"Cila ayo masuk," Frians membuka kan pintu untuk Cila, dengan ramah Frians menyambut Cila sebagai tamunya.
"Frians rumah kamu rapi banget," puji Cila meskipun
ia masih di depan pintu Cila dapat menilai, rumah Frians yang sangat rapi itu semua susunannya teratur indah mulai dari Foto foto bingkai kayu yang terletak di atas meja, sampai di dinding, dan miniatur miniatur berada di dalam lemari membuat sedap mata memandang.
"Hehe, terimakasih Cila. Ayo silahkan masuk," Frians mempersilahkan temannya itu untuk kedalam sesampainya mereka di ruang tamu terdapat Yesias, dan Jak yang tak jadi pergi karena orang yang ingin ia datangi ada urusan mendadak tak bisa ditinggalkan.
"Cila ini ibuku, dan ini ayahku," ujar Frians memperkenalkan kedua orang tuanya.
Mereka hanya bisa tersenyum, tak tau maksud Frians membawa seseorang ke rumah mereka entah mau dijadikan korban pembunuhan atau hanya sekedar mampir.
"Silahkan duduk," Yesias bangkit dari tempatnya.
"Terimakasih tante," Cila pun duduk tanpa rasa sungkan.
“Kamu mau minum apa cantik? biar tante buatkan,” ungkap Yesias bersedia menyiapkan apapun itu yang diminta Cila.
"Tidak usah repot repot tante," pinta Cila.
"Justru tidak sama sekali merepotkan kok, hayo minta saja Cila mau apa?" Yesias tersenyum untuk meyakinkan Cila.
"Tan, kalau gitu Cila mau air putih dingin saja," ujar Cila merasa dirinya tak enak.
"Air putih saja? Lain?" tanya Yesias sekali lagi.
"Air putih saja tan."
"Yasudah kalau begitu tunggu sebentar ya tante ambilkan di dapur," ia segera pergi beranjak ke dapur mengambilkan minum buat Cila.
Frians yang berada disitu memantau gerak gerik ibunya itu, Frians juga mengikuti Yesias ke dalam dapur, setiap yang ingin dilakukan Yesias benar benar diawasi oleh Frians.
"Frians kamu kenapa segitunya terhadap ibu?" tanya Yesias bingung melihat Frians.
"Aku takut ibu memasukkan sesuatu yang dapat membuat Cila kenapa napa," jelas Frians.
"Apa kamu kira ibu akan membunuhnya? Ibu tidak akan membuatnya kenapa napa," Yesias kemudian menuangkan air kedalam gelas yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Asal benar, Cila bukan target pembunuhan aku gak mau Cila kenapa napa."
"Ia, ibu tidak akan macam macam, kalau gitu kamu ganti baju dulu sana," Yesias sudah selesai dengan airnya ia membawakan ke ruang tamu, sementara Frians mempercayai ibunya ia pun pergi ke kamar untuk mengganti pakaian sekolahnya.
"Cila silahkan diminum."
"Ia tan," Cila meminum air tersebut tanpa ragu.
"Cila kalian cabut ya dari sekolah?" tanya Jak pada saat Cila sedang meminum air yang diberikan Yesias. Dirinya hampir saja terselak.
"Tidak om, karena sekolah kami akan diliburkan sementara waktu karena ada kasus yang terjadi," jelas Cila singkat.
"Kasus? Kasus apa sampai harus diliburkan segala?" Jak kembali menanyakan ia pura pura tidak tahu mengenai yang terjadi, padahal itu adalah pekerjaannya dan rekannya.
"Kasus hilangnya keenam teman sekelas kami om, beberapa hari ini mereka tidak ada terlihat bahkan mereka juga tidak pulang ke rumah, secara tiba tiba keenamnya menghilang bagai ditelan bumi."
"Tapi baguslah kalau mereka seperti itu om, itu artinya ga ada lagi yang mengganggu Cila," ucap Cila kembali meminum airnya.
"Kamu di ganggu orang orang itu?" tanya Yesias memotong.
"Ia tan, mereka selalu mereka itu selalu menyontek pr Cila, udah itu mereka juga suka maksa maksa buat ngerjain tugas mereka," jelas Cila tanpa menutup nutupi.
"Kamu senang kalau mereka seperti ini Cil?"
"Senang tan sebenarnya, tapi kasihan juga melihat mereka yang tak ada kabar seperti sekarang."
"Cila kalau kamu berada di posisi mereka kamu akan apa?" tanya Yesias sepertinya pertanyaan ini serius.
"Nggak mungkin tan, Cila kan hebat Cila pasti bisa lawan mereka, dan melindungi diri Cila. Cila juga akan melindungi Frians," jawaban Cila benar benar membuat kedua orang tua Frians kaget, ini tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Jak, dan Yesias serentak menatap Cila.
"Tante mempercayai kamu Cil," sahut Yesias.
***
Malam harinya disaat keluarga itu tengah makan malam bersama di meja makan topik pembahasan mereka adalah mengenai Cila.
"Aku tadi ingin membunuh anak itu," ujar Jak sebagai awal pembukaan.
"Ayah!" seru Frians memakan nasinya.
"Dilihat lihat dari semangatnya Cila pasti teriakannya sangat kuat, apalagi daging Cila terlihat enak," cetus Jak.
"Awalnya aku juga mengira Cila adalah korban pembunuhan kita, tetapi ternyata Frians tidak membenarkannya untuk dibunuh, apa kau suka dengan cila?" tanya Yesias melirik ke arah Frians.
"Ibu ini ada ada saja, mana mungkin. Aku tidak mau Cila kenapa napa karena dia teman aku, selama ini Cila baik, perhatian juga, kecuali jika Cila menggangguku baru aku akan membunuhnya."
"Frians dalam dunia pembunuhan, seorang pembunuh tidak memandang bulu, dan tidak ada rasa kasihan," ungkap Yesias.
"Lantas jika begitu mengapa ibu tidak membunuh Jeni? Padahal aku tau ibu ingin menjadikan Jeni korban, apa lagi kondisinya yang saat ini sedang hamil pasti seru untuk membunuhnya," cela Frians sesuai dengan fakta yang terjadi bahwa Yesias tidak bisa untuk membunuh temannya itu Jeni, dari ucapan Yesias membunuh tidak perlu memandang bulu artinya tidak perlu melihat siapa orangnya. Kenyataannya Yesias juga memandang bulu untuk membunuh Jeni.
"Sebentar," Jak memotong ponselnya yang berada di saku saat ini sedang bergetar, ia melihat ada panggilan tak terjawab nomor itu, nomor baru.
"Kenapa sayang?" tanya Yesias menyudahi topik pembicaraan mengenai Cila.
"Ada yang menghubungiku," Jak kembali menelpon nomor tersebut.
Orang itu mengangkatnya, ternyata ia adalah orang yang meminta daging, dia memesan daging sebanyak 20 kilo daging.
"20 kilo daging? Ini akan cukup lama mungkin dalam waktu 4 atau sampai 5 hari ini akan segera ada," jelas Jak.
"Baik tidak masalah kalau begitu, stok dagingku sudah habis, ngomong ngomong apa kau Jak?"
"Benar, aku akan mengantarkan daging kepadamu, kau bisa menunggunya dalam jangka waktu yang ku sebutkan tadi."
"Baiklah kalau begitu," orang itu langsung mematikan telepon secara sepihak.
"Sayang sepertinya ini akan menjadi waktu yang cukup panjang, jika 20 kilo daging, maka aku akan mencari 8 manusia untuk dibunuh."
"Biar aku bantu yah, aku bisa mencarikannya dalam waktu singkat ini," pinta Frians.
"Tidak perlu aku sendiri juga bisa hanya 8 manusia yang harus dibunuh, itu terlalu mudah," Jak menuangkan air ke gelasnya untuk diminum sekaligus sebagai akhir dari makan malamnya.
"Aku pergi dulu," ia mengambil peralatannya dan memakai topeng untuk menutupi wajahnya.
Malam itu terjadi pembantaian hebat di kota itu, mulai dari laki laki, perempuan, anak anak, bahkan seorang nenek nenek yang ikut menjadi korban Jak, meski mendapatkan 6 tubuh manusia, ia harus segera pergi agar tak tertangkap polisi, Jak membawa korban korban tersebut ke rumahnya.
Malam itu juga Jak membawa mereka ke ruang bawah tempat korban akan dibunuh, suara mesin sudah berbunyi satu persatu badan yang utuh itu dimasukkan kedalam pemotong otomatis, untuk kerja yang lebih efektif agar cepat selesai Jak harus memotong sebagian tubuh memakai parang, dan mencincangnya menggunakan parang.
Sekujur tubuh Jak habis di lumuri darah, dari daging yang ia potong muncratan muncratan darah mengenai lapisan baju Jak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments