Menjadi hewan peliharaan

"Aku pulang," Frians membuka pintu namun dirinya sangat malas saat itu ada rasa yang belum puas dihati Frians, ia memasuki rumah melihat ruangan yang kosong seperti rumah tak berpenghuni Frians hanya duduk tenang di ruang makan.

Tak berapa lama ibunya pun datang, wanita itu melirik ke rak sepatu luar bahwa disana terdapat sepatu Frians.

"Ternyata anak itu sudah pulang," Yesias masuk ke dalam melihat wajah Frians yang kesal. Wanita itu tak paham entah apa yang terjadi pada anaknya tetapi ia mencoba mengajak Frians untuk berkomunikasi.

"Frians apa yang terjadi denganmu? Mengapa wajahmu masam seperti itu," Yesias menarik kursi.

"Aku ingin menghajar ke enam temanku tadi, tapi sayangnya mereka malah sudah pulang padahal aku sudah membawa pisau untuk membunuh mereka," Frians menjatuhkan kepalanya ke meja.

"Sayang, sudahlah lebih baik sekarang kamu makan siang, dan tidur."

"Tapi aku masih belum puas, ma aku harus membunuh teman teman yang menggangguku," tekan Frians, ia mengepalkan tangannya begitu terlihat dendam.

Yesias ibu Frians tak mau melayani lebih jauh mengenai anaknya itu, karena ia telah menghabisi semua anak tak ada yang tersisa untuk Frians bunuh di antara keenam anak itu.

Hanya tersisa satu di antara keenam orang itu yaitu yang terakhir si anak berbadan gendut dan juga bos mereka, karena akan dihabisi Antoni sendiri.

Cara penyiksaan Antoni berbeda dengan yang lainnya, ia menjadikan korban sebagai binatang seperti kambing, kucing, anjing, kuda, dan lain lain.

***

Terlihat 2 orang berjalan membawa makanan di dalam mangkuk plastik, mereka memakai penutup wajah sekaligus menjarakkan makanan yang mereka bawa dari hadapan wajahnya. Smith, dan Kuanti terus terusan berpalingkan wajah mereka karena makanan yang di atas mangkuk itu, sesampainya di salah satu sel mereka berdua cepat cepat memberikan makanan yang mereka bawa tadi.

"Cepat makan," Kuanti mencambuk orang yang berada di sel yaitu anak gendut teman Frians.

"Iiuw," melihat makanan yang berada di mangkuk membuat perutnya mual karena menu yang mereka belikan adalah muntah, serta kotoran manusia yang diaduk menjadi satu.

"Makan," Kuanti kembali mencambuk anak tadi.

"Sudah biarkan dia kelaparan, anak gendut kau perlu menguruskan badan, jadi kalau kau ingin makan makan saja kalau tidak jangan mati konyol karena kelaparan.

Kuanti, dan Smith berbalik badan untuk kembali bersama yang lainnya, begitu mereka berbalik badan anak itu menendang mangkok yang berada di depannya, meskipun terlihat ia sedang di rantai, namun itu semua tak berkesan tenaga anak itu masih bertenaga.

"Kalian sudah memberi peliharaanku makan?" tanya Antoni menghisap rokoknya.

"Sudah bos," ujar mereka membuka topeng.

"Bagus kalau begitu," ia lega karena bawahannya sudah memberi makan peliharaannya tak lupa Antoni juga membuatkan kalung nama yang bertuliskan "Kreyos."

"Setelah kalian minum jangan lupa untuk memberi peliharaanku kalung ini," kalung itu terbuat dari rantai duri tajam, dan patahan ujung ujung pisau yang dapat membuat leher luka karena goresannya.

"Baik bos," sahut .

"Antoni, Smith, Kuanti," tegur Jak yang tiba tiba muncul diantara mereka.

"Ada apa?" sahut Antoni tanpa kontak mata, karena ia sedang bermain kartu.

"Aku harus pulang dulu aku juga harus mengurus anak, dan istriku, anakku pasti rindu denganku ia sudah lama tak mendapati diriku di rumah," jelas Jak.

"Kalau begitu pulanglah, titip salam pada Yesias," lanjut Antoni.

"Teman jangan lupa untuk kemari lagi, dalam tiga hari kita akan pesta lagi," sambung Smith.

"Itu pasti, setelah urusan di rumah selesai aku akan kembali lagi kemari."

"Jak," tiba tiba Antoni memanggil dirinya yang sudah hendak berbalik.

"Ada apa?"

"Ini," ia melempar sekantong plastik yang berisikan uang di dalamnya.

"Apa ini bos?"

"Uang untukmu, anggap saja itu sebagai gaji," jelas Antoni yang masih merokok.

"Tapi buat apa, aku tidak perlu aku sudah cukup dengan membunuh saja."

Antoni menghirup asap rokoknya, dan menghembuskannya ke sembarang arah. "Lalu mengapa jika aku memberimu uang, itu juga uang dari hasil penjualan daging anak anak itu, gunakan itu untuk Yesias, dan anakmu," minta Antoni.

"Baiklah, terimakasih bos."

Selesai Jak berpamitan ia keluar dari markas itu untuk kembali pulang ke rumah menemui Yesias, dan anaknya Frians.

Antoni sendiri berubah pikiran ia mengambil kalung tadi dari Kuanti.

"Mengapa engkau mengambilnya? Tidak jadi di pasangkan kalungnya?" tanya Kuanti heran.

"Aku sendiri yang akan memasangkannya," ia lalu pergi meninggalkan orang orang itu.

Saat di lorong ingin ke kandang Arnold, dan Antoni saling berselisih.

"Bos mau kemana?" tanya Arnold memberhentikan langkahnya.

"Ingin memasang kalung ini pada peliharaanku, ia pasti cantik bila pakai ini," Antoni sudah membayangkan orang tersebut memakai kalung bertulisan bernama Kreyos.

"Ohh, ngomong ngomong apa bos melihat Smith, Kuanti, Jak, dan lainnya?"

"Smith, dan Kuanti di ruanganku bermain kartu, Jak sendiri barusan ia sudah pulang," jelas Antoni.

"Kalau begitu aku ingin  bertemu dengan  Smith, dan Kuanti dulu," ujarnya sekalian ingin berpamitan pergi.

"Baiklah, oh ia tunggu dulu sedari tadi aku belum melihat Query, di mana anak itu?" tanya Antoni.

"Aku juga tidak melihatnya, ia juga tidak ada di tempat pemotong daging, apa mungkin ia keluar," jawab Arnold menebak.

"Entahlah, biarkan saja aku mau ke kandang peliharaanku dulu," mereka pun akhirnya pergi ke arah yang berbeda.

***

Jak pov:

"Aku pulang," Jak membuka pintu. Jak langsung menidurkan badanku ke kursi yang berada di ruangan tamu.

"Ayah, ayah baru pulang," Frians langsung menghampiri lelaki yang berada di kursi.

"Ia, ayah baru selesai urusan," sahutnya, mata Jak terpicing karena sudah capek.

Frians mendekat ke tubuh Jak, ia menyadari bahwa tubuh ayahnya berbau amis yaitu bau darah, bau amis dari darah orang orang yang terbunuh sangat mengental aromanya, hingga amisnya sudah kelewat batas, Frians tau bukan satu, dua, orang yang dibunuh ayahnya.

"Ayah, tak sebaiknya mandi dulu? Tubuhmu bau amis," ujar Frians to the point.

"Nanti saja, aku masih lelah, sekujur tubuhku juga rasanya pegal pegal."

"Ngomong ngomong dimana ibumu?" tanya membuka mata.

"Di kamar, ayah ingin bertemu dengan ibu? Sebaiknya jangan dulu lebih baik ayah bersih bersih, ibu pasti marah karena badanmu masih bau amis darah."

"Aku belum mau bertemu dengannya, biarkanlah ibumu istirahat dulu, dan ayah mau tidur di kursi ini."

"Terserah, aku mau kembali ke kamarku, sekalian mencari tahu mengenai Rabbit killer," jelas Frians, mendengar itu Jak langsung bangkit duduk.

"Apa tadi katamu?" Ia menanyakan kembali takut Jak salah mendengar.

"Mencari informasi tentang Rabbit killer," jelas Frians sekali lagi.

"Nak, buat apa ingin mencari tahu tentang itu, itu tidak penting lagian itu tidak ada sudah jangan melakukan aneh aneh," pinta Jak menaikkan nada suaranya.

Sebelumnya Jak tak pernah seperti ini, itu karena ia takut nantinya Frians mengetahui tentang organisasinya bahwa faktanya Jak adalah anggota Rabbit killer meskipun ia sudah keluar tetapi Jak masih tergolong ikut organisasi tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!