salah satu anggota Rabbit killer

"Pa, sedari tadi aku belum melihat Frians pulang," ujar Yesias di ruang tamu cemas.

"Itu karena dia belum pulang sekolah," Jak mengambil sebatang rokok untuk dihisap.

"Apa terjadi sesuatu dengannya? Harusnya dia sudah pulangkan apa lagi ini sudah jamnya pulang," Yesias mondar mandir takut terjadi sesuatu pada anak laki laki satu-satunya itu.

"Apa mungkin dia melakukan pembunuhan ya? Biarlah nanti juga dia pulang, Frans lagian anakku satu satunya ia pasti bisa menghadapi permasalahan diluar sana," ujar Jak, Jak bangkit dari tempat duduknya mengambil jaketnya yang tersangkut di dekat lemari.

"Jak, kau mau keluar?" tanya Yesias yang masih belum tenang.

"Ia, aku harus ke markas untuk membantu Query menjual daging daging itu, apa lagi jumlahnya cukup banyak, aku pergi dulu ya sayang," sebelum pergi Jak mencium kening Yesias terlebih dulu.

"Hati hati di jalan, Jak aku tidak ingin membunuh dulu selama kau pergi aku ingin hidup normal seperti orang orang pada umumnya."

"Tidak apa, kau tidak harus membunuh istirahatlah dahulu kau pasti capek," Jak mulai membawa mobil, ia tak lagi terlihat.

"Huft, lagi lagi aku harus sendiri," Yesias merasa sepi di rumah itu suaminya pergi, dan anaknya belum juga pulang ke rumah, ia benar benar kesepian, rasanya ingin membunuh pun malas, Yesias hanya menghabiskan waktu untuk sementara menata taman di depan rumah.

Tak berapa lama saat Yesias menata taman tetangganya lewat, dari situ.

"Hai, Jeni," sapa Yesias kepada wanita yang tengah hamil itu.

"Yesias, kau lagi menata taman ya?" tanya nya singgah.

Sebenarnya Yesias tergiur untuk membunuh Jeni, namun karena rasa malasnya itu ia melepaskan Jeni sebagai target korban pembunuhannya.

"Ia, aku melihat bunga bunga ini sudah tak tertata, jadi aku mencoba menyusunnya kembali. Kau sendiri apa yang kau lakukan Jen?"

"Aku hanya jalan jalan kecil di sekitar kota ini, katanya orang hamil harus banyak gerak, apa lagi ini anak pertamaku," Jeni tersenyum lebar.

"Benar sekali," Yesias mendekat menyapu perut Jeni.

"Ngomong ngomong sudah berapa bulan kandunganmu?"

"Lima bulan," sahutnya.

"Ouh begitu, sebentar lagi kau akan lahiran, dan kau akan menjadi ibu," Yesias ikut senang saat itu.

"Eh, Yesias, rumahmu terlihat sepi kemana mereka?"

"Suamiku pergi keluar kota ada urusan, sedangkan anakku belum pulang sekolah mungkin saja dia ada kegiatan," jelas Yesias.

"Apa anakmu pulang malam?"

"Tidak kok, paling sore nanti dia pulang."

"Yesias harus hati hati, apalagi sekarang ini sering terjadi pembunuhan sadis termasuk Frians diakan masih kecil baru smp, harus dijaga dan diawasi," Jeni memberikan himbauan kepada temannya itu agar terus berhati hati.

"Ia, aku tau kau juga harus tetap waspada ya, jaga kandunganmu jangan sampai kenapa napa," ujar Yesias yang juga memberi peringatan.

"Ia, Yesias kalau begitu aku pulang dulu ya, aku mau siap siap lagi untuk acara keluarga nanti malam."

"Ia, Jeni," Yesias memeluk hangat Jeni. Meskipun Yesias seorang pembunuh namun kala malas membunuh ia adalah orang yang selalu perhatian.

***

Pov: Frians.

"Aku mau ke kamar mandi, aku mau buang air besar," ujar Frians.

"Tidak ada acara mau ke kamar mandi, kau diam disitu," Query masih mengawasi Frians.

"Aku tidak akan kabur, kau bisa menjagaku, aku tidak tahan," ujarnya sungguh sungguh.

"Agh ya sudah ayo lah kalau begitu," Query membawa Frians ia melepaskan borgol nya, Query juga mengawasi Frians dengan ketat.

"Apa masih lama?" teriak Query dari luar.

"Sebentar lagi," tak berapa lama Frians pun selesai keluar dari toilet tangan Frians kembali diborgol, saat ia melewati ruangan ia mendengar suara mesin, disambut dengan teriakan jeritan.

"Ahh, tolong!" suara itu terdengar jelas.

"Apakah ada orang yang disiksa?" tanya Frians menghentikan langkahnya.

"Diam tidak usah banyak tanya, ayo ikut," paksa Query, namun Frians masih berhenti, hanya untuk mendengarkan suara rintihan minta tolong itu.

"Sepertinya teriakan itu sangat nikmat sekali," dalam hati Frians, dirinya ingin sekali sebenarnya masuk kedalam ruangan tadi namun salahnya ia dijaga, Frians hanya ingin menikmati jeritan kesakitan.

Selesai jeritan itu, mesin pun juga berhenti karena korban sudah selesai dibunuh dagingnya juga sudah selesai terpotong potong. Pintu pun terbuka keluar salah seorang lelaki yang memakai topeng kelinci sama seperti orang yang menyekapnya itu.

"Siapa dia Qur?" tanya orang yang keluar itu.

"Dia hanya korbanku selanjutnya aku akan membunuhnya ia kan?" Query tersenyum

"Ohh, aku kira mau sekarang, aku harus memberi data ke bos," orang itu langsung pergi meninggalkan Query, dan Frians.

"Sudah selesai, ayo kembali ke ruanganku," pinta Frians.

Frians kembali didudukkan ke bangku dengan tangan, dan kaki terikat rantai. Selesai ia mengikat Frians Smith datang memanggil Query.

"Query ikut denganku," ujarnya.

"Ada apa?"

"Ayolah," ajak Smith.

"Ini," ia memberikan surat jumlah plastik daging yang harus dijual semuanya ber total 20 kantong plastik.

"Jak belum datang ya?"

"Dia tadi menghubungiku katanya ban mobilnya pecah, masih diperbaiki kau tunggu saja, ngomong ngomong kapan kau akan membunuh anak itu?" tanya Smith yang juga tak sabaran.

"Nanti saja, aku ingin bermain dengan ketakutannya," Query smirk jahat.

Selesai ngobrol dengan Smith ia kembali keruangan dimana Frians di sekap.

"Kau belum ingin membunuhku?" tanya Frians, sedari tadi ia tak sabaran.

"Ada apa denganmu? Kau bosan hidup?" Query heran melihat anak itu menawarkan dirinya secara cuma cuma untuk mati.

"Tidak, mengapa kau tidak melakukannya?"

"Kau mau mati sekarang ya," barulah Query mengeluarkan pisau yang sangat tajam.

"Tunggu," melihat pisau itu Frians memberhentikan Query, Query merasa Frians takut ini kesempatannya untuk bermain dengan ketakutan Frians.

"Akhirnya kau takut juga anak kecil."

"Kau yakin ingin menggunakan pisau yang tajam itu?" Frians mengerutkan keningnya seakan ia heran.

"Kenapa?"

Namun Frians hanya menaikkan bahunya saja sebagai jawaban.

"Aku tahu kau takut ya," Query mendekat ke Frians, bahkan Frians sama sekali tak takut wajahnya biasa saja, rasa panik itu tak ada dalam diri Frians ia melihat Query berjalan mengangkat pisau, seakan pisau itu siap di cucukkan kedirinya.

Query menaruh telapak tangannya ke dada Frians guna untuk mengecek jantung Frians, tetapi jantung Frians berdetak normal, ia juga mengecek pergelangan tangan Frians, tangannya juga tak menggeletar, wajah pucat tak tergambar di wajah anak itu.

"Kau tidak takut?" tanya Query menyakinkan Frians.

"Tidak, pisaumu terlalu tajam bukan?"

"Aku tahu, aku hanya tidak ingin terlalu menyiksamu bagaimanapun kau tetap akan aku habisi."

"Itu tidak masalah, tetapi alangkah baiknya menggunakan pisau tumpul, apa kau tidak punya?"

"Kenapa tidak? Aku punya pisau tumpul masalah pisau tidak menjadi hambatan untuk membunuh."

"Ku kira kau tidak punya tadi, aku ingin menawarkannya. Coba lihat isi tasku," ujar Frians menyuruh Query memeriksa tas yang berada di samping kursinya.

Secara ragu ragu Query mengambil tas Frians, mau tidak mau ia harus membuka tas itu karena penasaran juga Queru membukanya, dirinya terkejut ketika membuka tas milik Frians. Mendapati yang ada di dalam tas itu, benar benar membuat kaget Query ia seperti tak percaya melihatnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!