Pembeli daging

Setelah beberapa saat Jak keluar dari ruangannya ia telah mengemas daging dari tubuh Mila barusan.

"Yesias, daging mila ternyata tampak sangat empuk ya, pada saat di cincang tadi juga lembut," ujar Jak melepaskan sarung tangannya.

"Oh ya, sayang sekali kita tidak bisa mencicipi daging Mila," sahut Yesias mengepel lantai yang masih dipenuhi darah.

Jak meletakkan daging yang sudah berada di kantong plastik itu di ruangan tempat Mila dibunuh, agar Yesias memasukkannya kedalam lemari es mereka.

***

"Jak bagaimana pesanan daging dagingku? Apa belum terkumpul?" ujar pembeli daging itu melalui teleponnya.

"Semuanya sudah terkumpul 20 kilo, aku akan mengantarkannya besok, oh ia bisa kau kirim alamatmu sekarang?"

"Baiklah," ia langsung mengirimkan alamat tempat ia tinggal.

"Besok pagi jam 02.00 tepatnya aku akan berangkat," aku mematikan ponsel itu, lalu mengecek kantong plastik yang ada di dalam lemari es besar berada dibawah.

"Semuanya sudah siap, tinggal memindahkannya saja," monolog.

"Jak, sedang apa?" tanya Yesias yang datang keruangan bawah.

"Aku sedang menghitung jumlah kantong daging ini, besok jam 02.00 pagi aku akan berangkat."

"Jak, secepat itukah?"

"Tentu, karena lokasinya juga cukup jauh aku takut malam hari belum sampai ketempat yang aku tuju."

"Hmm, baiklah kalau gitu."

Malam harinya tepat pukul yang dijanjikan Jak, Jak pun berangkat pergi membawa daging daging manusia yang sudah ia bunuh.

Selama Jak melintas ia hanya melalui jalur jalan yang sunyi, bahkan Jak tak melihat sedari tadi orang orang yang melintas di jalan itu.

"Apa benar jalan ke alamat ini sesunyi ini," Jak memberhentikan mobilnya.

Ia kemudian menghubungi orang yang ingin membeli daging tersebut, mendengar penjelasannya ternyata benar jalan itu memang sunyi, karena tempat mereka yang terpencil.

Sesampainya Jak di depan jalan, ia melihat sebuah jualan makanan Jak singgah untuk membeli beberapa makanan agar perutnya terisi, Jak juga membeli minuman. Sekaligus Jak menanyakan alamat yang mau ia tuju.

"Mohon maaf nona, apakah benar ini jalan menuju ke alamat ini," Jak menunjukkan pesan di ponselnya.

"Ia benar, kamu dari mana?" tanya orang itu.

"Aku orang asing, dari kota sebelah," jelas Jak.

"Oh begitu, jalan ke tempat ini masih jauh kurang lebih sekitar 5 jam lagi."

"Tidak apa apa, aku akan membawa mobilku santai lagian aku juga tidak terlalu terburu buru," ujar jak membayar, ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya.

"Apa disini tidak ada tempat peristirahatan aku rasa pinggang ku mulai sakit," bagaimana tidak dari semalam Jak tidak ada beristirahat ia membawa mobilnya laju terus.

"Atau aku menepikan mobilku, dan beristirahat dahulu lokasi yang kutempuh juga masih jauh dari sini, sekitar 5 jam lagi, kalau aku tidak istirahat aku akan kecapean, belum tentu aku bisa pulang," Jak memutuskan untuk menepikan mobilnya ia beristirahat sementara di dalam mobil, Jak meluruskan badannya agar terasa tidak sakit nantinya.

Setelah merasa cukup dalam istirahat Jak kembali bangkit, dan kembali menyetir mobilnya melanjutkan perjalanan, lokasi yang ditempuh Jak masih benar benar jauh lagi.

Sekitar 3 jam dari tempat itu Jak melihat sebuah perkotaan disana banyak bangunan bangunan, rumah, kantor, tempat jualan, dan lain lain tak seperti tempat yang sebelumnya yang begitu sunyi, tempat ini sangat ramai sampai memadati jalan karena aktivitas masyarakat disitu.

"Sepertinya aku harus memberitahu dia bahwa aku sudah sampai di Fracly," Jak kembali menghubungi orang yang ingin membeli daging itu.

"Aku sudah di Fracly, apa masih jauh?" tanya Jak melalui telepon.

"Oh ya, dimana posisimu aku juga sedang di tokoku berjualan," jelasnya.

"Kalau begitu aku mengarahkan Jak.

Jak mengikuti petunjuk arah dari orang tersebut, hingga sampailah dia di toko es krim yang dimaksud. Jak tanpa ragu membuka pintu masuk.

Jak masuk kedalam, ia melihat pelayan yang sedang sibuk meladeni orang orang yang membeli, Jak dengan sabar menunggu pelayan itu untuk menghampirinya.

"Permisi tuan mau pesan apa?" tanya pelayan di toko itu menyerahkan daftar menu.

"Aku hanya ingin bertemu dengan bos kalian, apa dia ada?" tanya Jak kembali.

"Sebelumnya ada janji?"

"Ada, dia memesan sesuatu padaku, dan aku sudah membawakannya," jelas Jak.

"Sebentar tuan, saya mau memanggilkan bos kami dulu ia saat ini berada di ruangannya," ujarnya membalikkan badan, dan pergi ke belakang.

Tak berapa lama wanita tadi menuntun untuk menunjukkan ke arah Jak.

"Apa kau Jak," ujar orang itu.

"Ia, benar sekali, kau yang mau membeli daging itukan?"

"Ia, aku Wilson," Wilson tersenyum kepada Jak.

"Kemana daging itu mau aku letak?" tanya nya langsung tanpa membuang buang waktu.

"Ke rumahku, dari sini ke rumahku sekitar setengah jam lagi, apa kau mau mengantarkannya?"

"Baiklah, kapan mau dihantarkan biar aku hantarkan langsung," jelas Jak.

"Kau mau sekarang, kalau gitu ayo ikut denganku," ujar Wilson mereka berdua akhirnya pergi di depan Wilson sebagai petunjuk jalan bagi Jak yang berada di depan.

Jalan ke rumah Wilson tak akan mendapati rumah rumah lagi hanya ada hutan lebat, bahkan di sekitaran jalan itu kanan kirinya hanya hutan. Sampailah mereka di suatu rumah yang cukup besar, Wilson turun dari mobilnya.

"Jak kita sudah sampai," ujar Wilson.

"Kemana mau dibawa daging ini?" Jak membuka bagasi mobilnya, dan mengangkat satu persatu daging itu turun.

"Ke belakang saja," ujar Wilson.

"Apa ini benar benar rumahmu?" tanya Jak ia bukan tak percaya hanya saja seperti kurang yakin jika Wilson tinggal di rumah pelosok seperti ini.

"Benar Jak memangnya kenapa?"

"Tidak ada, aku hanya menanyakan mengapa tempatnya jauh dari pemukiman warga."

"Kebenarannya karena papaku adalah seorang kanibal, ia tak mau bermukim di dekat orang orang makanya kami memilih rumah di pelosok seperti ini," jelas Wilson

Mendengar papa Wilson yang seorang kanibal ia sangat kaget, Jak kembali bertanya kepada Wilson.

"Jadi apa daging daging ini semua untuknya?"

"Tidak semua hanya sebagian, dan untukku sebagian juga."

"Kau juga memakan daging manusia?" Jak mengkerutkan keningnya.

"Ia, kami lebih menyukai daging manusia dari pada daging hewan sendiri, sebenarnya aku ingin sekali membunuh dan memakan daging korbanku sendiri namun aku tidak punya waktu untuk itu jadi aku hanya bisa memesannya pada psikopat psikopat seperti kalian Jak."

"Oh jadi seperti itu, yasudah kalau begitu aku mau mengangkat ini kebelakang," Jak mulai mengangkat daging daging itu, pada saat hendak kebelakang Jak tak sengaja mengangkat kepalanya ia melihat seseorang sedang merokok melihatinya dari jendela.

"Apa itu papanya Wilson?" dalam hati Jak bertanya, namun ia tak terlalu memfokuskan orang itu, ia hanya mengerjakan pekerjaannya, sampai di kantung terakhir selesai.

"Semua daging sudah ku pindahkan ke lemari es di belakang," ujar Jak menutup pintu bagasi mobilnya.

"Bagus Jak ini bayaranmu," orang itu memberikan begitu banyak uang dengan nominal yang sangat besar.

"Terimakasih, senang bekerja sama denganmu Wil kalau begitu aku pulang dulu," Jak mengeleksonkan mobilnya sebagai bentuk berpamitan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!