Setelah mereka semua pulang, Dirga menuju ke dapur dan mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat pudding. Sebuah panci diletakannya di bawah keran dan mengisinya dengan air. Dia sibuk di dapur tetapi pikirannya kemana mana. Memikirkan ucapan Aska tadi membuat Dirga berjanji tidak ingin menyakiti Niana. Karena dia tidak ingin Aska mengambil Niana darinya.
"Apa yang kamu lakukan" seru Niana sambil mematikan kran air yang membanjiri dapur
Pikiran Dirga membuatnya tidak bisa berkosentrasi sampai tidak melihat air dalam panci sudah penuh dan tumpah-tumpah memenuhi wastafel dan mengalir jatuh ke lantai.
"Niana kelak katakanlah kalau ada sikapku atau perkataanku yang tidak kau sukai. Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Karena kalau hatimu terluka maka hatikulah yang lebih sakit karena telah menyakitimu" ucap Dirga
"Sebesar itukah perasaanmu pada tunanganmu yang sebenarnya. Seandainya Dirga yang aku kenal sepertimu saat ini dan belum punya tunangan. Pasti aku sangat bahagia. Tetapi kau milik orang lain. Maafkan aku sudah berpura-pura jadi tunanganmu. Aku tidak ingin kamu semakin membenciku kalau kau tahu semuanya" batin Niana
"Niana...niana.. Apa yang kamu pikirkan, apakah aku bersalah padamu?" ucap Dirga memegangi pundak Niana yang tengah melamun
"Baiklah akan ku katakan aku tidak menyukai semua ini tolong kembalilah ke asalmu Tuan Tengil, kau hampir saja membuat rumahku banjir malah omong kosong yang kau katakan. Lelah sekali seperti ini hiks hiks...." batin Niana yang sudah stres dengan keadaanya
"Aku tidak suka kau bersikap manis pada ku. Maksudku rumahku hampir banjir, sekarang tolong kamu bersihkan lantainya" ucap Niana
Dirga pun melihat lantai di sekitar tempatnya berdiri basah. Dia baru sadar kalau menumpahkan air sampai kemana-mana. Bahkan bajunya pun ikut basah kena cipratan air.
"Maaf Niana aku tidak tahu, aku akan segera membersihkannya"
"Oke, gantilah bajumu yang basah kuyup"
Setelah mengepel lantai Dirga mengganti bajunya yang basah.
"Tunggu... duduklah, kanapa mau masak pake kemeja lengan panjang. Biar aku bantu gulung kemejamu" ucap Niana yang sedang duduk di kursi ruang makan
"Baiklah"
"Apakah semua baju orang kaya seperti Tuan Sanjaya ini satu lemari isinya kemeja semua, kenapa tiap hari memakai kemeja, aku tidak pernah melihatnya pakai kaos santai sekalipun" batin Niana
Niana mulai menggulung lengan kemeja Dirga. Dia begitu telaten menggulungnya dengan rapi. Karena lengan yang sudah tergulung itu kemungkinan akan terbuka dan jatuh lagi saat dipakai beraktifitas sehingga akan mengganggu Dirga saat memasak, Niana pun melepas ikat rambutnya yang sedang dipakai untuk mengikat lengan kemeja Dirga yang sudah tergulung. Dirga pun menatap Niana penuh cinta. Setelah kedua lengan baju sudah selesai diikat, Niana menatap Dirga dengan senyuman manisnya.
"Sudah selesai" ucap Niana
"Aku lebih suka rambutmu terurai begini, kamu kelihatan cantik" ucap Dirga menyibakan rambut Niana yang menutupi sedikit wajahnya ke belakang telinga
Niana jadi salah tingkah lalu mengepang rambutnya lagi.
"Aku juga suka rambutmu dikepang karena wajahmu menggemaskan saat dikepang" bisik Dirga ke telinga Niana yang posisi kursinya sangat dekat
Jantung Niana berdebar kencang sampai tak kuasa mengendalikannya. Dirga pun tersenyum manis melihat wajah Niana tersipu malu menuju dapur. Akhirnya Niana pun hanya asal menggulung-gulung rambutnya lalu mengikat sekenanya
"Kalau rambutmu seperti itu terlihat hemmmmm" bisik Dirga dari belakang Niana yang sedang menghidupkan kompor
"Omong kosong apa sih dan apa maksudnya terlihat hemmm. Menyebalkan sekali" batin Niana yang diliput hawa panas dingin
Di dapur mereka berdua begitu sibuk. Dapur itu mengarah ke taman depan rumah.Mereka berdua sedang asyik mengaduk-aduk cairan pudding dalam panci yang sudah mendidih di atas kompor. Ada jendela cukup besar yang menghadap ke taman tepat di hadapan mereka. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil gambar dan vidio mereka. Akhirnya 500 pudding pun telah selesai dibuat.
Di apartemen mewahnya, Aska benar-benar marah, saat sampai di kamar dia melempar jaz nya ke atas kasur dengan keras. Lalu dia duduk di pinggir kasur dan menghempaskan punggungya ke kasur menatap langit-langit apartemennya. Dia masih sangat kesal dengan kata-kata Dirga. Apalagi Dirga adalah putra Sanjaya Grub, tentunya Aska tahu bagaimana kekuasaan Sanjaya Grub yang begitu besar dalam dunia bisnis. Bahkan perusahannya hampir tersebar di seluruh Indonesia, belum yang aset-asetnya yang di luar negeri. Aska juga tidak mampu melawanDirga untuk saat ini karena akan berdampak pada perusahaan yang baru dirintisnya. Dia yakin kelak Dirga akan menyakiti perasaan Niana setelah sembuh dari amnesianya. Dia bingung harus berkata apa pada ayahnya. Tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk.
"Halo Aska, apakah kamu sudah menemui Niana" ucap Pak Hadi melalui ponsel
"Iya yah"
"Lalu"
"Niana sudah menikah dengan laki-laki itu. Namanya Dirga, dia adalah putra Sanjaya Grub"
"Apa...? Bagaimana mungkin putra Sanjaya Grub mau menikah dengan Niana yang hanya orang biasa" batin Pak Hadi kaget seolah tidak percaya. Pak Hadi tentunya tau tentang bagaimana kekuasaan dan kekayaan Sanjaya Grub dalam dunia bisnis.
"Halo ayah, apa ayah baik-baik saja?" ucap Aska pada ayahnya yang tiba-tiba terdiam membisu tetapi panggilannya masih menyala
Ucapan Pak Hadi terhenti tak mampu melanjutkan perkataannya. Dia tidak percaya putra Sanjaya Grub menikahi putrinya yang hanya hidup sebatang kara tanpa orang tua dan tinggal di rumah yang begitu sederhana. Apalagi putrinya begitu polos. Dia takut kalau suatu saat putra Sanjaya Grub itu hanya akan menyakiti putrinya.
"Halo Aska, apakah kamu tahu mengapa Niana menikah dengannya?"
"Laki-laki itu sedang amnesia kata Niana"
"Apa? Lalu apa hubunganya dengan Niana. Apakah dia hanya pura-pura amnesia"
"Aska juga tidak tau yah, Aska tidak bisa bertanya banyak karena Niana belum mau bicara"
"Ayah minta tolong jaga Niana, jangan biarkan laki-laki itu menyakitinya"
"Baik yah"
Pagi-pagi sekali Niana sudah bersiap-siap mau ke toko. Dirga terlihat santai, tidak berjualan di taman untuk hari ini. Dia mau fokus dulu mengurus 500 pesanan pudding untuk acara ulang tahun yang akan diantar siang nanti.
"Aku pergi ke Yayasan Peduli Pendidikan Anak Indonesia dulu, hari ini aku tidak ke toko. Jaga rumah baik-baik kalau ada orang tidak dikenal segera tutup semua pintu" ucap Niana yang teringat beberapa hari yang lalu ada orang yang mengawasinya
"Baiklah, kamu pulang jam berapa" tanya Dirga yang sedang menyirami bungan di taman
"Aku akan pulang lebih awal, nanti aku bantu kamu antar puddingnya setelah pulang dari yayasan" seru Niana yang terburu-buru
"Tunggu sebentar" ucap Dirga
"Ada apa?"
"Kamu habis minum kopi? ini creamernya kenapa belepotan di pipi?" ucap Dirga sambil membersihkan pipi Niana
"Bagaimana apakah sudah bersih?"
"Istriku memang menggemaskan" ucap Dirga sambil mengusap-usap hidung mancung Niana dengan belakang jari telujuknya
"Aku berangkat dulu" ucap Niana segera pergi sebelum wajahnya yang putih terlihat kemerahan karena malu
Di teras depan Dirga sedang bersih-bersih menyapu seluruh taman. Ketika dia merapikan bunga-bunga dalam pot. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu gerbang. Dirga membuka pintu dan terlihat seorang laki-laki tua yang dikawal oleh dua laki-laki berkepala botak. Lelaki tua itu berdiri menatap Dirga dengan sorotan tajam dari atas ke bawah. Lalu lelaki tua itu langsung masuk mengabaikan Dirga yang ada di depannya, kemudian melihat sekeliling dan duduk di kursi taman.
"Maaf Pak ada siapa dan sedang mencari siapa?" tanya Dirga
"Saya Hadi Permana, seharusnya saya yang bertanya, kamu siapa dan kenapa berada di rumah Niana?"
"Saya suami Niana, pak?
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Pak Hadi geram karena mengira Dirga hanya pura-pura amnesia
"Apa maksud bapak?" tanya Dirga bingung
"Tidak usah bertele-tele katakan apa maksudmu mendekati putriku"
"Jadi dia ayahnya Niana" batin Dirga langsung meraih tangan lelaki tua itu dan menciumnya tetapi lelaki itu menarik tangannya, seperti tidak suka
"Duduklah pak, saya ambilkan minum dulu" ucap Dirga sedikit bingung dengan sikap ayahnya Niana.
Dirga segera menuju dapur, dia mengambil cangkir yang sering dipakai Niana minum. Dirga tidak tahu kalau itu cangkir kesayangannya Niana. Mungkin jika memakai cangkir itu, sikap ayahnya Niana akan sedikit baik padanya.
"Ayah minumlah dulu" ucap Dirga membawa nampan yang berisi 2 cangkir minuman
"Jangan panggil saya ayah, saya bukan ayahmu" ucap Pak Hadi lalu mengambil cangkir itu dan meminumnya.
"Maaf saya tidak mengenali anda karena Niana lebih sering memceritakan ibunya daripada ayahnya. Bahkan dia hanya menunjukan foto ibunya saja" ucap Dirga
Pak Hadi tiba-tiba menyemburkan air yang diminumnya karena merasa tersinggung dengan ucapan Dirga. Seolah Dirga ingin menegaskan kalau Niana tidak menyukai ayahnya.
"Apa maksudmu anak muda, jaga ucapanmu" ucap Pak Hadi
"Sepertinya hubungan anda dengan Niana kurang baik" jelas Dirga pada Pak Hadi
"Hubungan saya dengan putri saya bukan urusan anda. Langsung saja katakan apa maksudmu mendekati putri saya?"
"Tidak ada maksud apa-apa, saya menyayangi putri bapak"
"Kamu jangan berpura-pura, saya tau anda siapa"
"Saya mengatakan yang sebenarnya" bantah Dirga
"Baiklah, sekarang katakan apa yang harus saya lakukan agar anda meninggalkan putri saya sekarang" titah Pak Hadi
"Kata Niana saya memang pernah menyakitinya tapi sekarang saya sudah berubah, saya tidak akan meninggalkannya"
"Omong kosong, awas kalau saya tahu anda menyakiti putri saya. Tak akan ku biarkan lagi kamu mendekatinya satu langkah pun. Jangan pikir saya tidak tahu siapa kamu" ancam Pak Hadi
"Saya benar-benar menyanyangi Niana dan tidak akan pernah meninggalkannya"
"Omong kosong cih...! Saya yakin anda akan menyakiti putri saya. Jadi lebih baik segera tinggalkan dia sekarang"
"Pak Bos putri anda datang" seru Boni yang berjaga di pintu gerbang
"Kalian siapa?" ucap Niana yang sudah berada di depan pintu gerbang, bingung dengan dua laki-laki yang berkepala botak berdiri seperti patung selamat datang di pintu gerbang rumahnya
"Aku peringatkan sekali lagi, jauhi putri saya" ucap Pak Hadi sambil mencengkram kerah baju Dirga dengan ke dua tanganya
"Apa yang anda lakukan" ucap Niana yang berdiri di belakang ayahnya
Pak Hadi langsung menoleh ke belakang dan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Dirga. Niana pun kaget setelah melihat siapa orang yang ada di hadapannya sekarang. Bibirnya gemetar menahan amarah, sakit hati dan air mata mengingat sikap lelaki tua di hadapanya.Rasa sakit itu tiba-tiba terasa kembali mengiris-iris hatinya.
"Kenapa dia bisa ada di sini" tanya Niana pada Dirga lalu langsung melangkah dan berdiri di depan Dirga untuk melindungi Dirga dari ayahnya
"Niana...putri kecil ayah, kamu sudah dewasa nak" ucap Pak Hadi sambil mengusap air matanya
"Pergi anda dari sini, saya tidak mengenal anda" ucap Niana
Lalu Dirga langsung memegang bahu Niana agar Niana bisa menenangkan diri. Melihat Dirga memegang bahu Niana, Pak Hadi ingin marah dan melirik ke arah tangan Dirga memberi isyarat agar melepaskan tangannya dari bahu putrinya.
"Lepaskan tanganmu dari bahu putriku" seru Pak Hadi
"Niana.. ayah ingin bicara sebentar" pinta Pak Hadi
"Pergi....!! Kamu bukan ayahku pergi...! Niana melempar kursi plastik yang ada di taman ke arah ayahnya
"Niana dengarkan ayah laki-laki itu tidak baik untukmu. Tinggalkan dia" titah Pak Hadi yang melangkah mundur perlahan-lahan
"Anda tidak perlu khawatir, kalau dia tidak baik maka saya akan meninggalkannya seperti saya meninggalkan anda" tegas Niana
"Niana... ayah hanya takut suatu saat kamu akan sakit karena laki-laki itu. Ayah tahu siapa laki-laki itu" ucap Pak Hadi
"Kenapa ayahnya Niana sepertinya yakin aku akan menyakitinya. Apa yang dia tahu tentangku. Apakah aku punya kesalahan besar" batin Dirga
"Pergi cepat..!" seru Niana lagi dengan melempar sapu lidi, serokan sampah dan apa saja yang bisa dilempar untuk mengusir ayahnya. Dirga pun segera menahan tangan Niana agar emosinya mereda.
"Bos ayo kita pergi, tuan putri suasana hatinya sedang tidak baik" bisik Boni
"Be... bebetul bos" timpal Mondi
"Baiklah ayah akan pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik" ucap Pak Hadi sambil melirik tajam ke arah Dirga
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
faridah ida
ribet banget ini bapak nya Niana ...🤦
2023-09-05
1