"Akhirnya aku sampai juga, malam ini untuk sementara aku akan tidur di markas," Jak tiru dari mobil lalu mengunci pintu mobil itu.
"Ehh Jak apa itu kau? Tumben malam malam kemari ada keperluan apa Jak?" tanya Query habis mengangkat barang.
"Tidak ada aku hanya baru selesai menjual daging," jawab Jak berdiri menunggu Query berdiri karena ia masih membersihkan celananya.
"Oh gitu ku kira entah ada apa tadi."
"Ngomong ngomong kemana yang lainnya? Sepertinya tempat ini sangat sunyi tidak seperti biasanya."
"Biasalah pada sibuk, lagian sebentar lagi akan ada pembunuhan," ujar Query berjalan kecil menuju ke dalam.
"Apa ada korban? Siapa?"
"Hewan peliharaannya bos, saat ini ia sedang diberi makan Arnold, mungkin selesai itu akan langsung di eksekusi."
"Apa kita akan memakannya Query?" tanya Jak yang jijik melihat anak itu bagai mana tidak selama di dalam kandang ia hanya diberi makan kotoran mereka di tambah makanan makanan basi, dan busuk.
"Sepertinya kita akan menjualnya saja lagian aku dengar dengar harga mata sekarang lebih naik harganya."
"Itu tergantung kalian, aku mau istirahat sebentar rasanya aku tak sanggup buat melanjutkan pulang ke rumahku," ujar Jak di susul menguap.
"Teman, kau terlihat capek sekali pergilah tidur jika begitu kami mau mempersiapkan untuk mengeksekusi Kreyos."
"Oh ia ngomong ngomong dimana orang Antoni, dan Arnold?" tanya Jak yang tidak melihat teman temannya itu.
"Antoni ya? Aku juga tidak melihatnya atau dia berada di kandang juga," jelas Query mengarang.
Mengikut ucapan Query Jak pun datang ke kandang hewan, namun dia hanya mendapati Arnold yang memberi makan peliharaan Antoni.
"Ini makananmu," Arnold menyepak tempat makanan itu, dan ia memasukkan wajah Kreyos kedalam mangkuk makan!" serunya membentak.
Tubuh Kreyos itu benar benar sudah kotor, dekil, sama seperti hewan ia hanyalah manusia yang dijadikan persis seperti peliharaan, sekujur tubuh yang tidak memakai baju itu membuat cambukan demi cambukan mengenai kulitnya langsung, selain leher Kreyos yang banyak luka memar, sampai sampai sampai leher Kreyos sudah hampir berlumur darah namun ada juga darah yang sudah kering.
Jak juga menyaksikan bagaimana anak itu di libasi karena Kreyos makannya lama, hanya perkara itu mereka senantiasa selalu menghajar Kreyos.
"Arnold!" senggak Antoni yang melihat hewan peliharaan nya itu di cambuk.
"Bos?"
"Apa apaan kau ini, kau menyakiti peliharaanku," Antoni menampar wajah Arnold sangat keras, tetapi Arnold diam saja ia tak berani melawan.
"Arnold," Jak pun memutuskan buat menghampiri mereka.
"Jak," ujar keduanya serentak.
"Aku kemari hanya ingin numpang tidur."
"Apa Yesias mengusirmu? Atau kalian berantem?" tanya Antoni mendengar temannya itu ingin numpang tidur di markas mereka.
"Bukan seperti itu aku habis menjual daging ke tempat yang cukup jauh, karena aku sudah tak sanggup lagi melanjutkan pulang akhirnya aku memutuskan untuk tidur disini," jelas Jak.
"Ya sudah kalau begitu," Antoni tiba tiba menghidupkan mesin gergaji yang ada di tangannya itu," ia membuka pintu kandang spontan Antoni mengayunkan gergajinya itu ke tubuh Kreyos dimana pada saat itu Kreyos merangkak makan, tubuh Kreyos pun terbelah dua dengan mesin gergaji.
"Selanjutnya biar Smith yang akan mencincang daging ini," Antoni duluan beranjak pergi dari tempat itu, ia memerintahkan Smith untuk mengambil tubuh yang sudah dihabisinya.
"Arnold aku tidur dulu ya badan badanku sangat capek sekali," Jak juga pergi dari situ, begitupun juga dengan Arnold.
***
"Ayah belum juga pulang ya bu," ungkap Frians membantu ibunya membersihkan taman mereka.
"Palingan nanti sore, perjalanan lokasi yang dia tuju sangat jauh dari sini," ungkap Yesias memotong rumput yang sudah memanjang.
"Yesias, selamat pagi," sapa Jeni yang sedang berjalan jalan kecil di area itu.
"Selamat pagi Jen, wah kamu lagi jalan jalan ya?" Yesias tersenyum mendekat ke Jeni.
"Ia Jen, aku selalu melakukannya agar perutku terasa enak, lagian orang hamilkan harus banyak bergerak," Jeni memegang pundak Yesias.
"Kau benar, Jen," tangan Yesias juga membalas memegang tangan temannya itu.
Frians yang ada disitu hanya melihat mereka berdua dari tempatnya.
"Ngomong ngomong apa itu Frians?" tanya Jeni mencondongkan badannya melihat Frians sedang membersihkan taman.
"Ia, aku menyuruhnya membantuku karena ia libur."
"Libur? Libur apa Yesias?"
"Sekolah mereka kena kasus hilangnya enam orang anak sekolah situ, keenam temannya adalah sekelas Frians," ujar Yesias menjelaskan.
"Astaga kasihan sekali, aku turut berduka cita semoga mereka cepat ditemukan," ungkap Jeni mengekspresikan wajahnya yang ikut haru.
"Semoga saja."
"Yesias aku lanjut jalan jalan dulu ya."
"Ia silahkan Jen," Jeni pun pergi dari situ namun mata Frans tetap berbinar tertarik untuk membunuh teman ibunya itu.
"Frians, ada apa denganmu? Kau ingin membunuh Jeni?"
"Hehehe," Frians tertawa cengengesan.
"Kau tidak boleh melakukan itu, awas saja kau kalau berani menyentuh Jeni," ancam Yesias.
"Tidak ibu," Frians kembali melakukan pekerjaannya.
"Bu aku sudah bosan dengan pekerjaan ini, aku mau kedalam saja untuk menonton," ujar Frians agar Yesias memberinya izin untuk selesai duluan.
"Kau tidak bosan melihat siaran televisi? Mereka hanya menayangkan mengenai anak hilang itu bahkan selalu saja siaran televisi menjadikannya topik berita," ungkap Yesias mengumpulkan daun daun di bawah untuk dibakar.
"Tidak bu, berita itu adalah salah satu komedi untukku bagaimana tidak mau ke ujung dunia sekalipun mereka tak akan menemukannya," ujar Frians.
"Bu, selama libur sekolah ini apa yang harus ku kerjakan apa aku membunuh saja ya? Bolehkan ibu?" lanjut Frians.
"Boleh saja mau siapapun yang kau bunuh terserah kamu asalkan jangan Jeni," tegas Yesias.
"Ia aku tau, Jeni tidak bisa disentuh oleh siapapun."
Frians pergi dari situ meninggalkan Yesias yang sedang membersihkan taman, entah kemana anak itu mau pergi yang jelas Frians pergi selalu membawa pisau tumpulnya, dan bolpoin.
"Bosan sekali aku," ujar Frians berjalan jalan ia juga melempari got dengan beberapa batu yang berada di tangannya itu. Dengan tujuan menghilangkan kebosanannya.
"Apa aku membunuh saja
ya, banyak orang orang disini yang bisa dijadikan korban, ah ga deh aku lagi malas harus membunuh," saat Frians sedang berjalan jalan melalui jalan yang begitu ramai hanya matanya yang liar memperhatikan hal hal kecil, buktinya Frians cepat melihat tikus yang ingin dimangsa oleh seekor kucing besar, Frians menghampiri kucing yang ingin memangsa tikus itu, kedatangan Frians membuat kucing tadi pergi. Frians juga mengambil tikus yang hampir dimangsa tadi ia membawanya, namun bukan menyelamatkannya tikus itu ia berikan pada seekor ular berada di kandang.
"Lucu sekali," ujar Frians melihat kedua hewan itu yang satu mengejar yang satu berusaha menyelamatkan dirinya.
"Bertahan hidup itu pilihan, namun mati juga tidak menjadi alasan seberapa besar kamu bertahan," ujar Frians melihat ular itu sudah memakan tikus yang ia berikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments