"Selamat datang Niana Zatunissa"
Suara panitia acara itu terdengar begitu keras sehingga, semua teman yang sudah hadir menoleh ke arah Niana.
Setiap peserta acara reuni yang datang memasuki ruangan disebutkan namanya melalui mikrofone oleh panitia agar para peserta yang sudah datang bisa tahu siapa teman-temanya yang baru datang. Karena sudah 13 tahun tidak berjumpa, pasti mereka sudah banyak perubahan.
"Niana..." teriak temannya sambil melambaikan tangan ke arah Niana
"Icha.... apa kabar" Niana pun berpelukan dengan teman sebangkunya waktu SD
"Baik, kamu kemana saja tidak ada kabar sama sekali sejak lulus SD"
"Iya betul, sekarang cantik banget dimana rambut kepangmu. Biasanya kan selalu dikepang" ucap salah satu temannya
"Apanya yang cantik biasa saja tu. Maaf ya Niana kalau aku jujur" ucap Jesika teman yang selalu merasa dirinya paling wah di sekolah
"Yup betul Jes, baju sepatu dan semuanya juga tidak terlihat mahal dan bermerk walau terlihat lumayanlah dengan tempelan perban ha ha ha" timpal Cindy teman sebangku Jesika waktu SD
"He he aku bosan dikepang. Apa kalian mau nostalgia mengepang rambutku?" ucap Niana seakan tidak mendengar kata-kata Jesika dan Sindy
"Boleh tu, kita nostalgia tentang kejadian waktu SD dulu gimana, mumpung yang lain belum datang" ucap temanya yang lain
"Kira-kira Dirga datang tidak ya, Sin?"
"Mungkin si rambut kepang ini mau nostalgia di usilin Dirga, ingat tidak waktu Dirga nendang bola kena matanya. Si rambut kepang sampai mau nangis tapi ditahan ha ha ha" kata Jesika
"Ha ha ha tidak kebayang tu sakitnya kayak apa" seru Sindy tertawa
"Lebih baik kita cari ruangan lain karena banyak polusi di sini, mumpung semua belum hadir" ucap Niana
"Iya aku ikut juga dong"ucap beberapa teman laki-laki dan teman wanita yang sefrekuensi dengan Niana
"Jes, kita dibilang polusi sama si kepang" ucap Sindy
Niana dan beberapa temenyanya meninggalkan Jesika dan Sindy, mencari ruang yang lebih tenang untuk bernostalgia.
"Nanti kita kerjai Niana kalau Dirga datang, kita minta sama panitia bikin acara tentang nostalgia. Kita suruh semua menulis nama semua teman dan memasukannya ke dalam toples kaca. Terus kita suap panitia biar memilih nama Dirga dan Niana saja" ucap Jesika
"Jadi siapapun nama yang terpilih, panitia akan tetap membaca nama Dirga dan Niana saja gitu" ucap Sindy
"Yups... tau sendiri kan selama sekolah Dirga sama Niana itu tidak pernah ngomong sepatah kata pun. Mungkin karena Dirga emang benci sama Niana. Dan diantara mereka hanya ada kenangan yang tidak menyenangkan untuk Niana. Otomatis Dirga pun hanya akan menunjukan keusilanya pada Niana di acara nostalgia nanti" kata Jesika
"Tapi apa mungkin orang kaya seperti Dirga akan datang di acara ini" tanya Sindy
"Kalau Dirga tidak datang tetap yang dipilih panitia nama Dirga dan Niana. Tar kita minta panitia menunjuk teman lain buat gantiin peran Dirga hahaha" ucap Jesika
"Pinter juga kamu Jes" ucap Sindy
Begitulah sifat Jesika tidak pernah berubah baik ke Niana. Mungkin karena Niana dulu pendiam jadi gampang ditindas.
Ting tung ting tung terdengar suara bel pintu hotel.
"Hai bro, apakah sudah siap. Kalau sudah ayo kita turun" sapa Toni
"Bukankah acara reuni ada di hotelmu. Kenapa buru-buru?"
"Tidak buru-buru juga sih, hanya saja kita pasti yang datang paling akhir nanti. Ini udh jam 9 lebih"
"Sebentar aku ambil jaz dulu" ucap Dirga
"Kamu tetap tampan sempurna bro pakai bajuku, walau kurang panjang dikit celananya"
"Thank you bro sudah minjemin kemeja, celana, jaz, sepatu dan jam tangan yang mahal ini"
"Bro kau mau menghina ku atau berterima kasih. Pasti koleksi baju dan asesorismu lebih mahal" ucap Toni merangkul pundak Dirga sambil berjalan menuju ruang reuni
"Oh iya aku minta jangan bilang sama teman-teman kalau aku sudah menikah dengan Niana. Aku ingin lihat reaksi Niana kalau bertemu aku nanti seperti apa"
"Oke. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bisa menikah dengan Niana. Padahal waktu SD sepertinya kenanganmu dengan Niana tidak begitu baik. Bukankah kau suka menindasnya?"
"Apa? Memangnya apa saja yang pernah aku lakukan padanya. Mungkin aku sudah lupa. Bisa kah kau ceritakan" tanya Dirga
"Yang aku ingat tidak banyak sih, aku kasihan padannya waktu kamu menendang bola kena matanya. Itu pasti sakit banget, sampe dia tidak masuk sekolah selama seminggu"
"Benarkah apa yang dikatakan Toni, sejahat itukah aku sama Niana" batin Dirga
"Apakah dia menangis ketika tendanganku kena matanya" tanya Dirga
"Mungkin dia menahan tangisnya tapi yang pasti matanya sakit banget. Kamu memang benar-benar usil banget waktu SD"
"Kenapa dia tidak membalasku waktu itu"
"Dia kan orangnya pemalu dan pendiam, kalian saja belum pernah saling bicara satu patah kata pun selama 6 tahun sekelas di sekolah yang sama"
"Aku jadi merasa sangat bersalah pada nya"
"Ha ha ha jadi kau menikah dengannya karena merasa bersalah sudah menindasnya waktu SD?"
"Sembarangan, aku benar-benar mencintainya"
"Seingatku dia juga kurang cantik dan selalu mengepang rambutnya"
(Visual Niana saat SD)
"Mungkin matamu waktu SD rabun kali, awas saja kalau kau meliriknya. Kalau kau bicara denganya maka kau harus jaga jarak 2 meter"
"Memangnya kenapa harus jaga jarak 2 meter. Satu langkah di depannya saja aku tidak tertarik"
"Karena dari 2 meter itu kalau kau maju selangkah Niana akan terlihat manis, 2 langkah terlihat cantik, 3 langkah menggemaskan, 4 langkah kau bisa jatuh cinta. Dan itu tidak akan ku biarkan" jelas Dirga
"Oke. Aku akan jaga jarak 2 meter. Ternyata jatuh cinta beneran membuat orang gila, Bahkan orang yang ditindas sekarang seperti berlian"
"Ingatlah kataku, mungkin kau yang akan gila beneran. Karena bukan cuma berlian saja bagiku dia itu seperti tumpukan berlian"
Acara reuni pun sudah dipenuhi banyak orang. Niana dan teman-temanya masih bercerita tentang nostalgia ketika di SD dulu. Di dalam ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat itu mereka satu persatu menceritakan nostalgia tentang kejadian paling menyedihkan atau paling menyenangkan tergantung undian yang didapat.
"Selamat datang Dirga Bustoni Sanjaya dan Fatoni Ardiansyah"
Terdengar ucapan selamat datang untuk Dirga dan Toni yang sedang memasuki ruangan. Semua arah mata tertuju kepada dua orang laki-laki itu. Tetapi suara itu tidak terdengar jelas di tempat Niana bernostalgia dengan teman-temannya.
"Jes, Dirga datang, ya Tuhan tampan sekali dia" ucap Sindy terpesona
"Siapa yang tampan?" sindir Jesika pada Sindy yang sedang melotot melihat Toni
"Dirga memang tampan tiada banding, tapi aku tak kan mampu menggapainya. Kamu saja tidak akan bisa apalagi aku. Jadi Toni yang tertampan di hatiku. Kalau Toni masih mungkin bisa ku rayu" ucap Sindy
Jesika dan Sindy pun menghampiri mereka.
"Hai Dirga Toni, apakabar?" sapa Jesika dan Sindy bersamaan
"Hai kalian Jesika dan Sindy kan?" jawab Toni menyabut jabatan tangan mereka
Dirga tidak menanggapi mereka sama sekali karena Dirga masih amnesia jadi tidak kenal mereka. Bahkan semua teman-temanya yang ada di dalam ruang itu tidak ada yang dikenalnya kecuali Toni. Matanya terlihat mencari-cari seseorang.
"Hai Dirga apa kabar" sapa Jesika sambil mengulurkan tangannya
Dirga hanya melirik tangan Jesika dan berkata baik tanpa mau menjabat tanggannya. Matanya tetap sibuk mencari seseorang.
"Apakah Niana sudah datang" tanya Dirga pada mereka
"Si kepang culun itu ada di ruangan sana. Mungkin sedang bernostalgia ala rakyat jelata yang sedang ditindas karena di ruangan itu isinya kaum-kaum tertindas sedang berkumpul ha ha ha" ucap Sindy
Dirga pun segera menuju ruangan itu tidak menanggapi ucapan Sindy. Toni mengikutinya dari belakang. Waktu menuju ke ruangan yang ditunjuk Sindy entah dimana pastinya ruangan itu karena ruangnya banyak dan cukup besar. Dirga melihat seseorang yang bersikap mencurigakan menuju ruang panitia. Dirga dan Toni mendengar pembicaraan mereka, orang yang bersikap aneh itu ternyata orang suruhan Jesika dan Sindy. Setelah selesai berbicara orang suruhan itu memberi sebuah amplop besar pada panitia.
Lalu mereka melanjutkan berjalan, setelah orang suruhan itu meninggalkan ruang panitia. Langkah Dirga terhenti saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Lalu dia melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka itu sambil menguping bersama Toni.
"Aduch sakit... perih sekali mataku. Ibu sakit sekali" ucap Niana yang matanya dilempar dengan kertas kecil yang diremas-remas berbentuk bulat
"Niana kamu tidak apa" tanya Icha
"Sakit banget... Aku tidak bisa buka mata" ucap Niana pura-pura kesakitan
"Sabar Niana, Dirga memang keterlaluan. Kalau aku berani sudah kutendang balik dia" ucap teman laki-lakinya yang badannya gendut bernama Boby
"Mana berani kau menendang balik, badan saja yang besar tapi nyali tidak ada" timpal salah satu teman yang lain
"he.. he.. he... " Boby senyum menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Kira-kira kalau Dirga yang ditendang pakai bola gimana ya reaksinya" tanya Icha
"Mungkin begini, Aku pastikan, dia tidak akan mendapat pekerjaan dimanapun. Bahkan mukanya akan ku ratakan seperti bola ini" ucap Niana yang sedang akting menjadi Dirga sambil berkacak pinggang
"Ha ha ha ha... " semua teman di ruangan itu tertawa melihat akting Niana
"Benarkah aku seperti itu" ucap Dirga yang tiba-tiba masuk bersama Toni
Suasana yang tadinya dipenuh gelak tawa jadi hening. Niana pun diam tak bergeming.
Tatapan Dirga tajam sekali ke arah Niana. Semua teman yang ada di ruang itupun langsung berhenti tertawa sampai kesulitan menelan ludah. Toni yang ada di belakang Dirga pun memberi intruksi kepada semua teman Niana untuk keluar dari ruangan itu. Niana pun juga mau beranjak pergi dari ruang itu.
"Mau kemana kamu? Tetap ditempat" titah Dirga
"Oh Niana apakah ini hari kematianmu, matanya benar-benar menakutkan. Hei Toni apakah itu kau, tolong selamatkan aku dari Dirga kenapa kau malah berdiri seperti memotret ku?" batin Niana ketakutan karena dia mengira ingatan Dirga sudah kembali
Dirga terlihat sangat marah dia menyandarkan kedua tangannya diatas meja dan menatap tajam ke arah Niana.
"Jawab Niana apakah aku benar seperti itu"
"Bro, Niana menggemaskan sekali" bisik Toni ke telinga Dirga sambil menunjukan foto Niana yang baru saja diambilnya dengan ponsel
Waktu Dirga mau merebut ponsel, Toni segera berlari ke luar ruangan. Dirga tidak rela Toni mengambil foto Niana secara diam-diam lalu mengejar Toni secepatnya.
"Untung Dirga sudah pergi, kenapa Dirga sepertinya marah sekali. Apakah Dirga marah dan menyusul ku ke sini atau Dirga sudah sembuh dari amnesianya dan ingat semuanya lalu mau melakukan perhitungan denganku. Oh Niana kamu bisa mati hari ini. Sebaiknya aku tanya Mr Ken"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
faridah ida
semoga amnesia Dirga agak lama sembuh nya ,biar baik terus sama Niana ...😁😁😁
2023-09-05
0