Mengandung adegan kekerasan.
"Cepat juga, kalian sudah sampai," Arnold mendorong kasar pada lima anak lagi yang belum terbunuh, hingga mereka tersungkur jatuh.
"Sakit," ujar si gendut menatap Arnold.
"Diam kau! Atau aku tembak, Query bawa 1 orang lagi yang sudah mati di mobil," perintah Arnold menyepak anak anak itu.
"Biar aku yang mengurus mereka ini," sudut bibir Yesias terangkat, ia tersenyum miring tak sabar ingin melakukan penyiksaan. Menurut Yesias ini adalah keseruan bermain main pada anak kecil, seperti bermain pada anak marmut.
"Jak, apakah ruangan sudah siap?"
"Sudah kau bisa melakukan apapun itu."
"Sebentar, berapa daging yang harus kita nikmati," si botak Antoni menghampiri Jak, dan Yesias.
"Ada 5 lagi bos," sahut Jak.
Istrinya itu sudah terlihat seperti orang gila matanya berbinar binar tak sabaran ingin menyiksa, dari kelima anak lagi.
"Biarkan 1 untukku," pinta Antoni.
"Baiklah, sayang kau cukup membunuh empat anak saja."
"Tanggung, tapi tidak apa apa," Yesias menuruti apa yang dibilang Jak.
"Suamiku apa kau mau berdiri disini? Menyaksikan teriakan ini?" Yesias merangkak ke depan, sedangkan anak anak yang berada disitu ngeri melihat Yesias.
"Jangan mendekat," pinta mereka ketakutan sekaligus menjerit histeris melihat Yesias.
Dihadapan mereka Yesias congkok memandangi satu persatu wajah anak anak itu penuh keringat, dan pucat akibat panik mereka benar benar ketakutan, namun tak ada yang bisa diperbuat.
"Wajah kalian sepertinya berkeringat," Yesias mengeluarkan selembar tisu dari kantongnya.
"Siapa yang mau memakainya?" Yesias menaikkan tisu itu ke atas.
Mereka hanya diam melihat tingkah Yesias, begitu pun dengan rekan rekan Yesias mereka yang berada disitu malah asik sendiri, sebagian orang ada yang bermain karu, ada juga yang minum alkohol.
"Anak anakku, kalian bisa mendengar suaraku kan?" tanya Yesias secara konyol.
"Ambil tisu ini," Yesias kemudian menurunkan tisu yang diangkatnya tadi.
"Buat apa? Tangan kami saja terikat kebelakang," ungkap salah seorang dari mereka.
"Siapa yang dapat mengambil tisu ini, ia akan-" Yesias belum selesai berbicara si gendut malah berusaha guling guling sebisanya merampas tisu itu dari tangan Yesias, ia hanya menggunakan mulutnya, dan berhasil di dapatkan.
"Kerja bagus," ujar Yesias menyapu kepala anak itu.
"Apa Sih yang mereka lakukan?" Kuanti yang bermain kartu bersama Arnold, dan Smith juga bingung.
"Ah sudahlah biarkan saja dia bersama anak anak itu."
"Yang teriakannya paling kencang itulah daging yang paling nikmat," sambung Smith.
"Yesias, sayang mau seberapa lama lagi kau ingin menghabisi mereka?" tanya Jak terlihat posisinya sudah tiduran dibawah.
"Asta aku lupa," sahut Yesias.
"Aku harus membunuh kalian sekarang, sebentar lagi akan sore aku harus segera menghabisi kalian.
Yesias mengeluarkan sebuah alat pemotong lidah, ia mendekati anak paling ujung di sebelah Kiri.
"Katakan siapa orang yang kau benci diantara kalian berlima?" tanya Yesias membuka mulut anak itu.
"Tidak ada," jawabnya.
"Bohong, mau ungkapkan atau tidak?"
"Benar benar tidak ada," sahutnya lagi.
"Kalau begitu," Yesias menarik lidah anak tadi keluar hingga menjulur.
"Aku akan memotong lidahmu jika kau tidak jujur," ancam Yesias.
"Aku benci Kevin," ungkapnya cepat cepat.
"Siapa yang namanya Kevin angkat tangan?" tanya Yesias.
Seseorang yang duduk di dekat si gendut mengangkat tangannya. "Aku," ujarnya.
"Kemarilah," pinta Yesias. Orang itu mendekat saat itu Yesias memberikan pemotong lidah tadi.
"A- apa ini?"
"Kau bisa menggunakan ini memotong lidah temanmu ini karena dia membencimu," ujar Yesias menghasut kebencian.
"Ta tapikan?"
"Kau yang mau memotong lidahnya, atau aku yang memotong lidahmu?" ungkap Yesias menatap tajam.
Mau tidak mau Kevin menggunakan alat itu, ia memotong lidah temannya itu, tangan Kevin menggeletar ia tak mampu melihat saat pemotongan Kevin hanya menutup mata mendengarkan teriakan temannya tersebut.
Teriakan semangkin kuat, pemberontakan dari anak anak lain juga semangkin memaksa mereka untuk dilempari beberapa anak panah.
Akhirnya ia pun mati, dengan lidah terpotong, Sedangkan Kevin sendiri dibawa Yesias.
"Urus mayatnya ia sudah mati, teriakannya kurang histeris ya."
"Mau kemana kita?" tanya Kevin.
"Tenanglah," di sebuah ruangan yang berisik karena suara gergaji, dan suara musik yang kuat menyatu membuat suara Kevin tak terdengar.
"Ck, radio ini terlalu berisik," Yesias mematikan musik itu.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
Kevin menggeleng kecil, keringat yang bercucuran dari wajahnya adalah keringat dingin menahan takut.
"Kau jangan pasrah ya? Ini bakalan menyenangkan."
Yesias mengambil gergaji, ia perlahan menyalakan gergaji sehingga bunyinya terdengar jelas di telinga Kevin, Yesias mengangkat gergaji itu untuk memotong tangan sebelah kiri Kevin.
"Aagh!" Kali ini teriakan yang kuat sangat jelas terdengar Yesias, Yesias ikut tertawa terbahak bahak melihat Kevin kesakitan.
"Hentikan," separuh jantungnya rasanya tak berdetak lagi menahan rasa sakit itu.
"Kevin," Yesias mengeluarkan kertas menyuruh Kevin menuliskan sesuatu di kertas itu pakai darah yang mengalir dari tangan Kevin.
Kevin menuruti Yesias, ia menuliskan suatu bacaan. "HELP!"
Selesai menulis itu nyawa Kevin dihabisi paksa oleh Yesias.
"Kau telah usai," Yesias menyeret mayat Kevin menghadap ke semua orang di ruang sebelumnya, anak anak yang berada disitu tercengang, ketakutan, menangis, dan lain lain.
Hanya rekan Yesias yang terlihat biasa saja bahkan mereka peduli tak peduli melihat mayat itu, mereka lebih mementingkan kegiatan mereka.
"Ini surat dari teman kalian," Yesias memberikan lembaran kertas bertulisan darah itu untuk teman teman kevin.
Hanya tersisa 4 orang lagi yang ada disi
Kring kring … tiba tiba suara ponsel Yesias berdering di kantongnya, ia mengambil ponsel itu melihat bahwa itu dari Frians yang meneleponnya.
"Halo, ibu dimana? Tidak menjemputku?" tanya nya sedari tadi nungguin jemputan.
"Kau pulang naik bus saja, ibu sedang sibuk di rumah," ujar wanita itu berbohong.
"Yah," nada kecewa terdengar dari mulut Frians.
"Maaf, ibu masih di luar ibu matikan dulu ya," ia langsung cepat cepat mematikan ponsel itu.
"Sepertinya aku tidak bisa menikmati kesakitan dari anak anak ini, aku harus membawa 3 anak ini, biar mereka sekali bunuh saja.
Yesias menyeret ketiga anak itu, menurutnya karena ini terlihat merepotkan jadi ia membiarkannya saja, Yesias keluar mencari sebuah kapak, dan parang tumpul setelah menemukan itu Yesias kembali, tiba tiba sebuah kapak melayang menghantam salah satu kepala hingga kepala itu menggelundung ke bawah.
Kampang yang tadi juga digunakan Yesias untuk menghantam anak orang yang ditengah, dan satu orang lagi dengan parang tumpul itu ia menghabisi, suara teriakan histeris memenuhi ruangan, satupun dari mereka yang berada disitu tidak ada belas kasih, hanya anak yang gendut yang masih utuh ia belum sama sekali terluka, anak itu hanya menyaksikan bagaimana sadisnya temannya di bantai.
"Aku sudah selesai ujarnya, membuka sarung tangan," Yesias membuang sarung tangan itu ke sembarang tubuh korban.
"Kau mau kemana?" tanya Smith.
"Aku harus pulang, anakku tidak boleh tau kalau aku membantai semua ini, Jak apa kau nanti tidak pulang lagi?"
"Sepertinya tidak," ujar Jak menatap istrinya yang merasa puas itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu, aku buru buru," ia berlari untuk mengganti kostumnya, dan merapikan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments