2 Minggu telah berlalu setelah insiden Monster Panik.
Hyoga berencana untuk mengirimkan semacam surat kepada Yang Mulia Raja, Conrad Sera Ingrid soal insiden yang menimpa wilayah Arcadia.
Mendengar apa yang ayahnya lakukan, Dylan segera menyatakan keberatannya atas tindakan tersebut.
Saat ditanya, Dylan dengan sangat yakin mengatakan bahwa pihak Kerajaan akan tutup mata untuk masalah ini.
Bukan cuma itu saja, Dylan juga menggunakan bukti tindakan pihak Kerajaan selama ini yang terus-menerus mengabaikan wilayah Arcadia yang seolah-olah wilayah dan para penduduk di wilayah ini bukan bagian dari Kerajaan Ingrid.
Dylan juga bilang bahwa untuk kalau Ayahnya ingin menyakinkan pihak Kerajaan, mereka butuh bukti yang tidak bisa mereka sangkal lagi.
Dan bukti yang Dylan maksud itu adalah mayat Oscar Niville Dragonia.
Lalu Dylan juga meminta satu hal yang sangat penting. Yaitu agar ayahnya tidak memberitahu pihak Kerajaan bahwa Dylan lah orang yang berhasil membunuh Oscar.
Argumen kuat yang diucapkan Dylan membuat Hyoga sempat terdiam dan berpikir sesaat. Dan kemudian dia setuju atas saran dari Dylan
Hyoga dan Dylan akhirnya mengambil keputusan untuk memakamkan jasad Oscar Niville Dragonia di wilayah Arcadia.
Tapi, sebelum itu Dylan meminta Ayahnya untuk membekukan mayat Oscar dengan sihir Es agar tidak hancur atau membusuk.
Lalu Dylan, Hyoga, Pavline, dan Filaret berserta seluruh warga kota Linic saling bahu membahu memperbaiki wilayah yang hancur akibat dampak penyerangan itu.
Hyoga dan para warga kota Linic, sepakat untuk tidak menutup Parit besar yang di buat Dylan dengan kekuatan Fafnir.
Dengan adanya parit itu maka pertahanan kota Linic akan semakin membaik. Dan apabila ada sebuah serangan dari luar, mereka harus menyebrangi Parit yang besar itu untuk mencapai gerbang kota terlebih dahulu.
Sekarang, itu di Mansion Arcadia. Di sebuah ruangan yang biasa digunakan Hyoga untuk bekerja, ada Dylan juga di sana yang sedang membantu menyortir dokumen.
Sementara Hyoga, sedang mengetik beberapa dokumen menggunakan mesin ketik. Keduanya tampak sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang ada di depan mereka masing-masing.
Sehingga, ruangan itu sangat sunyi dan hanya terdengar suara ala mesin ketik saat digunakan. Sampai, akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh Dylan yang penasaran akan beberapa hal.
"Ayah, apa ada balasan surat dari keluarga Kerajaan?".
"Hmmm.... Tidak. Bahkan menghubungi lewat perangkat Protas saja tidak".
Protas adalah semacam alat sihir yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan memberikan energi sihir kedalamnya. Penampilan alat itu mirip seperti Ponsel Android yang mudah di bawa kemana-mana.
Karena harga alat ini sangat mahal dan dibuat dengan cara khusus. Maka hanya kaum bangsawan dan beberapa orang biasa yang punya uang banyak saja yang bisa memberi alat ini.
"Begitu ya...... Soal kasus Oscar ini, bukankah ada yang aneh?".
"Apa maksudmu, coba jelaskan".
"Oscar berasal dari Kerajaan Rachael, lalu kenapa dia dengan mudahnya bisa masuk ke Kerajaan Ingrid tanpa ada satu yang mengetahuinya?".
Mendengar pertanyaan Dylan, Hyoga segera menghentikan aktivitas mengetiknya. Dan mulai memegang dagunya, ekspresi menjadi fokus menandakan dia mulai berpikir.
"Kau ada benarnya.... Seharusnya ada laporan dari para penjaga perbatasan bila ada penyusup masuk. Tapi, selama ini tidak ada laporan seperti itu".
"Ini hanya menurutku saja, Ayah.... Mungkin ada seseorang yang membantunya masuk".
"Membantu, ya? Dylan, apa kau ada asumsi lain soal orang yang "membantu" Oscar ini?".
Dylan sempat berpikir sebentar lalu, kembali berbicara setelah dia mengumpulkan asumsi di pikirannya.
"Ini asumsi ku saja. Kemungkinan "dia" ini adalah orang yang sangat "berpengaruh"..... Dan jika ini memang benar maka "dia" ini ada kemungkinan adalah bagian dari keluarga Kerajaan..... Itu asumsi-".
Mata Dylan terkejut melihat Ayahnya yang sepertinya terkejut dengan asumsi yang di ucapkan Dylan.
Selang beberapa saat, Hyoga kembali tenang dan berbicara.
"Begitu ya..... Jadi, maksudmu. "Mungkin" ada "seseorang" di keluarga Kerajaan yang ingin menghancurkan wilayah ini, kan?".
"Iya, kurasa.... Memangnya ada apa, Ayah?".
"Tidak, tidak ada".
"Heeeee.....".
Dengan sedikit panik Hyoga menjawab keraguan Dylan meski dia sendiri tidak puas dengan jawaban yang di berikan Ayahnya.
*Cih, rubah sialan itu..... Tak ku sangka dia sudah berani meminjam bantuan pada Kerajaan lain*.
Hyoga melanjutkan pekerjaannya sambil bergumam sesuatu dengan sangat pelan. Sayangnya, tanpa di sadari Hyoga Dylan tidak sengaja mendengar gumaman nya.
(Rubah?..... Kenapa ayah menyebut kata Rubah?.... Berarti dugaan ku memang benar.... Kalau ada kemungkinan keluarga Kerajaan terlibat.... Tapi, siapa si Rubah yang dimaksud Ayah?).
"Tapi, jujur saja Dylan.... Ayah terkadang ragu kalau kau hanya anak berusia 14 tahun".
Mendengar hal itu Dylan menundukkan kepalanya dan ekspresi panik terlihat di wajahnya. Dan di dalam hati dia mulai bergumam.
(Maaf, Ayah.... Walau fisik ku terlihat seperti anak muda.... Nyatanya, jiwaku ini sudah om-om berusia lebih dari 30 tahun).
Tak berselang lama, sebuah ketukan pintu terdengar.
"Masuk".
Sebagai tanggapan dari ketukan pintu itu, Hyoga mengizinkan orang yang di balik pintu itu untuk masuk kedalam.
Seorang maid masuk dan segera membungkukkan badannya terlebih dahulu ke arah Hyoga dan Dylan sebagai tanda penghormatan dan mulai berbicara.
"Maaf mengganggu, Tuan Hyoga, Tuan Dylan.... Anda kedatangan seorang tamu, katanya dia dari ibukota".
"Tamu?".
"Dari ibukota?".
Baik Dylan dan Hyoga sama-sama kebingungan siapa tamu yang datang dari ibukota.
(------------)
Segera setelah mendapat kabar itu, baik Hyoga dan Dylan bergegas ke ruang tamu untuk menemui tamu dari ibukota itu.
Mereka tahu, kalau dia adalah tamu dari Ibukota ada kemungkinan dia adalah utusan keluarga Kerajaan.
Sesampainya di ruang tamu, disana sudah menunggu seorang pria berusia akhir 20 tahunan, dengan rambut berwarna kuning di kuncir seperti ekor kuda, dari bentuk badannya yang tegap saat duduk tampak cukup terlatih.
Dan dia juga membawa sebilah pedang yang di gantung pada pinggang kirinya. Dibelakang nya ada 2 ksatria dengan zirah lengkap yang tampak seperti pengawalnya.
"Selamat siang. Lama tidak berjumpa ya, Hyoga".
Pria itu langsung menyapa Hyoga sambil menyeruput teh yang ada di cangkir yang dia pegang. Dari cara menyapanya, tampak dia sudah kenal dengan Hyoga.
"Kukira "tamu" itu siapa.... Ternyata itu kau rupanya, Rufus".
Dan memang benar, Hyoga nampaknya sangat kenal betul dengan tamu itu yang dia panggil Rufus.
"Ayah, siapa dia?".
Dylan yang penasaran segera bertanya kepada Hyoga soal siapa pria yang di hadapannya sekarang.
"Rufus Dom Silva. Dia adalah Komandan dari Cavilaric Order, Kerajaan ini dan juga....... Teman lamaku.... Meski aku enggan mengakuinya".
Hyoga menjawab pertanyaan Dylan sambil melirik kan matanya kearah lain, seperti dia enggan untuk menjawabnya.
(Rufus Dom Silva, ya.... Dia tidak pernah disebutkan atau di tampakkan dalam gamenya... Berarti dia ini hanya seorang NPC..... Wajar jika aku tidak tahu).
"Keparat. Kau masih menyebalkan sama seperti dulu, ya. Hyoga".
Rufus sepertinya tampak kecewa dengan sikap Hyoga yang enggan mengakuinya sebagai sahabat.
"Ngomong-ngomong, kau pasti Dylan, kan? Kau sudah besar rupanya.... Terakhir kali aku melihatmu saat baru berusia 2 tahun".
"Hou...".
Rufus bercerita bahwa dia pernah bertemu dengan Dylan yang masih berusia 2 saat berkunjung ke wilayah Arcadia.
Tak mau membuang waktu lagi, Hyoga dan Dylan segera duduk berhadapan dengan Rufus dan mulai berdiskusi.
"Baiklah, mari kita langsung ke intinya.... Aku yakin kau kesini bukan sebagai "utusan" dari Yang Mulia, kan? Rufus".
Mendengar pertanyaan langsung dari Hyoga, membuat Rufus merubah ekspresi wajahnya menjadi serius, menyepitkan kedua matanya, dan mulut nya tersenyum tipis.
"Kau benar. Aku datang kesini bukan sebagai "utusan". Melainkan, untuk memastikan "sesuatu" ".
"Dan apa "sesuatu" yang kau maksud ini?".
Keheningan terjadi diantara mereka bertiga, setelah satu kali tarikan nafas Rufus kembali berbicara.
"2 Minggu yang lalu, aku dapat laporan dari para ksatria perbatasan soal pergerakkan para monster di wilayah mu yang menjadi sangat aneh. Jadi, aku datang mencoba untuk menginvestasi nya".
"Lalu apa yang kau temukan?".
Rufus lalu memasang ekspresi kecewa dan tampak lelah.
"Tidak ada. Aku dan tim yang aku bawa sudah sekuat tenaga untuk mencarinya. Karena kami tahu pergerakan para monster itu sangat tidak wajar. Tapi, tidak ada petunjuk sama sekali yang kami temukan...... Ketika kami sudah mulai kebingungan karena tidak menemukan apapun, tiba-tiba muncul seorang warga biasa.... Dan dari ceritanya kami menemukan "sesuatu" yang mencengangkan...... Kalau putramu ini, yang telah berjasa untuk menahan para monster itu".
Rufus melirik ke arah Dylan yang dari tadi, memperhatikan percakapan mereka. Dari ekspresi wajahnya dia tidak terkejut sama sekali.
Itu karena dia tahu, bahwa tanpa perlu Ayahnya bocorkan, para warga pasti akan bercerita soal dirinya yang menahan gerombolan monster itu.
"Memang benar. Akulah yang telah menahan serangan monster itu sendirian.... Namun..... Untuk sebuah "informasi" aku yakin itu tidak akan memuaskan mu, Rufus-san".
"Hou.... Jadi, tolong informasinya soal "yang lain"?".
Rufus semakin penasaran dengan apa yang di sampaikan oleh Dylan. Tanpa niat untuk menyembunyikan apapun lagi Dylan kembali berbicara.
"Ada seorang dalang dibalik terjadi penyerbuan para monster itu".
"Lalu, siapa si dalang ini? Apa kau tahu namanya?".
"Tentu saja..... Dia adalah Oscar Niville Dragonia".
Rufus langsung terkejut dan tersentak, badannya mematung karena otaknya harus mencerna apa yang baru saja dia dengar.
Memastikan bahwa yang dia dengar itu benar, pandangannya melirik kearah Hyoga seperti meminta kepastian.
Hyoga yang sadar hanya merespon nya sambil sedikit mengangguk dan masih tetap meminum tehnya dengan santai.
"Dy-kun, jika benar orang itu memang Oscar. Apa mungkin kau tahu tujuannya menyerang wilayah ini?".
"Hmmm.... Oscar berkata soal rencananya untuk mengambil alih wilayah ini sebagai basis penyerangan menuju Kerajaan Ingrid".
"....Oscar".
Ekspresi wajah Rufus menjadi sedikit pucat setelah mendengar rencana Oscar untuk menyerang Kerajaan Ingrid.
"Hyoga, apa yang dikatakan putramu ini benar adanya?".
Rufus kembali bertanya, tapi Hyoga hanya merespon nya dengan diam dan melirik kan matanya kearah lain, seolah-olah ingin menghindari pertanyaan itu.
Melihat sikap Hyoga yang acuh menandakan bahwa yang di ceritakan Dylan memang benar terjadi.
"Ta-tapi, ini masih sulit untuk dipercaya..... Hyoga, aku yakin kau tahu siapa Oscar..... Meski dia hanya duduk di kursi ke 9 dari 10 ksatria suci Kerajaan Rachael.... Dia itu yang terkuat diantara ksatria suci yang lain..... Dan sering menjadi andalan para The Oracle's...... Belum lagi, Unique Skill miliknya...... Skill Berserk bisa memberikan kekuatan berkali-kali lipat dan dia tidak akan bisa dihentikan atau dikalahkan saat dalam mode itu.... Membayangkan, dia kalah ditangan putramu yang masih belia ini?.... Maaf, tapi mana mungkin aku percaya begitu saja".
Rufus segera berdiri dari duduknya dan mulai berbicara dengan nada sedikit panik, karena masih mempertahankan kebenaran informasi tersebut.
Hyoga yang melihat sikap yang diambil Rufus saat berusaha menyangkal apa yang dia dengar hanya bisa mengembuskan nafas, seperti sudah biasa baginya melihat sikap Rufus yang seperti itu.
Semetara itu, Dylan terkejut bukan karena respon Rufus yang menyangkal dirinya yang mengalahkan Oscar. Melainkan, karena dia mendengar Rufus menyebut nama "The Oracle's" untuk pertama kalinya.
(The Oracle's? Siapa mereka? Aku tidak pernah mendengar atau membaca nya dalam dialog di dalam game. Apa mereka NPC?..... Kurasa, aku harus cari tahu siapa mereka..... Aku tidak boleh hanya mengandalkan pengetahuan dari game saja).
"Kau tahu kalau aku tidak akan berbohong saat kita membahas masalah yang sangat serius kan, Rufus?.... Jika jawaban Dylan tidak memuaskan mu, kenapa kau tidak memeriksanya sendiri.... Kami memakamkannya di pemakaman umum yang ada di pinggir kota..... Soal mayatnya, aku sudah gunakan sihir es untuk mengawetkan nya.... Dylan, tolong kau pandu dia".
"Haaaaa..... Menyusahkan saja".
"Ngak usah ngeluh, lakukan saja".
"Iya, iya aku tahu.... Rufus-san, ayo ikut denganku".
Walau sangat keberatan, Dylan tetap melakukan perintah Hyoga untuk memandu Rufus beserta ke 2 ksatria yang dia bawa ke tempat pemakaman umum dimana mayat Oscar dikuburkan.
(-----------)
Di pemakaman umum kota Linic.
Dylan memandu Rufus dan 2 pengawalnya berjalan melintasi banyak kuburan untuk menuju ketempat dimana Oscar di kuburkan.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka berhenti di sebuah makam yang tampak baru dan nisan nya masih terbuat dari papan kayu biasa.
"Disinilah tempat dimana kami mengubur mayat Oscar".
"Begitu,ya..... Kalian berdua, gali kuburan ini".
""Ha"".
Rufus segera memberi instruksi kepada kedua Ksatria itu dan mereka langsung mengerjakan apa yang di instruksi kan tanpa banyak bertanya.
Beberapa saat menggali, mereka berhenti setelah melihat sebuah peti kayu. Tidak menunggu lebih lama lagi, keduanya membuka peti kayu itu.
"Komandan Rufus, kami sudah selesai. Mohon untuk diperiksa".
Rufus segera melangkah dan melihat apa yang di dalamnya. Dia langsung terdiam sesaat setelah dia benar-benar melihat mayat Oscar yang ada di sana.
"Komandan, apa dia benar-benar Oscar Niville Dragonia?".
Karena penasaran melihat respon Rufus yang terdiam, salah satu ksatria mencoba untuk bertanya.
"Iya.... Tidak salah lagi, dia memang Oscar Niville Dragonia".
Mereka langsung terkejut saat bahwa Rufus sudah memastikan bahwa mayat itu benar-benar Oscar Niville Dragonia.
Mereka juga langsung melirik, Dylan yang dari tadi hanya melihat sambil mendekap kedua tangannya.
"Bagaiman, Rufus-san? Kau sudah percaya?".
Dylan bertanya soal kebingungan yang tadi di rasakan Rufus.
"Haaaa.... Iya sekarang aku percaya. Meski agak sulit menerimanya terutama soal dirimu yang mengalahkannya, Dy-kun..... Tapi, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu?".
"Selama aku bisa menjawabnya".
Dylan menyanggupi tentang Rufus yang hendak menanyakan beberapa hal kepadanya.
"Baiklah..... Pertama, apa kau tahu Oscar yang kubunuh ini adalah orang penting di Kerajaan Rachael?".
"Iya".
"Dan aku yakin kau tahu bahwa dia juga calon Raja selanjutnya?".
"Dia sendiri yang memberi tahuku soal itu".
"Lalu, apa kau tahu dampak yang akan terjadi setelah kau membunuhnya?".
"Aku tidak tahu dan bahkan tidak peduli dengan dampak dari tindakan ku ini".
Rufus dan kedua ksatria nya terkejut dengan jawaban cepat dan terkesan tak acuh yang keluar dari mulut Dylan. Lalu, entah mengapa mulut Rufus tersenyum tipis dan mulai menggumamkan sesuatu di dalam hatinya.
(Haaaa...... Mau bagaimana lagi...... Ngak Anaknya, ngak Ayahnya sama saja).
"Baiklah, Dy-kun..... Kami akan membawa mayat Oscar ke Ibukota dan menunjukkan pada Yang Mulia".
"Lakukan saja, lagipula Rufus-san lebih paham harus melakukan apa..... Kalau begitu, aku pergi dulu".
Berpamitan, Dylan segera melangkah pergi tanpa memperdulikan apakah Rufus membalas ucapan atau tidak.
"Komandan?".
"Ada apa?".
"Bukankah, menurut anda. Sikap Dylan itu terlalu kurang ajar?".
"Apa maksudmu?".
"Maksud saya. Dia itu seorang bangsawan,kan? Tapi, sikapnya itu terlalu acuh tak acuh pada masalah ini?.... Dia sudah membunuh orang penting dari Kerajaan lain. Dan jika dilihat dari sudut pandang lain... Tindakannya itu akan memicu pertikaian antar kedua Kerajaan bahkan akan memicu peperangan... Tapi, dia bertingkah seolah-olah tidak peduli dengan itu semua".
Karena merasa tindakan Dylan terkesan kurang ajar. Salah ksatria mencoba bertanya kepada Rufus yang sepertinya tidak masalah dengan sikap Dylan.
"Begitu ya.... Wajar karena kalian berpikir seperti itu. Tapi, jika kalian tahu. Mungkin kalian akan bersikap seperti ku sekarang".
"Eh? Memangnya, ada alasan kenapa sikapnya seperti itu?".
Rufus mulai menceritakan tentang masa lalu.
"Sebenarnya, "hubungan" antara keluarga Hyoga beserta keluarganya dengan para bangsawan dan keluarga Kerajaan itu sangat buruk".
"Apa benar-benar seburuk itu?".
"Yang terburuk..... Tapi, lain kali akan aku ceritakan. Sekarang, ayo kita bawa mayat Oscar kembali ke Ibukota.... Sebelum itu, kita akan pergi ke markas pasukan perbatasan".
"Eh? Ke markas perbatasan? Untuk apa Komandan?".
Rufus yang mendapat pertanyaan itu terdiam sebentar sambil melirik ke arah mayat Oscar dan kembali berbicara.
"Untuk mencari tahu "kenapa" mereka bisa "kecolongan" seperti ini".
Setelah mengantarkan Rufus dan kedua ksatria yang dia bawa untuk melihat mayat Oscar.
Dylan memutuskan kembali karena merasa sudah tidak ada yang perlu dia lakukan disana. Setelah sampai di Mansion, Dylan tiba-tiba di hampiri oleh Tina.
"Tuan Dylan, anda sudah kembali?".
"Iya, kenapa kau terburu-buru? Ada seseuatu?".
Melihat Tina yang panik Dylan mencoba menanyakan sesuatu. Kemudian Tina menyodorkan sesuatu seperti surat tapi amplop nya berwarna hitam dan ada stempel Kerajaan di belakangnya.
Dylan yang penasaran dengan surat itu mencoba bertanya.
"Tina, Dari mana kau mendapatkan nya?".
"Tadi, sebelum pergi Tuan Rufus menitipkan ini pada saya".
"Hmmm..... Lalu apa ini?".
"Etto.... Katanya, itu undangan langsung dari Raja untuk seluruh keluarga Arcadia. Agar datang ke pesta Ball yang diadakan keluarga Kerajaan".
"Begitu ya. Kau sudah boleh pergi Tina. Surat ini biar aku yang sampaikan sendiri ke Ayah".
"Baiklah, kalau begitu saya permisi".
Tina segera meninggalkan Dylan sendirian sambil terus memperhatikan undangan yang dia bawa itu dan kemudian dia mulai berpikir.
(Hmm.... Sudah kuduga. Sebentar lagi, alur di cerita di gamenya akan segera dimulai tepat beberapa bulan setelah pesta Ball Kerajaan. Nah, sekarang langkah apa yang harus aku ambil?).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
landax maniak
bahasa baku sama tidak baku jangan dicamour,,,bacanya gaenak
2025-01-28
1
cupa
😂
2024-11-09
1
Frando Kanan
rubah sialan? kira2 spa ya??
2023-12-18
2