Hari ini Dirga sudah diperbolekan pulang setelah seminggu di RS. Selang infusnya pun sudah dilepas, tangan kananya masih diperban walau tidak perlu diperban melingkar ke leher. Setelah melangsungkan pernikahan sederhana di RS lebih tepatnya pernikahan palsu karena semuanya palsu bahkan penghulunya pun juga palsu. Niana ingin segera pulang dari RS. Dia terlihat sedang sibuk mengemasi barang-barang ke dalam tas.
"Gantilah bajumu, kita akan pulang ke rumah kita" kata Niana sambil menyerahkan kemeja panjang pada Dirga
"Apakah kita punya rumah sendiri?" tanya Dirga
"Iya, sebenarnya itu rumahku, tetapi kita dulu sudah memutuskan untuk tinggal di rumahku setelah menikah karena kamu sangat menyayangi ku dan takut kalau aku memutuskanmu jadi kamu rela mengikutiku kemana pun aku pergi" ucap Niana
"Baiklah aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi karena kamu sekarang adalah istriku"
"Oke" jawab Niana singkat seperti sedang kesal
"Apakah kamu tidak bahagia kita menikah? Kenapa wajahmu kelihatan tidak senang?"
"Aku cuma merasa lelah saja"
"Apakah sudah selesai?" tanya Dirga yang melihat Niana sedari tadi sibuk berkemas
"Sebentar lagi" jawab Niana sambil melirik Dirga yang dari tadi belum mengganti bajunya
"Kenapa belum ganti baju?" tanya Niana
"Aku mau membersihkan badan dulu, bisakah kamu membantuku"
"Apa... bukankah kemarin aku sudah cerita kalau kita sepakat tidak ada kontak fisik. Tapi dia juga tidak bisa bersihin badan sendiri apalagi pakai baju sendiri dengan tangan masih diperban.. Benar-benar merepotkan" batin Niana memperhatikan Dirga yang seperti tumpukan masalah
"Niana....?" seru Dirga
"iiyya..." jawab Niana terbata
Niana pun mengambil washlap dan baskom berisi air hangat lalu diletakan di atas kursi samping bed Dirga. Niana berdiri setengah membungkukan badan menghadap Dirga yang duduk di atas bed dengan meluruskan kaki.
"Bukalah bajumu" ucap Niana menunduk malu dan ragu
"Baiklah" ucap Dirga membuka kancing bajunya sendiri dengan tangan kirinya saja karena tangan kanannya masih diperban dan tampak kesulitan
Karena Dirga begitu lama membuka kancingnya dan Niana yang masih di posisi yang sama, akhirnya terpaksa membantunya membuka kancing baju Dirga sambil memalingkan mukanya karena tidak mau menodai matanya. Badan Niana sudah panas dingin berada lama diposisi seperti itu. Setelah bajunya terbuka, Niana mengambil washlap dan mengelap badan Dirga sekenanya sambil memalingkan wajahnya. Dirga memandanginya dengan raut wajah bahagia sambil tersenyum kecil.
Tiba-tiba Dirga menarik ikat rambut yang mengikat rambut Niana yang dikepang sebelah kanan. Niana pun akhirnya menoleh ke arah Dirga melihat dadanya yang bidang lalu secepat kilat menutup matanya. Kemudian Dirga menarik ikat rambut di kepangan rambut Niana sebelah kiri.
"Kembalikan ikat rambutku" ucap Niana yang masih memejamkan mata
"Sebenarnya kalau kamu mengepang rambut terlihat menggemaskan tapi aku lebih suka rambutmu terurai karena terlihat cantik tapi meresahkan hatiku" ucap Dirga
Dirga terpesona dengan kecantikan Niana ketika rambutnya terurai indah. Niana tampak cantik natural sekali walau make up nya tipis. Niana masih memejamkan kedua matanya sambil memegang washlap. Dirga yang tadinya duduk di bed dengan kaki lurus lalu bangun dan berdiri dengan kedua lututnya di atas bed. Kemudian memandangi Niana tepat di depan wajahnya sampai matanya tidak berkedip dan menelan ludahnya berkali-kali.
"Niana aku sudah selesai, bantu aku pakai baju" ucap Dirga dengan suara lirih tepat di depan wajah Niana
Niana pun sontak membuka matanya, wajahnya kelihatan merah merona ketika wajah Dirga tepat di depan wajahnya. Niana segera menghindar dan berbalik membelakangi Dirga. Senyuman kecil di bibir Dirga seakan mengungkapkan hatinya yang bahagia melihat wajah Niana yang merah merona karena malu.
"Aku akan ambilkan bajumu" ucap Niana salah tingkah
"Emmm bukannya tadi kamu sudah mengambilkan baju untukku dan menaruhnya di atas bed" ucap Dirga
"Oh iya aku lupa" Niana pun segera mengambil baju itu
"Dih kenapa aku jadi seperti ini sih jantungku kenapa jadi tak karuan, Niana sadar kamu hanya butiran debu yang tak berarti" batin Niana
Baju yang di atas bednya Dirga segera diambil Niana, lalu dikibaskan baju itu. Niana pun melongo melihat butiran kancing baju berderetan dari atas ke bawah seakan sedang berbaris menertawakannya dan ingin segera mengerjainya.
"Oh Niana kenapa kau memilihkan kemeja untuknya, harusnya ku ambilkan kaos yang tidak berkancing saja tadi biar cepet selesai" ucap Niana dalam hatinya
"Hemm Niana kamu sedang apa, aku keburu masuk angin" kata Dirga melihat Niana bengong
"Iya, ini aku lagi mengibaskan bajumu takutnya ada semut"
Niana membantu Dirga yang duduk dengan kaki lurus mengenakan bajunya, dia harus mengancingkan kemeja Dirga dengan posisi berdiri setengah membungkukan badan seperti waktu mengelap badannya tadi. Berada di posisi seperti itu dalam waktu lama membuat badannya semakin panas padahal ruangan sudah ber-AC. Apalagi dia harus memasukan kancing ke lubangnya satu persatu sambil sesekali memalingkan wajahnya sehingga membuatnya semakin lama.
"Kenapa aku sial lagi, memilih baju yang menyulitkan diriku sendiri dan harus terjebak dengan posisi seperti ini" batin Niana
Dirga pun memperhatikan Niana yang memalingkan wajahnya. Lalu dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil mengetahui Niana terjebak dalam pilihannya sendiri.
"Hemmm Niana" seru Dirga
Niana pun langsung menoleh ke arah Dirga, pandangan Dirga mengarah ke kancing bajunya yang salah masuk. Kancing yang paling atas langsung melompat ke lubang ke 2. Sehingga Niana pun harus membuka semua kancing baju Dirga satu persatu dan mengulangi lagi memasukan kancing baju ke lubangnya. Butiran kancing baju itu sepertinya senang mempermainkan Niana.
"Oh Niana kenapa kamu sial lagi sih" batin Niana kesal
Akhirnya drama kancing baju selesai. Niana pun sudah memesan taksi dan mereka segera menuju lobi RS. Di dalam taksi Dirga mengantuk berat karena efek obat lalu menyenderkan kepala di bahunya Niana. Nianapun hanya bisa menggeser kepala Dirga pelan-pelan agar menjauh dari bahunya. Kemudian Dirga malah sengaja menaruh kepalanya di pangkuan Nania. Dia tertidur nyaman di pangkuan Niana.
"Tuan Tengil anda benar-benar keterlaluan, kalau anda sedang tidak sakit sudah aku jedotkan kepalamu ke kaca mobil" gerutu Niana dalam hati
Akhirnya mereka sampai di depan gerbang pintu rumah yang sepenunhya terbuat dari kayu. Rumah Niana sekelilingnya dipagar tembok tinggi jadi kalau berada di luar tidak tahu seperti apa keadaan di dalam rumah. Niana lalu membuka pintu gerbang rumahnya.
"Selamat datang di rumah ki...ta" ucap Niana kaget dan terhenti
Taman di dalam rumah jadi bagus dan rapi, bunga-bunga di pot pun jadi cantik-cantik, bahkan ada ayunan besar di taman padahal selama tinggal di rumahnya dia tidak pernah memasang ayunan di taman. Lalu dia buru-buru masuk rumah. Niana terbengong interior di dalam rumah berubah bahkan ada foto-fotonya bersama Dirga, dari foto pigura kecil sampai yang berukuran besar. Dia pun melihat kamar bawah desainnya jadi manly sekali, seperti selera laki-laki sekali.
"Kasur yang di lantai bawah ini juga berubah sepertinya kasur yang sangat mahal, gajiku satu bulan pun tidak mampu untuk membelinya. Siapa yang merubah rumahku jadi seperti ini. Perasaan kemarin waktu pulang masih sama seperti biasanya. Apa Mr Ken yang melakukan ini semua?" batin Niana
"Niana ini foto-foto kita, bisakah kamu ceritakan dimana saja ini" tanya Dirga memandangi foto-fotonya bersama Niana yang terpasang di beberapa dinding ruangan
"Tuan Alien anda benar-benar membuatku harus berpikir keras untuk mengarang cerita tentang foto-foto yang membuat perutku mual ini" batin Niana yang kesal dengan Mr Ken
Akhirnya Niana mengarang cerita dihiasi drama sedih, senyum, tangis dan gelak tawa tentang foto-foto yang terpasang di rumahnya. Entah seperti apa ceritanya, yang jelas kalau disuruh mengulangi lagi ceritanya satu per satu Niana tak akan ingat.
"Jadi kamar kita dimana" tanya Dirga
"Kamarmu di lantai bawah yang ini dan kamarku di lantai atas. Kita sudah berjanji kan tidak akan ada kontak fisik dan kamu sudah berjanji juga akan menepatinya karena aku belum sepenuhnya memaafkanmu walau kita sudah menikah. Kamu ingatkan?" kata Niana dengan tegas
"Baiklah aku akan tidur di lantai bawah, aku akan menepati janjiku sampai kamu memaafkanku" ucap Dirga
"Baiklah selamat istirahat" ucap Niana bergegas menaiki tangga
Malam itu tiba-tiba turun hujan deras lalu listrikpun padam. Niana yang selesai mandi sedang membuka ponselnya langsung berteriak menuruni tangga dengan cahaya senter ponsel. Dia berlari masuk ke kamar Dirga, saat itu Dirga baru selesai mandi masih bertelanjang dada hanya memakai handuk yang dililitkan menutupi pusar sampai lututnya. Dirga pun langsung keluar dr kamar mandi dan mencari Niana yang sedang berteriak ketakutan. Karena cahaya ruangan begitu gelap Niana pun menabrak Dirga yang kakinya masih basah karena belum sempat mengeringkan kaki saat listrik padam. Lalu mereka jatuh di atas kasur yang ada di samping mereka. Niana jatuh berada di atas tubuh Dirga dengan rambutnya yang masih basah sehabis keramas. Tetesan air dari rambutnya membasahi dada bidang Dirga. Ada perasaan menggelitik nakal di tubuhnya ketika air dari rambut Niana yang basah menetes di tubuhnya.
Mereka pun saling berpandang di bawah cahaya senter ponsel Niana. Di luar rumah hujan terdengar seperti sedang bersahut sahutan begitu derasnya, di dalam rumah terdengar dua jantung yang seolah-olah sedang berlomba berdetak sekencang kencangnya. Tiba-tiba listrik pun menyala yang membuat mereka saling memisahkan diri dari pelukan hangat tadi. Niana pun langsung memejamkan matanya dan Dirga segera memakai bajunya.
"Rambutmu masih basah biar aku bantu keringkan" bisik Dirga dari belakang tepat di telinga Niana yang masih memejamkan mata
"Tidak usah aku mau tidur saja, boleh kah aku tidur di kamarmu, aku takut mati lampu lagi" ucap Niana
"Boleh tapi ada syaratnya" ucap Dirga yang mulai duduk di atas kasurnya
"Apa syaratnya"
"Duduklah kemari" ucap Dirga sambil menepuk-nepuk kasur
"Kenapa masih bengong kemarilah, jangan berpikiran kotor aku hanya ingin mengeringkan rambutmu" ucap Dirga sambil mengambil hairdryer di rak almari kecil samping kasurnya
"iya" ucap Niana
Dirga pun mulai mengeringkan rambut Niana, aroma wangi samphonya membuat Dirga ingin menciumi rambutnya. Setelah rambut Niana kering, Dirga mulai mengantuk karena efek obat yang masih harus dikonsumsinya. Di malam yang dingin itu mereka tidur di kasur yang sama. Bagi Dirga seharusnya itu adalah malam pertama mereka setelah menikah. Tetapi tidak untuk Niana yang sadar bahwa mereka hanya melakukan pernikahan palsu.
Niana membelitkan tubuhnya dengan selimut yang tebal. Niana tidak bisa tidur dan terus terjaga karena takut Dirga akan berbuat macam-macam. Tiba-tiba Dirga menggeser tubuhnya mendekati Niana, hingga tubuh Niana di pinggir bibir kasur hampir terjatuh. Lalu Dirga segera menangkapnya dan memeluknya dengan mata yang masih terpejam. Niana pun jadi susah bergerak apalagi tubunya terlilit selimut tebal. Akhirnya sampai pagi Niana tidur di peluk Dirga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Produksi Handle Kayu
Niana dag dig dug der dong lagi-lagi masalah kancing
2023-09-15
0
Produksi Handle Kayu
gara2 salting jd lupa
2023-09-15
0
faridah ida
pas bangun pasti teriaakk ini Niana ...😁😁😜
2023-09-05
0