Azan magrib pun sudah berkumandang Niana menuju mushola RS untuk solat dan berdoa menenangkan hatinya merenungi sikapnya ke Ibu Arini. Mungkin ada kesalahpahaman antara dia dengan Ibu Arini. Setelah selesai solat, Niana membeli roti dan air mineral, lalu segera kembali ke ruang Ibu Arini. Ternyata Ibu Arini sudah sadar. Ibu Arini kondisinya sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Liana sudah menceritakan semua yang terjadi pada mamanya.
"Niana.... " ucap tante Arini
"Tante, bagaimana keadaan tante?" tanya Niana
"Tante baik-baik saja Niana"
"Maafin Niana tante.. Kenapa tante menolong Niana sampai tante seperti sekarang"
"Tante akan melakukan apapun demi kamu Niana. Karena tante sudah berjanji pada ibumu untuk menjaga amanahnya"
"Maksud tante" ucap Niana sambil menangis
"Niana, waktu kecelakaan itu. Ibumu meminta tante untuk melepas sabuk pengamannya karena posisi mobil tidak seimbang dan tidak akan bertahan lama kalau bebannya terlalu berat. Ibu mu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kita. Kalau ibumu tidak berkorban makan semua akan mati waktu itu termasuk ayahmu yang menahan jok mobil belakang. Hanya ibumu saja yang posisinya bisa mengurangi beban mobil. Waktu itu kamu pingsan, ketika kamu setengah sadar kamu melihat tante melepas sabuk pengaman ibumu karena posisi ibumu yang sulit untuk melepasnya sendiri. Tante pun juga berat hati melakukannya. Tetapi demi keselamatanmu, ibumu rela jatuh ke jurang untuk mengurangi beban mobil. Sebelum menjatuhkan diri ke jurang, ibumu berpesan agar tante merawatmu seperti anak sendiri dan menyuruh tante menikah dengan ayahmu" kata tante Arini
"Maafin Niana tante udah salah paham selama ini sama tante" ucap Niana duduk di samping bed sambil memegang tangan Ibu Arini
"Tidak apa-apa Niana, yang penting semua sudah jelas. Sekarang Ibu Arini ini juga mamamu nak. Jangan panggil tante lagi oke"
"Terima kasih mama" ucap Niana sambil memeluk Ibu Arini dan Liana
"Oh iya Niana, kamu nanti pulanglah ke rumah. Mama akan menyuruh pelayan rumah untuk memepersiapakan kamarmu"
"Iya kak, pulanglah ke rumah, biar Liana punya temen" ucap Liana
"Maaf ma untuk saat ini, Niana belum bisa pulang. Niana di Surabaya untuk ziarah ke makam dan datang ke acara reuni sekolah. Sementara Niana tinggal di hotel. Dan besoknya harus terbang ke Jakarta lagi"
"Kenapa Tidak pulang ke rumah saja Niana?" ucap mama Arini
"Di Jakarta Niana punya toko ma, jadi Niana juga harus mengurusnya. Niana janji kalau ada waktu akan sering pulang ke rumah"
"Oh iya, besok kamu reuni jam berapa?"
"Baik ma, reuninya jam 9 pagi. Besok pagi-pagi sekali Niana pulang ke hotel dulu. Ganti baju terus ke RS lagi sampai ayah datang"
"Baiklah, besok biar ayahmu yang menjaga mama, kamu pergilah ke acara reunimu"
Perasaan Pak Hadi saat ini antara mau sedih atau bahagia setelah mendengar kabar dari Aska. Istrinya sedang kecelakaan dan tidak bisa berjalan sementara, sedangkan di sisi lain putrinya sudah mulai berbaikan dengan ibu sambungnya. Pak Hadi sedang menuju RS dengan mobilnya bersama Boni dan Mondi. Pak Hadi benar-benar sedang dilanda bingung, sedih, bahagia dan grogi bagaimana ketika nanti berhadapan dengan Niana. Karena sejak 13 tahun tidak bertemu bahkan tidak berkomunikasi juga.
"Bon-bon Mon-mon, Bagaimana penampilanku saat, apakah Niana akan menyukaiku dengan penampilanku sekarang" ucap Pak Hadi yang berpakaian rapi dengan jaz dan dasi
"Ke... kekeren bos" ucap Mondi
"Tuan putri pasti bangga sama bos" kata Boni
Pak Hadi langsung menyerahkan 2 lembar uang kertas berwarna merah) pada mereka. Pak Hadi yang kelihatannya galak sebenernya baik hati. Walaupun anak buahnya itu selalu membuat kesal tetapi mereka sudah dianggap seperti teman oleh Pak Hadi.
Dulu pak Hadi hanya karyawan biasa, setelah menikah dengan Ibu Arini yang mantan suaminya seorang dokter spasialis bedah sekaligus profesor di Jerman sana meninggalkan banyak warisan, hidup Pak Hadi jadi berubah menjadi orang cukup kaya di kota Surabaya, bahkan mempunyai beberapa perusahan besar di sana. Hal itu bukan serta merta dari harta Ibu Ariani saja, tetapi juga dari semangatnya untuk bekerja keras mendirikan dan mengembangkan perusahaan yang dirintisnya dari nol.
"Bos, ja...jaadi ki.. kikita balik Surabaya la.. lagi" ucap mondi
"Iya... Bon-bon mon-mon saya akan bertemu lagi dengan putriku. Kira-kira saya harus bagaimana?"
"Jadi kita udah gak memata-matai tuan putri lagi bos" ucap Boni
"Kalian itu... Saya tanya apa malah balik tanya? Dasar botak" ucap Pak Hadi sambil memukul kepala botak Mondi dan Boni yang duduk di kursi depan
"Maaf bos, habisnya kita dari kemarin bolak balik Jakarta-Surabaya-Jakarta-Surabaya. Udah mirip apa ya Mon kita?" ucap Boni
"Be... bebetul Bon, ki.. kikita udah mirip see...sese....." timpal Mondi
"Semut" kata Boni
"Bu.. bubukan"
"Sendal" kata Boni lagi sambil fokus menyetir
"Mirip setrikaan" timpal Pak Hadi
Plak.. Plak....!! Tiba-tiba tangan pak Hadi mendarat di kepala botak mereka walau tidak begitu sakit tetapi membuat mereka mengelus-elus kepala.
"Kalian itu bukannya jawab pertanyaan saya malah ngobrol sendiri"
"Iiiya... bos maaf " ucap Mondi
"Jadi pertanyaan bos tadi apa?" tanya Boni
"Punya anak buah satu gagap satunya pelupa buat pusing semua. Lebih baik saya beli buket bunga untuk Arini dan Niana untuk menyambut kepulangannya" batin Pak Hadi
Sampai di RS, jantung Pak Hadi semakin berdetak kencang seperti saat pertama kali menyambut kelahiran Niana. Mungkin baginya hari ini seperti kelahiran Niana yang ke dua karena sudah 13 tahun tidak berpisah dan sekarang Niana sudah tumbuh dewasa, cantik bahkan mampu hidup mandiri dengan usahanya sendiri. Pak Hadi benar-benar bangga pada Niana.
"Niana... putriku" suara Pak Hadi yang sudah berada di kamar ibu Arini bersama Mondi dan Boni
"Ayah... " seru Niana sambil berlari memeluk ayahnya
"Niana putri ayah, akhirnya kamu pulang" ucap Pak Hadi sambil mengelus kepala Niana
"Maafin Niana yah" ucap Niana terisak meneteskan air mata
"Ayah yang banyak salah sama kamu nak. Selama 13 tahun ayah tidak bisa merawatmu, selama itu juga hati ayahmu tidak pernah tenang memikirkan hidupmu di luar sana sendirian" ucap Pak Hadi yang tak kalah sedihnya
"Maaf sudah membuat ayah khawatir selama 13 tahun"
"Ini bunga untuk putri ayah karena sudah kembali lagi" ucap Pak Hadi sambil menyerahkan mawar pink kesukaan Niana
"Terima kasih Ayah" Niana pun mengecup pipi ayahnya
"Ehemm" suara ibu Arini akhirnya menyadarkan ayah dan putrinya yang sedang berkangen-kangenan
"Oh iya istriku, ini bunga mawar merah untukmu. Bagaimana keadaanmu?" kata Pak Hadi
"Sudah lebih baik sayang" ucap ibu Arini
"Hore keluarga kita sudah kumpul lagi" teriak Liana sambil bertepuk tangan
"Niana kamu sudah dewasa sekarang, dulu terakhir ayah melihat putri ayah masih kecil mungil seperti Liana. Tetapi setelah 13 tahun sudah berubah jadi cantik sekali. Sepertinya Kamu juga berdandan secantik ini untuk menyambut ayah" ucap Pak Hadi percaya diri
"Hemm, Niana itu mau pergi ke acara reuni SD nya makanya dia berdandan cantik" ucap ibu Arini
"Mon-Bon Bon-Bon bukankah sama saja menyambut saya datang atau pergi ke reuni. Niana juga terlihat cantik sekali dengan dandannya" ucap pak Hadi menutupi rasa malunya
"Iiiya bos.. No...nonona Niana sama cantiknya" ucap Mondi
"Iya bos tepatnya lebih cantik dandannya untuk acara reuni" timpal Boni
Ibu Arini, Niana dan Liana pun hanya menahan tawa melihat ayahnya yang salah tingkah karena malu. Apalagi Boni dan mondi malah memperjelas ucapan ibu Arini.
"Oh iya, ini sudah jam setengah sembilan, Bon-Bon Mon-Mon tolong antar Niana ke acara reuni" ucap Pak Hadi
"Tidak usah yah, Niana bisa berangkat sendiri"
"Kamu harus berangkat bersama mereka, mereka akan menjagamu. 13 tahun ayah tidak bisa melindungimu, sekarang berilah kesempatan pada ayah untuk menjagamu"
"Baiklah ayah"
Pagi itu adalah hari yang membuat Niana bahagia karena semua kesalahpahamannya sudah terjawab dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Sejenak dia bisa melepas segala ingatannya tentang Dirga.Tetapi saat di dalam mobil menuju perjalanan ke sebuah hotel tempat diadakannya reuni sekolahnya, Niana kembali teringat Dirga dalam kesepiannya.
"Nona... lagi mikirin apaan sih" ucap Boni
"Emm tidak mikirin apa-apa kok, oh iya om-om ini yang memata-mataiku waktu di Jakarta kan?
"Iiiiya.. Non, ma.. maafin kita ya Non" ucap Mondi
"Kenalin nama saya om Boni dan yang botak gagap ini namanya om Mondi"
"Eh lu juga bo...bobotak kali" ucap mondi sambil memukul kepala Boni
Niana yang duduk di kursi belakang menahan tawa melihat perilaku ke dua orang botak yang sama-sama botak saling mengejek.
"Oh iya Non, dimana laki-laki tukang pudding itu. Kenapa nona tidak bersama denganya. Apakah dia sudah meninggalkan nona?" tanya Boni
"Aaa... was aja kalau tu... tutukang pudding itu menyakiti nona" ucap Mondi
Niana hanya duduk terdiam tanpa berkata apapun. Karena dia sendiri juga bingung apakah yang sudah terjadi pada Dirga. Niana juga tidak tahu entah dimana Dirga sekarang.
"Emang lu mau apa Mon, lu saja ngomong gagap sok sokan mau melindungi Nona"
"He he.. iiiiyya juga ya" ucap mondi
"Nona kita sudah sampai di hotel" ucap Boni
"No...nonona udah sampai" ucap mondi membukakan pintu mobil untuk Niana
"Oh iya om, Niana masuk dulu ya"
"Baik nona kita akan menunggu nona sampai selesai"
Niana pun memasuki hotel mewah tempat reuni sekolahnya. Dia terlihat cantik walau masih ada perban menempel di pelipis kepalanya. Dia mengenakan midi dress selutut yang mengembang ke bawah yang berwarna biru langit dengan lengan panjang. Sepatu high heels berwarna perak bling-bling menghiasi kaki jenjangnya. Rambutnya tergerai rapi dengan asesoris rambut berwarna perak bling-bling seperti sepatunya yang menyibakan rambutnya sehingga menampakan kedua telinganya.
Niana pun mulai berjalan melawati lorong hotel karena hotelnya sangat besar dan banyak ruang-ruang. Bahkan Niana sampai mau nyasar di lantai satu yang sedang ada acara pernikahan. Niana pun memastikan dengan melihat ponselnya kalau hotel dan ruangnya ada di lantai berapa. Waktu mau naik lift ke lantai 2 tempat reuni ada beberapa pelayan hotel yang sedang mendorong meja troli berisi dessert dan bertumpuk-tumpuk membuat perut Niana lapar.
"Kenapa aku seperti melihat pudding buatan Dirga. Mana mungkin Dirga di sini. Bukankan Tuan Tengil itu sudah kembali ingatannya makanya dia tidak memcariku. Ketika di RS saja, aku tinggal pulang dia marah, sekarang udah aku tinggal selama 2 hari harusnya dia kesurupan menggila mencariku kan tapi sepertinya tidak. Artinya dia memang sudah sembuh. Sudahlah aku tidak mau mikirin lagi" batin Niana
Akhirnya Niana sudah sampai di ruang acara reuni. Dia mencoba percaya diri agar tidak terlihat seperti 13 tahun yang lalu. Dulu dia gadis kecil yang polos, pemalu dan pendiam sehingga mudah ditindas oleh teman-temannya yang suka usil dan nakal. Setelah menandatangin buku tamu, Niana masuk ke ruang reuni di hotel itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
faridah ida
pastii terkejut dan kaget ini Niana pas di dalam sudah ada Dirga ...😁😁😁
2023-09-05
0