Korban baru

"Ternyata kau anaknya Jak ya? Mengapa kau tidak memberitahu pada kami kalau kau anak dari teman kami, untung saja ayahmu cepat datang ya, jika tidak mungkin kau akan dijadikan sebagai peliharaan seperti anak-anak sebelumnya," ujar kuanti mengajak Frians kembali mengobrol agar dirinya tak bosan menyetir mobil.

"Untuk apa aku memberitahunya, lagian aku bisa lepas dari sergapan itu hanya saja aku ingin merasakan sakitnya dari jeritan jeritan itu, aku juga selalu membawa alat alatku sendiri."

"Baguslah, pasti Yesias yang menyuruhmu untuk membawa peralatan itukan," Kuanti melirik ke tempat Frians duduk.

"Ia, ibuku takut terjadi sesuatu padahal aku memiliki peralatan lain yang ku simpan."

"Oh begitu, ngomong ngomong apa Yesias, atau Jak tidak pernah memberitahu kepadamu mengenai Rabbit killer?" tanya Kuanti.

"Rabbit Killer?" Frians mengerutkan keningnya sambil memandang keluar jendela mengingat kembali nama itu, bahwa ibunya Yesias pernah menyebutkan tentang Rabbit killer, tetapi ia tidak tahu apa itu Rabbit killer.

"Sepertinya aku pernah mendengar ibu menyebutkan nama ini, tapi aku tidak tahu apa itu Rabbit killer," Frians bermaksud meminta penjelasan pada Kuanti.

"Rabbit killer merupakan organisasi pembunuhan dimana anggotanya memakai kostum, dan topeng yang sama, setiap anggota memiliki ciri khas dalam membunuh," jelas Kuanti.

"Siapa pendirinya?" tanya Frians penasaran.

"Ibumu sendiri, ia kedapatan membunuh anak kecil buta di taman beberapa puluh tahun lalu. Smith, dan ayahmu pun memperogokinnya tetapi mereka tidak memberitahu kepada pihak bertanggung jawab mereka justru kagum melihat aksi dari Yesias, sejak itu mereka mulai membunuh bersama, lalu Antoni bergabung kepada mereka berempat, Antoni sendiri merupakan bos pasukan Rabbit killer," Kuanti memberitahu apa yang diketahuinya mengenai organisasinya itu.

"Kau sendiri mengapa bisa masuk ke Rabbit killer?"

"Aku? Aku dulu pernah ditangkap polisi karena kasus membunuh empat sepupu ku, mereka berempat selalu mengejek ibuku, sampai kesabaranku habis karena mereka sudah kelewat batas, aku melemparkan kampak seperti bumerang sampai akhirnya kepala keempat orang itu putus dari leher," jelas Kuanti.

"Kejadian itu sudah lama?"

"Tidak, sekitar 3 tahunan lalu."

"Bukannya saat ini kau harusnya berada di penjara?" tanya Frians bingung mendengar kasus itu mana mungkin Kuanti saat ini bisa bersamanya harusnya ia berada di dalam sel.

"Aku melarikan diri, berkat Arnold aku selamat, ia membawaku ke Rabbit killer, polisi juga menjadikanku sebagai buronan tetapi sampai sekarang belum ada yang bisa menemukanku.

"Apa aku belum bisa bergabung ke Rabbit killer ya?"

"Tanyakan pada ibumu, ngomong ngomong setelah jalan ini kemana lagi? Aku belum tahu daerah rumah kalian," sebelumnya Kuati belum pernah sama sekali ke rumah Jak, dan Yesias jadi wajar saja kalau dirinya tak tau jalan.

"Masih jauh di depan."

Namun Kuanti merem mobilnya mendadak, membuat Frians terhempas ke sandaran belakang karena sangkinkan kerasnya.

"Ada apa Kuanti, mengapa kau merem seperti itu?" tanya Frians heran, dan kesal.

"Aku melihat anak yang bermain pertunjukan badut itu," Kuanti tersenyum.

"Hmm, bisakah kau serahkan padaku?"

"Tidak, ini bagianku."

"Ta ta- tapikan aku menginginkannya."

"Tidak!" Kuanti meninggikan nada bicaranya.

"Ups turunkan suaramu, harusnya itu adalah bagianku. Bukankah kalian sudah membunuh lima orang anak?"

"Dari siapa kau tahu? Aku bahkan tidak ada melukai mereka ibumu yang membunuh kelima anak itu, hanya satu yang tersisa yang berada di dalam kandang hewan," ujar Kuanti jujur.

"Mana mungkin ibuku, kau berbohong-" Frians belum sempat melanjutkan ucapannya Kuanti langsung memotong, Kuanti menyodorkan ponselnya ke Frians.

"Hubungi ibumu," ia buru buru keluar menutup pintu mobil.

"Ckk, laki laki dewasa sialan," mau tidak mau Frians harus menelepon ibunya. nomor pun terhubung namun tak segera diangkat, mata Frians tak lagi fokus ke ponsel.

"Lama sekali," monoloknya.

Akhirnya ibunya mengangkat nomor Kuanti.

"Ada apa Kuanti, tumben tumbenan menghubungiku kenapa?" ujar Yesias dari seberang.

"Halo ibu, ini aku Frians aku bersama Kuanti, ayah menitipkanku ke orang ini, bu inikan menjadi waktu yang panjang."

"Kau ingin membunuh bersama Kuanti? Baiklah, tapi ingat pulang aku menunggu kalian," Yesias mematikan telepon.

Begitu selesai Yesias mematikan telepon Frians langsung berlari mengejar Kuanti yang sudah cukup jauh. Namun Kuanti tersusul oleh Frians.

"Anak kecil larimu cepat juga," ujar Kuanti memperlambat larinya.

"Aku ingin membunuh orang itu, atau bagaimana kalau kita bagi dua, tidak masalah jika harus banyakan kau," ujar Frians memberi tawaran.

"Baiklah kalau begitu," mereka berdua saling bersalaman sepakat.

Mereka pun sampai pada anak yang sedang memakai kostum badut itu, ia sambil menunggu orang orang memberinya sedikit uang, profesi anak itu bisa dibilang badut pengemis.

"Permisi nak," Kuanti menepuk bahu badut tersebut.

"Ada apa?" ia membuka kepala badutnya.

"Ini daerah mana ya? Saya orang luar yang ingin mengunjungi rumah saudara saya, kebetulan baterai ponsel saya juga habis," jelas Kuanti.

Ia memberi tahu kalau posisi Kuanti saat ini berada di daerah Tulip.

"Terima kasih, ngomong ngomong sepertinya kamu haus ya, ini ambillah," Kuanti menyodorkan air mineral, dan beberapa buah buahan.

"Darimana orang itu mendapatkan buah buahan ini," batin Frians.

"Ah tidak perlu," ujar badut tersebut menolak.

"Jangan sungkan, tidak perlu malu kau terlihat haus, ayo duduk dibangku sana dulu, basuhilah tenggorokanmu," kata kata yang keluar dari Kuanti sangat manis sehingga mampu membuat anak itu terhipnotis, ia menuruti Kuanti meminum air yang diberikan, tanpa ragu anak itu meneguk air di dalam botol dari Kuanti.

Langsung saja secara cepat Frians menusukkan pisau ke perut orang itu, di tambah lagi Kuanti menghajar kepala orang itu pakai tongkat baseball.

"Ahh," ia sempat berteriak meringis kesakitan.

"Rasakan itu, selanjutnya aku akan menusuk tubuh orang ini, kira kira berapa tusukan?"

"5 tusuk," ungkap Kuanti mengasal.

"Aku tidak puas bagaimana kalau," Frians kembali menusuk, tiga tusukan, empat tusukan, lima tusukan, enam tusukan, begitulah seterusnya saat Frians menusuk sebanyak 21 tusuk korban pun tak ada lagi berteriak."

"Hah sudah selesai ya? Hanya 21 tusukan sayang sekali ya, kau tak bisa mengucapkan kata kata terakhir kau hanya bisa mengeluarkan suara agh, ahh itu saja. Seharusnya rekor 30 tusukan," rasa kurang puas pun masih terpancar di mata Frians.

"Sudah awas," Kuanti mendekati anak itu darah mengalir hebat, berhubung tak ada orang ia memotong kepala orang tersebut, Kuanti juga memasukkan kedalam kantong plastik yang dibawanya.

"Untuk apa kepala itu?" tanya Frians.

"Di jual, sekarang bantu aku untuk membersihkan darah ini," mereka menguras darah itu hingga bersih, tubuh korban didudukkan ke bangku ia juga dipakaikan kembali kostum badutnya, seperti layaknya manusia yang hidup.

"Cukup melelahkan, tapi seru."

"Kau sudah siap membersihkan pisau itu?"

"Sudah," Frians mengumpul tisu tisu yang digunakannya melap bekas darah.

"Akhirnya pisauku terpakai juga, padahal ini untuk membunuh enam orang temanku itu," Frians kembali geram keinginannya membunuh temannya gagal total.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!