Setelah selesai makan, Dirga keluar dari ruangan saat dia makan tadi. Kotak makanan dan botol itu dia kembalikan ke meja resepsionis saat pegawai resepsionis sedang pergi ke toilet. Lalu Ken pun datang dari arah belakang.
"Maaf Tuan Muda saya terlambat karena jalannya macet. Ini sarapan tuan dan minumannya" ucap Ken menyerahkan kotak kardus makanan dan air mineral
"Cih.. lalu yang aku makan tadi milik siapa?" batin Dirga yang tidak mengatakan kalau dia salah makan milik orang lain.
Bagaimana harga dirinya kalau Ken tau dia salah mengambil makanan orang lain. Bisa-bisa Ken menertawakannya maka akan hilang wibawa yang selama ini dijaganya.
"Makanlah saja, saya sudah tidak lapar karena lama menunggu jadi gajimu saya potong 20%" ucap Dirga sambil berjalan memasuki ruangan
"Baik tuan" apalagi kata yang bisa terucap selain "Baik Tuan", karena kalau dia protes sekali saja maka potongan gaji udah jadi 40%. Dua kata itu sudah cukup menjadi mantra penolong Mr Ken dari potongan gaji yang tidak berperasaan.
Ken berjalan ke depan membukakan pintu untuk Dirga. Saat itu Niana duduk tepat di depan pintu dengan posisi membelakangi pintu. Sehingga yang terlihat hanyalah rambutnya yang dikepang kanan kiri. Kepala Dirga tiba-tiba terasa sedikit pusing saat melihat rambut Niana yang dikepang. Entah apa yang dirasakan bentuk rambut yang dikepang itu terngiang-ngiang di pikirannya. Lalu dia duduk di kursi tengah paling ujung yaitu di kursi presdirnya.
"Si rambut kepang itu lagi, kenapa kepala ku jadi pusing saat melihat gaya rambutnya" batin Dirga melirik ke arah Niana
Selama rapat dimulai sampai selesai, Niana pun tidak melirik ke arah Dirga sama sekali. Dia berusaha mengunci mati hatinya dari nama Dirga agar tetap fokus bekerja. Karena dia sadar Dirga juga tidak mungkin memikirkannya, dia sudah kembali ke Dirga aslinya. Apalagi Dirga juga sudah punya tunangan jadi cintanya akan kembali pada tempat yang seharusnya.
"Ken taruh berkas rapat hari ini di ruangan saya, saya akan menyusul nanti" ucap Dirga
"Baik Tuan Muda"
Setelah semua orang keluar dari ruang rapat, Dirga menuju pintu mengintip ke meja resepsionis untuk melihat siapa pemilik kotak makanan yang ia makan tadi.
"Permisi mbak, saya mau ambil kotak bekal saya" ucap Niana
"Silahkan" ucap pegawai resepsionis menyerahkan kotak bekal Niana
Niana pun kaget, minumanya dalam botol tinggal separuh dan kotak bekalnya jadi terasa ringan. Lalu dia membukanya diatas meja resepsionis.
"Kenapa tinggal tulangnya" batin Niana melirik ke pegawai resepsionis
"Maaf nona bukan saya" ucap pegawai resepsionis sambil melirik isi kotak bekal Niana yang tinggal tulang belulang sama sendoknya saja
Niana pun berhenti sejenak di depan meja resepsionis dan memikirkan siapa yang telah memakan bekalnya.
"Kenapa kalau rapat nasibku selalu sial sih" ucap Niana sambil mendongakan kepalanya ke atas merasa sedih lalu meninggalkan tempat itu
"Jadi makanan itu milik si rambut kepang" ucap Dirga
Di ruangan Dirga, Ken berdiri di samping kursi sibuk manata berkas yang sudah ditandatangani Dirga tadi pagi. Dirga duduk dikursinya sibuk dengan ponselnya. Ken melirik ke ponsel tuanya, dia penasaran apa yang dilakukan tuan mudanya itu. Karena dari pintu menuju ke kursinya pandangan matanya tidak pernah lepas dari ponselnya. Terlihat gambar makanan yang sedang dia cari dari ponselnya.
"Ken apa di sekitar kantor ada yang jual Ayam kecap?" tanya Dirga
"Biar saya carikan keluar kantor tuan kalau Tuan Muda ingin makan ayam kecap"
"Tidak dibutuhkan"
"Baiklah"
"Ken siapa nama wanita rambut kepang yang dulu sepertinya pernah ikut rapat di devisi 1?"
"Niana, tuan. Apakah dia membuat kesalahan?" ucap Mr Ken curiga dengan tuannya, kenapa tiba-tiba menanyakan Niana
"Tidak, kenapa dia jadi di devisi 2?"
"Dia dipindahkan untuk menggantikan sekretarinya Ibu Niken pimpinan devisi 2"
Akhirnya Dirga telah menemukan restoran yang menjual ayam kecap, lalu memesannya atas nama Niana. Dirga tidak ingin mengambil makanan orang lain seperti pencuri. Dimana harga dirinya kalau sampai ada yang tau. Makanya dia diam-diam memesan ayam kecap atas nama Niana untuk mengembalikan makanan yang telah dimakannya beserta minuman jus stroberry. Karena Dirga ingat waktu itu minuman stroberrynya tertukar dengan miliknya waktu rapat pertama.
Siang itu Niana sedang sibuk mengetik laporan di meja kerjanya. Dia melirik kotak bekalnya, harusnya bisa dimakan siang ini. Tiba-tiba ada kurir makanan datang mengantarkan pesanan ke lantai 18 devisi 2.
"Selamat siang, maaf ini dengan mbak Niana?"
"Iya, saya Niana pak"
"Ini pesan anda mbak, 50 bungkus ayam kecap dan 50 jus stroberry"
"Maaf pak saya tidak memesan ayam kecap dan jus stroberry apalagi dengan jumlah 50 bungkus" ucap Niana syok
"Tapi ini atas nama anda mbak dan sudah dibayar lunas, mohon diterima" ucap kurir makanan itu sambil menunjukan bukti kuitansi pembayaran lunas atas nama Niana devisi 2 Sanjaya Grub
"Baiklah... kalau begitu saya terima"
"Terima kasih mbak"
Niana hanya menganggukan kepalanya karena masih bingung siapa yang sudah memesan makanan atas namanya dalam jumlah banyak dan sudah dibayar lunas.
"Siapa yang memesan makanan ini? Apakah orang yang memakan bekalku, lalu dia menggantinya dengan ayam kecap sebanyak ini. Tapi siapa" batin Niana
"Ya ampun... Niana kamu pesan makanan banyak sekali, apa ini perayaan karena kamu pindah ke devisi 2?" ucap Dita yang meja kerjanya disebelah Niana
"He...he iiyaa... ini buat kamu 1. Minta tolong bagiin ke teman-teman lain ya" ucap Niana sendiri yang juga kebingungan mendapat kiriman 50 bungkus ayam kecap beserta minumannya dari siapa
"Oke, tetapi sepertinya sisa 25 bungkus karena di devisi 2 ada 20 orang termasuk bu Niken, yang 5 cleaning servis"
"Baiklah sisanya biar aku antar ke teman-teman devisi 1 saja"
"Oke"
Niana langsung menghubungi temanya di devisi 1.
"Halo Riska"
"Halo Niana, kemana saja tidak ada kabar? Aku sampai bingung tidak ada temen gosip tau. Sekarang malah kamu pindah devisi"
"Kamu sibuk tidak, kalau tidak buruan ke sini devisi 2 lantai 18. Aku mau ngasih makanan buat teman-teman devisi 1"
"Acara apa memangnya? ini kan bukan hari ulang tahunmu?"
"Buruan saja ke sini bawel"
"Oke, aku ke situ"
Riska pun segera turun ke lantai 18, kebetulan udah jam istirahat.
"Riska sini" teriak Niana sambil melambaikan tangannya ketika melihat Riska
"Niana.... aku kangen sama kamu" ucap Riska
"Apaan sih, dasar jomblo. Buruan bawa ini semua" ucap Niana
"Whats?? Sebanyak ini.... Aduh Niana mana bisa aku bawa sendiri. Kamu bantuin ya"
"Tapi aku tidak bisa, aku sibuk"
"Helo... ini jam istirahat, alasan saja kamu. Lalu kamu mau minta tolong siapa? Lihat semua teman devisimu lagi pada makan semua"
"Aduh.. siapa ya yang bisa bantu" ucap Niana bingung karena tidak ingin bertemu Dirga. Mr Ken pun juga menyuruhnya untuk menjauhi Tuan Mudanya itu.
"Yang bisa bantu ya kamu lah, ayo buruan keburu jam makan siang habis" ucap Riska menarik tangan Niana yang membawa 50 gelas minuman
"Semoga Dirga tidak ada di sana" batin Niana
Akhirnya mereka sampai di lantai 20. Riska pun mulai membagikan makanan.
"Hai Niana apa kabar" sapa teman-teman di devisi 1
"Hai teman-teman"
"Niana, ada acara apa bagi-bagi makanan?" tanya pak Hendra
"Kata temannya yang devisi 2, acara pindah devisi pak
"Ada-ada saja" ucap Pak Hendra
"Niana kalau pindah devisi dari 1 ke 2 itu bukannya gajinya lebih sedikit, kenapa malah syukuran" ucap karyawan lain
"Hidup itu harus selalu disyukuri apapun keadaanya. Gaji lebih sedikit yang penting kan masih punya kerjaan daripada nganggur. Apalagi kerja dari jerih payah sendiri itu syukurnya luar biasa" ucap Niana dengan lantang karena gajinya masih sama saat di devisi 1
"Betul kata Niana" ucap pak Hadi
"Hemm" tiba-tiba suara Mr Ken mengagetkan mereka semua yang sedang berisik seperti di pasar
"Maaf Pak Dirga, Mr Ken. Ini Niana yang pindah ke devisi 2 membagikan makanan untuk kita" ucap pak Hendra
"Ini buat Pak Dirga dan Mr Ken" ucap Riska menyerahkan 2 kardus makanan pada Mr Ken. Pak Dirga yang ada di samping Mr Ken tetap bersikap dingin sambil melirik ke arah kardus yang diberikan Riska.
"Niana, minumanya mana... kenapa bengong?" ucap Riska menoleh ke arah Niana
Niana berada di belakang pak Hendra dan Riska seperti sedang menyembunyikan diri.Dirga meliriknya sebentar lalu mengarahkan pandangannya ke depan.
"Iiini... minuman untuk Pak Dirga dan Mr Ken" ucap Niana lirih sambil menundukan kepalanya tak berani melihat wajah Dirga
"Niana kamu kenapa belum makan apa sedang sakit? suara mu jadi pelan padahal tadi lantang sekali" ucap Riska
"Aku tidak apa-apa, maaf permisi pak Dirga Mr Ken, permisi semuanya saya kembali dulu" ucap Niana segera bergegas meninggalkan lantai itu. Hatinya benar-benar tidak karuan padahal sama sekali tidak melihat batang hidung Dirga
Setelah Niana pergi Dirga masuk ke ruanganya diikuti Mr Ken di belakangnya.
"Pindah devisi malah bagi-bagi makanan, bodoh apa polos?" ucap Dirga mengoceh sendiri
"Apakah Tuan Muda ingin makan ini atau yang lain?" tanya Mr Ken yang membawa kardus makanan
"Kamu makanlah duluan, saya belum lapar"
"Baiklah Tuan Muda, makanan anda saya letakan di meja"
Mr Ken lalu membuka kardus makanan miliknya dan mulai memakannya. Dirga sibuk melihat-lihat ponselnya sambil sesekali melirik Mr Ken yang sedang menikmati ayam kecap. Sebenarnya dia juga ingin makan ayam kecap lagi. Tetapi gengsinya harus dijaga di depan Mr Ken. Entah sejak kapan dia suka makan ayam kecap. Sebelumnya dia tidak pernah suka makan ayam. Apalagi ayam kecap itu dari Niana yang habis dikatai bodoh oleh Dirga.
"Ken apakah Tania masih menanyakan kabar ku lagi?"
"Maaf Tuan Muda, Nona Tania menanyakan kabar anda terakhir 2 minggu yang lalu. Setelah itu nona Tania belum mengirim pesan lagi"
"Apakah ada tanda-tanda dia akan kembali?"
"Sepertinya belum tuan"
"Haruskah aku yang memulai dulu mengabarinya?"
"Maaf tetapi Nona Tania tidak pernah tahu kalau tuan amnesia"
"Apa....??? Jadi Tania tidak pernah tahu kalau saya seminggu lebih mengalami amnesia dan menjalani terapi di RS Surabaya" ucap Dirga marah tangannya menghujamkan sebuah pulpen yang sedang dipegangnya ke meja kaca di depannya.
Melihat Tuan Dirga marah, Mr Ken menghentikan makannya. Dia terlihat kesulitan menelan makanan yang terakhir dikunyahnya. Makanan itu pun rasanya seperti nyangkut di kerongkongannya
"Maaf tuan, kendalikan emosi anda. Semua dilakukan atas perintah Nyonya Besar. Nyonya besar tidak ingin hubungan anda dengan Nona Tania yang sedang tidak baik waktu itu memperparah trauma di kepala anda. Mungkin Nona Tania menjadi tidak peduli setelah tahu anda amnesia sehingga tidak akan menanyakan tentang anda. Karena anda juga tidak akan ingat tentang dia. Dia akan memilih fokus dengan studinya daripada menghubungi orang yang tidak mengenalnya. Dan faktanya Selama Nona Tania tidak tahu kalau anda amnesia, dia hanya menanyakan kabar anda 2 kali saja. Apalagi kalau dia tahu anda amnesia mungkin tidak ada kabar sama sekali. Semua dilakukan nyonya besar untuk kebaikan hubungan kalian. Karena tuan muda mencintai Nona Tania"
"Lalu kenapa ponsel saya tidak kamu berikan pada saya ketika amnesia?"
"Nyonya besar tidak ingin membebani pikiran anda yang waktu itu sedang sakit. Dokter juga menyarankan agar anda tidak banyak berpikir. Jadi ponsel Tuan Dirga saya simpan. Lagipula Tuan Dirga juga memblokir nomer nona Tania jadi nona Tania menghubungi saya setiap menanyakan kabar anda"
"Itu tidak sengaja, waktu kecelakaan itu saya salah menekan tombol blokir"
"Maaf Tuan Dirga saya tidak tahu kalau tuan tidak sengaja memblokirnya. Saya kira tuan benar-benar marah pada Nona Tania"
"Saya akan menjelaskan semuanya pada Tania sekarang. Berikan ponsel saya"
"Hemmm selalu gegabah hanya karena wanita. Terserah Tuan Muda saja, saya akan mendukung selama Nona Tania tidak selingkuh dan selama tuan masih mencintainya" batin Mr Ken menyerahkan ponsel Dirga yang masih disimpannya. Lalu melanjutkan makannya yang sempat terhenti tadi
Dirga mulai menghubungi Tania. Dia berharap Tania akan segera pulang menemuinya dan meninggalkan studinya sebentar. Setidaknya dia bisa memasangkan cicin lamaran di jari Tania agar bisa mengikatnya dan tidak diambil orang lain. Berkali-kali Dirga menghubungi Tania tetapi tidak diangkat. Chatnya juga tidak dibaca.
"Ken... apa biasanya Tania susah dihubungi?"
"Sepertinya begitu tuan, Nona Tania sering mematikan ponselnya kalau sedang sibuk"
"Sial... apa studinya sangat penting daripada saya"
"Begitulah tuan, lebih baik makanlah dulu"
Karena begitu kesal Dirga pun tanpa sadar membuka kardus makanan dan melahap ayam kecap itu. Mr Ken hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah tuannya itu.
"Sejak kapan anda suka ayam Tuan Muda, apakah sejak bersama Niana?" batin Mr Ken
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
faridah ida
semoga aja mr Ken nyelidiki Tania , bisa jadi kan tania selingkuh ...
2023-09-05
0