sesuai perintah Ayi.” Lalu Abah Wangsa menghilang.
Malik memeluk Seira lalu membersihkan luka di wajahnya yang babak belur, karena nenek itu tak bisa memukul perutnya, wajah Seira menjadi sasaran empuk.
“Apakah sakit?” Malik bertanya.
“Adakah dari kasus yang kita selesaikan yang tidak sakit, suamiku?” Seira bertanya.
“Maaf, seharusnya aku melindungimu dan Pram.”
“Tidak, seharusnya aku tahu pembobolan ini sebelum mereka berhasil masuk.” Ayi tidak ingin Malik berkecil hati.
“Untuk sesaat, aku takut, takut kalau aku akan gagal lagi melindungi kalian.”
“Kau tidak pernah gagal Malik, karena kita saling melindungi, kematian Pram bukan salahmu.”
“Oh ya, aku sudah minta Aam untuk menyelidiki nenek itu, aku merasa terlalu janggal jika dia hanya pemilik unit apartemen biasa, kita tunggu Aam kirim hasil profillingnya ya.”
“Ok.” Seira mengusap wajah kekasih yang dulu sekali membuatnya jatuh cinta dan menempel terus itu, tak terasa, sekarang dia menjadi suaminya.
“Hei! bagaimana keponakanku, bagaimana dia, sini kuperiksa!” Dokter Adi masuk tanpa mengetuk pintu, bahkan Karuhunnya juga langsung melihat sekujur tubuh Ayi tanpa diminta.
“Kau mengagetkan saja!” Malik berteriak karena mereka tiba-tiba datang entah dari mana.
“Baru saja aku mendengar gelang Pram meminta bantuan, makanya aku berlari langsung ke sini.”
“Sudah terlambat, kau mendengarnya pasti sesaat setelah zona ghaib itu aku hancurkan.”
“Zona ghaib? Buatan?” Dokter Adi langsung paham.
“Ya, entah siapa yang buat. Tapi ... berhasil menjebol pertahanan zona netral kita, Di.” Malik berbicara dengan khawatir.
“Keponakanku baik-baik saja, detak jantungnya normal, hanya wajahmu babak belur, kau mau aku teteskan teh Tirta Amerta agar wajahmu cepat pulih?”
“Di, ini hanya babak belur tak mengancam jiwa, jangan berlebihan lah, teh itu terlalu berhaga untuk luka seringan ini.”
“Ini tidak ringan!” Malik dan Adi berteriak, karena paham, bagi wanita, wajah itu hal penting. Tapi kan Ai tak butuh pengakuan dari siapapun kalau dia cantik dan hebat, dia sudah cantik dan hebat dari sananya.
“Baiklah, santai saja, awas kalau ada yang sampai bilang pada kakak angkatku tentang kejadian malam ini, kalian benar-benar akan kumusuhi, aku tak mau dia bawa pasukan ke sini, itu terlalu bising. Aku butuh ketenangan.”
Ayi memastikan kalau saat ini, harus tenang dulu, jangan sampai memancing keributan, karena Ayi tak sedang dalam kondisi yang terbaik, dia tak bisa menghalau peperangan lagi.
“Aam sudah mengirim dokumen tentang identitas nenek itu Ayi.” Malik memperlihatkan dokumen idnetitas yang Aam kirimkan dengan format foto.
“Dia ... janda dari salah satu Tetua yang menjadi gila setelah peperangan itu!” Ayi berteriak, ternyata masih luka lama.
“Sudah selama ini dia tinggal di sana dan kita tak sadar.” Malik juga kecewa dengan dirinya yang tak menyadari sudah ada penyusup sejak lama.
“Tapi bukankah kita sudah memastikan bahwa tak ada satupun kerabat Tetua tinggal di apartemen ini, tapi bagaimana mungkin istri dari salah satu tetua yang menjadi gila itu bisa lolos tinggal di sini?” Ayi heran.
“Dia pasti pakai identitas samaran untuk tinggal di sini, orang-orang itu pasti menyelundupkannya untuk menjadi ....”
“Pembuat lubang pada apartemen ini, perlahan tapi pasti selama beberapa tahun ini dia membuat lubang untuk para sekutunya masuk, hingga kematiannya tiba dan balas dendam mereka tercapai, sayang mereka tak berhasil.” Ayi geram, karena ini masih saja soal antek Mudha Praya.
“Ayi, kita harus menyusuri apartemen ini lagi, memastikan bahwa kerabat tetua hanya nenek itu saja.” Malik berkata dengan sungguh-sungguh.
“Sulit kalau mereka sengaja menyamar,” Ayi menjawab.
“Atau kita kosongkan saja apartemen ini, apakah aku perlu membeli gedung apartemen ini untuk memastikan zona netral tak pernah dijebol lagi?” Malik memberi solusi.
“Jangan ngaco, nanti banyak orang curiga, kenapa apartemen ini hanya kita yang huni, aku tak mau menimbulkan kecurigaan, kita harus tetap bergerak di dalam tanah, tak boleh ada yang sadar dengan kehadiran kita, makanya aku membiarkan beberapa lantai tetap diisi penghuni lain yang seorang manusia biasa.
Sementara aku juga membersihkan tempat ini dari serangan ghaib, kau tahu kan, bahwa warga di apartemen ini sangatlah betah di sini, hanya oranga jahat yang bisa melihat setan di sini.”
“Lalu kita mesti apa Ayi?” Malik bingung.
“Kita yang pindah.”
“Apa!” Malik dan Dokter Adi berteriak.
“Aku akan pindah ke AKJ, kita akan tinggal di sana, itu adalah tempat teraman, karena tak ada yang bisa masuk tanpa seizinku.”
“Kau benar, tapi ... aku belum siap untuk memindahkan Pram ke tempat itu, Pram belum siap mengemban pendidikan, aku ....”
“Kau yang belum siap melepas anakmu Malik, kau terlalu overprotective padanya, dia bahkan belum belajar ilmu bela diri dan bergantung pada gelang saja, kau tahu kalau itu bahaya, maka ini perintah, kita harus pindah.”
Ayi bersikukuh mereka akan pindah, Malik tidak bisa menolak, walau dia lebih suka tinggal di apartemennya, karena dia suka moment keluarga kecilnya yang terlihat normal ini, tapi tak dapat dipungkiri bahwa, Ayi benar, tempat ini sudah tak aman lagi. Malik akhirnya setuju.
Maka mereka pindah ke AKJ atau kita bisa menyebutnya, Jawatankuasa Kharisma Jagat.
Sementara setelah Abah Wangsa pulang ke markas ghaib, ternyata Aditia dan kawanan sedang membicarakan kasus baru, yaitu sebuah kasus yang persawahan yang sering menyesatkan orang, mereka akan bersiap ke kampung pamannya Aditia, paman Aep, Abah Wangsa terkejut karena, bukankah kasus itu sudah diselesaikan Mulyana? Kenapa kasus itu tertulis dibuku Mulyana, aneh!”
Wangsa terus mengawasi kawanan dengan banyak rahasia yang dia sembunyikan.
Bukankah kalian sudah tahu kisah tentang sawah itu?
____________________________
Catatan Penulis,
Kalau kalian ada yang bertanya kenapa Ayi tinggal di apartemen bukannya di AKJ? Bukankah part 1 Ayi sudah di AKJ? maka ini adalah waktu di mana dia belum memutuskan tinggal di AKJ, ya ... kita sedang main di alur maju mundur lagi ya, ada yang sadar? Aku nggak mau jelasin ah, coba cari tahu sendiri ya, jangan lupa komentar.
Cluenya, urutan bulan purnama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Imran Kalimanjaro
ish... author ni, selaku main teka teki, kita pembaca lurus² aja, nikmati ceritanya...
2025-01-01
0
Nu54 R4r4
akhirnya penasaran ku terjwab sudah ,knpa keluarga ayi masih tinggal d apartemen
2024-02-16
0
Darnisah Isda
sudah kuduga... aku curiga kenapa disini Ayi belum di AKJ... sementara sewaktu kawanan ke AKJ.. Malik juga sedang pergi dan Ayi sdh tinggal di AKJ krn kondisi yg lemah krn kehamilannya
2023-12-13
0