malam hari penghantaran Frians

Tin … tin tin …

Suara keleksonanan mobil Kuanti terdengar begitu kuat, ia masih menghidupkan klaksonnya berkepanjangan, dari depan pagar mobil itu tak ada jedanya mengklakson dari dalam mobil Frians, dan Kuanti benar benar saat ini menunggui Yesias.

"Kemana ibumu mengapa ia lama sekali membuka pintu?" ujar Kuanti yang masih mengklakson.

"Entahlah, mungkin saja ia sudah tidur," tebak Frians.

"Cepat sekali."

"Bagaimana kalau engkau mencoba menghubunginya, barangkali ia mengangkat telpon darimu."

"Ide bagus," Kuanti mengambil ponselnya yang berada di saku.

Mendengar ungkapan Kuanti yang sudah sampai di depan, Yesias tak melanjutkan pekerjaannya di ruang bawah, ia meninggalkan alat alat yang ingin merapikannya itu, makanya Yesias tak mendengar klakson mobil Kuanti, Yesias segera keluar untuk membukakan pintu pagar.

"Maaf kalau lama," ujar Yesias setelah Kuanti, dan Frians turun.

"Ayo masuk Kuanti, kau belum pernahkan ke rumahku, aku sudah masak enak hari ini," jelas Yesias antusias melihat kedatangan Kuanti.

"Baiklah, sebelum itu kak aku mau minta sesuatu."

"Pantas saja kau memanggil pakai kak, ternyata kau ada mau, mau minta apa?"

"Formalin, apa kau punya?"

"Punya, sebentar ku ambilkan kedalam dulu," Yesias masuk kedalam sementara Frians, menemani Kuanti di luar.

"Ini formalinnya," menyerahkan.

"Buat apa?" tanya Yesias melirik ke dalam mobil saat Kuanti membuka pintu mobil.

"Mau menyuntikkannya ke kepala ini," Kuanti mengambil kepala yang berada di dalam kantong plastik itu, kepala anak itu masih utuh, makanya ia segera memberi suntikan formalin agar awet.

"Kau membawanya, aku kira bakalan membiarkan."

"Tentu, lumayan kalau di jual Yesias."

"Siapa yang menghabisinya di antara kalian?" àpertanyaan itu tak dijawab Frians, dirinya hanya menyimak percakapan ibunya, dan Kuanti.

"Anakmu, aku hanya memotong, dan membawa kepala ini saja."

"Jadi kau yang menghabisinya?"

"Ia, bu."

"Ternyata bakat membunuh Frians sudah terturun ya dadi kau, dan Jak," potong Kuanti.

"Begitulah, ngomong ngomong Jak, kenapa ia bisa menyuruhmu menghantarkan anak kami?"

"Yesias apa yang tidak bisa terjadi di dunia ini," sahut Kuanti sekalian memberikan formalin punya Yesias.

"Ia memang sih, kau betul," ada rasa sedikit ragu di dalam hati Yesias, namun ia tak mengira jika Frians sudah tau tentang Rabbit killer.

"Yesias, sepertinya aku harus kembali deh."

"Tapi, Kuanti kau tak ingin mampir masuk dulu, aku sudah menyediakan masakan yang enak buatmu."

"Hmm ya sudah baiklah kalau begitu, selesai makan aku lanjut pulang ya, aku harus cepat."

"Ia, yang penting masuklah dulu."

Disaat menikmati makanan, mereka bertiga bercerita hal hal random di meja makan.

"Kak Kuanti mengapa kamu terlihat buru buru?" tanya Frians yang memperhatikan bagaimana cara Kuanti mengunyah makanan sangat cepat.

"Aku punya kerjaan malam ini, aku harus membunuh lagi, ada yang sudah memesan daging jadi aku harus gerak cepat Frians."

"Owh seperti itu, memangnya daging daging itu belum cukup?"

"Belum, yang minta bukan satu dua orang."

"Sayang, kau tidak perlu lebih jauh, biarkan itu menjadi tugas mereka," potong Yesias.

"Jak, dan Query sudah jadi pergi?"

"Sudah mereka sore tasi berangkat, lagian kerjaan juga sudah tidak ada disana."

"Bagus deh, Frians kau sudah selesai makannya?" tanya Yesias serius.

"Sudah bu," anak itu menggeserkan piringnya ke depan.

"Kalau begitu kau bisa masuk ke kamarmu, aku dan Kuanti ingin ngobrol serius, masuk kamar sekarang ya," perintah Yesias menatap anaknya itu serius.

"Baiklah," Frians langsung bergerak ia tak berani membantah kalau ibunya sudah serius.

"Kau mau bicara apa?" tanya Kuanti penasaran.

"Kau serius yang membunuh anak itu adalah Frians?" tanya Yesias kembali, ia masih belum percaya.

"Ia benar, aku mengalah harusnya korban itu menjadi targetku."

"Kenapa kau mengalah?"

"Tumben, apa yang membuatmu mengalah pada anak seperti Frians?"

"Karena itu ulahmu, rasa kesalnya begitu kuat saat ia tahu teman temannya yang seharusnya menjadi target pembunuhan malah kau yang membunuh Yesias."

"Astaga, aku terlalu bersemangat waktu itu," Yesias tersenyum cengengesan.

"Aku melihat kemampuan, dan kemahiran Frians, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya saja."

"Yesias aku harus pergi ya, terima kasih untuk jamuan mu hari ini, aku harus segera pergi," ucap Kuanti merapikan piringnya.

"Ya sudah, hati hati Kuanti, terimakasih sudah mau mengantarkan Frians."

"Sama sama."

Yesias melihat kepergian Kuanti sampai mobil itu tak terlihat lagi barulah Yesias masuk ke dalam menemui Frians.

"Bu, Kuanti sudah kembali ya?" tanya Frians masih belum tidur.

"Sudah, dia sangat buru buru."

"Bu. Ibu, dan ayah anggota Rabbit killer ya?" tanya Frians sambil membaca bukunya.

Yesias terdiam tak menjawab, sampai akhirnya ia harus buka suara.

"Darimana kau tahu itu?" tanya Yesias duduk disamping Frians yang berbaring.

"Aku tahu sendiri, pada saat ayah datang ke markas Rabbit killer tadi, aku bertemu dengan mereka."

"Bagaimana bisa?" Yesias melirik Frians, ini seperti serius buatnya.

"Aku ditangkap oleh Query, aku juga disekap mereka tadi," jelas Feians.

"Apa kau serius?" Yesias memegang bahu Frians ia ingin mengecek keadaan tubuh anaknya itu apakah ada yang terluka.

"Ibu tidak perlu khawatir itu aku tidak apa apa kok, lagian aku tidak memberontak sengaja agar aku bisa merasakan teriakan namun Query tidak melakukan apapun, aku menyadari jika Query hanya ingin bermain main dengan ketakutan saja."

"Ibu tidak peduli itu, ibu hanya memperdulikanmu kau betulan tidak apa apa? Tidak ada yang terluka?" tanya Yesias sekali lagi memastikan.

"Tidak bu, mereka tak sempat untuk melakukan kekerasan padaku, ayah langsung datang."

"Mendengar ceritamu, lantas mengapa kau bisa ditangkap mereka sampai disekap seperti itu?"

"Awalnya aku melihat ada mayat di gang dekat sekolah kami, aku mengikuti gang itu, lalu aku menemukan sebuah topeng kelinci, aku membawanya, aku tidak tau kalau itu topeng Query, dan Query adalah anggota Rabbit killer juga, Query mengajakku aku sudah tau sebenarnya maksudnya, aku hanya ingin bermain dengan dia," jelas Frians menceritakan semua yang terjadi menimpa dirinya itu.

"Lain kali kau tidak perlu bermasalah dengan mereka apalagi ikut ikutan dengan Rabbit Killer nak," pinta Yesias.

"Tapi bukannya ibu sendiri anggota Rabbit killer? Dan menghabisi 5 orang yang seharusnya menjadi korban pembunuhan ku?" Frians menaik turunkan alisnya di hadapan Yesias.

"Masalah itu ibu khilaf, lagian membunuh 5 orang itu tidak memuaskan," ujar Yesias menyapu kepala Frians.

"Ya sudah kau tidur ya, ini sudah malam kau besok juga harus sekolah, Frians kau tidak ada pr?" tanya Yesias sebelum ia keluar dari kamar Frians.

"Tidak buk, lagian sekolah kedepannya akan di datangi oleh pihak kepolisian, dan wartawan," ujar Frians santai.

"Kasus apa? Karena pembunuhan 6 orang murid itu? Ya ampun itu hanya masalah sepele seharusnya tidak perlu memanggil aparat segala."

"Baguslah kita bisa menilai bagaimana kerja mereka," ujar Frians smirk.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!