Jangan terlalu percaya pada maut, bisa saja ia datang hari ini juga.
•Frians.
"Kerja bagus, kalian berdua memang hebat, ngomong ngomong dimana mayat korban?" tanya Jansen hanya melihat potongan dari tubuh korban yang dibunuh mereka.
"Aku biarkan saja di tempatnya, aku hanya membawa beberapa potong dari setiap korban," ungkap Query.
"Ya ampun," orang itu pasrah mendengar apa yang disampaikan Query.
"Memangnya ada yang salah ya?" tanya Query tak enak.
"Sudah lah, hari ini misi kedua kalian, kalian pasti bisa membunuh siapapun itu, oh ia ingat untuk kali ini bawa tubuh korban ke hadapanku, aku mau melakukan sesuatu," ujar Janson melintir kumisnya.
"Siap tuan, kami bakal melakukan apa yang kau perintahkan," sahut Jak.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu," Jansen membawa mereka berdua ke ruang makan.
Sebagian di atas meja dekat meja makan itu Frians mendapatkan beberapa koran mengenai berita kasus pembunuhan ada juga korban yang pernah ia bunuh, baru yang paling membuat nya puas berita tentang keenam temannya itu, Frians tersenyum licik.
"Frians," tegur Query.
Frians pun datang membawa koran mengenai berita enam temannya tersebut, ia duduk di samping Query.
"Apakah koran ini sudah tuan baca?" tanya Frians membaca kembali judul berita itu dalam hatinya.
"Tentu saja, berita terbaru itu begitu menggemparkan."
"Berita tentang apa?" potong Query.
"Enam anak yang hilang, kejadian barusan ini," Frians melirik Query, begitupun dengan Query yang melirik balik.
"Ternyata kasus berita ini sudah sampai sini ya," lanjut Query menatap kedepan.
"Semalam bagaimana kalian membunuh menyenangkan tidak?"
"Tentu, hanya saja kurang drama mereka terlalu mudah, dan tidak terlalu ekstrim, kali ini aku mau pakai cara yang berbeda, Frians kau maukan?" tanya Query.
Frians hanya mengangguk angguk menyetujui apapun itu dari Query.
"Bagus."
"Apa idemu Query?" potong Jansen menanyakan.
"Gampang saja, aku membutuhkan beberapa baju kemeja, celana pendek, topi, kaca mata bulat dan dasi kupu kupu," ujar Query menyatakan permintaannya itu.
"Baiklah semua itu gampang, aku akan menyuruh pelayan membelinya."
"Ukurannya seukuran Frians."
"Aku?"
"Ia, kamu berapa nomor sepatumu?"
"17."
Tak berapa lama apa yang di pesan oleh Jansen pun datang, Query langsung saja menyuruh Frians mengganti pakaiannya.
"Ganti pakaianmu cepat," ujarnya.
Frians pun mengganti seluruh pakaiannya dengan apa yang sudah di belikan Jansen, ia kembali keluar menghampiri mereka.
"Susah selesai."
"Tunggu dulu, kemarilah mendekat," Frian mendekat ke Query, Query mengancing baju Frians hingga full kancing sampai kelehernya.
"Satu lagi," ia juga membenarkan rambut Frians agar terlihat seperti anak culun.
"Nah sudah jadi," Query menahan tawanya melihat penampilan Frians.
Frians hanya diam saja, mau marah pun tapi ini demi misi mereka.
"Apa apaan ini," ujarnya marah.
"Udah tenang saja, demi kebaikanmu," potong Jansen yang juga tak tahan ingin mengejek Frians.
"Kalian sama saja, kalian ingin mengejekku kan?"
"Tidak sayang, ini demi misimu," lanjut Jansen.
"Friana apa yang dikatakan tuan Jansen benar."
"Ya Sudah ayolah kita berangkat biar cepat selesai aku malas bermodel seperti ini," Frians berjalan duluan meninggalkan Query, dan Jansen.
"Aku pergi dulu," ujar Query, mereka saling bertatap tatapan dan tertawa melihat Frians.
***
"Mengapa kau diam saja?" tanya Query.
"Aku tidak ingin berbicara."
"Tampilan menarik lihatlah," Query menggeserkan kaca agar Frians melihat dirinya yang culun.
"Apa apaan itu, aku tidak mau melihatnya."
"Frians, apa kau mau aku foto untuk ku tunjukkan ke Yesias, dan Jak mereka pasti akan tertawa melihat anaknya," ejek Query.
"Bajingan diam kau!"
"Uww aku takut melihat anak culun ini, kau lebih galak."
"Aku tidak peduli, buruan kemana kita akan pergi?"
"Sabar, jika tampilannya seperti ini mungkin teman teman sekolahmu akan membully, atau bahkan mereka menghabisimu."
"Lama lama kau yang akan kuhabisi, bagaimana kalau kau targetku? Aku tidak segan segan untuk mencincang tubuhmu itu Query," lirik Frians geram.
"Sabar sabar, anak culun."
"Cepat beritahu aku kemana kita akan pergi?" tanya Frians sekali lagi.
"Tunggu ya," Query memberhentikan mobilnya ia mencari tahu mengenai lokasi penculikan anak yang sering terjadi di daerah situ, akhirnya lokasi ditemukan tempatnya lumayan jauh dari keberadaan mereka sekitar 50 menit atau memakan waktu satu jam juga kalau macet. Tapi itu ga akan terasa kok.
"Bagaimana kalau kita kesini?" tanya Query untuk mendengarkan pendapat Frians.
"Gas saja, selagi banyak korban."
"Baiklah anak culunku," lagi lagi Query menyebut sebutan itu membuat Frians kembali marah padahal tadi Frians sudah lumayan tenang.
"Kau benar benar mau kubunuh ya?"
"Jangan, nanti orang tuamu kehilangan teman sepertiku," sudah turunlah mereka telah sampai di lokasi yang dimaksud.
"Query kau aku tinggal ya, biar aku memantau, ingat jangan emosional."
"Ia tenang saja, pergilah."
Query pun meninggalkan Frians ia sedikit jauhan dengan Frians, namun masih bisa dilihat, dari dalam mobil Query mengawasi Frians.
Tak berapa lama ada 3orang berbadan kekar mendatangi Frians, dari langkahnya sudah bisa di pastikan bahwa mereka penculik.
Frians tetap diam tenang di situ, meski pun mereka mendekat tidak jadibalasan untuk Frians takut.
"Hai adik kecil, sendirian ajanih," ucap salah seorang dari mereka.
"Mending ikut dengan kita, gimana?"
"Kamu mau permen," ujar orang berada disebelah kiri pinggir. "Nih, ia memberikan pada Frians," Frians yang sudah tau menerima permen tersebut.
"Cara klasik," dalam hati Frians.
"Ka- kalian mau apa denganku?" tanya Frians grogi.
"Tenang saja, kami tidak akan melakukan apa pun," 2 orang diantara mereka menangkap tangan Frians, untuk dibawa sebagai penyergapan.
"Apa yang kalian lakukan," Frians sedikit memberontak.
"Sudah diam! Ikut saja dengan kami, kami penculik terkenal," ujar orang yang memaksa Frians masuk.
"Oh ya," tidak ada ekspresi apapun di wajah Frians.
"Bagus, Frians ku sudah dibawah," Query juga mengikuti Frians dari dalam mobilnya itu, entah kemana Frians mau dibawa yang pasti tempat tersebut sangat sunyi, Query berjarak dengan mereka namun Query masih dapat melihat Frians dibawa masuk kedalam.
"Sepertinya tidak semudah yang kukira," Query mengambil topeng kelincinya, di depan pintu masuk ada 3 orang penjaga, mereka bertiga berhasil dikalahkan Query sedikit luka di bagian kaki Query namun ketiga orang itu berhasil di singsonya.
Frians dimasukkan ke dalam penjara bersama anak anak yang mereka culik.
"Kau barusan diculik," ujar teman satu sel dengan Frians.
"Ia, kita tidak bisa keluar dari sini, kami sudah hampir 3 minggu di penjara ini," jelas anak itu.
"Oh ya, ini gampang buatku," Frians duduk dibawah melonjorkan kakinya.
"Aku akan membantu kalian," lanjutnya.
"Ga usah mimpi, kamu saja ditangkap bagaimana mungkin orang culun bisa menolong kami?" sanggah anak yang berada di sudut.
"Hal mudah, kau tidak jamin denganku? Bagaimana kalau kalian menyaksikan pembunuhan ini," ujar Frians tidak ragu.
Tanpa rasa ragu ragu, Frians memanggil salah seorang penjaga.
"Penjaga," ujarnya mengangkat tangan.
"Ada apa?" seorang penjaga mendatangi sel Frians.
"Bisakah kau membawakanku ke kamar mandi aku mau buang air besar, aduh perutku mulas," Frians merengek seperti orang kesakitan memegangi perutnya.
"Baiklah ikut aku," orang itu memborgol tangan Frians tanpa disadarinya di kepalan tangan Frians ia menyimpan pisau kecil dimana nantinya untuk membuka borgol.
"Apakah mereka semua amatir?" dalam hati Frians mempertanyakan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments