“Hei … hei … hei … hi hi hi hi hiiiiiiiii.” Suara tertawa dari sebuah lift membuat seorang anak lelaki terpaku, dia terdiam, melihat sekeliling, dia mencoba memencet tombol lift agar bisa keluar dari sana, tapi tak berhasil, lift terus berjalan naik … lalu turun lagi … naik … lalu turun.
“Aku mau pulang.” Anak itu bergumam di lift yang terus naik turun dengan kecepatan normal, tapi semua tombolnya tidak mau dipencet.
“Mau pulang? Ikut aku saja.” Suara yang entah datang dari mana, membuat anak itu terdiam, tiba-tiba pintu lift terbuka.
Gelap, tak ada cahaya satu pun yang terlihat, hingga anak itu enggan keluar dari lift, padahal beberapa waktu lalu dia sangat ingin keluar dari sana.
Lift tetap berhenti dan pintu lift tetap tak tertutup, anak itu ragu untuk keluar.
Tapi dia berpikir, bahwa jika dia tak keluar, maka berapa lama lagi dia harus menunggu, alamiahnya, seorang anak, tidaklah pernah bisa sabar dan selalu ingin berlarian.
Anak itu mengendap, dia cukup takut melihat kegelapan di sana, jika dia keluar, apakah akan ada hal buruk terjadi?
Anak lelaki itu akhirnya melangkah keluar dari lift, seketika tubuhnya sudah keluar sempurna, pintu lift tertutup secara otomatis dan terlihat menuju lantai bawah.
Anak kecil itu tidak tahu dia berada di lantai berapa, gelap sekali, dia sama sekali tak bisa melihat apapun.
“Ada orang?” Dia berteriak, berharap ada siapa pun yang bisa menolongnya. Dengan kaki kecilnya yang cukup panjang untuk ukuran seumurannya, dia berjalan perlahan, walau kegelapan menyelimuti seluruh lantai itu.
“Hei … hei … heiiiiiiii.” Suara yang di lift tadi muncul lagi, tapi suara ini terdengar semakin berbisik, seolah suara itu berasal dari samping kupingnya.
Anak itu mempercepat laju larinya, dia tak peduli apapun yang akan dia tabrak, hingga akhirnya dia terjatuh karena ternyata, dia terselandung sebuah benda, entah apa. Dia memegang dengkulnya, sepertinya berdarah karena terjatuh tadi, lupa kalau dia sedang berlari dari sebuah suara, anak itu tetap saja mengusap dengkulnya, hingga akhirnya dia sangatlah terkejut, benda yang tadi membuatnya terjatuh, terasa mendekat, walau gelap, tapi benda itu terlihat menggelinding, anak itu berkata dalam hatinya, oh hanya bola, dengan lega.
Benda yang dia sangka bola itu akhirnya semakin dekat dengannya, walau dalam pemikirannya dia heran, kenapa bola itu menggelinding padahal dia sudah jatuh dari tadi, apalagi arah gelindingnya aneh, kenapa bola itu bisa menggelinding di alas yang datar?
Belum juga menemukan jawaban, benda yang dikira bola itu akhirnya sudah sangat dekat dan bahkan menyentuh kaki anak itu. Seketika bola itu menyentuh kakinya, dia merasa dingin, bola yang terasa aneh, ada rasa dingin dan juga rasa kenyal dari bola itu.
Anak kecil itu lalu terus memperhatikan bolanya dan masih belum ketemu jawaban, sebenarnya benda aneh apa ini? Apakah mainan? Tapi apa? Mainan apa yang dingin dan kenyal seperti ini.
Karena penasaran, anak itu mengambil bola yang ada di dekat kakinya, mendekatkan bola itu pada wajah agar bisa melihat bola itu dari dekat, tapi saat bola itu sudah dekat dengan wajahnya, bola itu lalu berubah menjadi sebuah kepala botak yang matanya menghitam, mulutnya lebar dengan senyum dari bibir yang robek, “Heiiii … ikut aku yuk, kita main.” Kepala itu tiba-tiba menggunakan mulutnya untuk mengajak, tapi anak lelaki itu terkejut, saking terkejutnya, dia melompat dan melempar kepala itu.
Suara dari kepala buntung itu terdengar jelas seperti suara yang dia dengar dari lift, anak itu setelah melempar kepala itu dan terus berlari tanpa berteriak karena takut mengundang keramaian.
Dia berlari terus, tapi kegelapan masih saja menyelimutinya, dia mencoba bertahan untuk tidak berteriak, sebagai anak berumur 5 tahun, dia sangat takut pada ibunya, hingga dia tak mau membuat keributan, kalau sampai dia membuat keributan, ibunya pasti marah.
Karena larinya cukup kencang, keringat mengucur dari dahinya, anak yang belum genap berumur 5 tahun itu terus berlari sambil mengawasi sekitarnya dalam kegelapan.
Saat dia berlari, akhirnya melihat cahaya di ujung sana, dia berlari untuk mencapai cahaya tersebut dan akhirnya sampai!
Tanpa pikir panjang dia memasuki sumber cahaya itu dan … ting! Pintu lift tertutup, dia masuk ke dalam pintu lift ternyata, anak lelaki itu berjongkok mengawasi sekitar, bingung kenapa dia bisa masuk ke lift, padahal arah larinya sama sekali berbeda dengan arah ke lift ini.
Tapi dia tak mau memikirkan hal lain, dia memencet unit apartemennya, kali ini tombol menyala dengan normal.
Hati dan pikirannya lega, tak lama, dia sudah berada di lantai yang dia maksud, perlahan pintu lift terbuka, tapi saat dia hendak keluar, ada seorang lelaki berdiri di hadapannya, dia menghela napas panjang karena ini adalah orang pertama yang dia temui sejak terjebak di lift dan lantai gelap itu.
Anak lelaki itu menengadah untuk melihat wajah lelaki yang ada di hadapannya, tapi betapa kagetnya dia, karena ternyata lelaki itu tak memiliki … wajah! Bukan hanya wajah, tubuhnya berhenti hanya sampai leher, dia tak punya kepala!
Anak itu terdiam, menarik napas panjang dan ….
“Aku capek tahu lari-larian gini. Pantas saja nenek bilang tak mau keluar dari unitnya lagi, dia bilang karena takut pada setan kepala buntung. Tapi kau tega kalau mengerjai nenek-nenek, kau sengaja ingin nenek sakit!” Pram kecil, anak dari Seira dan Malik bertanya pada lelaki tanpa kepala itu.
Sementara lawan bicaranya hanya terdiam, tentu saja, bagaimana dia bisa menjawab Pram kecil, kan kepalanya tidak ada.
Pram membukakan lift, dia memencet tombol lalu berkata, “Masuk ke lift sekarang, nanti kau akan bertemu dengan kepalamu, kalau sudah bertemu, jangan ganggu orang lagi ya, sama bilangin juga ke Perempuan berjubah putih, jangan selalu tertawa malam hari, berisik tahu!”
Pram yang menunjuk lift, membuat lelaki tanpa kepala akhirnya masuk ke lift, dia lalu pulang menuju unit apartemennya.
Begitu masuk, ibunya Seira sedang berdiri di hadapannya.
“Kan aku sudah bilang, kau tidak boleh keluar dari unit, kenapa kau malah pergi hampir 3 jam!”
“Oh, lama sekali ya.”
“OH LAMA SEKALI YA! Seira melotot karena anaknya begitu santai, sungguh terasa seperti dirinya saat kecil yang suka sekali kabur dari rumah hanya untuk sekedar bermain di lapangan bersama teman-teman.
“Pram, sini masuk, ayah mau bicara.”
Merasa diselamatkan, Pram langsung berlari ke hadapan ayahnya.
“Pram kenapa kok pergi lama sekali, tadi mbak cariin Pram loh, tapi nggak ada di mana-mana.”
“Ini loh ya, Pram tadi mau ketemu nenek, tapi nenek nggak mau bukain pintu unitnya, Pram udah bel, nenek malah teriak PERGI KAU SETAN KEPALA BUNTUNG. Jadi Pram kasihan, dia pasti diganggu setan itu, dia kan cari badannya. Badannya ada di lantai kita, nggak bisa turun dia karena pagar ibu.”
Malik menahan tawanya, dia tahu, pasti Pram punya alasan yang baik hingga harus keluar diam-diam.
Dia memang sangat suka mengobrol dengan seorang nenek di unit bawah, nenek itu tinggal sendirian, anak-anaknya ada yang di luar kota atau kalau di ibukota juga tetap saja, karena sudah menikah, tidak mau tinggal bersama ibunya.
Pram kecil sangat suka main ke unit nenek itu, karena dia sungguh pandai memasak dna bercerita, Pram kecil suka dengan dongeng anak-anak yang diceritakan nenek.
Walau terkadang ceritanya aneh dibanding dengan yang dia baca.
Seperti ketika nenek bilang bawang merah baik dan bawang putih jahat, atau dia juga bilang kalau buto ijo itu jin sebenarnya dan cerita aneh lain yang menurut Pram itu lucu, nenek suka bercerita terbalik dan mengarang-ngarang
Ibu dan ayahnya juga kenal nenek itu, tapi ibu dan ayah tak mau jika diajak bertemu nenek itu, nenek juga terkadang mengganggu Seira dengan perkataan pedas seperti Seira itu ratu iblis, karena hanya dia yang tidak diganggu di unit apartemennya itu, hanya dia yang mampu bertahan di lantai itu sendirian bahkan saat dulu Malik masih di penjara.
Maka rumor tentang Seira adalah ratu iblis tersebar begitu saja hingga masuk ke telinga nenek itu.
Pram yang hanya anak kecil sebenarnya sedih ketika ibunya dibilang ratu iblis, dia memang ratu, itu kata ayah, tapi Ratu Kharisma Jagat, bahkan ibunya sering membantu orang untuk menyelesaikan masalah ghaib.
“Kalau dia masih jawab dari dalam rumah, artinya dia masih sehat, sekarang kirim makanan untuk nenek itu ya, takut kalau dia nggak mau keluar dan tidak ada makanan di dalam rumahnya.” Malik berkata, dia sebenarnya juga tak suka dengan mulut nenek itu, tapi mengingat sendirian di dalam unit apartemen tanpa anak itu, pasti lebih menyiksa lagi.
“Aku malas ah, setan itu tadi menjebakku masuk ke tempat gelap, aku nggak mau lagi ah ke sana, nanti aja.” Pram akhirnya mengatakan kalau dia juga menemui setan kepala buntung itu.
“Dia masih berkeliaran?” Seira kali ini yang bertanya.
“Iya, tadi aku dimasukkan ke tempat gelap, terus kepalanya kena kakiku, dingin banget Bu, udah gitu pas aku pegang, ternyata kepalanya botak, kupikir bola!”
“Dia memasukkanmu ke zona ghaib, besar juga nyali setan itu, lalu?” Seira tertawa sambil menyiapkan kotak makan untuk nenek, dia akan mengantarnya bersama Pram, kalau tak mau, Seira akan tetap menaruhnya di depan kamar, hanya agar nenek itu makan.
Setelah selesai, Seira mengajak Pram, Pram berlari dan meraih tangan ibunya, sekarang pasti aman.
Seira memencet tombol dan begitu pintu lift terbuka, mereka berdua melihat seorang lelaki yang ada di dalam lift, lelaki biasa saja, dia mungkin penghuni unit itu.
Seira masuk tanpa peduli dengan lelaki itu, dengan perut besar, Seira berjalan cukup sulit.
Tak lama pintu lift terbuka, saat terbuka, gelap, Seira menengok dan melihat dari kejauhan, pekat sekali, lantai yang belum dia sentuh untuk dibersihkan karena kehamilannya yang membuat lemah ini membuatnya tidak bisa bergerak dengan lincah lagi.
“Kau mau aku keluarkan dari tempat ini dan tersiksa di tempatku, atau mau keluar sendiri dari lift ini?” Seira berkata sambil berbalik badan menghadap pria yang sudah ada di lift itu.
Pria itu kini tak berkepala.
“Sudah kubilang, ibuku galak, tadikan kita main lari-larian, kenapa kau sekarang muncul?” Pram berbisik pada kepala yang jatuh di samping tubuh itu.
Kepala itu lalu tersadar sesuatu saat melihat Ayi Mahogra dan bermaksud kabur, tapi terlambat, Ayi memegang tangan lelaki tanpa kepala itu dan berteriak, “Tangkap kepalanya!” Ayi meminta Pram menangkap kepalanya.
“Ah kan, habis kau! Sudah kubilang jangan cari masalah dengan ibuku! Kau ini benar-benar!”
Seketika jin itu menghilang karena Seira melemparnya ke zona ghaib, ingatkan, kalau Ayi Mahogra bisa membuka seluruh pintu ghaib, bahkan menciptakannya, maka dia melempar setan kepala buntung ke zona ghaib buatannya, perlahan lift tertutup dan mereka sudah di lantai yang dimaksud.
Keluar dari lift menuju unit nenek itu.
Pram memencet bel unitnya, tapi tak ada jawaban.
Pram memencet bel lagi sambil melompat karena dia memang belum sampai.
Belum ada jawaban lagi.
Seira lalu mengetuk pintu dan berkata, “Nek, ini kami bawa makanan.” Seira berteriak sambil terus mengetuk.
Tak lama, terdengar suara dari dalam, suara itu bertanya “Siapa?” dengan suara yang berbisik, tapi cukup terdengar.
“Ini Seira dan Pram, kami bawa makanan.” Seira masih berusaha untuk tenang, walau dia dalam hatinya kesal, seharusnya nenek itu buka pintunya.
Tak ada jawaban lagi, Seira terdiam lalu berkata.
“Saya taruh makanannya di depan pintu ya Nek, tenang saja, takkan ada lagi setan kepala buntung, kan saya ratu iblis, saya sudah bawa dia jadi anak buah saya, jadi takkan mengganggu lagi!” Saking kesal tapi dia takut nenek belum makan, Seira akhirnya berkelakar.
Masih tak ada jawaban, Seira akhirnya menaruh kotak makan di lantai, dia lalu pergi menuju lift bersama Pram.
Saat Seira hendak masuk lift, dia melihat nenek itu berdiri di depan pintu unitnya sambil menatap kotak makan itu, melihat nenek tersebut Seira lalu berkata … “Innalilahi wa innailaihi Rajiun.”
“Nenek!” Pram berteriak karena tahu juga, kalau … itu adalah ruh nenek tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Endah Setyati
Berarti anak kedua Ayi yg masih di dalam kandungan ini yg bakal jadi karisma jahat agung?? tetua mengincar anak ini
2024-12-02
0
Nunuk Bunda Elma
kupikir flasback masa kecil Pram si jodoh eh ternyata Pram little boy nya Sira dan Malik 🤭
2024-06-03
0
Darnisah Isda
wah.. pake nama Pram jodoh adatnya Seira dulu ya..
2023-12-12
1