"Wanita iblis!" Nenek itu berteriak, Seira melihat ke arah Pram.
"Ruh pendendam." Seira menarik nafas.
"Aku sama ibu boleh?"
"Kembali duluan, kalau ada si kepala buntung lagi, jangan hiraukan, bilang pada ayahmu kalau aku tertahan di sini. Usahakan sampai dengan cepat. Paham!"
Pram mengangguk dan masuk lift begitu pintu terbuka.
Seira mengeluarkan kujangnya, "Brengsek, lagi pakai dress panjang lagi!" Seira menarik dress hamilnya dan melakukan kuda-kuda, dia memanggil Panglima, tapi terasa jauh dan energinya lemah.
Sementara ruh nenek itu terus berlari untuk menyerang Seira.
Tepat begitu mereka berhadapan, nenek itu mengarah pada perutnya.
Seira menangkis tangan itu, dia tak ingin kujang melukai ruh yang baru saja terlahir karena meninggal dunia itu.
Seira terus memanggil Panglima, karena pantang baginya melukai ruh, jika dia melukai ruh, maka mungkin yang terjadi adalah karma bagi bayinya, bukan, bukan karena mitos tapi Ayi Mahogra memang memiliki banyak batasan dalam dua dunia ini.
Nenek tersebut menyerang secara membabi buta ke arah perutnya Ayi, sementara Ayi terus mencoba untuk menghindar, Kujang dia masukkan kembali, karena tadi dia sempat ingin menakuti nenek itu, tapi sayang, tidak berhasil, nenek itu terus menyerangnya.
Ayi berlari dengan perut besar, dia tak bisa turun ataupun naik.
Sementara di dalam lift, Pram kecil terus tak sabar karena begitu takut kalau dia akan lamban karena terjebak oleh setan kepala buntung, tapi kalau bukankah setan itu tadi dikunci oleh ibunya di zona lain, tapi kenapa ibunya suruh waspada? Aneh, tapi Pram tetap waspada, dia berdiri mendekat pada dinding lift untuk memastikan bahwa musuhnya bisa terlihat, bersiap lalu mengeluarkan senjata. Ya ... Pram kecil sudah dibekali senjata sejak umur 4 tahun, satu tahun lalu dia diberikan sepasang gelang, yang hanya akan terlihat jika dikeluarkan oleh Pram dengan mantra tentunya.
Gelang itu membuatnya terhindar dari serangan para makhluk ghaib jahat, mereka takkan bisa menyerang Pram karena frekuensi dari gelang itu menghalau frekuensi ghaib, bagi jin dan sesamanya, ketika mereka dekat gelang itu, maka mereka akan terpental, Ayi membuat gelang itu saat tahu dia hamil, dia mendaki beberapa gunung untuk mempelajari energi ghaib hingga akhirnya tercipta energi yang mampu menghalau energi jahat dari mereka, karena dia tak ingin memberikan Pram kecil senjata untuk menyakiti makhluk Tuhan, maka dia menciptakan senjata yang mampu menghalagi para jin jahat atau Karuhun jahat untuk menyerang Pram.
Pram tahu, dia hanya tinggal melakukan kuda-kuda dan mengarahkan gelang itu pada musuh jin yang dia pikir akan menyerangnya.
Satu lagi keunggulan gelang itu, jika Pram sudah keluarkan, maka jika ada jin yang mencoba menyerang dan dihalau oleh gelangnya, Malik dan Seira mampu mendengarnya sejauh apapun, bukankah seperti GPS yang sangat bermanfaat bagi orang tua yang anaknya selalu menjadi incaran jin jahat dan dukun ilmu hitam? Seira selalu menciptakan alat ghaib yang multifungsi.
Pram bersiap, dia terus memasang kuda-kuda, hingga pintu lift terbuka, terang, tentu saja, ini sudah lantai yang dia tuju, lantai unit rumahnya, satu lantai ini memang milik keluarganya.
Dia keluar dari lantai itu dan berlari untuk ke unitnya lalu mengetuk pintu dengan sangat kencang agar ayahnya bisa membuka pintu itu dan ibunya tidak sendirian lagi di atas, ibunya sedang hamil, walau dia sangat takut pada ibunya yang terkadang memang terlihat seperti Ratu Iblis, persis yang dikatakan oleh nenek itu, karena saat marah Seira sungguh menakutkan anaknya.
Tapi tetap saja, bagi Pram, ibunya adalah orang yang paling dia cintai.
Pintu terbuka dan Pram segera masuk dia berlari dan melihat punggung ayahnya, dia lalu berteriak, “Ayah! Ibu diserang nenek, eh bukan, ruh nenek, eh setan nenek, eh, pokoknya Ay ....” Pram berhenti berkata, dia menyadari satu hal, ayahnya terus memunggungi tanpa melihat ke arahnya, Pram yang sempat terlena dan merasa sudah selesai, dia lalu kembali bersiap dengan kuda-kuda dan gelang sepasangnya yang berwarna coklat dan berbentuk bulat-bulat itu, sekilas melihat gelang itu, kau menyangka gelangnya dari tanah liat, tapi tentu saja bukan.
“Kenapa anak ayah? Ibumu sudah mati?” Lelaki yang mirip dengan ayahnya itu berbalik, tentu saja itu bukan ayahnya, perlahan makhluk itu berubah menjadi sesosok yang sangat tinggi besar, genderuwo, tentu saja, apa lagi?
“Ayahku tidak sejelek kau!” Pram yang tahu kalau musuhnya pasti sangat kuat, dia lalu mencoba membuka pintu unitnya yang tentu saja, bukan unitnya, karena matanya sudah ditipu muslihat oleh para jin yang entah kenapa bisa tembus pagar perlindungan ibunya, karena Pram ingat bahwa ibunya selalu bilang jika ada jin yang dia bisa lihat di lantai itu, pasti jin yang diizinkan untuk masuk ke lantai itu oleh ibunya, takkan ada jin yang bisa masuk ke sana.
Pram terus mencoba membuka pintu tapi tidak berhasil, dia tidak punya cara lain, selain berlindung pada gelang itu.
Gelangnya berfungsi, karena setiap kali genderuwo hendak mendekatinya untuk menangkap, dia mental, karena gelang itu sungguh sangat kuat energinya.
Tapi, genderuwo itu juga tidak mudah menyerah, Pram hanya bisa terus menghalau dengan mengarahkan gelang itu saja, tapi karena Genderuwo terus menyerang, dengan semua kekuatannya, maka ... gelangnya putus, terlepas dari tangan Pram.
...
“Kenapat Dit?” Alka bertanya, karena Aditia terlihat gusar melihat bulan.
“Bulannya terlihat aneh.”
“Purnama?”
“Warnanya merah, kau tak lihat?”
“Tidak bisa, kan hanya Kharisma Jagat yang bisa melihat keanehan bulan.” Alka menjawab karena tahu biasanya bulan aneh dikarenakan kejadian ghaib, salah satunya ilmu hitam.
“Perasaanku tak enak, ada apa ya? tapi aku tak punya penglihatan.”
“Kau mau minta bantuan Jarni?”
“Jarni hanya bisa melihat masa lalu Ka.”
“Ya sih, trus kita bisa apa Dit?”
“Tidak tahu, aku akan mencoba bertanya ada Abah, aku merasa sesak sekali, entah koneksi mana yang mencoba untuk menghubungiku Ka, tapi yang pasti, pasti orang itu sedang dalam bahaya.”
“Kau sudah coba hubungi rumah?”
“Sudah, begitu aku merasa ada yang tak enak, aku langsung meminta abah untuk memeriksa rumahku, pagar kami, apakah bolong, kata abah memang ada yang menembus, tapi tak sampai bolong, dia tak berhasil, jadi ibu dan adikku baik-baik saja, Abah juga sudah menambah pagar ghaibnya dan menaruh salah satu jin teman kami untuk berjaga. Jadi mereka aman.”
“Kalau begitu, kau hanya bisa menunggu Dit, mungkin memang tak ada apa-apa, mungkin koneksi yang dikirim ini adalah koneksi dari rumah karena sempat ada yang mau menyerang.”
“Ya, mungkin juga, bisa jadi.” Aditia lalu masuk ke markas ghaib, yang lain sedang membahas catatan Mulyana yang akan mereka kerjakan selanjutnya.
...
Malik berlarian ke tangga darurat, dia mendengar dentingan dari gelang anaknya yang terus saja berisik di kupingnya, dia berlari ke arah unit nenek itu, naik karena lift terasa sangat lama.
Ketika sudah tiba di lantai nenek itu, Malik melihat Seira jatuh dengan memegang perutnya, dia terlihat sangat kelelahan, wajahnya cukup babak belur.
Malik mencoba membuka pintu tapi tak berhasil! Dia mencoba mendobraknya, tapi tak berhasil, tanpa pikir hal lain lagi, dia merubah tubuhnya menjadi penuh kaca, mengeluarkan pedang panjang dan besarnya, lalu mencoba memukul pedang itu pada pintu darurat, jelas sekali, pintu itu sudah dipasang perlindungan, makanya dia tak bisa masuk.
“Karembo Hejo! Karembo Hejo!” Malik berteriak, karena paham Seira tak bisa menggunakan kujangnya untuk melukai nenek itu, Seira menggeleng, apa Malik lupa kalau Karembo Hejo itu sangatlah berbahaya kalau disabet ke nenek itu, dia akan musnah dalam sekejab, sungguh keadaan yang sangat sulit.
Malik memanggil para pasukan Ayi, kosong, terasa kosong, tak terjangkau, seolah mereka berada di tempat yang antah berantah, koneksi mereka dengan para pasukan hilang, bahkan dengan Pram.
Malik tak melihat Pram di sana, dia terus secara brutal menyabet pintu dengan pedangnya, akhirnya perlindungan ghaib pada pintu itu hancur, dia lalu membuka pintu yang tentu saja bisa dibuka dengan mudah tanpa perlindungan, dan langsung menjadi tameng agar serangan nenek itu terkena padanya, pada punggungnya lebih tepat.
“Lari, cari Pram, nenek ini aku yang akan menghadapinya.”
“Jangan musnahkan dia, dia baru saja mati, jangan sampai kau membuatnya musnah, kau harus janji!” Ayi meminta Malik berjanji dan Malik mengangguk.
Seira lalu membuka pintu ghaib, dia yakin, kalau Malik menyuruh mencari Pram, berarti mereka tak bertemu, Seira merasakan setan kepala buntung itu masih ada di tempatnya, berarti anaknya ditahan di zona ghaib alami ciptaan Tuhan yang luas itu, atau di zona ghaib ciptaan makhluk lain yang tidak akan luas, pasti pintunya ada di sekitar sini.
Seira terus mencari pintu itu, dia terus mencari pintu itu dengan semua tenaga tersisa, tak juga ketemu, aneh, biasanya dia selalu bisa melihat zona ghaib buatan makhluk lain, karena itu salah satu keistimewaannya.
“Ketemu!” Seira melihat pintunya ada satu lantai di bawahnya, dia berlari melalui tangga darurat untuk mencapai lantai itu, begitu masuk zona entah buatan siapa, dia merasakan energi gelangnya perlahan menghilang, Ayi yang dalam keadaan perut besar menangis, berlari karena takut Pram akan celaka, jika gelang itu akhirnya hilang energi, pasti terputus dan siapa pun yang melakukannya, pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi, Ayi sebagai seorang ibu, menyesal karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik, dia terus berlari dan mengeluarkan kujangnya, dia tak peduli lagi, apapun yang membuat anaknya celaka, akan dia habisi, termasuk nenek tadi!
Berani sekali mereka menyentuh anak dari Ratunya Kharisma Jagat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Furi Handayani
nunggu bab banyak dulu baru baca Ben Ndak nanggung😁
2025-01-17
0
Imran Kalimanjaro
sudah mulai seru ini...
2025-01-01
0
Ririn Santi
ih kemana sih panglima dan Raden?😬
2024-05-08
1