“Hei, Dit.” Seorang wanita yang suaranya sangat dikenali Aditia memanggil namanya.
Aditia terbangun, dia tak begitu ingat apa yang terjadi sebelum dia terbangun.
“Ka.” Aditia memanggil wanita itu.
“Bangun dulu ya, kita makan malam, anakmu sudah kelaparan tuh, kamunya kecapean nggak bangun-bangun.”
Aditia terdiam, apa ini? Kenapa dia tak ingat hal-hal sebelum bangun, termasuk … anaknya.
Tapi Aditia mengikuti wanita yang terlihat lebih dewasa, tidak sesuai dengan ingatannya, Alka berwajah lebih muda, itu yang dia ingat, walau kecantikannya tidak memudar sama sekali, tapi wajah anggun itu berbeda dari wajah yang dia ingat sebelum akhirnya terbangung.
“Dipta, turunkan kakimu, ibu tidak suka kau menaikkan kaki seperti itu.” Alka menegur anak lelaki yang mungkin berumur sekitar 5 tahun.
“Cuma naikin aja, udah marah. Ibu marah-marah mulu.” Dipta mengeluh.
Aditia memandang anak itu, seorang anak lelaki yang wajahnya teramat mirip Alka, tapi katanya anak ini adalah anaknya, kalau begitu mirip dengan Alka, berarti ibunya Alka dan tadi dia juga memanggil Alka dengan sebutan Ibu, berarti ….
“Dia anak kita?” Aditia bertanya.
“Dit. Apa sih?”
“Iya Dit, kenapa sih?” Dipta mengulang perkataan ibunya.
“Hei! tunjukkan hormatmu pada Kharisma Jagat, dia juga ayahmu, jangan panggil nama!” Alka naik pitam dengar anaknya memanggil Aditia dengan sebutan nama saja.
“Ibu duluan, tadi kenapa panggil nama?” Dipta tak mau kalah, sungguh sifat Aditia yang ngeyel dan teguh pendirian walau salah.
“Ya, maaf. Maksud ibu, ayah nih kenapa sih? Kok kayak bingung gitu?” Alka mendudukkan Aditia di bangku utama meja makan itu.
“Ayah, nanti malam kita ke tempat itu lagi, naik angkot?” Dipta bertanya.
“Kemana?” Aditia bingung, sementara Alka menyendok nasi dan lauk, ayam goreng dan sambal, makanan kesukaan dua jagoannya.
“Kan ayah lupa! Katanya mau kasih lihat aku Gandaruwa!”
“Hah?” Aditia bingung dengan perkataan anaknya.
“Yah! Kan lupa beneran, ayah nyebelin tahu. Kan ayah udah janji, mau temenin aku lengkapi foto makhluk legenda negeri ini, kata ayah di hutan desa sebelah ada Gandaruwa temen abah, makanya kita bisa foto dia untuk koleksiku.”
“Kok … kok … kenapa kau mau foto itu?”
“Untuk koleksi ayah, kita kan sudah sepakat, kalau aku mau belajar beladiri, aku boleh koleksi foto setan-setan itu.”
“Untuk apa?” Aditia bingung kenapa anaknya begitu tertarik dengan foto itu, kenapa anaknya tampan sekali, mirip Alka tapi versi lelakinya.
“Untuk koleksi saja, takkan kuperlihatkan pada temanku, karena beberapa ada yang langsung kesurupan pas lihat, jadinya hanya untukku saja, kalau lagi bosan aku suka lihat foto mereka.”
“Ka, aku nggak paham, kenapa anak kita suka dengan hal seperti itu?” Aditia bingung.
“Ya kau tahu lah, dia, Hanis dan Niels kan memang suka saling bertukar foto jin-jin itu untuk koleksi.”
“Hanis? Niels? Siapa?”
“Ayah! Sumpah aku kesel ya, Hanis anaknya Hartino dan Alisha, lalu Niels anaknya Ganding dan Jarni, kamu kalau masih mau bercanda nanti nggak aku kasih makan lagi ya!” Alka kesal dan urung memberikan piring berisi nasi dan lauk pada suaminya.
“Alisha dan Hartino punya anak? Bukankah ….”
“Kau mau bahas ini di depan Dipta? Masa mesti kita ulang-ulang terus sih, Yah.” Alka kesal lagi, tapi piring makan Aditia sudah diberikan.
Aditia mengambil nasi itu dan memakannya, ini bukan mimpi, rasa nasi dan ayam gorennya sungguh enak, ini bukan mimpi.
Aditia tersenyum dan berkata dengan sumringah, jadi kita menikah dan punya anak, jadi semua orang bahagia, jadi … Aditia melahap makanannya, tapi di saat menyenangkan itu dia tiba-tiba ditarik ke dalam zona gelap entah oleh siapa, semua terlihat gelap, dia melihat sekeliling lalu terdengar suara dan wujud tubuh yang tentu saja ruh.
“Bah!”
“Belum waktunya kau di sana, bangun!” Abah berteriak dan teriakan itu membuat Aditia terbangun, tidak seperti terbangunnya tadi yang disambut Alka, tapi tidurnya terbangun dalam gelap, tubuhnya tertimpa sebuah bongkahan batu yang cukup besar.
Abah terlihat duduk bersila di sampingnya.
“Bah ….”
“Kau sudah bangun? Susah sekali menemukan sukmamu yang pergi berlarian ke sana ke mari!” Abah terlihat kesal dan kelelahan.
Aditia mendorong bongkahan batu besar itu dengan sekuat tenaga dan berhasil, abah lalu masuk ke dalam tubuh Aditia agar saling mentransfer energi.
Aditia bangun dan melihat betapa gelapnya hutan yang telah longsor itu.
Dia lalu berteriak memanggil semua orang, tak ada jawaban, dia berjalan terus hingga tersandung sesuatu, memastikan kecurigaannya dia menyentuh benda yang membuatnya tersandung lalu terjatuh itu, ternyata benar saja.
“Sakit, Dit, jangan kau pencet-pencet dengkulku!” Ganding berkata sementara dia masih terbaring lemah.
“Ternyata benar kau, kenapa tak berdiri dan masih tiduran?”
“Kau pikir kalau aku bisa bangun aku akan tiduran begini?” Ganding kesal.
“Kenapa tak teriak minta tolong?” Aditia bertanya lagi.
“Sudah! Saat aku kelelahan dan akhirnya diam, kau datang dan tersandung kakiku, belum sempat aku menyapamu kau sudah menusuk-nusuk dengkulku. Jadi aku tahu, kau sudah menyadari kehadiranku.”
“Yasudah ayo bangun.”
“Tidak bisa, gendong gimana?”
“Nding!” Aditia terlihat kesal.
“Aku tidak bisa bangun!” Ganding benar-benar terluka karen tadi diseret akar keras yang terasa mematahkan tulang kakinya dan dijatuhkan ke longsoran tanah begitu saja. Makanya dia kesulitan untuk bangun.
Aditia lalu menarik tubuh Ganding dan menggendongnya di punggung.
“Kau kenapa menamai anakmu Niels?” Aditia tiba-tiba bertanya.
“Hah?” Ganding bingung.
“Aku bermimpi tentang masa depan, mungkin sukmaku sempat ke sana, tapi aku juga tak begitu yakin, karena yang mampu ke masa depan dan masa lalu hanya Ayi, tapi aku terbangun karena bah menarik sukmaku kembali ke asal waktuku.”
“Anakku namanya Niels? Masa?” Ganding yang berada di gendongan punggung Aditia bingung, di titik ini mereka sangat romantis … tapi Aditia terlihat bergidik dengan adegan gendong-dendongan ini.
“Iya, anakmu namanya Niels, sok kebarat-baratan kau!” Aditia meledeknya.
“Oh … kalau itu benar, berarti aku menamai anakku dengan nama tokoh ahli fisika Niels Bohr dia itu seorang peneliti atom. Ganding tersenyum mengatakan itu.
“Istriku jadinya Jarni, kan?” Ganding memastikan.
“Bukan, Nding, maaf ya, kayaknya istrimu wanita lain, aku tak mengenalnya.” Aditia terlihat sedih.
“Kau mau kuhajar! Bagaimana mungkin aku memiliki istri selain Jarni.”
“Ya kan aku lihatnya bukan.”
“Dit, kau membuatku ingin membunuhmu tahu. Kau tahu kan, orang terluka itu pikirannya pendek.” Ganding kesal dan bergerak terus, akhirnya dia jatuh.
“Kau rewel sekali.” Aditia mengeluh.
“Kau yang menyebalkan, kalau kakiku baik-baik saja, sudah pasti kau habis!” Ganding kesal Aditia masih terus saja mengejeknya.
Dari kejauhan ada suara orang berlarian, Aditia bersiap, dia berdiri di hadapan Ganding yang masih terduduk karena jatuh tadi, bersiap jika saja ada yang menyerang mereka lagi.
Saat suara makin mendekat, mereka yang datang berteriak memanggil, “Aditia!” Jarni memeluk Aditia dan setelahnya memeluk kekasih yang sangat dia takutkan celaka.
Alisha lalu memeluk Aditia dan terakhir Hartino, Dokter Adi hanya menepuk pundaknya, dia sudah terlihat lebih baik, bisa jalan sendiri.
“Keadaanmu sudah membaik?” Aditia bertanya pada Dokter Adi.
“Ya, aku sudah memulihkan tenaga saja, walau seluruh tubuhku masih terluka, tapi aku bisa bertahan dan lebih baik sekarang. Bagaimana kau dan Ganding?”
“Baik, hanya kakinya Ganding sepertinya patah akibat tarikan akar tadi, bisakah kau membantunya?” Aditia bertanya.
“Aku harus lihat keadaannya dulu.” Dokter Adi menghampiri Ganding dan melihat kakinya, memastikan seberapa parah kakinya itu.
“Patah, Dit. Sulit, aku tak bisa bantu karena tak ada obat dan peralatan untuk membuatnya pulih, kita harus memapahnya.”
“Baiklah, kita akan memapahnya, lalu cari jalan keluar.”
“Tidak, kita harus istirahat dulu Dit, Ganding butuh istirahat, kita semua butuh, sore tadi hujan kami hanya istirahat sebentar, sekarang kita semua butuh istirahat dulu.” Jarni menolak untuk mulai berjalan lagi, akhirnya semua setuju dan kembali ke gua yang ditemukan oleh Jarni dan Alisha, mereka bermalam di sana, memiliki Karuhun dan khodam ilmu tinggi, di tempat seperti ini tak menjamin kenyamanan, mereka adalah anak-anak orang kaya yang biasa hidup mewah, tapi sayang sekali, mereka harus banyak menderita karena semua keberkahan yang mereka miliki.
Ini jalan hidup yang mereka pilih, slogan mati dan hidup bersama dipegang erat, seperti yang Alisha katakan, kalau kita masih hidup, artinya, kawanan juga masih hidup karena mereka terikat janji yang diikatkan dalam hati.
Aku tahu beberapa di antara kalian melihat kisah ini berbeda dari sebelumnya, di mana kisah mereka sangatlah penuh petualangan dan kebersamaan, kenapa aku cerai beraikan di sini, alasannya hanya agar kisah ini menjadi semakin luas dan kita bisa sama-sama belajar mengambil hikmah dari setiap masalah, saat ini masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi perpisahan dan bisa teguh saling yakin akan satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Hana Nisa Nisa
top
2024-04-30
0
Yosephine Simarmata
Karena sangkin banyaknya drtd hal-hal tentang perubahan wujud dan meniru kawanan dan dokter adi. Jd di moment ini sempet curiga. Bener kawanan gak ini...
2024-04-07
0
disda
tapi akunya jadi stres juga...
2024-01-02
0