Chapter 12 : Tamu Dari Ibu Kota Dan Undangan Pesta Ball Kerajaan.

2 Minggu telah berlalu setelah insiden Monster Panik.

Hyoga berencana untuk mengirimkan semacam surat kepada Yang Mulia Raja, Conrad Sera Ingrid soal insiden yang menimpa wilayah Arcadia.

Mendengar apa yang ayahnya lakukan, Dylan segera menyatakan keberatannya atas tindakan tersebut.

Saat ditanya, Dylan dengan sangat yakin mengatakan bahwa pihak Kerajaan akan tutup mata untuk masalah ini.

Bukan cuma itu saja, Dylan juga menggunakan bukti tindakan pihak Kerajaan selama ini yang terus-menerus mengabaikan wilayah Arcadia yang seolah-olah wilayah dan para penduduk di wilayah ini bukan bagian dari Kerajaan Ingrid.

Dylan juga bilang bahwa untuk kalau Ayahnya ingin menyakinkan pihak Kerajaan, mereka butuh bukti yang tidak bisa mereka sangkal lagi.

Dan bukti yang Dylan maksud itu adalah mayat Oscar Niville Dragonia.

Lalu Dylan juga meminta satu hal yang sangat penting. Yaitu agar ayahnya tidak memberitahu pihak Kerajaan bahwa Dylan lah orang yang berhasil membunuh Oscar.

Argumen kuat yang diucapkan Dylan membuat Hyoga sempat terdiam dan berpikir sesaat. Dan kemudian dia setuju atas saran dari Dylan

Hyoga dan Dylan akhirnya mengambil keputusan untuk memakamkan jasad Oscar Niville Dragonia di wilayah Arcadia.

Tapi, sebelum itu Dylan meminta Ayahnya untuk membekukan mayat Oscar dengan sihir Es agar tidak hancur atau membusuk.

Lalu Dylan, Hyoga, Pavline, dan Filaret berserta seluruh warga kota Linic saling bahu membahu memperbaiki wilayah yang hancur akibat dampak penyerangan itu.

Hyoga dan para warga kota Linic, sepakat untuk tidak menutup Parit besar yang di buat Dylan dengan kekuatan Fafnir.

Dengan adanya parit itu maka pertahanan kota Linic akan semakin membaik. Dan apabila ada sebuah serangan dari luar, mereka harus menyebrangi Parit yang besar itu untuk mencapai gerbang kota terlebih dahulu.

Sekarang, itu di Mansion Arcadia. Di sebuah ruangan yang biasa digunakan Hyoga untuk bekerja, ada Dylan juga di sana yang sedang membantu menyortir dokumen.

Sementara Hyoga, sedang mengetik beberapa dokumen menggunakan mesin ketik. Keduanya tampak sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang ada di depan mereka masing-masing.

Sehingga, ruangan itu sangat sunyi dan hanya terdengar suara ala mesin ketik saat digunakan. Sampai, akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh Dylan yang penasaran akan beberapa hal.

"Ayah, apa ada balasan surat dari keluarga Kerajaan?".

"Hmmm.... Tidak. Bahkan menghubungi lewat perangkat Protas saja tidak".

Protas adalah semacam alat sihir yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan memberikan energi sihir kedalamnya. Penampilan alat itu mirip seperti Ponsel Android yang mudah di bawa kemana-mana.

Karena harga alat ini sangat mahal dan dibuat dengan cara khusus. Maka hanya kaum bangsawan dan beberapa orang biasa yang punya uang banyak saja yang bisa memberi alat ini.

"Begitu ya...... Soal kasus Oscar ini, bukankah ada yang aneh?".

"Apa maksudmu, coba jelaskan".

"Oscar berasal dari Kerajaan Rachael, lalu kenapa dia dengan mudahnya bisa masuk ke Kerajaan Ingrid tanpa ada satu yang mengetahuinya?".

Mendengar pertanyaan Dylan, Hyoga segera menghentikan aktivitas mengetiknya. Dan mulai memegang dagunya, ekspresi menjadi fokus menandakan dia mulai berpikir.

"Kau ada benarnya.... Seharusnya ada laporan dari para penjaga perbatasan bila ada penyusup masuk. Tapi, selama ini tidak ada laporan seperti itu".

"Ini hanya menurutku saja, Ayah.... Mungkin ada seseorang yang membantunya masuk".

"Membantu, ya? Dylan, apa kau ada asumsi lain soal orang yang "membantu" Oscar ini?".

Dylan sempat berpikir sebentar lalu, kembali berbicara setelah dia mengumpulkan asumsi di pikirannya.

"Ini asumsi ku saja. Kemungkinan "dia" ini adalah orang yang sangat "berpengaruh"..... Dan jika ini memang benar maka "dia" ini ada kemungkinan adalah bagian dari keluarga Kerajaan..... Itu asumsi-".

Mata Dylan terkejut melihat Ayahnya yang sepertinya terkejut dengan asumsi yang di ucapkan Dylan.

Selang beberapa saat, Hyoga kembali tenang dan berbicara.

"Begitu ya..... Jadi, maksudmu. "Mungkin" ada "seseorang" di keluarga Kerajaan yang ingin menghancurkan wilayah ini, kan?".

"Iya, kurasa.... Memangnya ada apa, Ayah?".

"Tidak, tidak ada".

"Heeeee.....".

Dengan sedikit panik Hyoga menjawab keraguan Dylan meski dia sendiri tidak puas dengan jawaban yang di berikan Ayahnya.

*Cih, rubah sialan itu..... Tak ku sangka dia sudah berani meminjam bantuan pada Kerajaan lain*.

Hyoga melanjutkan pekerjaannya sambil bergumam sesuatu dengan sangat pelan. Sayangnya, tanpa di sadari Hyoga Dylan tidak sengaja mendengar gumaman nya.

(Rubah?..... Kenapa ayah menyebut kata Rubah?.... Berarti dugaan ku memang benar.... Kalau ada kemungkinan keluarga Kerajaan terlibat.... Tapi, siapa si Rubah yang dimaksud Ayah?).

"Tapi, jujur saja Dylan.... Ayah terkadang ragu kalau kau hanya anak berusia 14 tahun".

Mendengar hal itu Dylan menundukkan kepalanya dan ekspresi panik terlihat di wajahnya. Dan di dalam hati dia mulai bergumam.

(Maaf, Ayah.... Walau fisik ku terlihat seperti anak muda.... Nyatanya, jiwaku ini sudah om-om berusia lebih dari 30 tahun).

Tak berselang lama, sebuah ketukan pintu terdengar.

"Masuk".

Sebagai tanggapan dari ketukan pintu itu, Hyoga mengizinkan orang yang di balik pintu itu untuk masuk kedalam.

Seorang maid masuk dan segera membungkukkan badannya terlebih dahulu ke arah Hyoga dan Dylan sebagai tanda penghormatan dan mulai berbicara.

"Maaf mengganggu, Tuan Hyoga, Tuan Dylan.... Anda kedatangan seorang tamu, katanya dia dari ibukota".

"Tamu?".

"Dari ibukota?".

Baik Dylan dan Hyoga sama-sama kebingungan siapa tamu yang datang dari ibukota.

(------------)

Segera setelah mendapat kabar itu, baik Hyoga dan Dylan bergegas ke ruang tamu untuk menemui tamu dari ibukota itu.

Mereka tahu, kalau dia adalah tamu dari Ibukota ada kemungkinan dia adalah utusan keluarga Kerajaan.

Sesampainya di ruang tamu, disana sudah menunggu seorang pria berusia akhir 20 tahunan, dengan rambut berwarna kuning di kuncir seperti ekor kuda, dari bentuk badannya yang tegap saat duduk tampak cukup terlatih.

Dan dia juga membawa sebilah pedang yang di gantung pada pinggang kirinya. Dibelakang nya ada 2 ksatria dengan zirah lengkap yang tampak seperti pengawalnya.

"Selamat siang. Lama tidak berjumpa ya, Hyoga".

Pria itu langsung menyapa Hyoga sambil menyeruput teh yang ada di cangkir yang dia pegang. Dari cara menyapanya, tampak dia sudah kenal dengan Hyoga.

"Kukira "tamu" itu siapa.... Ternyata itu kau rupanya, Rufus".

Dan memang benar, Hyoga nampaknya sangat kenal betul dengan tamu itu yang dia panggil Rufus.

"Ayah, siapa dia?".

Dylan yang penasaran segera bertanya kepada Hyoga soal siapa pria yang di hadapannya sekarang.

"Rufus Dom Silva. Dia adalah Komandan dari Cavilaric Order, Kerajaan ini dan juga....... Teman lamaku.... Meski aku enggan mengakuinya".

Hyoga menjawab pertanyaan Dylan sambil melirik kan matanya kearah lain, seperti dia enggan untuk menjawabnya.

(Rufus Dom Silva, ya.... Dia tidak pernah disebutkan atau di tampakkan dalam gamenya... Berarti dia ini hanya seorang NPC..... Wajar jika aku tidak tahu).

"Keparat. Kau masih menyebalkan sama seperti dulu, ya. Hyoga".

Rufus sepertinya tampak kecewa dengan sikap Hyoga yang enggan mengakuinya sebagai sahabat.

"Ngomong-ngomong, kau pasti Dylan, kan? Kau sudah besar rupanya.... Terakhir kali aku melihatmu saat baru berusia 2 tahun".

"Hou...".

Rufus bercerita bahwa dia pernah bertemu dengan Dylan yang masih berusia 2 saat berkunjung ke wilayah Arcadia.

Tak mau membuang waktu lagi, Hyoga dan Dylan segera duduk berhadapan dengan Rufus dan mulai berdiskusi.

"Baiklah, mari kita langsung ke intinya.... Aku yakin kau kesini bukan sebagai "utusan" dari Yang Mulia, kan? Rufus".

Mendengar pertanyaan langsung dari Hyoga, membuat Rufus merubah ekspresi wajahnya menjadi serius, menyepitkan kedua matanya, dan mulut nya tersenyum tipis.

"Kau benar. Aku datang kesini bukan sebagai "utusan". Melainkan, untuk memastikan "sesuatu" ".

"Dan apa "sesuatu" yang kau maksud ini?".

Keheningan terjadi diantara mereka bertiga, setelah satu kali tarikan nafas Rufus kembali berbicara.

"2 Minggu yang lalu, aku dapat laporan dari para ksatria perbatasan soal pergerakkan para monster di wilayah mu yang menjadi sangat aneh. Jadi, aku datang mencoba untuk menginvestasi nya".

"Lalu apa yang kau temukan?".

Rufus lalu memasang ekspresi kecewa dan tampak lelah.

"Tidak ada. Aku dan tim yang aku bawa sudah sekuat tenaga untuk mencarinya. Karena kami tahu pergerakan para monster itu sangat tidak wajar. Tapi, tidak ada petunjuk sama sekali yang kami temukan...... Ketika kami sudah mulai kebingungan karena tidak menemukan apapun, tiba-tiba muncul seorang warga biasa.... Dan dari ceritanya kami menemukan "sesuatu" yang mencengangkan...... Kalau putramu ini, yang telah berjasa untuk menahan para monster itu".

Rufus melirik ke arah Dylan yang dari tadi, memperhatikan percakapan mereka. Dari ekspresi wajahnya dia tidak terkejut sama sekali.

Itu karena dia tahu, bahwa tanpa perlu Ayahnya bocorkan, para warga pasti akan bercerita soal dirinya yang menahan gerombolan monster itu.

"Memang benar. Akulah yang telah menahan serangan monster itu sendirian.... Namun..... Untuk sebuah "informasi" aku yakin itu tidak akan memuaskan mu, Rufus-san".

"Hou.... Jadi, tolong informasinya soal "yang lain"?".

Rufus semakin penasaran dengan apa yang di sampaikan oleh Dylan. Tanpa niat untuk menyembunyikan apapun lagi Dylan kembali berbicara.

"Ada seorang dalang dibalik terjadi penyerbuan para monster itu".

"Lalu, siapa si dalang ini? Apa kau tahu namanya?".

"Tentu saja..... Dia adalah Oscar Niville Dragonia".

Rufus langsung terkejut dan tersentak, badannya mematung karena otaknya harus mencerna apa yang baru saja dia dengar.

Memastikan bahwa yang dia dengar itu benar, pandangannya melirik kearah Hyoga seperti meminta kepastian.

Hyoga yang sadar hanya merespon nya sambil sedikit mengangguk dan masih tetap meminum tehnya dengan santai.

"Dy-kun, jika benar orang itu memang Oscar. Apa mungkin kau tahu tujuannya menyerang wilayah ini?".

"Hmmm.... Oscar berkata soal rencananya untuk mengambil alih wilayah ini sebagai basis penyerangan menuju Kerajaan Ingrid".

"....Oscar".

Ekspresi wajah Rufus menjadi sedikit pucat setelah mendengar rencana Oscar untuk menyerang Kerajaan Ingrid.

"Hyoga, apa yang dikatakan putramu ini benar adanya?".

Rufus kembali bertanya, tapi Hyoga hanya merespon nya dengan diam dan melirik kan matanya kearah lain, seolah-olah ingin menghindari pertanyaan itu.

Melihat sikap Hyoga yang acuh menandakan bahwa yang di ceritakan Dylan memang benar terjadi.

"Ta-tapi, ini masih sulit untuk dipercaya..... Hyoga, aku yakin kau tahu siapa Oscar..... Meski dia hanya duduk di kursi ke 9 dari 10 ksatria suci Kerajaan Rachael.... Dia itu yang terkuat diantara ksatria suci yang lain..... Dan sering menjadi andalan para The Oracle's...... Belum lagi, Unique Skill miliknya...... Skill Berserk bisa memberikan kekuatan berkali-kali lipat dan dia tidak akan bisa dihentikan atau dikalahkan saat dalam mode itu.... Membayangkan, dia kalah ditangan putramu yang masih belia ini?.... Maaf, tapi mana mungkin aku percaya begitu saja".

Rufus segera berdiri dari duduknya dan mulai berbicara dengan nada sedikit panik, karena masih mempertahankan kebenaran informasi tersebut.

Hyoga yang melihat sikap yang diambil Rufus saat berusaha menyangkal apa yang dia dengar hanya bisa mengembuskan nafas, seperti sudah biasa baginya melihat sikap Rufus yang seperti itu.

Semetara itu, Dylan terkejut bukan karena respon Rufus yang menyangkal dirinya yang mengalahkan Oscar. Melainkan, karena dia mendengar Rufus menyebut nama "The Oracle's" untuk pertama kalinya.

(The Oracle's? Siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar atau membaca nya dalam dialog di dalam game. Apa mereka NPC?..... Kurasa, aku harus cari tahu siapa mereka..... Aku tidak boleh hanya mengandalkan pengetahuan dari game saja).

"Kau tahu kalau aku tidak akan berbohong saat kita membahas masalah yang sangat serius kan, Rufus?.... Jika jawaban Dylan tidak memuaskan mu, kenapa kau tidak memeriksanya sendiri.... Kami memakamkannya di pemakaman umum yang ada di pinggir kota..... Soal mayatnya, aku sudah gunakan sihir es untuk mengawetkan nya.... Dylan, tolong kau pandu dia".

"Haaaaa..... Menyusahkan saja".

"Ngak usah ngeluh, lakukan saja".

"Iya, iya aku tahu.... Rufus-san, ayo ikut denganku".

Walau sangat keberatan, Dylan tetap melakukan perintah Hyoga untuk memandu Rufus beserta ke 2 ksatria yang dia bawa ke tempat pemakaman umum dimana mayat Oscar dikuburkan.

(-----------)

Di pemakaman umum kota Linic.

Dylan memandu Rufus dan 2 pengawalnya berjalan melintasi banyak kuburan untuk menuju ketempat dimana Oscar di kuburkan.

Setelah beberapa saat berjalan, mereka berhenti di sebuah makam yang tampak baru dan nisan nya masih terbuat dari papan kayu biasa.

"Disinilah tempat dimana kami mengubur mayat Oscar".

"Begitu,ya..... Kalian berdua, gali kuburan ini".

""Ha"".

Rufus segera memberi instruksi kepada kedua Ksatria itu dan mereka langsung mengerjakan apa yang di instruksi kan tanpa banyak bertanya.

Beberapa saat menggali, mereka berhenti setelah melihat sebuah peti kayu. Tidak menunggu lebih lama lagi, keduanya membuka peti kayu itu.

"Komandan Rufus, kami sudah selesai. Mohon untuk diperiksa".

Rufus segera melangkah dan melihat apa yang di dalamnya. Dia langsung terdiam sesaat setelah dia benar-benar melihat mayat Oscar yang ada di sana.

"Komandan, apa dia benar-benar Oscar Niville Dragonia?".

Karena penasaran melihat respon Rufus yang terdiam, salah satu ksatria mencoba untuk bertanya.

"Iya.... Tidak salah lagi, dia memang Oscar Niville Dragonia".

Mereka langsung terkejut saat bahwa Rufus sudah memastikan bahwa mayat itu benar-benar Oscar Niville Dragonia.

Mereka juga langsung melirik, Dylan yang dari tadi hanya melihat sambil mendekap kedua tangannya.

"Bagaiman, Rufus-san? Kau sudah percaya?".

Dylan bertanya soal kebingungan yang tadi di rasakan Rufus.

"Haaaa.... Iya sekarang aku percaya. Meski agak sulit menerimanya terutama soal dirimu yang mengalahkannya, Dy-kun..... Tapi, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu?".

"Selama aku bisa menjawabnya".

Dylan menyanggupi tentang Rufus yang hendak menanyakan beberapa hal kepadanya.

"Baiklah..... Pertama, apa kau tahu Oscar yang kubunuh ini adalah orang penting di Kerajaan Rachael?".

"Iya".

"Dan aku yakin kau tahu bahwa dia juga calon Raja selanjutnya?".

"Dia sendiri yang memberi tahuku soal itu".

"Lalu, apa kau tahu dampak yang akan terjadi setelah kau membunuhnya?".

"Aku tidak tahu dan bahkan tidak peduli dengan dampak dari tindakan ku ini".

Rufus dan kedua ksatria nya terkejut dengan jawaban cepat dan terkesan tak acuh yang keluar dari mulut Dylan. Lalu, entah mengapa mulut Rufus tersenyum tipis dan mulai menggumamkan sesuatu di dalam hatinya.

(Haaaa...... Mau bagaimana lagi...... Ngak Anaknya, ngak Ayahnya sama saja).

"Baiklah, Dy-kun..... Kami akan membawa mayat Oscar ke Ibukota dan menunjukkan pada Yang Mulia".

"Lakukan saja, lagipula Rufus-san lebih paham harus melakukan apa..... Kalau begitu, aku pergi dulu".

Berpamitan, Dylan segera melangkah pergi tanpa memperdulikan apakah Rufus membalas ucapan atau tidak.

"Komandan?".

"Ada apa?".

"Bukankah, menurut anda. Sikap Dylan itu terlalu kurang ajar?".

"Apa maksudmu?".

"Maksud saya. Dia itu seorang bangsawan,kan? Tapi, sikapnya itu terlalu acuh tak acuh pada masalah ini?.... Dia sudah membunuh orang penting dari Kerajaan lain. Dan jika dilihat dari sudut pandang lain... Tindakannya itu akan memicu pertikaian antar kedua Kerajaan bahkan akan memicu peperangan... Tapi, dia bertingkah seolah-olah tidak peduli dengan itu semua".

Karena merasa tindakan Dylan terkesan kurang ajar. Salah ksatria mencoba bertanya kepada Rufus yang sepertinya tidak masalah dengan sikap Dylan.

"Begitu ya.... Wajar karena kalian berpikir seperti itu. Tapi, jika kalian tahu. Mungkin kalian akan bersikap seperti ku sekarang".

"Eh? Memangnya, ada alasan kenapa sikapnya seperti itu?".

Rufus mulai menceritakan tentang masa lalu.

"Sebenarnya, "hubungan" antara keluarga Hyoga beserta keluarganya dengan para bangsawan dan keluarga Kerajaan itu sangat buruk".

"Apa benar-benar seburuk itu?".

"Yang terburuk..... Tapi, lain kali akan aku ceritakan. Sekarang, ayo kita bawa mayat Oscar kembali ke Ibukota.... Sebelum itu, kita akan pergi ke markas pasukan perbatasan".

"Eh? Ke markas perbatasan? Untuk apa Komandan?".

Rufus yang mendapat pertanyaan itu terdiam sebentar sambil melirik ke arah mayat Oscar dan kembali berbicara.

"Untuk mencari tahu "kenapa" mereka bisa "kecolongan" seperti ini".

Setelah mengantarkan Rufus dan kedua ksatria yang dia bawa untuk melihat mayat Oscar.

Dylan memutuskan kembali karena merasa sudah tidak ada yang perlu dia lakukan disana. Setelah sampai di Mansion, Dylan tiba-tiba di hampiri oleh Tina.

"Tuan Dylan, anda sudah kembali?".

"Iya, kenapa kau terburu-buru? Ada seseuatu?".

Melihat Tina yang panik Dylan mencoba menanyakan sesuatu. Kemudian Tina menyodorkan sesuatu seperti surat tapi amplop nya berwarna hitam dan ada stempel Kerajaan di belakangnya.

Dylan yang penasaran dengan surat itu mencoba bertanya.

"Tina, Dari mana kau mendapatkan nya?".

"Tadi, sebelum pergi Tuan Rufus menitipkan ini pada saya".

"Hmmm..... Lalu apa ini?".

"Etto.... Katanya, itu undangan langsung dari Raja untuk seluruh keluarga Arcadia. Agar datang ke pesta Ball yang diadakan keluarga Kerajaan".

"Begitu ya. Kau sudah boleh pergi Tina. Surat ini biar aku yang sampaikan sendiri ke Ayah".

"Baiklah, kalau begitu saya permisi".

Tina segera meninggalkan Dylan sendirian sambil terus memperhatikan undangan yang dia bawa itu dan kemudian dia mulai berpikir.

(Hmm.... Sudah kuduga. Sebentar lagi, alur di cerita di gamenya akan segera dimulai tepat beberapa bulan setelah pesta Ball Kerajaan. Nah, sekarang langkah apa yang harus aku ambil?).

Terpopuler

Comments

landax maniak

landax maniak

bahasa baku sama tidak baku jangan dicamour,,,bacanya gaenak

2025-01-28

1

cupa

cupa

😂

2024-11-09

1

Frando Kanan

Frando Kanan

rubah sialan? kira2 spa ya??

2023-12-18

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Terlahir Sebagai Penjahat.
2 Chapter 2 : Menolak Pertunangan Dengan Putri Raja.
3 Chapter 3 : Metode Pertanian BMF.
4 Chapter 4 : Menangani Kenangan Pahit Dan Kesedihan Firalet.
5 Chapter 5 : Hari Yang Tenang.
6 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 1.
7 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 2.
8 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 3 (Final).
9 Chapter 7 : Unique Skill.
10 Chapter 8 : Sebelum "Insiden Monster Panik".
11 Chapter 9 : Monster Panik part 1.
12 Chapter 9 : Monster Panik part 2.
13 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 1.
14 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 2.
15 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 3.
16 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 4.
17 Chapter 11 : Alur Cerita Game Berubah Drastis.
18 Chapter 12 : Tamu Dari Ibu Kota Dan Undangan Pesta Ball Kerajaan.
19 Chapter 13 : Algrand, Ibukota Kerajaan Ingrid.
20 Chapter 14 : Hubungan Yang Erat Untuk Kedepannya.
21 Side Story 1 : POV Vanessa Sera Ingrid.
22 Side Story 2 : POV Filaret van Arcadia
23 Chapter 15 : Tawaran Dylan Dan Situasi Kerajaan Rachael.
24 Chapter 16 : Jalan-jalan Dan Kembali Belajar.
25 Chapter 17 : Pesta Ball part 1.
26 Chapter 17 : Pesta Ball part 2.
27 Chapter 17 : Pesta Ball part 3.
28 Chapter 18 : Shadow Crow Dan Hadiah Ulang Tahun.
29 Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 1.
30 Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 2.
31 Chapter 20 : Tekad Baru Dan Keberangkatan.
32 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 1.
33 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 2.
34 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 3.
35 Chapter 22 : Pengumuman Hasil Tes Dan Penculikan.
36 Chapter 23 : Munculnya Masalah Baru.
37 Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 1.
38 Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 2.
39 Chapter 25 : Pesta Penyambutan Dan Pertemuan.
40 Chapter 26 : Pembicaraan Dan Percobaan Pembunuhan.
41 Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 1.
42 Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 2.
43 Chapter 28 : Tanggung Jawab Bersama.
44 Chapter 29 : Camping.
45 Chapter 30 : Pelajaran Dan Pelatihan Di Mulai.
46 Chapter 31 : Pertemuan Tak Terduga.
47 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 1.
48 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 2.
49 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 3.
50 Chapter 33 : Kesedihan Dan Rasa Frustasi Ritzia.
51 Chapter 34 : Kembali Dan Hasil Penyelidikan.
52 Chapter 35 : Tak Tahu Diri.
53 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 1.
54 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 2.
55 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 3.
56 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 4.
57 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 5.
58 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 6.
59 Chapter 36 : Ekspresi Dungeon part 7.
60 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 8.
61 Chapter 37 : Kembali Dengan Selamat.
62 Chapter 38 : Hasil Dan Rekaman.
63 Chapter 39 : Perjalanan Menuju Resort Akademi.
64 Chapter 40 : Ayo Kita Santai Sejenak.
65 Chapter 41 : Musemum Lazarus.
66 Chapter 42 : Latihan "Kemaritiman" Hanyalah Kedok.
67 Chapter 43 : Misi Penyelidikan Yang Berubah Menjadi Misi Penyelamatan.
68 Chapter 44 : Penyergapan.
69 Chapter 45 : Rencana Vanessa Dan Permintaan Reiner
70 Chapter 46 : Keputusan Lafia.
71 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 1.
72 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 2.
73 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 3.
74 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 4.
75 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 1.
76 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 2.
77 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 3.
78 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 4.
79 Chapter 49 : Filaret vs Tanifa.
80 Chapter 50 : Alasan Yang Tak Masuk Akal.
81 Chapter 51 : Orang Bodoh.
82 Chapter 52 : Pertarung Yang Tak Seimbang.
83 Chapter 53 : Seorang Penjahat Yang Juga Seorang Malaikat Kematian.
84 Chapter 54 : Istirahat Dengan Bermain Basket Dan Pesta Barbeque.
85 Chapter 55 : Pembicaraan Seorang Ayah Dan Putrinya.
86 Chapter 56 : Rencana Ratu Celestine Dan Curhat Vanessa.
87 Chapter 57 : Hadiah Kecil.
88 Chapter 58 : Pahlawan Dan Penjahat.
89 Chapter 59 : Niat Jahat Nelson.
90 Chapter 60 : Balasan Dari Kesombongan.
91 Side Story 3 : POV Claudia von Ritzburg.
92 Chapter 61 : Kebetulan Dan Salah Paham.
93 Chapter 62 : Persiapan Festival Akademi.
94 Chapter 63 : Festival Akademi.
95 Chapter 64 : Amarah Conrad.
96 Chapter 65 : Penyerang Misterius.
97 Chapter 66 : "Aku Menolak".
98 Chapter 67 : Monster Panggilan.
99 Chapter 68 : Kebencian Solaris.
100 Chapter 69 : Akan Aku Hancurkan Dunia Ini.
101 Chapter 70 : Orang Yang Tidak Seperti Itu.
102 Chapter 71 : Penilaian Dan Terpaksa Ikut.
103 Chapter 72 : Rapat Penting Kemiliteran.
104 Chapter 73 : Pemanggilan Familiar.
105 Chapter 74 : Tugas Resmi.
106 Chapter 75 : Masalah Baru.
107 Chapter 76 : Putri Dan Pangeran Dari Kerajaan Edelweis.
108 Chapter 77 : Badai Laut.
109 Chapter 78 : Penyelamatan Korban.
110 Chapter 79 : Bendera Putih.
111 Chapter 80 : Tantangan Raja Christopher.
112 Chapter 81 : Dylan vs Chris (Pertarungan Kecepatan).
113 Chapter 82 : Sejarah Naga Laut, Leviathan.
114 Chapter 83 : Ucapan Terima Kasih Dan Keberangkatan.
115 Chapter 84 : Kota Rondine.
116 Chapter 85 : Heroine Elf Sang Pahlawan.
117 Chapter 86 : Desa Para Elf.
118 Chapter 87 : Cerita Seorang Elf Yang Bernyanyi Dibawah Sinar Rembulan.
119 Chapter 88 : Gunung Asthe.
120 Chapter 89 : Undangan Black Dragon.
121 Chapter 90 : Cinta Yang Membawa Obsesi.
122 Chapter 91 : Suasana Di Mansion Cylde.
123 Chapter 92 : Dunia segel "Realm Between Realm".
124 Referensi Karakter (Fix)
125 Referensi Karakter Ke 2
126 Chapter 93 : Serangan Desa Elf.
127 Chapter 94 : Diskusi Dan Keputusan.
128 Chapter 95 : Alex Dan Identitas Nameless.
129 Chapter 96 : Teleportasi.
130 Chapter 97 : Serangan Awal.
131 Chapter 98 : Tepat Waktu.
132 Chapter 99 : Rute Lain Dan Persiapan.
133 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 1.
134 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 2.
135 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 3.
136 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 4.
137 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 5.
138 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 6.
139 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 7.
140 Chapter 100: Pertempuran Hutan Beltram part 8.
141 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 9.
142 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 10.
143 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 1.
144 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 2.
145 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 3.
146 Chapter 101 : Akhir Dari Pertempuran (Dylan vs Viola) part 4.
147 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 5.
148 Chapter 102 : Bala Bantuan Datang.
149 Chapter 103 : Situasi Yang Berbalik.
150 Chapter 104 : "Kelemahan Dari Unique Skillmu adalah....".
151 Chapter 105 : Blasted Of Yggdrasil Magic Tree.
152 Chapter 106 : Pengkhianat Dan Alasan Dibalik Kebencian Heroine.
153 Side Story : "Reputasi ku bisa hancur...".
154 Chapter 107 : Pasca Event Hutan Beltram.
155 Chapter 108 : Frustasi.
156 Chapter 109 : Pentas Seni Drama.
157 Chapter 110 : Kegelisahan Filaret.
158 Chapter 111 : Heroine Untuk Ornest.
159 Chapter 112 : Lantunan Panggilan Ocarina.
160 Chapter 113 : Vanessa, Flora dan Alasan Luke.
161 Chapter 114 : Keinginan Reiner, Kekhawatiran Olga, Kembalinya Seseorang.
162 Chapter 115 : "Aku sudah bukan bawahan mu....".
163 Chapter 116 : Munculnya Pasukan Laut Leviathan.
164 Chapter 117 : "Naga Laut" Leviathan.
165 Chapter 118 : Aqua Breath Dan Serangan Langsung.
166 Side Story : "Kembalikan bantal ku, bangsat!!!" part 1.
167 Chapter 119 : Pertarungan Ditengah Badai Lautan.
168 Chapter 120 : Pertolongan.
169 Chapter 121 : Kebenaran Dibalik Sosok Sang Dalang.
170 Chapter 122 : ".... Bolehkan, aku hajar adik mu ini?".
171 Chapter 123 : Ratu Naga Mear Dan Balasan Awal Untuk Rafen.
172 Chapter 124 : *.... Maka, biar aku saja yang mati*.
173 Chapter 125 : Magic Disrupting Mist.
174 Chapter 126 : Malapetaka Yang Kembali.
175 Chapter 127 : Akhir sang "Naga Laut" dan Kebenaran Fafnir.
176 Chapter 128 : Rahasia dan Kesepakatan Bersama.
177 Chapter 129 : Undangan Dan Aula Sidang.
178 Chapter 130 : Percobaan Pembunuhan Dan Rumor "Pengintai Malam".
179 Side Story : Elsa, Guru Seksi Otak Otot.
180 Chapter 131 : Persidangan.
181 Chapter 132 : Rafen.
182 Chapter 133 : Hell Mimic.
183 Chapter 134 : Serangan Hell Mimic.
184 Chapter 135 : Kenangan Ruvick dan Serangan Multistrike.
185 Chapter 136 : Penghargaan.
186 Chapter 137 : Pulang Dan Sedikit Masalah Di Kapal Terbang.
187 Chapter 138 : Laporan Dan Obrolan Para Gadis.
188 Chapter 139 : Senior Yang Kesusahan Dan Permintaan Annastasia-sensei (Fix).
189 Chapter 140 : Tuduhan Palsu.
190 Side Story : Ritzia vs Tugas Melukis Alberto-sensei.
191 Chapter 141 : Perdebatan Tidak Penting.
192 Chapter 142 : Kualitime Ayah, Anak Dan Hasil Otopsi.
193 Chapter 143 : "Hukuman" Olga untuk Frey Dan Gadis Pencuri Ikan.
194 Chapter 144 : Heroine Baru Dari Ras Beastkin.
195 Chapter 145 : Kenangan Ratu Iblis, Hasil Koroner, Dan Permintaan Risu.
196 Chapter 146 : Alasan Risu.
197 Chapter 147 : Sejarah Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Shiledwelt.
198 Chapter 148 : The Oracle's.
199 Chapter 149 : Cerita Tina.
200 Chapter 150 : Bantuan Dylan Untuk Tina.
201 Chapter 151 : Kunjungan Mentri Pendidikan Dan Latihan Luke.
202 Chapter 152 : Metri Pendidikan Dan Pembicaraan Di Taman Akademi.
203 Chapter 153 : Panggilan Protas Dari Aria.
204 Chapter 154 : Memulai Perselisihan Dengan Ketua OSIS.
205 Chapter 155 : Berbelanja Bersama Dan Benih Kebencian.
206 Chapter 156 : Bersembunyi Dibalik Bilik Ganti.
207 Chapter 157 : Pikiran Jahat Dylan Alias Ritsuka.
208 Chapter 158 : Ketahuan.
209 Chapter 159 : Undang Pesta Ulang Tahun.
210 Chapter 160 : POV Chef Joseph Dan Tatapan Dari Jarak Jauh.
211 Chapter 161 : Keengganan Untuk Hadir.
212 Chapter 162 : Teriakan Di Dalam Kegelapan Malam.
213 Chapter 163 : Menemukan Sarang Vampir.
214 Chapter 164 : Tujuan Desmond.
215 Chapter 165 : Vampir.
216 Chapter 166 : Ledakan Dari Bawah Tanah.
217 Chapter 167 : Menerima Konsekuensi Dan Pertemuan Rahasia Bangsawan.
218 Chapter 168 : Menghadiri Pesta Ulang Tahun Ratu Celestine Di Istana.
219 Chapter 169 : Sambutan Keluarga Kerajaan Dan 2 Diplomat Baru.
220 Chapter 170 : Kerajaan Yaegashi Dan Duduk Bersama Di Satu Meja.
221 Chapter 171 : (DASAR BANGKE!!!! KENAPA AKU MALAH KECEPLOSAN....).
222 Chapter 172 : Tamu Tak Di Undang.
223 Chapter 173 : Manuver Rahasia.
224 Chapter 174 : Kekacauan Di Pesta Kerajaan.
225 Chapter 175 : Tim Gabungan Melawan "Grim Ripper".
226 Chapter 176 : Pertarungan Sengit.
227 Chapter 177 : Vampir Dengan 2 Artefak "Master Canes".
228 Chapter 178 : Peningkatan Unique Skill Dan Penentuan.
229 Chapter 179 : Falma Yang Kesulitan.
230 Chapter 180 : Rasa Bersalah Falma.
231 Chapter 181 : Sebuah "Janji" Dan Reuni Saling Benci.
232 Chapter 182 : Terlepas Dari Rasa Bersalah Dan Dendam.
233 Chapter 183 : Rencana Awin.
234 Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 1).
235 Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 2).
236 Chapter 185 : "Explotion Chaos" Dan "Penjahat" Yang Kembali.
Episodes

Updated 236 Episodes

1
Chapter 1 : Terlahir Sebagai Penjahat.
2
Chapter 2 : Menolak Pertunangan Dengan Putri Raja.
3
Chapter 3 : Metode Pertanian BMF.
4
Chapter 4 : Menangani Kenangan Pahit Dan Kesedihan Firalet.
5
Chapter 5 : Hari Yang Tenang.
6
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 1.
7
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 2.
8
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 3 (Final).
9
Chapter 7 : Unique Skill.
10
Chapter 8 : Sebelum "Insiden Monster Panik".
11
Chapter 9 : Monster Panik part 1.
12
Chapter 9 : Monster Panik part 2.
13
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 1.
14
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 2.
15
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 3.
16
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 4.
17
Chapter 11 : Alur Cerita Game Berubah Drastis.
18
Chapter 12 : Tamu Dari Ibu Kota Dan Undangan Pesta Ball Kerajaan.
19
Chapter 13 : Algrand, Ibukota Kerajaan Ingrid.
20
Chapter 14 : Hubungan Yang Erat Untuk Kedepannya.
21
Side Story 1 : POV Vanessa Sera Ingrid.
22
Side Story 2 : POV Filaret van Arcadia
23
Chapter 15 : Tawaran Dylan Dan Situasi Kerajaan Rachael.
24
Chapter 16 : Jalan-jalan Dan Kembali Belajar.
25
Chapter 17 : Pesta Ball part 1.
26
Chapter 17 : Pesta Ball part 2.
27
Chapter 17 : Pesta Ball part 3.
28
Chapter 18 : Shadow Crow Dan Hadiah Ulang Tahun.
29
Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 1.
30
Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 2.
31
Chapter 20 : Tekad Baru Dan Keberangkatan.
32
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 1.
33
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 2.
34
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 3.
35
Chapter 22 : Pengumuman Hasil Tes Dan Penculikan.
36
Chapter 23 : Munculnya Masalah Baru.
37
Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 1.
38
Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 2.
39
Chapter 25 : Pesta Penyambutan Dan Pertemuan.
40
Chapter 26 : Pembicaraan Dan Percobaan Pembunuhan.
41
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 1.
42
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 2.
43
Chapter 28 : Tanggung Jawab Bersama.
44
Chapter 29 : Camping.
45
Chapter 30 : Pelajaran Dan Pelatihan Di Mulai.
46
Chapter 31 : Pertemuan Tak Terduga.
47
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 1.
48
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 2.
49
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 3.
50
Chapter 33 : Kesedihan Dan Rasa Frustasi Ritzia.
51
Chapter 34 : Kembali Dan Hasil Penyelidikan.
52
Chapter 35 : Tak Tahu Diri.
53
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 1.
54
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 2.
55
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 3.
56
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 4.
57
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 5.
58
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 6.
59
Chapter 36 : Ekspresi Dungeon part 7.
60
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 8.
61
Chapter 37 : Kembali Dengan Selamat.
62
Chapter 38 : Hasil Dan Rekaman.
63
Chapter 39 : Perjalanan Menuju Resort Akademi.
64
Chapter 40 : Ayo Kita Santai Sejenak.
65
Chapter 41 : Musemum Lazarus.
66
Chapter 42 : Latihan "Kemaritiman" Hanyalah Kedok.
67
Chapter 43 : Misi Penyelidikan Yang Berubah Menjadi Misi Penyelamatan.
68
Chapter 44 : Penyergapan.
69
Chapter 45 : Rencana Vanessa Dan Permintaan Reiner
70
Chapter 46 : Keputusan Lafia.
71
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 1.
72
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 2.
73
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 3.
74
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 4.
75
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 1.
76
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 2.
77
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 3.
78
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 4.
79
Chapter 49 : Filaret vs Tanifa.
80
Chapter 50 : Alasan Yang Tak Masuk Akal.
81
Chapter 51 : Orang Bodoh.
82
Chapter 52 : Pertarung Yang Tak Seimbang.
83
Chapter 53 : Seorang Penjahat Yang Juga Seorang Malaikat Kematian.
84
Chapter 54 : Istirahat Dengan Bermain Basket Dan Pesta Barbeque.
85
Chapter 55 : Pembicaraan Seorang Ayah Dan Putrinya.
86
Chapter 56 : Rencana Ratu Celestine Dan Curhat Vanessa.
87
Chapter 57 : Hadiah Kecil.
88
Chapter 58 : Pahlawan Dan Penjahat.
89
Chapter 59 : Niat Jahat Nelson.
90
Chapter 60 : Balasan Dari Kesombongan.
91
Side Story 3 : POV Claudia von Ritzburg.
92
Chapter 61 : Kebetulan Dan Salah Paham.
93
Chapter 62 : Persiapan Festival Akademi.
94
Chapter 63 : Festival Akademi.
95
Chapter 64 : Amarah Conrad.
96
Chapter 65 : Penyerang Misterius.
97
Chapter 66 : "Aku Menolak".
98
Chapter 67 : Monster Panggilan.
99
Chapter 68 : Kebencian Solaris.
100
Chapter 69 : Akan Aku Hancurkan Dunia Ini.
101
Chapter 70 : Orang Yang Tidak Seperti Itu.
102
Chapter 71 : Penilaian Dan Terpaksa Ikut.
103
Chapter 72 : Rapat Penting Kemiliteran.
104
Chapter 73 : Pemanggilan Familiar.
105
Chapter 74 : Tugas Resmi.
106
Chapter 75 : Masalah Baru.
107
Chapter 76 : Putri Dan Pangeran Dari Kerajaan Edelweis.
108
Chapter 77 : Badai Laut.
109
Chapter 78 : Penyelamatan Korban.
110
Chapter 79 : Bendera Putih.
111
Chapter 80 : Tantangan Raja Christopher.
112
Chapter 81 : Dylan vs Chris (Pertarungan Kecepatan).
113
Chapter 82 : Sejarah Naga Laut, Leviathan.
114
Chapter 83 : Ucapan Terima Kasih Dan Keberangkatan.
115
Chapter 84 : Kota Rondine.
116
Chapter 85 : Heroine Elf Sang Pahlawan.
117
Chapter 86 : Desa Para Elf.
118
Chapter 87 : Cerita Seorang Elf Yang Bernyanyi Dibawah Sinar Rembulan.
119
Chapter 88 : Gunung Asthe.
120
Chapter 89 : Undangan Black Dragon.
121
Chapter 90 : Cinta Yang Membawa Obsesi.
122
Chapter 91 : Suasana Di Mansion Cylde.
123
Chapter 92 : Dunia segel "Realm Between Realm".
124
Referensi Karakter (Fix)
125
Referensi Karakter Ke 2
126
Chapter 93 : Serangan Desa Elf.
127
Chapter 94 : Diskusi Dan Keputusan.
128
Chapter 95 : Alex Dan Identitas Nameless.
129
Chapter 96 : Teleportasi.
130
Chapter 97 : Serangan Awal.
131
Chapter 98 : Tepat Waktu.
132
Chapter 99 : Rute Lain Dan Persiapan.
133
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 1.
134
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 2.
135
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 3.
136
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 4.
137
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 5.
138
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 6.
139
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 7.
140
Chapter 100: Pertempuran Hutan Beltram part 8.
141
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 9.
142
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 10.
143
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 1.
144
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 2.
145
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 3.
146
Chapter 101 : Akhir Dari Pertempuran (Dylan vs Viola) part 4.
147
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 5.
148
Chapter 102 : Bala Bantuan Datang.
149
Chapter 103 : Situasi Yang Berbalik.
150
Chapter 104 : "Kelemahan Dari Unique Skillmu adalah....".
151
Chapter 105 : Blasted Of Yggdrasil Magic Tree.
152
Chapter 106 : Pengkhianat Dan Alasan Dibalik Kebencian Heroine.
153
Side Story : "Reputasi ku bisa hancur...".
154
Chapter 107 : Pasca Event Hutan Beltram.
155
Chapter 108 : Frustasi.
156
Chapter 109 : Pentas Seni Drama.
157
Chapter 110 : Kegelisahan Filaret.
158
Chapter 111 : Heroine Untuk Ornest.
159
Chapter 112 : Lantunan Panggilan Ocarina.
160
Chapter 113 : Vanessa, Flora dan Alasan Luke.
161
Chapter 114 : Keinginan Reiner, Kekhawatiran Olga, Kembalinya Seseorang.
162
Chapter 115 : "Aku sudah bukan bawahan mu....".
163
Chapter 116 : Munculnya Pasukan Laut Leviathan.
164
Chapter 117 : "Naga Laut" Leviathan.
165
Chapter 118 : Aqua Breath Dan Serangan Langsung.
166
Side Story : "Kembalikan bantal ku, bangsat!!!" part 1.
167
Chapter 119 : Pertarungan Ditengah Badai Lautan.
168
Chapter 120 : Pertolongan.
169
Chapter 121 : Kebenaran Dibalik Sosok Sang Dalang.
170
Chapter 122 : ".... Bolehkan, aku hajar adik mu ini?".
171
Chapter 123 : Ratu Naga Mear Dan Balasan Awal Untuk Rafen.
172
Chapter 124 : *.... Maka, biar aku saja yang mati*.
173
Chapter 125 : Magic Disrupting Mist.
174
Chapter 126 : Malapetaka Yang Kembali.
175
Chapter 127 : Akhir sang "Naga Laut" dan Kebenaran Fafnir.
176
Chapter 128 : Rahasia dan Kesepakatan Bersama.
177
Chapter 129 : Undangan Dan Aula Sidang.
178
Chapter 130 : Percobaan Pembunuhan Dan Rumor "Pengintai Malam".
179
Side Story : Elsa, Guru Seksi Otak Otot.
180
Chapter 131 : Persidangan.
181
Chapter 132 : Rafen.
182
Chapter 133 : Hell Mimic.
183
Chapter 134 : Serangan Hell Mimic.
184
Chapter 135 : Kenangan Ruvick dan Serangan Multistrike.
185
Chapter 136 : Penghargaan.
186
Chapter 137 : Pulang Dan Sedikit Masalah Di Kapal Terbang.
187
Chapter 138 : Laporan Dan Obrolan Para Gadis.
188
Chapter 139 : Senior Yang Kesusahan Dan Permintaan Annastasia-sensei (Fix).
189
Chapter 140 : Tuduhan Palsu.
190
Side Story : Ritzia vs Tugas Melukis Alberto-sensei.
191
Chapter 141 : Perdebatan Tidak Penting.
192
Chapter 142 : Kualitime Ayah, Anak Dan Hasil Otopsi.
193
Chapter 143 : "Hukuman" Olga untuk Frey Dan Gadis Pencuri Ikan.
194
Chapter 144 : Heroine Baru Dari Ras Beastkin.
195
Chapter 145 : Kenangan Ratu Iblis, Hasil Koroner, Dan Permintaan Risu.
196
Chapter 146 : Alasan Risu.
197
Chapter 147 : Sejarah Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Shiledwelt.
198
Chapter 148 : The Oracle's.
199
Chapter 149 : Cerita Tina.
200
Chapter 150 : Bantuan Dylan Untuk Tina.
201
Chapter 151 : Kunjungan Mentri Pendidikan Dan Latihan Luke.
202
Chapter 152 : Metri Pendidikan Dan Pembicaraan Di Taman Akademi.
203
Chapter 153 : Panggilan Protas Dari Aria.
204
Chapter 154 : Memulai Perselisihan Dengan Ketua OSIS.
205
Chapter 155 : Berbelanja Bersama Dan Benih Kebencian.
206
Chapter 156 : Bersembunyi Dibalik Bilik Ganti.
207
Chapter 157 : Pikiran Jahat Dylan Alias Ritsuka.
208
Chapter 158 : Ketahuan.
209
Chapter 159 : Undang Pesta Ulang Tahun.
210
Chapter 160 : POV Chef Joseph Dan Tatapan Dari Jarak Jauh.
211
Chapter 161 : Keengganan Untuk Hadir.
212
Chapter 162 : Teriakan Di Dalam Kegelapan Malam.
213
Chapter 163 : Menemukan Sarang Vampir.
214
Chapter 164 : Tujuan Desmond.
215
Chapter 165 : Vampir.
216
Chapter 166 : Ledakan Dari Bawah Tanah.
217
Chapter 167 : Menerima Konsekuensi Dan Pertemuan Rahasia Bangsawan.
218
Chapter 168 : Menghadiri Pesta Ulang Tahun Ratu Celestine Di Istana.
219
Chapter 169 : Sambutan Keluarga Kerajaan Dan 2 Diplomat Baru.
220
Chapter 170 : Kerajaan Yaegashi Dan Duduk Bersama Di Satu Meja.
221
Chapter 171 : (DASAR BANGKE!!!! KENAPA AKU MALAH KECEPLOSAN....).
222
Chapter 172 : Tamu Tak Di Undang.
223
Chapter 173 : Manuver Rahasia.
224
Chapter 174 : Kekacauan Di Pesta Kerajaan.
225
Chapter 175 : Tim Gabungan Melawan "Grim Ripper".
226
Chapter 176 : Pertarungan Sengit.
227
Chapter 177 : Vampir Dengan 2 Artefak "Master Canes".
228
Chapter 178 : Peningkatan Unique Skill Dan Penentuan.
229
Chapter 179 : Falma Yang Kesulitan.
230
Chapter 180 : Rasa Bersalah Falma.
231
Chapter 181 : Sebuah "Janji" Dan Reuni Saling Benci.
232
Chapter 182 : Terlepas Dari Rasa Bersalah Dan Dendam.
233
Chapter 183 : Rencana Awin.
234
Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 1).
235
Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 2).
236
Chapter 185 : "Explotion Chaos" Dan "Penjahat" Yang Kembali.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!