"Nak apa peralatan kamu untuk membunuh sudah cukup?" tanya orang itu memperlakukan Frians sangat lembut.
"Sudah, aku hanya membawa obeng, dan pisauku."
"Kau tidak butuh gergaji?" tanya Jansen jika Frians mengatakan membutuhkannya ia akan memberikannya.
"Aku tidak membutuhkannya, yang paling penting kuncinya ada di pisauku."
"Astaga kalau begitu lakukan yang terbaik ya, mau pakai apa pun engkau memutilasinya itu terserah kamu."
"Pasti, serahkan ini padaku."
"Oh ia, memangnya tidak apa apa Frians jika kamu ikut dalam hal membunuh seperti ini? Ini terlalu berbahaya buat kamu yang masih kecil loh."
Frians menghela nafasnya ia tersenyum setelah mendengarkan bapak itu.
"Justru apa yang menjadi ketakutan bagiku, adalah hal yang menakjubkan untuk dilakukan."
"Aku suka semangat seperti ini, kau akan menjadi pembunuh berbakat suatu hari nanti," Jansen begitu percaya pada Frians, dari modellan Frians juga, ia yakin bahwa anak itu tidak mudah untuk kalah.
"Aku semangat jika untuk membunuh, dan itu salah satu kemenangan dalam diriku ketika aku berhasil memutilasi mereka, suara jeritan, dan teriakan itu adalah alunan lagu buatku."
"Kamu hebat, bisakah kau sisakan satu korban itu untuk kau mutilasi disini?" pinta Jansen.
"Dengan senang hati tuan, aku bakalan melakukan apapun itu untukmu."
"Bagus, sekarang beristirahatlah besok kau sudah bisa bekerja."
"Tapi tunggu dulu, siapa target kami?" tanya Frians yang belum mengetahui siapa orang yang mereka bunuh.
"Besok aku akan memberitahumu."
"Malam ini tidurlah dulu."
Akhirnya Frians tertidur dengan rasa penasaran, dan tak sabar ingin memutilasi orang.
Keesokan paginya setelah mereka selesai bersiap siap, Jansen mengajak kedua orang itu untuk ke ruang rapatnya, ia ingin berbincang kan sesuatu sesampainya disana.
"Hari ini hari pertama kalian," ujar Jansen membuka percakapan.
"Sebentar, maaf jika aku memotong," ujar Query.
" Frians bisa aku minta tolong?" tanyanya.
"Minta tolong apa?"
"Untuk melihat di bagasi mobilku apakah aku membawa gergaji itu," pinta Query, namun Frians langsung gerak mengecek ke dalam bagasi ia tak menemukan gergaji hanya ada kapak, dan pisau, Frians tak menemukan dimana letak gergaji yang dimaksud.
"Tidak ada," Frians kembali menutup pintu mobil tersebut, dan kembali melapor ke Query.
"Tidak ada Quer, kau meninggalkannya mungkin."
"Ckk, ketinggalan berarti," ujarnya.
"Apa gergaji? Disini ada banyak, bahkan aku punya alat saw torture, kalian tidak perlu resah," potong Jansen.
"Hehe, ia benar gergaji ku ketinggalan," Query menggaruk belakang kepalanya malu karena keteledorannya.
"Tidak perlu dijadikan masalah nak, yang terpenting kalian bisa membunuh."
"Ngomong ngomong mana target yang bakalan kami bunuh?"
"Tidak ada target, kalian hanya membunuh siapapun yang mau kalian bunuh," jelasnya.
"Apa? Jadi untuk apa memakai jasa kami jika tidak ada target pembunuhan, kukira ada orang yang bapak dendam, atau orang yang mengganggu bapak untuk kami bantai," ucap Query memukul meja dengan nada yang marah ia merasa dipermainkan.
"Tenang Query," ujar orang itu santai sambil menyalakan rokok yang berada di tangannya.
"Kurang ajar," Query mengepalkan tangannya posisi ia sudah bangkit ingin menumbuk Jansen yang merokok, Jansen sama sekali tak marah ia justru tetap merokok. Sedangkan Frians juga bangkit buat menahan Query.
"Katakan apa maksudmu untuk memakai jasa kami sebelum kau yang akan aku bunuh!"
"Waw ngerinya, apa kalian tidak bosan membunuh di satu tempat saja? Sesekali kalian harus membunuh di lain tempat seperti disini," ujar Jansen mencoba menenangkan Query.
"Baik ada bagusnya juga yang kau katakan, ayo Frians kita langsung saja membunuh siapapun itu," ajak Query.
"Kemana tujuan kita pertama?" mereka sedari tadi hanya berlalu lalang di jalan.
"Aku belum menemukan mangsa yang tepat bagaimana dengan kau?"
"Sepertinya aku juga belum," ujar Frians yang juga bingung mau membunuh siapa karena banyaknya orang.
"Tunggu aku sudah menemukannya," Query melihat seorang nenek nenek yang ingin menyebrang jalan matanya langsung berbinar ingin membunuh orang itu.
"Query sudah mendapatkan mangsa?"
"Sudah tunggu di sini, kau jangan kemana mana," ujarnya, untuk sementara waktu Query menghampiri nenek nenek yang ingin menyebrangi jalan tersebut karena situasi yang ramai banyaknya kendaraan yang lewat ia harus menunggu lama.
Query pun datang kepada nenek tersebut.
"Nenek apa kau ingin menyebrang?" tanya Query berdiri di sebelahnya.
"Ia nak motor terlalu banyak lewat aku tidak bisa menyebrang," cetusnya.
ⁿ"Kalau begitu mari aku seberangkan," Query ⁰0memegangin tangan nenek yang keriput ia, tangannya bergetar.
"Hidupmu tidak akan lama lagi, setelah pulang dari sini engkau akan kembali kepada tuhanmu," Query, dan nenek tersebut sampai ke seberang.
"Terimakasih banyak," ia tersenyum bahagia
"Ngomong ngomong apa rumah nenek masih jauh dari sini?"
"Tidak terlalu jauh."
"Hmm bolehkah saya mengantarkan nenek kebetulan saya bawa mobil, aku kasihan pada nenek jika harus berjalan, sekalian aku juga ingin pulang," tawar Query ramah, lelaki itu sangat sopan terhadap orang tua yang berada di sampingnya itu.
"Ahh tidak usah nenek bisa pulang sendiri kok."
"Tidak nek, tunggu sebentar ya biar aku antarkan nenek," Query kembali menyebrang mengambil mobilnya.
"Sudah selesai?" tanya Frians yang bera di dalam menunggui Query sedari tadi.
"Belum ini masih permulaan," Query tersenyum miring.
Query membawa mobil kembali ke nenek itu. "Nenek ayo masuk," Query turun dari dalam membuka kan pintu.
"Itu target mu," bisik Frians.
"Ia tentu saja."
Mereka berdua pun sampai di rumah nenek itu, dengan ramah juga pemilik rumah menawarkan untuk masuk, tanpa basa basi Query, dan Frians masuk kedalam. Query tanpa banyak mengundur waktu memberikan korban arsenik, hingga tewas setelah nenek itu mati Query menusuk nusuk tubuhnya dan membiarkan di dalam rumah begitu saja.
Sama halnya selesai mereka melakukan aksinya kini giliran korban lain yang akan dihabisi Query, Query benar benar seperti hewan buas yang memangsa tak memberi ampun lawannya.
"Query sudah berapa korban yang kau habisi?" tanya Frians, sebagai orang yang menyaksikan pembunuhan kejam itu.
"Baru lima orang," ujar Query memotong pergelangan tangan korban kelima.
"Ini," ia menyerahkan pergelangan tangan tersebut ke Frians untuk dimasukkan dalam kantong plastik.
"Query bukannya sudah enam orang?" tanya Frians menghitung lagi bagian tubuh yang dibawa Query.
"Lima."
"Lihatlah apa kau mengikutkan satu tubuh korban? Disini ada: jari, telapak tangan, mata, potongan matahari kaki," jelas Frians menghitung.
"Ah sudahlah kalau begitu mungkin terikut," Query tak menghiraukan itu.
"Bagaimana kalau satu orang lagi, sepertinya anak itu," tunjuk Query, ia langsung turun untuk menghabisinya, korban terakhir Query hanya merusak mulutnya menggunakan pisau dan mengambil, dirinya bingung mau bagian mana yang ingin diambil.
"Aku tidak tau bagian tubuh mana lagi yang harus di potong, apa aku motong pahanya saja," pikir Query memandangi mayat anak tersebut.
"Sepertinya bagus kalau pahanya," Query mengangkat kapaknya ke atas lalu menjatuhkannya ke bawah layaknya seperti hewan anak itu dikampak.
Misi pertama mereka pun selesai di tangan Query, dan Frians.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments