"Aku akan mengantarkan Frians ke markas," ujar Jak mengambil kunci mobil.
"Baiklah kami pergi dulu ya, sayang."
"Kalian hati hati ya," ujar Yesias menyaksikan mereka pergi.
Mereka berdua pun sampai ke markas mereka.
"Ayah, aku belum tau lokasi kami akan membunuh dimana," ujar Frians, mereka berdua masuk ke dalam markas berjalan serentak.
"Biasanya kalau orang yang memakai jasa psikopat gitu mungkin saja lokasinya jauh," ujar Jak menjelaskan pada anaknya yang baru pertama kali ikut seperti itu.
"Oh gitu."
"Kau tidak takutkan sayang?" tanya Jak.
"Aku tidak apa apa, aku juga tidak takut ini hanya membunuh kan, itu hal mudah, yah."
Ditengah obrolan mereka berdua tiba tiba Smith, dan Kuanti datang, mereka berdua menyapa kedua orang itu.
"Eh kalian berdua, Jak tumben kau kemari membawa Frians.
"Ia, karena Frians juga akan bekerja dengan Query mereka dipakai untuk membunuh," jelas Jak.
"Frians, kau sudah berhasil," ujar Kuanti.
"Terimakasih," Frians tersenyum.
"Sebentar aku mencium bau amis, kalian bau darah, apa kalian bari siap membunuh?" tanya Jak.
"Tepat sekali hari ini kami membunuh 4 orang, 1 orang lagi belum kami eksekusi dan dia juga masih tergantung di atas rantai itu," Smith menunjuk ke seluruh ke sebuah ruangan.
Frians yang penasaran menjinjitkan kakinya untuk melihat korban yang digantung, di ruangan itu namun tetap saja tidak nampak.
"Frians ada apa?" senggol Jak.
"Tidak yah aku hanya ingin melihat siapa korban mereka," ujar Frians.
"Ehh kalau begitu kalian lanjut aja ya, kami mau bersih bersih dulu," Smith, dan Kuanti pergi untuk membersihkan diri mereka dari bau anyir darah.
"Ya sudah ayo kita lihat," mereka berdua pun melihat orang itu, benar saja tubuhnya masih tergantung dan banyak sengatan listrik bahkan biram karena benturan benda benda yang dibuat Smith.
"Kau sudah puas melihatnya?" tanya Jak.
"Sudah, sayang sekali kita tak bisa mendengarkan jeritan mereka."
"Sudah ayo bertemu Query, ia pasti sudah menunggu."
"Query?"
"Jak, kalian sudah sampai," Query melihat Frians yang ada di samping Jak.
"Maaf ya lama datang, membuatmu harus menunggu."
"Tidak apa apa, aku juga baru siap mengasah pisau."
"Aku titip anakku Frians kepadamu," ujar Jak menyerahkan Frians ke Query.
"Aku akan menjaganya, tapi rasanya aku tidak perlu menjaga Frians, ia juga hebat," ujar Query enggan, dan hanya cuek saja.
"Itu hanya basa basi," Jak tertawa.
"Dimana Antoni, ada yang ingin ku berikan padanya uang hasil penjualan dagingku separo akan di kalian," jelas Jak.
"Antoni sedang keluar ia ingin menyamar untuk membunuh orang," ujar Query memberitahu misi Rabbit killer yang baru.
"Arnold juga keluar ya?"
"Ia, yang ada disini hanya kami saja."
"Aku sudah siap bagaimana denganmu?" tanya Query beralih topik ke Frians.
"Aku juga sudah selesai."
"Ayo kita pergi sekarang," ajak Query.
"Ia."
"Kalian sudah mau pergi saja," Kuanti menghampiri mereka yang ada di situ.
"Ia, Kuanti aku nitip tempat ini."
"Baiklah, Frians kau juga harus ingin orang yang bersamamu adalah orang yang dingin, ia tak tanggung tanggung untuk membunuh orang," ujar Kuanti memegang bahu Frians.
"Aku tau, apa lagi ia bermain dengan ketakutan," Query melirik ke arah mereka yang sedang mengobrol itu tanpa memotong ataupun mencela.
***
"Mengapa kau diam saja, apa kita tidak pernah bertemu sebelumnya?" ujar Frians menanyakan sekaligus membuka pembicaraan.
"Aku lagi menyetir," sahutnya.
"Sebelumnya kau tidak seperti ini Query, kau tidak ingin berbicara denganku?"
"Bukan begitu Frians, aku tidak habis pikir aku harus menjadi rekan denganmu, padahal anak kecil sepertimu harusnya sekolah, kau tidak sekolah besok?"
Query sudah mau berbicara dengan Frians.
"Tidak, sekolah kami diliburkan karena kasus hilangnya ke 6 anak di sekolahku," jelas Frians sekaligus menyindir.
"Haha, kasus itu sampai segitunya ya."
"Ia itu karena sebab mereka menghilang sekali gus, padahal mereka sudah dibunuh."
"Hahaha, itu ibumu yang membunuh bukan kami, bahkan Antoni saja hanya membunuh 1 orang."
"Oh ia, bagaimana dengan temanku yang jadi hewan itu? Ia masih hidup?"
"Sudah mati juga, beberapa hari yang lalu Antoni membunuhnya, setelah ia puas menyiksa menjadikan anak itu hewan."
"Kalian pembunuh yang serakah," sindir Frians.
"Sudah dibilang itu ibumu yang membunuh Yesias, bahkan kami hanya mendengarkan teriakan teriakan mereka."
"Ngomong ngomong kau membawa pisau milikmu itu?"
"Jelas aku membawanya, mana mungkin aku bisa meninggalkan pisau itu, pisau itu sudah menjadi temanku dalam waktu membunuh."
"Coba lihatkan di maps berapa jam lagi kita akan sampai?"
"3 jam lagi Query."
"Kau kalau mau tidur tidurlah."
"Nanti saja, aku masih mau ngobrol denganmu," Frians tersenyum.
"Frians mengapa kau membunuh orang? Padahal kau masih kecil, kau juga masih sekolah," tanya Query.
"Karena aku juga pengen seperti ayah, dan ibuku."
"Kau diajarin mereka?"
"Tentu saja mereka mengajariku sehingga aku menjadi pandai buat membunuh orang."
"Tapi Jak, dan Yesias tidak menceritakan mengenai Rabbit killer ini?"
"Sama sekali tidak, aku mengetahui kalian dari Kuanti, dia pernah menceritakan semuanya padaku."
"Ohhh gitu, tetapi sekarang Jak, dan Yesias tidak lagi menutupi Rabbit killer kan?"
"Aku rasa tidak, bisa jadikan mereka menyembunyikannya karena statusku masih sekolah."
"Barangkali Sih, agar kau sekolah dulu, habisnya pekerjaan ini terlalu berbahaya untuk anak kecilmu."
"Tapi aku bisa mengatasinya, aku bisa mengontrol ketakutan, emosiku, dan juga mengenai emosionalku," bantah Frians.
"Emang benar yang kau katakan tetapi itu tetap saja berbahaya, kau harus hati hati juga."
***
"Jak, bagaimana Frians, mereka sudah berangkat?"
"Sudah, barang kali mereka sudah mau nyampai kelokasinya."
"Oh ia, aku lupa memberitahumu bahwa Rabbit killer sekarang sudah mempunyai misi penyamaran yaitu mereka akan menjadi masyarakat guna mendekatkan diri pada orang orang, dimana perlahpo40an mereka akan memancing untuk dibunuh," jelas Jak menyampaikan informasi yang dia dapatkan dadi rekannya Smith.
"Menarik juga mereka sekarang, lebih banyak perkembangan, Anroni sendiri sekarang bagaimana?"
"Antoni jugaikut turun dalam misi ini dia sedang keluar, aku tidak tau dia menyamar jadi apa."
"Apa aku menghubungi Antoni saja ya menanyakan padanya," ungkap Yesias berpikir untuk menanyakan Antoni menjadi siapa ia menyamar.
"Tidak perlu biarkan saja mereka membunuh dengan caranya."
Mengenai Frians, dan Query mereka berdua telah sampai di lokasi pada malam harinya.
"Kalian sudah sampai ya, ini lebih cepat dari yang aku pikirkan, aku kira kalian bakalan sampai besok hari," ujarnya menyambut Frians, dan Query.
"Ia pak, kebetulan tidak ada drama apa pun dijalanan ini hanya macat saja, itu pun hanya sebentar," ujar Query.
"Kamu namanya Query ya? Kalau kamu pasti Jefrianskan?" tanya orang itu menunjuk keduanya.
"Betul," mereka berdua menjawab serentak.
"Ayok masuk dulu istirahat kita tidur di rumah saya saja ya, soalnya di Vila saya lumayan jauh dari sini, sekitar 15 menitsih tapi buat kalian yang capek pasti jauh."
"Ga masalah kami mau istirahat dimana pak Jansen."
"Baik, ayo masuk masuk, jangan sungkan sungkan," ia mempersilahkan Query, dan Frians dengan ramah.
Bahkan ia juga memberikan fasilitas terbaik untuk mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments