Butuh beberapa detik bagi Dylan untuk benar-benar mencerna perkataan dari para anak-anak itu.
Setelah pikirannya menjadi satu dan tenang Dylan segera berbalik mengarah ke anak-anak itu dan mulai berbicara.
"Baiklah, tapi aku harus ngomong dulu sama orang tua kalian".
"Kami ini tidak punya orang tua, Nii-chan".
"Kami tinggal di panti asuhan yang ada di sekitar sini".
Sesuai dengan dugaan Dylan, anak-anak ini adalah anak yatim-piatu yang tinggal di panti. Dan itu semakin di perkuat dengan pernyataan dari 2 dari beberapa anak yang mendatangi nya.
(Anak yatim-piatu tinggal ditempat ngak jelas kayak gini.... Aku merasa kasihan kalau mereka sampai dituduh copet karena uang yang aku kasih...... Aku juga ragu kalau nutrisi mereka terpenuhi.... Kalau gitu ku beri saja tusuk sate yang aku beli tadi.... Toh, aku tidak bisa menghabiskan semuanya sendiri).
"Baiklah, akan aku kasih kalian".
"HORE!!!!".
Anak-anak itu tampak senang mendengarnya.
"Tapi, tetap saja aku harus berbicara dengan orang yang mengurus kalian. Kalian tidak mau kan, disangka copet saat membawa sekantung uang. Dan juga karena kalian masih kecil, aku butuh izin dari pengurus kalian".
"Tidak perlu kami ini sudah dewasa tahu".
Salah seorang anak tetap memaksa Dylan dengan berkata dirinya sudah dewasa. Tentu saja, mana mungkin Dylan akan percaya begitu saja.
(Buset, ini bocil satu ribet amet).
"Gini, kalau kalian menuruti apa yang aku katakan, bukan hanya uang saja. Nanti akan aku kasih tusuk sate yang aku punya".
"SIAP NII-CHAN!!!".
Anak-anak kembali bersemangat setelah Dylan bilang bahwa dia tidak akan hanya memberi mereka uang tapi juga makanan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, anak-anak itu segera menuntun Dylan menuju panti tempat mereka tinggal.
Selama perjalanan, Dylan sempat melirik kearah sebuah papan yang di sana terdapat gambar denah kota Algrand secara keseluruhan.
(Nanti, aku tinggal lihat peta itu saja untuk kembali ke penginapan).
"OI... LIHAT DI SANA ITU!!!!".
Salah satu anak berteriak, sambil menunjuk ke arah di depannya. Dylan yang juga mendengar itu juga mengalihkan pandangannya.
Di sana ada seorang gadis yang seusia dirinya berpakaian seperti biarawati gereja tanpa tudung. Dia gadis cantik dengan rambut berwarna hijau tosca dan kedua mata yang berwana sama.
Dadanya yang besar menonjol dibalik baju biarawati yang dia pakai, begitu pun juga dengan bokongnya yang tampak sangat sexy. Siapapun pria yang melihatnya, akan membangkitkan gairah mereka.
Sama halnya dengan pemuda yang berpenampilan seperti bangsawan dengan di kawal oleh 2 ksatria di belakangnya.
Pemuda itu memiliki rambut berwana coklat tua begitupun dengan kedua bola matanya. Rambutnya di model seperti gaya rambut Bob tapi lebih mirip seperti jamur.
Dia memliki wajah yang tampan namun terkesan tengil di saat yang bersamaan. Yang lebih membuat Dylan terheran-heran adalah dia yakin usia pemuda itu tidak jauh darinya, tapi dia berdiri dengan menggenggam tongkat jalan di tangan kirinya.
"Wah, dia lagi".
"Si anaknya Duke itu benar-benar menyebalkan sekali".
"Tunggu, kalian kenal dengannya?".
Dylan yang penasaran dengan identitas dari bangsawan muda itu segera bertanya kepada anak-anak itu.
"Dia itu putra dari Duke Rostvard. Namanya Gnecci fou Rostvard".
"Pppttt".
Mendengar nama dari pemuda itu, Dylan tiba-tiba menutup mulutnya dan mulai tertawa yang membuat anak-anak itu kebingungan.
(Buset.. Nama apaan itu njirr.... Bikin sakit perut aja.... Orang tua bego macam apa coba yang kasih nama anaknya sendiri kayak nama pasta.... Belum lagi gaya rambutnya itu yang mirip jamur.... Benar-benar perpaduan yang bikin ngakak).
Setelah mengembalikan ketenangan nya Dylan kembali bertanya kepada anak-anak itu.
"Lalu kenapa si Gnecci ini seperti terus menggoda pengasuh kalian?".
"Dia sedang terserang penyakit sindrom cinta".
"Begitu ya..... Berarti dia sedang kesem-sem".
Dylan mengambil kesimpulan bahwa orang bernama Gnecci ini sedang jatuh cinta dengan pengasuh para anak-anak yatim ini.
Tapi, tampaknya biarawati itu sangat tidak suka dengan sikap dari bangsawan itu yang terkesan memasaknya.
"Sudah berapa kali aku bilang kan, Aria? Menyerah lah dan jadilah "gadis" dari Gnecci yang hebat ini. Dengan begitu, kau akan mendapatkan semua yang kau butuhkan".
Dengan cara bicara dan nada yang angkuh Gnecci memaksa biarawati yang bernama Aria ini untuk menjadi gadisnya. Dan nampaknya Gnecci melakukan sesuatu yang membuat Aria dalam masalah.
"Sudah aku bilang berkali-kali, kalau aku tidak mau jadi milikmu. Aku ini bukan barang".
Aria dengan sangat keras menolak ajakan dari Gnecci. Tapi, tentu saja Gnecci tidak menyerah begitu saja.
"Aria, Aria kau ini memang keras kepala, ya? Apa kau lupa berbicara dengan siapa? Aku ini Gnecci fou Rostvard, putra tertua dari keluarga Duke Rostvard dan calon pewaris keluarga. Dengan kekuasaan yang aku punya, aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau bahkan jika itu dirimu sekalipun".
Gnecci kembali menyombongkan diri nya sebagai bangsawan. Dan para ksatria dibelakang nya menertawakan tindakan keras kepala Aria.
Tapi, Aria tidak peduli dengan itu dan mulai mengungkapkan kekesalannya terhadap Gnecci.
"Aku tahu? Alasan kenapa panti ini berakhir di pinggir kota, itu semua juga karena ulah mu....... Kau sengaja melakukan ini agar bisa mengisolasi ku..... Asal kau tahu saja.... Mau sekeras apapun usahamu itu..... Aku tidak akan pernah menyerahkan diriku, pada seorang pengecut yang bermain kotor seperti mu".
"Huh? Kau barusan bilang aku, pengecut?".
(Waduh gawat ini.... Si kepala Jamur itu mulai terpancing emosinya.... Akan bahaya jika dia menghajar gadis itu disini.... Jujur, aku tidak peduli apa pandangan orang dengan sikapnya itu..... Tapi, aku tidak bisa membiarkan ini.... Mari buat si Pasta Jamur itu meluapkan emosinya padaku).
"Hei, kalian..... Aku punya rencana untuk menolong pengasuh kalian".
Dylan berbisik kepada anak-anak itu soal rencana nya itu. Mendengar hal itu anak-anak bersedia membantu Dylan dalam melaksanakan rencananya.
Dan eksekusi dimulai.
(----------)
"Hahahaha..... Ya, benar sekali yang kalian katakan. Si kepala jamur itu sudah di tolak mentah-mentah. Tapi, masih saja memaksa si gadis biarawati itu.... Ya elah, kayak pria yang udah ngak ada harga dirinya lagi".
"Betul itu Nii-chan, dia itu benar-benar keras kepala".
"Dasar ngak tau malu".
"Dia sudah tidak punya kesempatan lagi".
"Bego itu ada batasnya".
Dengan nada sarkas dari Dylan dan anak-anak itu mulai mengejek kelakuan Gnecci yang bersikap sombong. Karena suara mereka yang lantang membuat semua orang mengalihkan pandangan kearahnya dan para anak-anak itu termasuk Gnecci dan Aria.
"Maksudku, biarawati di sana itu cinta pertamanya, kan? Eh tapi dia malah mempersulit dirinya sendiri. Benar-benar orang bego.... Oh, aku jadi kasihan dengan masa depannya".
Masih mempertahankan sikap sarkas nya, Dylan di bantu anak-anak itu terus menjelek-jelekkan Gnecci di depan banyak orang. Tanpa tahu bahwa Gnecci sudah mulai jengkel dengan tindakan sarkas Dylan.
"Dia baru saja bertemu dan bilang "Jadilah, gadisku". Gadis manapun pasti akan langsung jijik saat dengar hal itu dari orang yang pertama kali dia temui..... Yah, aku tidak tahu apakah itu semacam "kebodohan" atau sikap "terlalu percaya diri" atau mungkin kombinasi keduanya".
Dylan lalu mulai berpose dengan gaya yang super cool dan kembali berbicara.
"Kalau itu aku... Maka aku akan berpura-pura menabraknya dan memulai percakapan "Oh, maaf atas segala masalah yang aku perbuat padamu...". Kesan pertama itu penting dan menambah nilai plus dalam dirimu, bro".
"Wah, baru nyoba udah gagal aja".
"Payah".
"Itu contoh dari orang dewasa yang tidak patut untuk ditiru. Saat kalian sudah besar jangan seperti itu, ya.... Maksudku, dia ini calon pewaris dari keluarga Duke, kan? Kupikir, dia harus memikirkan kewibawaan nya dari pada nafsunya semata".
"Apa? Orang ini adalah pewaris selanjutnya?".
"Eh? Bukankah dia putra dari Duke Rostvard?".
Dylan tersenyum tipis saat berhasil menarik perhatian semua penduduk disekitarnya.
Dengan begini rencana Dylan untuk mempermalukan Gnecci semakin mulus. Dan itu juga di dukung dengan Gnecci yang berusaha keras mempertahan rasa malunya di depan semua orang.
"Ya, ampun. Bikin keributan karena memamerkan status dan kekuasaannya di tengah jalan yang ramai begini. Tidak tenang dan tidak berpikir panjang. Orang kayak dia sudah pasti masa depannya itu suram banget".
"Hahahah.... Masa depan suram".
"Kalau nilai rapot, pasti merah semua".
"Kewibawaan dan kehormatan nya sudah hancur semua".
Dylan sempat melirik lagi kearah Gnecci yang sekarang bergetar sudah tidak tahu harus ngomong apa.
(Baiklah, sudah cukup mengata-ngatai nya).
"Nah, mari kita lupakan itu. Sekarang, biarkan aku bertemu dengan biarawati yang merawat kalian".
"Baiklah".
"Pe-permisi... Anda siapa ya?".
Karena penasaran kenapa anak-anak asuhannya bisa bersama Dylan, Aria mendekat dan mencoba bertanya.
"Aku Dylan, hanya orang yang kebetulan lewat dan bertemu dengan anak-anak ini".
"Saya Aria, biarawati yang merawat anak-anak yatim yang Dylan-san bawa".
Mendengar hal itu, Aria segera menundukkan kepala dan dengan panik meminta maaf.
"Lalu, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Dylan-san!!! Tanpa dana bantuan, kami kesulitan untuk memenuhi kebutuha anak-anak yang lain".
"Eh. Benarkah sesulit dan seburuk itu?".
Dylan yang mendengar kondisi panti dari Aria membuatnya terkejut, dia juga sempat melirik kearah Gnecci sebagai tanda dia tahu apa yang sudah terjadi.
(Si keparat kepala jamur ini.... Hal hina apa saja yang sudah dia lakukan?).
"Itu karena bangsawan ini.... Dia pengecut, hina, terburuk, dan bahkan aku meragukan tata krama nya".
Gnecci semakin terpuruk dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Aria. Dylan yang melihat kondisi Gnecci yang sekarang memberikannya tatapan kasihan.
(Tunggu, kok aku jadi kasihan sama dia sekarang?).
"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Dylan-san datang kesini?".
"Ah, begini. Aku berencana memberi batuan berupa uang dan berbagi beberapa makanan yang aku beli ke panti setelah mendengar kondisi nya dari anak-anak ini".
"Ah, benarkah.... Terimakasih banyak".
"Tadi aku beli 70 tusuk sate dan aku tidak bisa menghabiskannya sendiri".
"Wow, banyak banget".
"Jadi, aku taruh dimana?".
"Di dapur saja, sini biar aku pandu".
(----------)
"Hei, rambut hitam sialan".
Merasa ada yang memanggilnya, Dylan mengalihkan pandangannya ke Gnecci yang terlihat sangat marah.
Terlepas dari penghinaan yang dia terima. Gnecci tidak bisa menahan rasa amarah yang membara setelah melihat Dylan dengan mudah nya mendekati Aria.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja, bajingan.... Aku ini bangsawan, putra Duke Rostvard yang terkenal.... Aku tidak akan memaafkan mu atas tindakanmu barusan".
"Huh? Kau pikir aku peduli denganmu? Meladeni mu itu hanya buang-buang waktu saja, kepala Jamur".
"Ke-kepala jamur?!! Beraninya kau memanggilku kepala Jamur?".
Dylan yang tampak tidak peduli dan malah semakin mengejeknya. Membuat Gnecci semakin naik pitam.
Tanpa pikir panjang dia mengarahkan tangan kanannya kearah Dylan dan mulai merapalkan mantra sihir api.
Orang-orang yang melihat itu menjadi panik dan mulai menghindar.
"Inilah akibatnya karena berani mempermalukan ku. Terbakar lah sampai menjadi abu. Fireboult".
"Dylan-san!!!!".
"Nii-chan!!!!".
Bola api sebesar bola basket melesat kearah Dylan. Lalu Dylan yang masih santai mengarahkan tangan kanannya dan mulai merapal mantra sihir tanpa atributnya.
"Impact".
Dalam sekejap bola api tadi langsung lenyap begitu saja. Kejadian ini membuat semua orang terkejut termasuk Gnecci sendiri yang tidak paham apa yang terjadi.
"A-apa? A-apa yang terjadi barusan? Sihir bola api terkuat ku.... Lenyap begitu saja?.... Sialan.... APA YANG KAU LAKU-".
"Berisik tahu".
Belum bisa menyelesaikan ucapannya, Gnecci terdiam dan mulai meneteskan keringat dingin begitu pun dengan kedua pengawalnya yang juga tidak bisa bergerak.
Itu semua karena saat ini, Dylan menatap ketiganya dengan mata yang menyala merah dan mengeluarkan aura yang menakutkan.
"Hei, kepala jamur.... Apa kau tidak diajari untuk tidak asal-asalan menyerang orang yang baru saja kau temui tanpa tahu kekuatan aslinya? Menganggap remeh lawan mu hanya karena status dan sihir yang kau punya. Meski begitu, kau tidak akan bisa mengalahkan ku semudah itu".
"""Hiiiiiii......."""".
Dylan yang semakin menunjukkan aura mengerikannya, membuat Gnecci ketakutan setengah mati. Sampai-sampai, kedua kakinya tidak bisa membantu berdiri dan dia berakhir tertunduk di depan Dylan.
"Sekarang pergilah dari sini. Dan jangan pernah kalian ganggu Aria dan anak-anak ini lagi. Jika kau tidak ingin tahu apa yang akibatnya".
Meski Gnecci tidak merespon ancaman Dylan, tapi kedua ksatria itu menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
Tanpa basa-basi mereka langsung menggotong Gnecci kembali ke kereta dan meninggalkan panti dengan sangat terburu-buru.
"Ah, sialan...... Aku lepas kendali lagi...... Ini keempat kalinya.... Kurasa aku harus untuk lebih bisa menahan emosiku".
Dylan yang akhirnya kembali sadar segera mengeluh tentang dirinya yang tidak bisa menahan aura Fafnir yang keluar dari tubuhnya.
Dylan yang sudah kembali tenang segera menemukan Aria dan anak-anak itu gemetar ketakutan dengan sikap Dylan yang berubah drastis.
"Ah, aku minta maaf untuk yang tadi".
"I-iya tidak apa-apa. Justru Kamilah yang harus minta maaf karena melibatkan Dylan-san dalam masalah ini".
Sadar ini adalah kesalahan, Dylan segera meminta maaf atas kejadian diluar dugaannya. Aria meski badannya masih bergetar dia mengatakan bahwa itu bukanlah masalah.
Melupakan kejadian itu, Aria dan anak-anak mengizinkan Dylan untuk masuk dan berkunjung ke dalam panti mereka.
Dylan dan Aria.
Pertemuan keduanya memang tidak di sengaja. Tapi, kelak keduanya akan memiliki hubungan yang sangat erat untuk kedepannya.
Sampai membuat Filaret dan Sonia jengkel akan kedekatan mereka.
(---------)
Di kereta kuda dalam perjalanan ke mansion Rostvard.
Gnecci masih menyimpan amarahnya yang tidak padam, kali ini amarahnya bukan karena Aria yang berusaha keras terus menerus menolaknya.
Melainkan karena pria asing yang muncul membantu Aria, Dylan. Gnecci berpikir bahwa Dylan adalah orang yang paling bertanggung jawab atas penghinaan yang dia terima sekarang.
Biasanya, orang akan langsung tunduk ketika mendengar nama, status dan kekuasaan keluarganya.
Tapi, tidak dengan pria itu.
Untuk Aria dia mungkin masih bisa toleran karena dia gadis yang Gnecci sukai. Berbeda halnya dengan Dylan.
Dia sama sekali tidak takut atau bahkan gentar saat nama keluarga Rostvard di sebutkan. Bahkan yang lebih parah sihir api yang menjadi ciri khas keluarga Rostvard di hempaskan nya begitu saja.
Dan lebih menyakitkan dirinya adalah fakta bahwa Gnecci tidak bisa berbuat apa-apa saat dia hanya ditatap olehnya. Saat itu badannya tidak berhenti bergetar karena rasa takut dan keringat dingin terus mengalir dari keningnya.
Dia merasa baru saja berurusan dengan sesuatu yang sangat kuat dan menakutkan yang pernah dia rasakan. Dan tahu, bahwa dia seharusnya tidak mencari masalah dengan sosok yang sangat menakutkan itu.
Sekarang, didalam pikiran nya Gencci berencana untuk membalasnya. Sebenarnya, dia tahu apa akibatnya jika dia membalas perbuatan Dylan.
Tapi, harga dirinya sebagai bangsawan yang ingin dianggap istimewa tidak bisa membiarkan hal itu.
"Rakyat biasa yang bernama Dylan itu..... Lihat saja. Tidak akan aku maafkan semua yang sudah kau lakukan".
Bergumam dengan penuh kejengkelan, Gnecci akan memberikan balasan yang setimpal pada Dylan tanpa tahu identitas Dylan yang sebenarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
abdillah musahwi
1 orang bodoh lagi yang mau nyari penyakit 😔
2024-07-13
2
Bagus Prakoso
memaksa thor
2024-03-24
2
Ally Ally
bocilnye be Like
2024-03-12
1