"Hari ini aku masak roti bakar daging lagi," ujar wanita itu menyiapkan sarapan ke atas meja.
"Lagi?" ungkap Frians sedikit bosan harus memakan roti bakar daging.
"Kenapa sayang? Kau bosan ya?"
"Ti- tidak bu, aku hanya sudah malas melihat daging itu. Memangnya tidak bisa di sedekahkan saja? Diluar sana banyak orang yang kepingin makan daging."
"Frians, memangnya siapa yang mau makan daging manusia seperti ini?" Tanya ayahnya yang berada di meja makan sambil membaca koran.
"Mereka Kan tidak tahu kalau ini daging manusia, aku sudah lama tidak merasakan daging hewan."
"Apa bedanya sayang daging hewan dengan manusia? Jelas masih enakan daging manusia," sahut ibu Frians mengangkat roti bakar ke atas meja makan.
"Ini sausnya," lanjut beliau menuangkan ke dalam mangkok kaca berwarna putih.
"Huft, aku makan setengah saja," Frians mengambil ke piringnya.
"Baiklah baik, ayah akan mencarikan daging hewan untukmu nanti, daging yang ada di kulkas masih banyak bu?"
"Masih, aku juga tidak tahu harus melakukan apa akhir akhir ini terlalu banyak korban ya?"
"Kalau begitu buang, atau tanam saja," ujar Frians memberi saran.
"Masalah itu gampang, kamu tenang saja Frians, cepat habiskan makananmu dan pergilah ke sekolah nanti kamu telat."
"Siap ayah," anak kecil itu memberi hormat kepada kedua orang tuanya.
"Bagus, buku pr mu sudah selesaikan? Sudah kau masukkan ke dalam tasmu?"
"Sudah ibu."
"Aku berangkat dulu," ia meneguk beberapa tegukan susu hangat yang terhidang.
***
"Apakah tugas kalian sudah selesai hari ini?" tanya sang guru memulai pelajaran.
"Sudah buk …" sahut beberapa anak termasuk Frians.
"Kalau begitu kumpulkan ke depan, apakah ada yang tidak mengerjakan tugas!" serunya menaikkan nada bicara.
"Angkat tangan buat yang belum mengerjakan tugas!" serunya sekali lagi.
"Aduh gimana ini bos?" terlihat 6 orang anak duduk paling belakang dengan raut wajah paling panik.
"Gimana ini? Apa kita angkat tangan saja," ujar anak lelaki berbadan kecil di samping si gendut.
"Jangan nanti kita kena marah."
"Terus? Atau kita minta paksa si Frians saja?" ujar mereka merencanakan sesuatu.
"Ibu bagaimana kalau pr kami nanti saja," tawar anak yang berbadan gemuk itu karena ia merupakan bos dari ke 5 orang di anak anak di belakang yang belum selesai pr ini.
"Kalau begitu tidak masalah setelah istirahat kalian harus mengumpulkan tugas kalian jika tidak, kalian akan dapat hukuman!" ancam sang guru, ia kembali mengarah ke papan tulis menjelaskan materi hari ini.
***
"Ini kerjain tugas kita," mereka ber 6 serentak melemparkan buku ke Frians yang ingin makan bekal dari ibunya tadi.
"Tapi bukannya ini pekerjaan kalian, mengapa tidak kalian saja?" Frians membuka kotak bekal terlihat makanan yang begitu enak daging bakar serta saus pedas di sisi lain.
"Fiuh, daging lagi," ujar Frians.
"Aku memerintahkanmu buat mengerjakan tugas kami, jika tidak siap kau akan dapat pembalasan dariku," ancamnya mengepalkan tangan.
Frians tak berkata apa apa ia mengambil buku mereka, begitu pula dengan mereka yang mengambil kotak bekal Frians.
"Kotak bekalku mau kalian kemana kan?"
"Memakan makanan ini sedikit tidak masalahkan," ungkap salah seorang dari mereka.
"Ouh kalian mau memakannya yasudah tidak apa," lagi lagi Frians hanya diam tak melawan ia terlihat seperti bocah culun yang tak berani. Frians hanya pasrah terhadap semuanya.
Sementara Frians mengerjakan tugas ke-6 anak itu, sementara mereka asik bersantai sambil makan nasi di dalam bekal Frians.
"Dagingnya kok rasanya berbeda ya?"
"Ia nih, ga seperti daging pada umumnya," sahut seseorang diantara mereka.
Sedangkan anak gendut itu sangat menikmati makanan bekal Frians, tanpa banyak komentar yang keluar dari mulutnya.
"Atau mungkin dagingnya campuran kali," sahut salah seseorang lainnya.
Mereka terus terusan berkomentar tentang daging itu, meskipun banyak komentar yang keluar isinya sudah habis, ke 6 orang itu meninggalkan kotak bekal di atas meja begitu saja.
Mereka kembali ke kelas, melihat Frians yang tengah mengerjakan yang lain mereka kembali mengganggu Frians dan mainannya.
"Tugas kami sudah selesaikan Frians?"
"Kalian bisa cek aja sendiri," ujar Frians sambil bermain game kejar kejaran.
"Kalau begitu sini buku kami," pinta si gendut.
"Nih," Frians memberinya sabar meskipun ia tahu dirinya sendiri sedang diganggu.
"Tidak ada lagikan?"
"Kelihatannya permainanmu itu seru, serahin buatku," salah seorang diantara keenamnya menarik permainan yang dimainkan Frians.
"Tapi, kalian mau main itu?" tanya Frians tak percaya.
"Kenapa tidak ini permainan yang mudah," ujar si gendut.
"Ya sudah kalau kau bisa, ngomong ngomong dimana tempat bekalku?" lanjut Frians menanyakan karena ia tak melihat kotak bekal yang dibawanya itu.
"Tidak tahu, tinggal mungkin sudahlah jangan ganggu aku," mereka berenam kembali ke bangku belakang.
"Anak anak yang perlu diajarkan sopan santun, dan tanggung jawab!" Frians mengepalkan tangannya tetapi ia masih tenang mengatur posisinya untuk diam.
Jam istirahat pun selesai kini masuk kembali pelajaran Biologi keenam anak ini mengumpulkan tugasnya. Mereka mendapatkan nilai 100, begitu juga dengan Frians yang dapat 100.
"Lucu, aku harus berbagai nilai padahal aku sudah capai capai untuk mendapatkan, dan mempelajari langsung organ manusia ini," batin Frians.
"Hanya 7 orang yang mendapatkan nilai sempurna," nama mereka di bacakan setelah itu para siswa memberi apresiasi dengan bertepuk tangan.
***
Frians memasuki ke rumah, wajahnya murung marah bercampur aduk perasaan jengkel tak tau mau ia lampiaskan kemana.
"Sayang kamu sudah pulang," si ibu langsung menghampiri anaknya itu.
"Ia bu," Frians memeluk ibunya sebagai untuk mengisi tenaga, apa lagi di peluk balik sudah cukup untuknya menghilangkan capai.
"Gimana nilai Biologinya dapat berapa?"
Frians mengeluarkan kertasnya, ia tak ragu untuk memperlihatkan nilai dari hasil yang ia dapat berkat kerjanya itu.
"Anak ibu memang pintar, papamu pasti juga bangga sama kamu nak."
"Ngomong ngomong papa dimana bu?"
"Keluar," wanita itu hanya menjawab singkat.
"Tumben, biasanya papa tidak pernah keluar selama ini, ada urusan penting ya bu?"
"Tidak tahu."
"Papa tumben tidak memberi tahu ibu kemana dia pergi," cetus Frians sedikit curiga.
"Tidak perlu menanyakan papamu, mungkin saja ada urusan pribadinya kau cukup tahu sampai sini bahwa dia sedang keluar."
"Kamu mau makan siang, ibu sudah belikan sayuran, dan daging hewan," wanita itu tersenyum menampakkan giginya.
"Boleh bu, aku ganti baju sebentar."
"Eeh, Frians tempat bekalmu mana biar ibu cuci."
"Hilang, tadi teman sekelasku yang membuatnya, mereka juga menghabiskan bekalku," Frians menjelaskan semuanya apa yang terjadi hari ini.
"So, kau mau menghabisi mereka sendiri atau dengan Rabbit killer?"
"Rabbit killer?" Frians baru pertama kali mendengar nama itu, sebelumnya ia bahka tidak tau sejenis apa rabbit killer ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Noona Kim
"masak apa Mak?" "biasa daging manusia di bakar" huhu
2023-08-27
0