"Pemirsa kembali terjadi hilangnya enam anak siswa smp, diduga mereka tidak pulang ke rumah selama 4 hari. Hingga sekarang pihak kepolisian, masih mencari keenam anak tersebut," ujar presenter tv.
Jak yang berada di rumah mendengarkan mengenai berita itu sambil menghirup secangkir kopi yang dibuatkan Yesias.
"Orang orang bodoh, mana mungkin enam orang itu akan kembali sedangkan mereka sudah mati, dagingnya saja sudah kami nikmati, sebagian sudah dijual," sahut Jak.
"Ayah, ibu aku pergi dulu," ucap Frians menyalam kedua orang tuanya.
"Frians jika di sekolahmu nanti ada polisi yang menanyai untuk saksi mata, atau untuk bukti sebaiknya kau tidak perlu terlalu terlibat," ujar Jak memperingati.
"Tenang ayah, aku tahu itu, aku akan menghindar dari mereka."
"Baguslah, aku akan menyuruh Arnold untuk turun ke lokasi mengawasi gerak gerik polisi."
"Apa ayah takut terhadap itu?"
"Tidak sama sekali, kita juga harus mengetahui bagaimana pendapat mereka jadi ayah perintahkan Arnold untuk turun."
"Tidak perlu ayah biar aku saja, aku juga bisa menangani ini, ayah tidak mau turun?" tanya Frians sembari mengikat tali sepatunya.
"Tidak, ayah ada pekerjaan, ayah juga ingin pergi ke tempat seseorang," mendengar itu Yesias yang melap piring matanya langsung tertuju ke arah suaminya.
"Baiklah aku sudah siap, aku pergi dulu."
Frians keluar untuk menunggu bus langganannya yang mengantarkannya ke sekolah setiap hari. Tidak hanya Frians bus itu juga menggangkat anak anak dari sekolah lain, bahkan sebagian teman Frians juga sudah menjadi langganan bus tersebut.
"Kau mengatakan sesuatu tadi pada Frians?" tanya Yesias melakukan pekerjaan lainnya.
"Ia, aku bilang aku menyuruh Arnold untuk turun ke lokasi," jelas Jak.
"Bukan itu, mau pergi lagi ya? Mau ketemu siapa lagi sayang?"
"Aku mau pergi ke tempat perdagangan daging, kemarin ada yang ingin memesan daging ia meminta berlangganan kepadaku, tetapi masalah ini harus kami bahas dahulu. Jadi ia menyuruhku untuk ke rumahnya."
"Kau tidak pergi sendirian kan?"
"Sepertinya aku akan pergi sendiri, lokasinya juga dekat kok kenapa?"
"Sayang, kau harus istirahat beberapa hari ini kau sangat aktif sekali bahkan dirimu sendiri belum ada liburnya harus mengerjakan inilah, itulah, jual inilah, semua kau yang menanganinya."
"Tidak masalah Yesias, lagian aku juga sudah lama tidak membunuh, banyak daging manusia yang harus dinikmati oleh orang orang," Jak kembali meminum kopinya.
"Terserah Kamu saja, sayang kau tidak ingin belum sarapan?"
"Sebentar lagi," Jak tak ingin belum beralih ke makanan yang lainnya, ia hanya ingin meminum kopi itu hangat hangat.
***
"Ramai juga," Frians melihat polisi yang sedang melacak jejak mengenai ke 6 temannya tersebut.
"Percuma saja mencari mereka, kalian tidak akan menemukan jawabannya," Frians melanjutkan langkahnya sesampainya di kelas ternyata ada beberapa polisi yang menginterogasi teman teman Frians.
"Ya ampun akan ada drama hari ini," Frians berjalan santai, ia harus mengeluarkan sikap dinginnya.
Frians sukses mencari perhatian polisi, walaupun dasarnya ia tak mau diperhatikan polisi, salah satu anggota polisi datang kebangku Frians.
"Cih, haruskah mereka menanyai ku juga," batin Frians, melihat polisi yang sudah sampai kebangkunya Frians tersenyum hangat.
"Selamat pagi nak," sapa polisi tersebut.
"Selamat pagi juga."
"Maaf mengganggu waktumu sebentar, kami harus menanyai mengenai keenam teman sekelasmu yang hilang," ujar polisi itu.
"Baiklah."
"Sebelum korban menghilang apakah ia ada memberitahu sesuatu, atau semacam kode?"
"Tidak ada, mereka duluan keluar, pada saat aku menunggu bus untuk pulang juga, aku tak melihat mereka lagi di luar aku mengira mungkin mereka juga sudah pulang," jawab Frians mengarang.
"Melihat mereka selama ini tidak kembali apa pendapatmu?"
"Hmm, mungkin saja mereka melarikan diri, atau mereka tersesat, bisa jadi mereka pergi ke suatu tempat," ungkap Frians ia benar benar menghindari jawaban yang akan menjadi pertanyaan polisi.
"Apa kau akrab dengan korban, apa mereka ada memberitahu mengenai masalah apa pun itu?"
"Aku tidak akrab dengan mereka, kami juga jarang berinteraksi apa lagi saling bertukar cerita, dari lama nya aku sekelas dengan mereka, mereka berenam hanya selalu bermain bersama bahkan mereka jarang bermain dengan anak lainnya, jadi aku tidak terlalu tahu."
Mendengar itu polisi langsung menyudahi interogasi dengan Frians. "Baiklah kalau begitu terimakasih untuk hari ini, selamat belajar," ungkapnya menghampiri rekan polisi yang berada di ruangan itu.
"Sudah ku bilang, kalian tidak akan menemukan apa pun di sini yang hanya tau kejadian aslinya adalah aku, sedangkan murid lain tak akan ada yang tau," dalam hati Frians.
"Frians, aku lihat kamu di introgasi juga ya," ujar seorang perempuan yang datang kebangku Frians.
"Eh, Cila. Ia aku di introgasi merek menanyakan ke enam orang itu, tetapi aku tidak tahu apa apa, apa kau di introgasi mereka juga?"
"Ia Frians, aku dengar juga bahwa sekolah kita akan di tutup untuk sementara waktu, agar para polisi mudah menyelidiki kasus hilangnya enam orang itu, lihatlah ke jendela," ajak Cila menarik tangan Frians. Terlihat beberapa orang polisi membuat garis kuning yang bertulisan "Crime scene do not cros."
"Ternyata kasus mereka semengerikan ini ya Frians," Cila tak sengaja menggenggam pergelangan tangan Frians.
Frians dapat merasakan tangan Cila yang lembut, Frians hanya melihat tangan wanita yang berdiri di sampingnya itu.
"Cila, Cila takut ya?"
"Ia, Frians, Cila ga berani lama lama di luar Cila ga tau siapa tau sewaktu waktu Cila yang bakalan hilang kayak mereka, entah ini penculikan atau pembunuhan Cila harus bisa melindungi diri Cila, Frians mau Cila lindungi juga?" tanya Cila menatap Frians, anak itu benar benar lucu dengan segala kelakuannya.
Frians tersenyum, baru kali ini ia benar benar tersenyum murni tanpa di buat buat di depan orang lain.
"Mau, Cila bisa melindungi aku?"
"Tentu saja, Cila akan menjaga Frians ga ada yang boleh ngelakuin kejahatan pada Frians."
"Termasuk pembunuhan?"
"Ia, Cila akan hajar orang itu."
Mendengar itu Frians tertawa terbahak bahak, bukan ingin mengejek ucapan Cila tetapi rasa hatinya lucu seorang pembunuh sepertinya harus di lindungi anak perempuan lucu, yang bukan siapa siapa.
"Baiklah aku mengandalkanmu Cila, jadilah kuat," Frians menepuk bahu Cila, ia kemudian meninggalkan Cila yang masih melihat keluar jendela.
Rasa salah tingkah, bercampur malu membuat pipi Cila memerah, sudah lama ia suka dengan Frians sebenarnya namun Cila hanya diam saja, tak ada ruang untuk mereka berkomunikasi, jadi Cila hanya bisa memberikan perhatian ke Frians. Frians juga anak yang tak banyak bicara, ia lebih banyak diam, Frians hanya ingin berbicara pada anak laki laki temannya saja.
Bel pun berbunyi, hari ini semua siswa baik kelas 7,8,9 dipulangkan padahal masih pukul 08.00, karena pihak polisi harus mengatasi kasus ini agar pekerjaan mereka tak terganggu.
Cila ikut keluar, ia berdiri di depan menunggu bus untuk pulang, karena ayahnya juga sudah pergi ke kantor, begitu juga dengan ibunya pasti tidak ada orang yang bisa menjemputnya apalagi rumah Cila juga masih terkunci.
"Cila, nunggu jemputan ya?" tanya Frians menunggu bus.
"Cila belum mau pulang, rumah Cila juga dikunci otomatis Cila ga akan bisa masuk," ungkap Cila.
"Kasihan, apa aku bawa saja Cila ke rumahku," batin Frian. Kalau begitu aku coba saja menawarkan kepadanya apakah ia mau.
"Cila, kamu mau ikut ke rumah aku tidak?" tanya Frians mencoba berani menawarkan ke Cila.
"Mau," dengan senang hati Cila menerimanya, karena pulang pun ia tidak bisa masuk ke rumah, menunggu di sekolah akan membuang waktu.
Setelah bus langganan Frians datang, mereka berdua pun sampai Frians, duduk di samping Cila. Bagi Cila kejadian ini adalah kejadian terbaik untuk bisa dekat dengan Frians.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments