Niana pun menoleh ke arah Jesika dan membuka matanya. Lalu Dirga membawa sebuah buket bunga mawar dan berlutut dengan satu kakinya di depan Niana. Setiap arah mata memandangi mereka tanpa berkedip.
"Apa yang mau kau lakukan Tuan Tengil, apakah otakmu konslet lagi, tadi sikap mu seperti srigala yang mau memakan mangsanya, kenapa sekarang bersikap seperti pangeran yang ingin melamar pujaan hatinya" batin Niana
"Niana maafkan semua sikapku yang dulu sering menyakitimu. Maafkan aku yang pergi tanpa kabar. Aku janji akan memaafkan apapun kesalahanmu atau kebohongan mu, jangan pura-pura tak mengenaliku karena itu sangat menyakitkan. Mari kita mulai dari awal" ucap Dirga memohon
"Apa yang Dirga lakukan?" Jesika syok mendengar apa yang barusan diucapkan Dirga
"Jes, kita tidak salah denger kan" ucap Sindy
Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut, termasuk Niana yang berdiri mematung bingung harus bahagia atau sedih. Sebenarnya terbesit rindu yang tertahan di hatinya, tapi bibir tak mampu berkata. Ingin sekali memeluk raganya tetapi dia bukan miliknya.
"Niana jawablah" ucap Dirga yang masih berlutut menunggu jawaban Niana
"Maaf semuanya saya sudah membuat acara jadi tidak nyaman, terima kasih untuk teman-teman semua" ucap Niana yang langsung berlari meninggalkan Dirga dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Dia ingin sekali menyentuh Dirga dan memeluknya tetapi dia menyadari Dirga sudah milik orang lain.
"Niana tunggu" Dirga berteriak dan mengejarnya
"Om mondi cepat buka pintunya" ucap Niana yang segera bergegas masuk mobil setelah berlari dan sampai di depan lobi hotel
"Nona kenapa pulang-pulang menangis dan kenapa sembunyi, siapa yang mengejar Nona?" tanya Boni
"Sssttt... om Boni jangan berisik!" bisik Niana sambil melihat kearah luar.
Terlihat Dirga berhenti di belakang mobilnya. Lalu Dirga berlari ke jalan raya yang ada di depan hotel. Ketika mobil Niana berjalan sampai di pintu keluar hotel dan mau menyebrang, Niana melihat ada sebuah truk besar melaju dengan cepat sepertinya mengalami rem blong menuju ke arah Dirga. Karena pikiran Dirga yang sedang kacau mencari Niana, Dirga tidak fokus dengan situasi jalan. Niana pun langsung ke luar dari mobil dan menghampiri Dirga dengan cepat.
"Dirga... awas...!!!" teriak Niana sambil mendorong Dirga ke arah yang aman
Dirga pun terhindar dari tabrakan truk besar itu tetapi dia terjatuh dan kepalanya membentur trotoar pinggir jalan dengan sangat keras. Darah mengalir di pelipis kepalanya.
Nianapun juga jatuh terserempet truk yang hampir melindasnya. Mereka berdua saling berusaha meraih tangan. Dirga sempat memegang jari manis Niana yang melingkar cincin tunangannya. Dan cincin itupun terlepas dari jari Niana yang sudah tak sadarkan diri karena ditarik oleh Dirga yang masih setengah sadar. Beberapa detik kemudian Dirga juga tak sadarkan diri.
"Maafkan kita pak bos" ucap Boni
"Putriku baru saja pulang tapi sekarang 2 hari dia tidak sadar, kalian akan bertanggung jawab dengan apa?" ucap Pak Hadi begitu sedih lalu menangis karena tak bisa menahan air matanya lagi
Sayup-sayup terdengar seorang laki-laki sedang marah-marah diluar ruangan. Suara serak itu sepertinya sedang menghadapi kesedihan. Kedua netra Niana menatap langit-langit yang terlihat begitu asing dengan sorot lampu yang terang sekali. Keadaan di luar jendela kaca sudah gelap dan terlihat gedung-gedung tinggi terlihat bersinar lampu-lampunya. Di rabanya perban di kepalanya yang terasa pusing. Entah apa yang telah terjadi, Niana mencoba membuka matanya perlahan, terlihat jam dinding menunjukan pukul delapan malam. Dia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sebelum berada di ruangan itu. Teringat sepintas ketika tangannya meraih tangan Dirga yang telah diulurkan pada nya lalu semua menjadi gelap yang semakin pekat.
"Niana kamu, sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? ucap Aska yang duduk di sampingnya
"Dimana dia kak?"
"Kamu tidak perlu memikirkannya karena dia sudah bersama keluarganya"
"Lalu bagaimana keadaanya"
"Niana kamu baru sadar, jangan banyak berpikir, aku ambilkan minum untukmu" ucap Aska
Niana hanya mengaggukan kepalanya
"Aku panggil dokter dulu, ayah ada di depan. Aku akan memberi tahunya kalau kau sudah sadar"
Niana mengkhawatirkan keadaan Dirga tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Badannya sendiri terasa lemas, untuk bangun saja tak mampu ia lakukan.
"Niana bagaimana keadaanmu, dimana yang sakit nak, Kamu mau makan apa? Ini ayah bawakan banyak makanan untukmu" ucap Pak Hadi sambil membantu Niana bangun dengan menaruh bantal di belakang punggungnya
"Niana tidak ingin makan apa-apa yah"
"Tapi kamu sudah 2 hari tidak sadar, ayo makanlah sedikit agar kamu tidak lemas"
"Apa 2 hari?? lalu bagaimana keadaan Dirga, dimana dia?" batin Niana kaget
"Ayah, dimana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?"
"Putra Sanjaya Grub itu sudah pergi dari RS ini bersama keluarganya setelah sadar kemarin sore"
"Kenapa Dirga tidak menemuiku? Apakah ingatanya sudah kembali lalu meninggalkanku begitu saja tanpa kabar. Kenapa hatiku terasa perih. Bukankah harusnya aku bahagia dia sudah pergi dari hidupku" batin Niana yang mendongakan matanya ke atas membendung air matanya
dan tangannya berusaha mengelap air matanya tetapi butiran bening itu terus menetes di pipinya
"Niana lupakanlah laki-laki itu, ayah sudah tahu semuanya" ucap Pak Hadi sambil mengelus rambut Niana
"Niana mau istirahat yah" ucap Niana kembali merebahkan tubunya. Hatinya tak kuat menahan kesedihan, raganya pun seakan melemah mengiringi kepedihan hatinya.
Sejak kepergian Dirga tanpa kabar, Niana di kamar hanya berdiam dan termenung. Walau Aska sudah mengajaknya bicara tetapi Niana hanya merespon dengan anggukan kadang senyuman yang dipaksaka dan sedikit bicara.
"Niana kata dokter besok kamu sudah boleh pulang, mamah juga pulang besok pagi. Aku seneng kita bisa berkumpul lagi di rumah" ucap Aska sambil menyuapi Niana makan malam. Niana pun hanya tersenyum
"Kak aku sudah kenyang, aku mau tidur" ucap Niana
"Baiklah istirahatlah, semoga besok pagi kamu ceriamu kembali" ucap Aska
"Dirga brengksek kau sudah membuat Niana begitu sedih, aku tak akan membiarkanmu mendekati Niana lagi" batin Aska
Pagi yang cerah, matahari bersinar terang membagi kehangatannya. Akhirnya Niana pulang kembali ke rumahnya yang 13 tahun ditinggalkannya. Rumah yang sangat besar dan halaman yang luas tetapi terlihat sederhana dan telah memberinya kenyamanan itu sekarang tampak lebih bagus dan cantik dengan taman yang didominasi bunga mawar merah muda. Banyak para pelayan rumah yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Dulu hanya ada 2 pelayan di rumah itu karena Pak Hadi sekarang sudah menjadi Orang terkaya di Surabaya jadi pelayan rumah pun semakin banyak juga.
"Selamat datang kembali di rumah" ucap Aska bahkan para pelayan rumah pun sudah mempersiapkan penyambutan Niana
"Nian-Nian, ayah dan mama senang kamu pulang ke rumah" ucap Pak Hadi
"Mama juga bahagia bisa berkumpul denganmu lagi nak" ucap Mama Arini yang masih duduk di kursi rodanya
"Kak Nian, kamar kakak masih sama di lantai 2. Setiap hari mama menyuruh bi Asih membersihkannya, ayo aku antar ke atas" ucap Liana
"Biar aku bawakan kopermu" ucap Aska
"Terima kasih ayah, mama, Liana dan kak Aska"
"Yuk kak ke atas" ajak Liana menggandeng tangan Niana sambil berlari layaknya bocah
"Lian-Lian... hati-hati kak Niana baru saja sembuh, jangan mengajaknya lari-lari" teriak Pak Hadi
"Oke yah" teriak Liana yang tetap berlari
"Tarraaa......!!!" terika Aska dan Liana bersamaan
"Kamar kamu masih sama kaya dulu semua serba pink cuma ada beberapa furniture yang diganti" ucap Aska
"Apa kak Nian suka? Ayah dan mama yang mendekornya lho" ucap Liana
"Iya aku suka sekali" jawab Niana
Niana merasa seperti mendapatkan energi positif setelah menginjakan kakinya lagi di rumahnya. Niana pun semakin bersemangat bangun dari kesedihannya karena di rumahnya banyak keluarga yang menyayanginya. Sungguh tidak pernah terbayangkan dia kembali ke rumah itu. Tentu menjadi kebahagiaan baru untuknya setelah merasakan kesedihan.
Tetapi Niana tidak bisa selamanya tinggal di rumah itu karena di Jakarta dia juga memiliki rumah sendiri dan memiliki toko juga beberapa karyawan yang masih membutuhkan dirinya. Niana juga ingin mengembangkan usahanya lagi. Dia sudah terbiasa tidak bergantung pada siapapun selama 13 tahun. Jadi sulit baginya kalau hanya duduk manis seperti tuan putri walaupun dia memang tuan putri juga di rumah itu.
Seminggu sudah berlalu, sesuai permintaan Niana pada sang ayah bahwa dia hanya akan tinggal di rumah selama seminggu dan selanjutnya dia akan terbang lagi ke Jakarta. Dengan berat hati Pak Hadi menyetujuhi permintaan putrinya. Walau Pak Hadi tidak ingin mengekang hidup Niana tetapi diam-diam dia menyuruh Boni dan Mondi untuk selalu menjaga Niana ketika di Jakarta. Karena Pak Hadi tidak ingin putrinya disakiti orang lain lagi. Niana pun menuju Jakarta lagi bersama Aska. Kebetulan Aska juga harus segera kembali ke perusahannya yang sudah ditinggal beberpa hari sejak Niana kecelakaan.
Akhirnya Niana sampai di rumanya di temani Aska. Mereka masuk ke dalam rumah, Niana mendapati keadaan rumah sudah kembali seperti semula setelah di tinggal ke Surabaya. Foto-foto editan dengan Dirga yang terpasang di beberapa dinding rumahnya pun sudah tidak ada.
"Niana, duduklah kakak akan membawa kopermu ke kamarmu" ucap Aska. Niana hanya menganggukan kepalanya
Niana melangkah menuju kamar Dirga. Kamarnya tetap sama, bahkan kasurnya yang mahal pun masih ada, tetapi orangnya sudah pergi. Niana pun langsung menutup pintu kamar itu agar tidak teringat kembali dengan Dirga.
"Terima kasih kak" ucap Niana pada Aska yang turun dari tangga
"Sama-sama Niana"
"Kakak mau minum apa? Biar aku buatkan"
"Air putih saja. Oh iya Maaf kakak tidak bisa lama-lama menemanimu karena besok kakak ada rapat. Kamu gak apa-apa kan?
"Kakak tenang saja, bukankah dari kecil Niana sudah terbiasa sendiri" ucap Niana sambil menyerahkan segelas air
"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik. Ingat kalau ada apa-apa bilang sama kakak!"
"Siap bos Aska"
"Sebenarnya kakak ingin berlama-lama dengan adik kakak yang comel. Kakak juga pengen ajak kamu jalan-jalan tapi saat ini kakak sibuk sekali"
"Lain kali juga tidak apa-apa kak, Niana juga harus mengecek toko, pasti banyak kerjaan yang terbengkalai"
"Syukurlah kalau kau banyak kesibukan, setidaknya kau tidak memikirkan si brengsek itu" batin Aska
"Baiklah kakak langsung pulang ya, kakak akan menelfonmu kalau sudah sampai apartement"
"Oke, hati-hati kak"
Rumah yang tadi agak ramai karena ada Aska seketika menjadi sunyi senyap tanpa suara. Niana mulai bersih-bersih rumah yang sudah seminggu lebih tidak ditempati.
Dia menyibukan diri agar tidak ada kesempatan di pikirannya tentang Dirga. Tetapi di rumahnya itu penuh kenangan bersama Dirga, bagaimana bisa dia melupakannya dengan mudah.
Tak terasa begitu cepat waktu berlalu hingga malam pun tiba. Niana mulai menghempaskan tubuhnya ke kasur dan ponsel pun berdering. Aska melakukan vidio call untuk menemaninya di saat malam yang begitu sunyi agar dia tidak terlarut dalam kenangan bersama Dirga. Entah apa saja yang dibicarakan, Aska hanya ingin mengisi malamnya Niana yang sepi sendiri setiap hari. Nianapun mulai mengantuk dan waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, panggilan vidio dengan Aska pun segera diakhiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
faridah ida
yaaa alamat sadar dari amnesia ini Dirga , kasihan Niana ini ....😔😔
2023-09-05
0