Sementara di ruangan lain Query berhasil sudah membunuh 5 orang sekaligus, begitupun dengan Frians sesampainya ia ke kamar mandi Frians mengambil pisau miliknya yang tumpul Frians menikamkan ke penjaga itu, banyak aksi perlawanan di antara mereka orang tersebut juga masih bisa melawan, apalagi ia mampu melukai tangan Frians.
"Tanganku," Frians tak terlalu berteriak, ia menutupi tangannya dengan baju, menahankan rasa sakit untuk menyumpal mulut orang tersebut pakai tisu toilet. Sampai penjaga tersebut tidak bisa mengeluarkan suara Frians dengan sadisnya menusuk nusuk belakang orang tersebut.
"Agar lebih murah aku akan memotong motong daging ini, dan membuangnya ke toilet," Frians menggunakan cara Query hanya mengambil beberapa bagian tubuh korban ia mengambil ke 10 jari orang itu, sisanya Frians memasukkan ke dalam kloset.
"Semuanya sudah beres," Frians kembali memasang borgol di tangannya ia keluar sendiri dan kembali ke tempat ia ditahan.
"Aku sudah selesai," ujar Frians penjaga lainnya.
"Kemana orang yang bersamamu tadi?" tanya orang itu melihat Frians sendiri.
"Loh bukannya dia sudah kembali duluan, dia meninggalkan ku katanya dia mau duluan kemari sama orang tadi, temannya mungkin."
"Kau yang benar saja, dia tidak ada disini."
"Ia benar, aku juga tidak tahu aku di kamar mandi tadi, lalu dia dari luar menjerit aku tidak mendengar apapun dari luar hanya keheningan saja," ujar Frians membuat orang itu percaya, Frians pun kembali masuk ke dalam selnya.
"Katanya kau mau melepaskan kami nyatanya apa kau malah kembali masuk kesel ini," sindir anak sebelumnya.
"Oh ya," Frians melihat ke arah luar sel tidak ada lagi penjaga ia mengeluarkan potongan jari jari penjaga yang bersamanya.
Beberapa anak yang ada disitu ingin muntah, mual melihat 10 jari jari yang terpotong, ini mengerikan untuk anak di usia mereka.
"Satu penjaga sudah aku habisi," Frians kembali menyimpan jari jari itu di dalam kantong celananya.
"Tapi bagaimana bisa?"
"Tidak perlu kau tau, yang jelas kalian juga akan keluar dari sini," ujar Frians.
Tanpa disadari darah dari tangan Feians mulai ber keluaran menembus bajunya.
"Tanganmu berdarah?" tanya seorang anak perempuan yang masih mual.
"Ia nih berdarah, tetapi tenang saja ini tidak terlalu parah."
"Sini aku bantu obati," orang yang dari tadi menyindir Frians kini sukarela untuk menolong Frians sendiri.
Anak itu melepaskan singletnya ia membungkus tangan Frians yang berdarah menggunakan singletnya buat sementara singlet itu adalah pengganti perban di dalam keadaan darurat seperti ini.
"Kau berbaring dulu, jangan banyak gerak, lukamu juga serius," ujar orang itu.
"Baiklah terimakasih," Frians tersenyum sebagai balasannya.
Tak berapa lama Frians berbaring ia mendengar keributan, Frians duduk kembali.
"Jangan duduk dulu, usul anak itu," sedikit cemas.
"Tidak, dia sudah disini ternyata," Frians bangkit membuka kunci sel dengan pisaunya.
"Siapa?" tanya orang yang berada di situ.
"Sudah ayo buruan keluar, kalian ikuti aku ya," titah Frians.
"Baiklah," mereka semua mengikuti Frians yang berada di depan.
"Mau kemana kalian semua, kalian akan aku tembak!" ancam seseorang yang menangkap Frians.
"Oh ya apa tembakanmu itu akan berkesan," Frians melemparkan pisaunya yang tumpul tepat di mata orang tersebut.
"Sangat mudah," menarik paksa pisaunya ketika korbannya sudah tumbang.
"Frians, apa kau pembunuh? Kau seperti psikopat."
"Tidak perlu tau aku siapa, kalian deluanlah keluar dari sini," Query datang bersama Singsonya sudah banyak diantara orang orang itu berjatuhan.
Diantara anak anak tadi tak ada korban satu pun mereka selamat, sedangkan Frians, dan Query harus membawa ke 13 tubuh orang orang tersebut.
"Sedikit sekali hanya ada 13 orang ya, aku belum puas," ujar Query.
"Maaf sebenarnya 14, tetapi aku membuang potongan tubuhnya ke dalam kloset," Frians cengengesan minta maaf, ia hanya bisa menunjukkan jari jari orang itu.
"Eh bentar," Query melihat lengan baju Frians yang berdarah.
"Frians apa kau terluka?"
"Sedikit," cetus Frians tak merasakan sakit apapun.
"Ya ampun, Query membawa mobilnya sangat kencang dari sebelumnya ia cemas jika Frians kenapa napa, sesampainya di rumah Jansen Frians menurunkan mayat itu, dan langsung mengobati Frians.
"Sepeduli itu sama aku? Khawatir bangat sepertinya," celetuk Frians.
"Diamlah, aku hanya takut kau terluka parah, nanti kalau kau kenapa napa bahay kau belum jadi pembunuh seperti kami."
"Frians bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik baik saja," sahut Frians.
"Orang yang kalian bunuh bertingkat menjadi 13," Jansen memberi apresiasi kepada mereka berdua.
"Sebenarnya orang yang kami bunuh berjumlah 14, tetapi Frians membuang tubuh korban dalam kloset," Query menceritakan semuanya ke Jansen, untung saja orang itu memakluminya.
"Oh begitu ya, tidak apa apa."
"Tidak masalah tuan, aku akan membunuh 1 orang lagi," Frians kembali bangkit dari baringnya.
"Kalian berdua tunggulah disini," Frians pun pergi tanpa basa basi, dan tanpa memberi tahu ke Jansen, dan Query kemana ia mau pergi.
"Apa yang mau dilakukan anak itu?"
"Tidak tahu, biarlah situ sebaiknya kita minum dulu," ajak Query sudah menganggap rumah Jansen adalah rumahnya sendiri.
"Kau juga suka minum?"
"Tentu saja, aku sangat suka dengan alkohol."
"Kau mau bir, atau wine, atau whiskey?"
"Apa pun itu yang penting beralkohol."
Jansen kembali menyuruh pelayan untuk mengambilkan minuman beralkohol buat dirinya, dan Query nikmati.
"Query setelah ini bantu aku untuk mencincang mayat mayat itu ya," pinta Jansen.
"Tenang saja tuan," Query menuangkan minuman nya kedalam gelas begitu juga dengan Jansen mereka saling bersulang untuk ini.
***
Frians menangis sendirian di jalan, itu hanya aktingnya saja, supaya orang mengasihaninya, dan mau mengantarkan pulang. Ditengah Frians menangis ada seorang wanita muda yang datang menghampirinya wanita itu bertanya apa yang terjadi pada Frians, Frians memberi tahu kalau dia tersesat, dan tidak berani pulang ke rumahnya. Akhirnya wanita itu iba mendengar Frians, ia sudi untuk menghantarkan Frians meskipun wanita mudah itu sedang hamil tetapi ia dengan senang hati menolong.
"Apa kau lagi hamil?" tanya Frians masih tersedu sedu.
"Ia, kehamilanku sudah 8 bulan, orang itu tersenyum sambil mengemudi."
"Sebentar lagi dong."
"Ia, aku sangat menanti anak kami, oh ya namamu siapa?" tanya orang itu.
"Aku Frians, kamu sendiri?"
"Aku Meria."
Frians akhirnya sampai di rumah Jansen, saat mau berpamitan Frians mencucukkan sebuah suntikan ke orang tersebut membuatnya perlahan tumbang tidak sadarkan diri, Frians lun berlari memanggil Query, Query datang membawa orang itu, Jansen mengusulkan untuk melakukan saw torture, mereka menelanjangi wanita tersebut, tak ada lagi alas penutup. Bahkan alat kelamin wanita itu terpapar jelas. Menggantung terbalik.
"Iiww," Frians yang ada di sana mual melihat wanita itu dalam keadaan telanjang bulat.
Seketika Meria terbangun ia ketakutan melihat dirinya yang sudah di gantung terbalik.
"Frians!"
"Mari Query langsung saja kita gergaji," sisi gergaji kanan dipegang oleh Query, sedangkan sisi kiri dipegang Jansen sendiri.
"Ada apa ini," Meria menjerit syok.
"Tidak ada waktu menjelaskan."
"Pemandangan apa ini?" monolog Frians, ia seharusnya tak melihat keadaan orang seperti itu, tetapi Ferians disitu menyaksikan kerja Query, dan Jansen sekaligus menikmati jeritan Meria yang keluar.
keduanya mulai menggergaji Meria dalam keadaan terbalik mulai dari anus, hingga kepalanya wanita itu kini terbelah menjadi dua. Tangan Meria di potong oleh Jansen, begitupun dengan tubuh tubuh korban yang tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments