Pesta kelinci bagian1

"Ini permainan jelekmu, aku tidak mengerti bagaimana mana mainnya susah, semuanya kejar kejaran untuk selamat dari pembunuh," anak laki laki yang mengambil permainan Frians semalam melemparkan kasar benda itu ke bawah hingga rusak.

"Kau ingin melihat bagaimana permainan ini? Nanti ada saatnya!" seru Frians mengambil permainannya yang di berantakan di bawah.

"Halah banyak omong," ia berjalan di samping Frians.

Frians meliriknya marah, rasa ingin membunuh anak itu sudah timbul tetapi ia harus menahannya takut ketahuan apa lagi tempatnya saat ini tidak cocok untuk melakukan aksinya itu.

"Sabar sedikit," Frians mengambil ponselnya menghubungi sang ibu.

"Mah, hari ini aku ada korban tetapi tanganku enggan kotor karena darahnya," ketikan Frians sudah terlihat berbeda dari sebelumnya ia memanggil ibu kini sudah menjadi mama, itu artinya ia ingin menghabisi seseorang.

"Mama tidak mau, kau saja sendiri yang membunuh," balas sang mama.

"Kalau begitu, kabar berita akan terdengar lagi."

"Siapa korbanmu?" tanya wanita itu penasaran.

Frians mencari foto keenam anak yang mengganggunya lalu ia mengirim untuk menunjukkan ke mamanya sekaligus akan menjadi foto korbannya.

"Sudahlah, kau belajarlah bagus bagus."

Frians kembali beralih ke kontak lain yaitu papanya sendiri.

"Pisau ini sudah lama tak terpakai, ia bahkan hanya menjadi pajangan di dalam tasku," ujar Frians mengirim pesan ke papanya.

"Maksudmu? Apa kau punya target? Kalau begitu jangan membawa pulang dagingnya!"

"Aku mau membunuh, pisauku sudah lama tak terguna," jelas Frians to the point.

"Kampakmu juga sudah lama tak terpakai di ruang bawah, tidak mau menggunakannya?" tanya lelaki itu menawarkan kepada anak laki laki satu-satunya.

"Tidak, itu terlalu ribet."

"Mana korbanmu? Kau bisa mengirim fotonya papa ingin melihatnya."

Frians mengirimkan foto orang yang sama ke papanya itu, tindakannya sudah bulat tak dapat diganggu gugat.

Sementara Frians tak tahu bahwa ayahnya bersama orang-orang penting yaitu mantan organisasi mereka dulu Rabbit Killer. Bahkan mereka juga melihat percakapan papa Frans dengan anak laki lakinya tersebut.

"Teman teman aku rasa kita akan pesta nanti malam," ujar ayah Frans semangat.

"Aku suka ini, aku akan mencari anggur merah untuk kita," ujar seorang laki laki, ia langsung bangkit dari duduknya.

"Anakmu hebat kau mau membiarkannya membunuh?" tanya lelaki botak sekaligus adalah ketua Rabbit killer.

"Tadinya, namun karena aku sudah berada di sini biarkan aku yang akan menghabisinya," ujar ayah Frians minum sedikit bir.

"Kalau begitu mengapa tidak kami saja yang kau perintahkan, selesai ini kita akan berpesta. Aku akan memerintahkan anak anak buahku menangkap ke 6 bocah itu," ia pun bangkit bersiap sedia ingin memberi arahan.

"Baiklah aku serahkan ini ke kalian."

"Oyy," ia mendatangi bawahannya yang sebagian sedang bermain kartu.

"Kalian semua bersiaplah, siapkan pisau kalian," ujar orang itu begitu saja. Mendengar perintahnya mereka yang bermain kartu tadi langsung bubar begitu saja ke dalam ruangan yang berbeda beda.

Begitu pula dengan ayahnya Frians, ia mengambil baju hitam dan sebuah topeng kelinci kepunyaannya dulu. Di saat ia ingin memakai itu tiba tiba salah seorang rekannya datang menemui lelaki yang sedang memakai kostum itu.

"Hari ini hari pertama kamu lagi membunuhkan Jak?" tanya orang itu.

"Ia, setelah selama ini anakku," ia melanjutkan memakai sarung tangannya.

"Kau masih ingatkan caranya membunuh?" ungkapnya sambil tertawa kecil.

"Smith jangan merendahkanku seperti itu," orang itu terlihat kesal karena Smith.

"Ngomong ngomong bagaimana dengan istrimu Yesias? Dia bahkan tidak pernah terlihat lagi."

"Dia sudah menjadi ibu rumah tangga yang baik, disamping itu ia juga mengajarkan anak kami membunuh, dan merawat anak laki laki kami, dia sekarang termasuk wanita sibuk," jelas Jak.

"Hmm seperti itu, kau kelihatannya sudah selesai kalau gitu aku mau siap siap dulu," Smith pun meninggalkan Jak untuk memakai kostumnya.

***

Yesias pov:

"Suamiku sudah 1 harian tidak pulang, apa dia tahu kabar tentang anaknya? Atau dia malah terjun kedalam dunia Rabbit itu, aku harus ke markas mereka bagaimanapun ceritanya," Yesias langsung mengambil jaketnya, dan mengambil kunci mobil untuk pergi ke sebuah tempat yaitu markas para Rabbit killer.

Setelah melalui perjalanan panjang ia sampai pada sebuah rumah besar, halaman rumah itu sangat kotor rumput rumput yang sudah panjang, pohon pohon besar, lantai yang berabu dan dalam rumah yang gelap.

"Sial, aku tidak membawa senter, baterai ponselku sudah mau habis tetapi aku rasa ini mungkin bisa untuk sementara," Yesias menyalakan ponselnya senter pun terpancar mengeluarkan cahaya.

Sepanjang perjalanannya Yesias melihat banyaknya benda benda tajam yang berserakan, termasuk gunting, bahkan ada ujung sepatu hak tinggi disitu.

Yesias membuka sebuah ruangan ia mengira tadinya suaminya ada di dalam ternyata itu hanya ruangan picket, Yesias mendekat kesitu.

"Sepertinya gantungan ini barusan terpakai, talinya masih sedikit hangat," ujarnya memegang tali gantungan itu.

Yesias mengubah posisinya jongkok ia mengambil sebuah garpu yang berada di lantai itu.

Tak berapa lama ia bertemu dengan salah seorang lelaki bertubuh lebih pendek darinya.

"Yesias?"

"Kamu Query bukan?" tanya Yesias ragu, karena ia sudah lama tak melihat mereka lagi, hampir 5 tahun lebih akhirnya Yesias kembali melihat teman lamanya itu.

"Apa yang membuatmu datang kemari temanku," Query memeluk hangat Yesias sebagai unjuk rasa rindunya.

"Aku mencari Jak suamiku, kau melihatnya?"

"Ayo ikut aku," Query sebagai petunjuk jalan, dan Yesias mengikuti Query di belakang.

"Lihat siapa yang ada disini," ujar Antoni si botak yang merupakan ketua mereka.

"Antoni, kau kah itu?" tanya Yesias tercengang takjub.

"Ia siapa lagi, ada keperluan apa kemari Yesias, bukankah suamimu berada disini, tumben tumbenan."

"Aku hanya ingin menghabisi orang yang mengganggu anakku," ujar Yesias.

"Kalau begitu target kita sama," sahut Query.

"Benar, apa yang dibilang Query kami juga ingin menghabisinya, tetapi biarkanlah itu Jak yang menghajar, aku dan Query menunggu disini."

"Sama siapa saja suamiku?"

"Ia, Smith, Arnold, Kuanti," jelas Antoni.

"Kau tidak ingin bergabung, Yesias?" tanya Query melirik.

"Kalau begitu, aku juga sudah lama tidak menggunakan bolpoinku juga sudah lama tak terpakai," Yesias langsung gerak memakai seragam merah, serta topeng sehingga dirinya tak di kenalin lagi.

Sementara Smith, Arnold, dan Kuanti, Jak telah selesai, keempat orang ini berkumpul menghadap Antoni, dan Query yang tinggal di markas.

"Semuanya sudah selesai kalau begitu ayo kita berangkat," ujar Smith.

"Tenang dulu, kau terlalu terburu buru satu orang lagi sepertinya belum selesai," cetus Smith membuat ke 3 orang ini bingung, mereka bertanya tanya satu sama lain.

"Siapa satu lagi memangnya?" tanya Smith.

Sementara Jak hanya diam saja, ia juga penasaran tetapi tidak mau tau siapa pun itu yang penting ia membunuh hari itu juga.

"Entahlah," sahut kedua orang rekannya.

Ditengah mereka yang sedang bertanya tanya Yesias pun keluar mengenakan kostumnya.

"Siapa dia?" tanya mereka kembali.

Mata Jak melotot seperti tanda pada orang dibalik topeng itu tetapi mustahil baginya, Jak tetap tenang.

"Yesias, kau sudah selesai?"

"Sudah," Yesias membuka topengnya, membuat mereka bertiga terkejut itu adalah istri Jak.

"Kejutan macam apa ini?" Jak bingung seperti tak percaya bahwa itu adalah istrinya sendiri.

"Istriku," Jak memeluk Yesias, Yesias membalas pelukan suaminya itu.

"Sudah jangan membuang waktu kita, sebentar lagi mereka akan pulang sekolah,"

***

"Ikut kami," ancam Smith mengeluarkan pisau, barulah yang lain ikut keluar menyusul.

"Lepasin aku tidak mau ikut," berontaknya memaksa.

Geram melihat tingkah anak itu Yesias mencucukkan bolpoinnya ke perut anak yang merengek tadi.

Kelima anak yang lainnya menjerit histeris ketakutan, sehingga suara mereka memenuhi mobil.

"Diam!" bentak Yesias, ia masih memasukkan bolpoin itu kedalam semangkin dalam cucukan semangkin kuat teriakan.

"Aku membunuhmu, aku menang. Lalu siapa lagi yang ingin menyusul?"

Mereka diam membungkam dalam ketakutan, dan hanya bisa berpasrah ada pertolongan.

Perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampailah di markas.

Terpopuler

Comments

Noona Kim

Noona Kim

pestanya Agak laeennnn ini

2023-08-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!