Ternyata anak Jak

"A- apa?" melihat isi tas Frians membuat Query begitu kaget, bagaimana mungkin ia tak kaget karena isi di dalam tas Frians sendiri adalah pisau tumpul,kain merah, dan pisau silet beberapa biji, serta bolpoin yang mirip dengan punya temannya Yesias.

"Bolpoin ini," Query mengangkatnya ia tanda dengan bolpoin punya Yesias yang selalu digunakan wanita itu untuk membunuh.

"Ah, perasaanku saja mungkin lagian bolpoin seperti ini bukan satu di dunia ini, tetapi ada banyak," dalam hati Query.

Query meletakkan tas Frians kembali, ia mendekat pada Frians. "Apa yang berada di tasmu? Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Query, ini tidak seperti anak smp pada umumnya Frians benar benar diluar dugaan Query.

Mendengar pertanyaan Query, Frians hanya menjawab mengangkat bahunya yang artinya entah.

"Kenapa? Aku sudah menunjukkan menyarankan alat terbaik, kau bisa menggunakan peralatan yang ada di tasku," ungkapnya enteng.

"Tidak mungkin," Query meletakkan pisaunya ke bawah.

"Padahal aku sudah menawarkannya kesakitan korban adalah kenikmatan bukan, dan teriakannya adalah alunan kepuasan saat kau berhasil membuatnya berteriak hasratmu merasakan kesenangan aku tidak menyangkal itu."

"Query," tiba tiba seseorang masuk menendang pintu yaitu Antoni.

"Oh ternyata ada korban disini, kau ingin melakukannya? Lakukan dahulu biar aku menunggumu," ujarnya yang mau pergi.

"Tidak, aku belum mau membunuhnya, aku masih ingin bermain dengan ketakutannya," walaupun Query tau Frians tak akan takut.

"Baiklah," Antoni mendekati Frians, wajah Frians masih sama biasa saja bahkan tak ada keringat ketakutan, atau mimik wajah panik di dirinya.

Antoni hanya memandangi anak itu, ia tak mengambil tindakan apa

"Kalau begitu jadikan dia peliharaan, aku ingin kau membawanya ke kandang agar teman Kreyos ada," perintah Antoni, dirinya pun pergi selanjutnya biar Qury yang mengatasi Frians.

"Ayo ikut aku," Query melepaskan Frians dari ikatannya, ia lalu menarik rantai yang ada di tangan Frians, orang itu kini akan membawa anak itu sebagai calon binatang.

"Mau kemana kita?" tanya Frians yang ditarik.

"Kau akan menjadi hewan peliharaan bosku," jelas Query.

"Ohhh, hanya hewan peliharaan, ngomong ngomong tempat ini besar juga, ada berapa ruangan disini?"

"Diam! Kau tak perlu tahu itu, kau kira menjadi hewan peliharaan itu enak."

"Entahlah, aku belum tau," selama menuju ke kandang hewan mata Frians tak ada habis habisnya berhenti melihat semua ruangan yang ada di tempat itu.

"Mau kemana kau membawa anak itu Query," ujar Smith yang saat itu juga habis mengantarkan makanan dari kandang.

"Aku ingin mengantarkannya ke kandang," ungkap Query.

"Kalau begitu biar aku saja, membawakannya," tawar Smith.

"Tidak perlu, bos memintaku untuk memasukkan anak ini, lagian aku juga tidak ada kerjaan lain."

"Kau, dan Jak tidak jadi pergi?" disaat Smith mengucapkan nama Jak mata Frians membulat, karena mendengar nama itu yang mirip dengan nama ayahnya.

"Jak, apa orang itu ayahku?" tanya nya dalam hatinya.

"Smit, kalau begitu aku ke kandang dulu ya," Query berpamitan pada rekannya itu, ia kembali menarik rantai Frians, Frians tak lagi banyak bicara ia diam saja memikirkan nama Jak yang mirip dengan nama ayahnya.

"Kau sudah mulai ketakutan?" tanya Query dari depan.

"Tidak."

"Lantas mengapa kau diam saja?"

"Tidak, ngomong ngomong siapa tadi nama temanmu itu?"

"Smith?"

"Bukan, satu lagi?"

"Antoni?"

"Bukan, yang tadi katanya kau ingin pergi dengan orang itu, dengan siapa?" tanya Frians demi memastikan.

"Jak?"

"Nah ia, namanya mirip dengan ayahku," ungkap Frians.

"Tapi dia tidak ayahmu, namanya saja yang mirip," ujar Query, langkah kecil mereka akhirnya sampai juga di sebuah tempat yang seperti peternakan.

"Kau tunggu sini," Query mengganti bajunya ia memakai kostum putih seperti pelindung untuk dirinya.

"Ayo ikut aku ke dalam kandang mu," lelaki itu kembali menarik Frians.

Saat melewati sebuah kandang ia melihat ada anak yang tak memakai baju, ia hanya telanjang dada hingga *********** nampak orang itu seperti benar benar menjadi hewan.

Dari postur tubuhnya Frians tanda dengan orang itu, ia berjalan mendekat lebih dekat hingga melihat wajah orang yang berada di kandang, itu adalah korban yang ia ingin bunuh namun sayangnya Frians sudah terdeluan dengan orang ini, leher temannya itu perlahan tersayat oleh rantai yang digunakan, tubuhnya juga sudah mulai kotor, apalagi saat itu Frians melihatnya merangkak makan makanan yang tak layak. Saat orang yang di kandang mengangkat wajahnya ingin melihat Frians, Frians cepat cepat menunduk demi tidak ketahuan.

"Kurang ajar, ternyata aku kalah cepat mereka yang menangkap targetku, tetapi dimana kelima anak lagi," batin Frians, ia mengepalkan tangannya geram melihat target pembunuhannya diambil orang lain.

"Kau akan jadi seperti dia," ujar Query memasukkan Frians ke dalam kandang.

"Itu artinya aku akan menjadi hewan."

"Tentu saja, ini akan lebih sadis."

"Aku tidak peduli, tetapi bagaimana jika kau berada di posisi seseorang jika kau memiliki korban yang ingin kau bunuh, namun korban itu diambil orang lain?" tanya Frians ia benar benar marah.

"Itu artinya kedepan harus cepat, siapapun yang membunuh tidak masalah."

"Aku punya 6 ekor ikan, namun keenam ikan itu diambil kucing, sampai hanya ada satu yang mereka sisakan itu pun tidak utuh," ungkap Frians mengarah ke temannya.

"Apa keenam ikan itu dimakan kucing tersebut?" Query meletakkan Frians di dalam kandang.

"Aku tidak pasti entah mereka memakannya, tetapi aku tidak menemukan ikan milikku yang lima ekor lagi, aku hanya melihatnya satu itupun tidak utuh."

"Kau harus merelakan itu," Query menggembok kandang Frians.

"Apa kalian psikopat?"

"Kau baru menyadarinya? Baru sekarang kau mulai takut, nak."

"Aku tidak takut, bahkan jika aku harus dipenggal, aku hanya ingin mendengarkan teriakanku sendiri," ungkap Frians.

"Kau bisa berteriak sekuat kuatnya sekarang."

Akhirnya Jak pun sampai di markas setelah sekian banyaknya drama per macatan, ban bocor, mobil mogok tidak bisa menyala, Jak langsung masuk ke dalam markas, mereka bertemu dengan Smit.

"Jak akhirnya kau sampai juga," ungkap Smith yang ingin mau keluar.

"Ia, ini semua menyebalkan, mau kemana Smit?"

"Aku mau ke luar aku ingin menangkap daging," ujar Smith.

"Oh begitu, ngomong ngomong apa kau melihat Query? Aku harus segera pergi dengannya.

"Tadi dia ke ruang kandang, mungkin masih berada di sana ia juga membawa anak kecil katanya itu korbannya, karena anak itu menemukan topeng kelinci Query," ungkap Smith yang harus buru buru aku pergi dulu ya.

Jak terus masuk masuk ke dalam ke kandang menghampiri temannya itu, meskipun berada masih jauh ia harus menempuhnya, menurutnya berjalan terlalu lama sampai, Jak pun berlari.

"Jak, mengapa kau lari lari?" ujar Kuanti yang berada bersama Antoni.

"Aku ingin ke kandang, untuk bertemu dengan Query."

"Kalau begitu ayo kita pergi sama, kami juga ingin ke kandang," ungkap Kuanti.

Mereka bertiga pun pergi bersamaan, Query masih berada di kandang menjagakan Frians. Jak melihat kalung yang berada di tangan Antoni.

"Peliharaanmu ini anak kecil juga? Bagaimana dengan peliharaan yang satu lagi? Kau belum membunuhnya?" tanya Jak.

"Masalah membunuhnya gampang Jak, aku hanya ingin melihatnya seperti hewan, dan biarkan ia merasakan keperihan itu."

Sesampainya mereka bertiga di kandang, Jak melihat Query yang berada di luar kandang mengawasi, ia tak begitu jelas melihat Frians, di karenakan Frians duduk di bawah menunduk.

"Query, maaf lama membuatmu menunggu," ujar Jak.

"Tidak apa, jadi ini korbanmu itu ia masih anak anak," ungkap Jak.

Mendengar suara ayahnya Frians mengangkat kepalanya mendongak.

"Ayah," ujar Frians tersenyum

Mendengar apa yang dilontarkan Frians. Antoni, Query, dan Kuanti tercengang begitupun dengan Jak yang ikut tercengang melihat anaknya ditangkap.

"Frians, anakku, mengapa kau bisa disini?" tanya Jak heran.

"Jadi dia anakmu?" ujar Antoni.

"Ia, dia anak laki laki kami satu satunya," Jak merasa kejadian ini aneh ia tak dapat berbuat.

"Query lepaskan Frians," perintah Antoni.

Frians di lepaskan, rantai nya juga ikut dilepas kini tak ada lagi yang menghambat di dirinya.

"A- apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa anakku bisa kalian tangkap seperti ini?"

Query menceritakan semuanya bahwa Frians melihatnya melakukan tindakan kriminal yaitu membunuh, Query juga menunjukkan bola mata korban yang tersegel dalam plastik, semuanya diceritakan Query secara detail.

"I'm sorry Jak, aku tidak tahu jika ini anakmu," ungkapnya tak enak.

"Aku mengerti, tidak masalah sudahlah, Frians harus pulang, ia tak boleh lama lama disini," ungkap Jak.

"Aku bisa menghantarkan nya," tawar Kuanti dengan senang hati menghantarkan Frians pulang.

"Kalau begitu aku menitipkan Frians padamu ya, nak kamu baik baik ya sama om ini, ayah harus pergi dulu, kamu duluan pulang ibu pasti sudah menunggu di rumah," ujar Jak beralih pembicaraan pada anaknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!